
Gea menatap nanar gundukan tanah tempat ibunya bersemayam. Tak ada lagi senyum sang ibu yang selalu ia rindukan di sela-sela kegiatannya mengais pundi-pundi rupiah. Tak ada lagi pembakar semangatnya yang membuatnya pantang menyerah bertarung dengan waktu hanya demi kesembuhan dan kebahagiaan sang ibu.
"Bu, kenapa ibu pergi ninggalin Gea begitu saja? Ibu bahkan tidak meninggalkan pesan apapun. Padahal Gea belum sempat membahagiakan ibu. Gea juga belum sempat memberikan seorang cucu untuk ibu. Tapi kenapa ... kenapa ibu pergi secepat ini? Padahal perjuangan Gea selama ini hanya demi kesembuhan ibu, tapi kenapa ... hiks ... hiks ... "
Tubuh Gea bergetar hebat. Air mata yang dikiranya telah mengering, ternyata masih bisa mengalir deras. Tubuhnya begitu lemas. Kehilangan membuatnya tidak berdaya. Sangat menyakitkan.
"Sayang, sudah. Jangan menangis lagi! Ikhlaskan kepergian ibu. Ibu sudah tenang di atas sana. Ibu sudah tidak kesakitan lagi. Semua sudah takdir. Dan ... kata siapa kamu belum membahagiakan ibu? Bukankah kita menikah di hadapan ibu. Kau ingat bagaimana bahagianya pancaran wajah ibu saat melihat kita menikah? Kini ... ibu bisa pergi dengan tenang sebab sudah ada aku yang akan selalu menjaga dan melindungimu. Yakinlah, ini yang terbaik untuk ibu," ucap Calvin yang selalu setia menemani Gea. Ia merengkuh pundak rapuh Gea ke dalam dekapan hangatnya.
"Tapi mas .. ini seperti mimpi. Baru saja aku merasa bahagia ibu akan mendapatkan pendonor, tapi kenyataannya ibu pergi sebelum sempat ... "
"Sssttt ... jangan kau sesali lagi! Doakan saja ini yang terbaik untuk ibu."
Calvin mengecup kening Gea dengan perasaan sayang yang luar biasa.
"Gea," lirih seseorang dari arah belakang membuat Gea menegang kaku. Ia sangat mengenal suara itu. Suara seseorang yang pernah dirindukannya di masa lalu, tapi juga suara seseorang yang amat sangat ia benci saat ini.
Gea pun segera berdiri dan membalikkan badannya. Ia menatap nyalang laki-laki yang usianya sudah memasuki masa senja. Meskipun usianya tak lagi muda, tapi sisa-sisa ketampanan masa mudanya masih terlihat jelas. Di balik kerutan wajah itu, gurat kesedihan terlihat jelas. Namun hal tersebut tak sampai menyentuh hati Gea yang sudah terlanjur patah dan berserak untuk pria paruh baya itu.
"Untuk apa kau datang ke sini? Sana, temui saja jalaang kesayanganmu itu dan katakan selamat karena mereka telah berhasil kembali menghancurkan hidupku," desis Gea datar penuh kebencian. Matanya memerah, emosinya membuncah, namun sebisa mungkin ia tahan. Ia sedang berada di tempat peristirahatan terakhir ibunya, ia tak ingin membuat keributan di sini.
"Gea, maafin ayah, nak! Ayah tidak tahu kalau mereka akan berbuat senekat itu pada ibumu," lirih Mardian penuh penyesalan.
__ADS_1
"Maaf? Apakah dengan satu kata maaf, ibuku bisa kembali lagi ke sisiku? Apa dengan satu kata maaf dari Anda, akan bisa kembalikan semuanya ke posisi semula? Puas kau sekarang? Kau puas bukan membuat ibuku mati berkalang tanah dan menghancurkan perasaan ku tuk kedua kalinya? Andai bisa ku putar, kembali waktu, aku tak sudi terlahir dari benih bajingaan sepertimu!"
Brukkk ...
Dengan berurai air mata, Mardian menjatuhkan tubuhnya bersimpuh di hadapan Gea dan gundukan tanah wanita yang pernah ia khianati dan sakiti hatinya. Ia tak menyangka, wanita yang ia jadikan pasangan hidup bisa melakukan hal sekeji itu, membunuh wanita yang telah merelakan dirinya untuk menjadi suami wanita yang sudah menghancurkan hidupnya. Ia menyadari, ia sudah berlaku begitu kejam pada Martini dan Gea. Ia tahu, kata maaf meskipun diucapkan setiap hari selama seribu tahun takkan pernah mengembalikan segalanya seperti semula. Perbuatannya di masa lalu telah menorehkan luka begitu besar dan menganga. Ia memang tak pantas mendapatkan kata maaf itu.
Gea sedikit pun tak merasa iba melihat tangisan sang ayah. Perasaannya pada ayah sepertinya telah mati. Hanya ada kebencian dan kekecewaan. Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan ayahnya, Gea pun melewati ayahnya begitu saja. Meninggalkan laki-laki itu yang tergugu di depan gundukan tanah merah itu bersama Calvin yang selalu setia di sisinya.
