Aku Sang Pelakor

Aku Sang Pelakor
Bab. 31


__ADS_3

Calvin, Gea, Anastasia, Mardian, dan Monika menyelesaikan makan malam mereka. Dan kini mereka tengah berkumpul di ruang tamu.


"Jadi, apa tujuan Mama dan Papa kemari?" tanya Calvin straight to the point. Aura pemimpinnya bukan hanya ia tunjukkan saat di perusahaannya saja, pun di hadapan keluarga.


"Calvin, bagaimana kau bicara seperti itu pada kami? Bagaimana pun, kami juga telah menjadi orang tuamu," ketus Monika geram. "Baiklah, langsung ke inti masalah. Mengapa kau sampai menduakan Cia, Cal? Apalagi kau menikahi perempuan murahan ini diam-diam. Kau sungguh keterlaluan. Apa yang perempuan murahan ini berikan sampai kau dengan tega-teganya menduakan Cia, Cal? Kau berselingkuh dan menikahinya tanpa sepengetahuan kami. Kau benar-benar luar biasa keterlaluan, Cal," desis Monika berang.


Anastasia yang duduk diantara kedua orang tuanya menangis tersedu. Ia tampak begitu menyedihkan karena merasa telah dikhianati oleh suaminya sendiri.


"Pa, kenapa papa diam saja? Ayo, katakan sesuatu pada Calvin! Minta dia menceraikan jalaang itu sekarang juga," ujar Monika dengan suara meninggi.


Mardian mendesah lirih, ia serba salah di sini. Ingin ia mengatakan hal serupa, tapi kenapa lidahnya terasa kelu.


"Nak Calvin, bukankah dulu kau mengatakan sangat mencintai Cia, putri papa, tapi kenapa kau tiba-tiba menikah lagi tanpa sepengetahuan kami. Apa kau tidak kasihan melihat keadaan Cia saat ini, ia sangat sedih dan terpukul," ucap Mardian.


"Aku memang mencintai Cia, Pa, Ma ... tapi itu dulu. Sekarang entah, perasaan itu perlahan menguap," ujar Calvin pelan tapi mampu membuat Anastasia dan Monika berang hingga membelalakkan matanya.


"Kau ... "


"Jangan salahkan Gea!" sergah Calvin sebelum Anastasia dan Monika kembali menyalahkan Gea. "Tanyakan pada putrimu sendiri, apakah ia sudah melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri selama ini?" desis Calvin sambil menyapa Cia sinis. "Tidak bukan."


"Tapi honey aku ... "


"Jangan jadikan karirmu sebagai alasan Cia! Bertahun-tahun aku mencoba sabar, tapi nyatanya kau tak sedikit pun menghargai aku sebagai seorang suami. Aku tidak memintamu macam-macam. Kau tidak bisa memasak, aku terima. Kau tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, aku tak masalah. Tapi sifatmu yang terlalu mengagungkan pekerjaan dan karirmu sampai mengabaikan aku suamimu sendiri, itu sungguh sangat keterlaluan. Kau jarang pulang, aku sabar. Tapi semakin aku bersabar semakin pula kau menginjak-injak aku. Bahkan kau pun tak pernah ingin memiliki anak dengan ku, iya kan! Kau jadikan karir sebuah alasan padahal alasan sebenarnya kau takut tubuhmu berubah jadi jelek, benar begitu kan!" sinis Calvin membuat Anastasia membelalakkan matanya karena ternyata Calvin mengetahui alasannya tak mau hamil. Bahkan ia sampai menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang agar ia tak perlu ketakutan tiba-tiba hamil karena kerap berhubungan intim.


"Kenapa diam? Kau tak mampu menjawabnya, bukan?"


"Bu-bukan begitu maksudku, Honey. Aku tak pernah bermaksud seperti itu. Aku ... aku hanya belum siap. Tapi kalau kau memang menginginkannya, baiklah demi kamu aku rela. Aku bersedia mengandung anakmu. Bahkan aku rela meninggalkan karirku di luar negeri dan hanya akan fokus dengan butikku di sini saja agar aku bisa fokus mengurusmu," ucap Anastasia.

__ADS_1


"Terlambat, Cia. Kau sudah sangat terlambat," tutur Calvin tegas. Lalu ia menoleh ke arah Gea dan menggenggam tangannya, "kau sudah sangat terlambat. Karena apa yang aku impikan semua akan diwujudkan oleh Gea. Jadi, mulai sekarang, aku takkan mengusikmu lagi. Silahkan kalau kau mau melebarkan sayapmu bahkan bila perlu sampai ke planet Mars pun silahkan. Aku takkan melarang ataupun menghalangimu. Dan kepada mama dan papa, aku minta maaf karena menduakan Cia. Jangan pernah salahkan Gea karena yang salah di sini adalah aku. Aku membutuhkannya. Aku pun ingin bahagia. Aku pun ingin merasakan bahagianya memiliki keluarga yang utuh. Disambut saat pulang bekerja, dimasakkan makanan walaupun sederhana, memiliki tempat berkeluh kesah, ditemani saat tidur, dan semua itu Gea mampu melakukannya. Karena itu, sampai kapanpun aku takkan pernah menceraikannya seperti keinginan kalian," tegas Calvin tanpa keraguan sama sekali.


Gea tersenyum lebar mendengar penuturan Calvin. Rasa hatinya seakan melayang. Dadanya menghangat.