Setelah masuk ke dalam mobil, tangis Gea lagi-lagi pecah. Ia masih tak menyangka, nyawa ibunya harus berakhir di tangan wanita yang telah menghancurkan rumah tangga ibunya. Tak cukup menghancurkan dirinya dan ibunya, kini mereka pun merenggut paksa nyawa ibunya dengan cara yang keji.
...***...
Seminggu telah berlalu dan persidangan kasus pembunuhan berencana ibu Gea telah dibuka. Bukti-bukti yang kuat membuat Anastasia dan Monika tidak bisa mengelak dari tuntutan jaksa. Mereka pun dijatuhi hukuman seumur hidup.
"Pa, papa kenapa nggak bela kami? Minta anak tak tahu diri itu mencabut tuntutannya, pa! Papa nggak bisa pasrah kayak gitu dan biarin kami di penjara," teriak Monika sambil memberontak berusaha melepaskan diri dari petugas yang memegangnya.
Tapi Mardian justru tak menggubrisnya. Ia justru menatap nanar Gea yang tidak menggubris keberadaannya sama sekali. Bahkan saat ia menyapanya, Gea melengos saja, seakan tak melihatnya. Mardian hanya bisa menghela nafas. Ia sadar, ini merupakan buah hasil perbuatannya sendiri. Sepertinya masa tuanya akan ia habiskan seorang diri. Tak ada anak ataupun istri. Ini adalah hukumannya. Namun, ini masih lebih baik dibandingkan apa yang diderita anak dan mantan istrinya selama ini. Ia bukan hanya meninggalkan, tapi juga mengabaikan. Padahal, Gea merupakan putri kandungnya. Tapi ia tidak pernah mengiriminya uang sedikitpun untuk biaya hidupnya. Ia benar-benar meninggalkan mereka begitu saja. Jadi sudah sewajarnya ia pun ditinggalkan seorang diri seperti ini. Sesuai pepatah, apa yang kau tabur, itu yang kau tuai.
...***...
Hari berjalan begitu cepat, tak terasa usia pernikahan Gea sudah berjalan selama 3 bulan. Gea juga perlahan sudah bisa melupakan kesedihannya. Semua tentu saja berkat dukungan suami dan mertuanya.
__ADS_1
Dan hari ini merupakan hari istimewa bagi Gea sebab hari ini untuk pertama kalinya ulang tahunnya dirayakan. Ya, hari ini merupakan hari ulang tahun Gea. Dan yang lebih mengejutkan, di hari lahirnya itu, Calvin memberikan kejutan pesta pernikahan mereka. Entah sejak kapan Calvin merencanakannya, yang pasti sejak pagi ia merasa heran sebab Nathalia mengajaknya ke butik milik temannya. Kemudian ia diminta memakai gaun pengantin yang begitu indah dan tak lupa wajahnya dirias sedemikian rupa oleh MUA ternama. Nathalia mengatakan, temannya menyukai wajah cantiknya dan ingin menjadikan dirinya model untuk gaun pengantin rancangan temannya itu.
Sebagai menantu yang berbakti, tentu ia menurut saja meskipun Gea merasa sedikit janggal. Hingga tiba-tiba, ia dibawa Nathalia memasuki ballroom sebuah hotel ternama dimana para tamu undangan tampak sudah memenuhi ruangan
Kemudian dari atas panggung, Calvin turun dengan gagahnya untuk menyambut dirinya.
Gea masih linglung saat itu hingga saat Calvin telah berdiri di hadapannya dan mengucapkan sesuatu, barulah Gea sadar dengan apa yang ada di hadapannya kini.
"Happy birthday, my lovely wife. Ini adalah kado spesial dariku untukmu, pesta pernikahan kita agar semua orang tahu kalau Gea Morena telah menjadi istriku. Istri sahku."
Lalu Calvin mengeluarkan sebuah buket bunga mawar merah yang sangat cantik ke tangan Gea. Gea pun menerima dan menciumnya dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih telah menjadi istriku, terima kasih telah menyempurnakan hidupku, dan terima kasih telah bersedia menjadi pendamping hidupku. I love you."
"Terima atas segalanya, mas. Gea merasa sangat beruntung memiliki mas dan mama Nathalia di sisi Gea. Kalian adalah anugerah luar biasa dari yang kuasa untuk Gea."
Merasa perasaan bahagianya kian membuncah, kemudian Calvin menarik pinggang Gea dan meletakkan telapak tangan kirinya di tengkuk Gea, lalu ia pun menyapukan bibirnya di atas bibir Gea membuat semua tamu undangan bersorak gembira.
...***...
Menuju ending kira-kira 1-2 bab lagi end. Ditunggu dukungannya. Seperti yang pernah othor sampaikan sebelumnya, entah itu di novel Unperfect Wedding atau di sini (othor lupa), bagi 3 besar top fans akan get pulsa. Sebab 2 novel ini akan segera end. 😍😍😍
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...