"Calvin, kenapa kau begitu tega! Aku yang lebih dahulu mendampingimu, tapi kenapa kau dengan begitu mudahnya membuangku. Aku tak terima ini. Aku takkan pernah terima," pekik Anastasia yang telah berdiri dengan kedua tangan mengepal dan gigi bergemeletuk. "Dan kau jalaang sialan, aku pastikan akan memberikan kau pelajaran! Tunggu saja pembalasanku," desisnya dengan penuh kebencian.


Setelah mengatakan itu, Anastasia pun segera berlalu dari rumah itu diikuti Mardian dan Monika. Tapi Monika berjanji, akan kembali lagi memberikan pelajaran kepada Gea.


...***...


"Sayang, benar kamu tidak ingin ikut?" tanya Calvin yang sudah berdiri di dekat mobilnya. Ia sudah ingin masuk ke dalam mobil, tapi ia kembali ingin memastikan Gea ingin ikut dirinya atau tidak.


Hari ini Calvin ada pekerjaan di luar kota. Memang ia tidak menginap, tapi kemungkinan ia akan pulang cukup larut.


Sebenarnya Gea pun ingin ikut, tapi hari ini ibunya memiliki jadwal cuci darah jadi ia akan menemani ibunya di rumah sakit. Tentu ia tak ingin membiarkan ibunya berjuang sendirian. Jadilah ia memilih tinggal saja.


"Kamu yang sabar ya, sayang. Semoga ibu nanti diberikan kesembuhan. Aku dan mama juga akan berjuang mencari pendonor ginjal untuk ibu. Doakan saja agar dalam waktu dekat usaha kita membuahkan hasil," tutur Calvin lembut seraya mengecup puncak kepala Gea.


"Makasih ya, mas. Ya udah, berangkat gih! Entar telat lho!"


"Hmmm ... hati-hati di rumah ya! Dan jangan nakal," bisik Calvin membuat Gea terkekeh.


"Mas tuh yang awas nakal. Entar nggak Gea kasih jatah, kalau nakal," bala Gea membuat Calvin gemas lalu mengecupi seluruh wajah Gea membuat Gea terkekeh kegelian.


Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata memperhatikan keduanya dengan tangan mengepal kuat dan emosi membuncah.


"Kurang ajar! Dasar jalaang!"

__ADS_1


Tak lama kemudian, mobil Calvin pun berlalu meninggalkan rumah besar milik Calvin. Setelah Calvin pergi, sebuah mobil berwarna putih masuk ke dalam pekarangan rumah Calvin.


Gea yang baru saja hendak masuk ke dalam lantas membalikkan badannya.


Gea menyunggingkan senyum sinis saat melihat dua orang perempuan beda generasi turun dari mobil itu. Dengan dada membusung dan dagu terangkat, Gea berdiri di depan kedua perempuan yang sedang memasang wajah angkuh itu.


"Hai istri pertama, ada apalagi nih pagi-pagi datang kemari? Bukan untuk mencari mas Calvin kan sebab kalau iya, sayang sekali, suamiku itu sedang pergi ke luar kota," ucap Gea berani tanpa rasa takut sedikitpun.


"Tinggalkan suamiku jalaaang! Aku tahu, kau menikah dengan suamiku tidak lain karena mengincar uangnya kan, kalau iya, katakan saja kau mau berapa, aku akan memberikannya hari ini juga dengan syarat kau segera pergi dari hidup Calvin saat ini juga," ucap Anastasia sinis.


"Uang? Untuk apa aku uangmu, lha aku yakin uang suamiku itu pasti lebih banyak kok. Jadi simpan saja uangmu, siapa tahu kelak mas Calvin menceraikannya dan kau butuh uang untuk biaya hidupmu itu," ucap Gea sambil terkekeh tanpa ada segan apalagi takut


"Kau ... jangan karena saat ini Calvin membelamu lantas kau merasa menang, jalaang. Aku yakin, ini hanya sementara. Calvin hanya sedang kesal padaku. Setelah kekesalannya hilang, ia pasti akan kembali padaku dan membuangnya ke tempat asalnya," bentak Anastasia berang.


"Oh ya! Ah, aku jadi takut!" pekik Gea dengan memasang wajah pura-pura takut.


"Heh, jalaang sialan! Dasar pelakor nggak tahu malu, merusak rumah tangga orang lain."


Tiba-tiba Monika meringsek maju ingin menjambak rambut Gea, tapi dengan secepat kilat Gea menangkap tangan Monika dan memutarnya ke belakang tubuhnya.


"Jalaang teriak jalaang, hm? Pelakor teriak pelakor? Bagaimana rasanya hidup dengan suami hasil merebut suami orang lain? Apakah itu menyenangkan? Bukankah kau lebih berpengalaman?" bisik Gea sambil menyeringai. "Ingat nyonya, karma itu tak semanis kurma. Apa yang kau tanam, itu yang akan kau tuai,." desis Gea membuat Monika terdiam tanpa mampu berkata-kata. Ia masih bingung dan mencoba mencerna apa yang Gea maksud.


Seketika Monika tersentak, 'apa maksudnya? Apakah ... dia mengetahui tentang masa laluku?' batin Monika bertanya-tanya.


...***...


**Baru sempat update sekarang, othor tadi nonton Bidar di tempat othor. 😂. Bidar itu perlombaan balap perahu. Nggak tahu deh yang lainnya bakal up nggak malam ini, soalnya mata othor udah ajip-ajip. ðŸĪŠ Kopinya nggak mempan. Kopi apa sih yang uenak n ampuh atasi ngantuk? Bingung othor. ðŸĪ” 😔😄

__ADS_1


...HAPPY READING ðŸĨ°ðŸĨ°ðŸĨ°**...


__ADS_2