Aku Sang Pelakor

Aku Sang Pelakor
Ch. 45


__ADS_3

"Anda ... mau apa Anda kemari?" sinis Gea geram melihat keberadaan sang ayah.


"Gea, ayah kangen kamu, nak. Ayah rindu kamu. Ayah, hanya pingin ketemu kamu, sayang," ujar Mardian dengan tatapan memelas.


"Tapi saya tidak merindukan Anda."


Mardian mencelos mendengar penuturan itu. Tak dapat ia pungkiri, hatinya perih mendengar kata-kata itu. Namun, ia tahu, ini bukan salah Gea. Ini salahnya yang sudah menorehkan luka begitu dalam pada putri kandungnya tersebut.


"Gea, ayah hanya ... "


"Aaaargh ... " Gea meringis sambil memegang perutnya membuat Mardian panik dan gegas mendekat.


"Gea, nak, kamu kenapa? Ada yang sakit?" seru Mardian panik.


"Astaghfirullah ... astaghfirullah ... sabar ya sayang."


Sambil meringis, Gea berjalan tertatih hendak menuju kamarnya di lantai satu. Ya, semenjak kehamilannya menginjak usia 5 bulan kamar Gea dan Calvin telah dipindahkan ke lantai 1 untuk mencegah hal-hal yang tidak mereka inginkan.


"Mau kemana kamu, nak? Kamu udah mau melahirkan? Mari ayah antar ke rumah sakit?" Mardian terus mengikuti langkah Gea, khawatir terjadi sesuatu pada sang putri.


Gea menggeleng.


Asisten rumah tangga yang baru saja mengantarkan minum seketika panik melihat wajah pucat istri majikannya yang sudah pucat pasi.


"Non, non mau apa? No, kayaknya non udah mau melahirkan? Non butuh sesuatu?" tanya bik Sumi.


"Hp bik, Gea ... Gea mau telepon mas Calvin. Rasanya ... aduh ... udah sakit banget bik," lirih Gea dengan nafas memburu sambil meringis.


Paham, Bik Sumi pun gegas membuka pintu kamar Gea dan mengambilkan ponselnya. Dengan tangan bergetar Gea mengambil hp itu dan menghubungi suaminya.


"Mas ... aaaargh ... "


"Ya Allah non, ketubannya udah pecah. Non harus segera ke rumah sakit ini," pekik Bik Sumi benar-benar khawatir.


Bik Sumi pun mengambil alih ponsel di tangan Gea dan berbicara dengan Calvin.

__ADS_1


"Nak, biar ayah yang antar kamu ke rumah sakit! Ayah mohon untuk kali ini, singkirkan amarahmu pada ayah. Saat ini yang terpenting bagimu adalah keselamatan anakmu. Ayo nak, jangan keras kepala!"


"Iya non, benar kata ayah non. Tadi tuan Calvin juga bilang gitu. Tuan Calvin akan segera menyusul ke rumah sakit segera," tukas Bik Sumi setelah menutup panggilan telepon pada Calvin.


Mendengar hal tersebut, dengan berat hati Gea pun mengangguk. Yang terpenting saat ini adalah keselamatan buah hatinya. Ia tak mau karena ego setinggi langit, membuat buah hatinya dalam bahaya.


Tak sampai satu jam kemudian, mobil yang dikendarai Calvin telah tiba di rumah sakit. Bersamaan itu, Calvin pun tiba di sana ditemani Edgar. Gea pun segera dibawa ke ruang persalinan untuk segera mendapatkan penanganan.


Karena pembukaan sudah hampir sempurna, maka proses persalinan pun segera dilakukan. Namun ternyata, pembukaan sempurna bukan berarti Gea dapat melahirkan dengan lancar. Gea sudah keburu lemas saat tiba di sana. Alhasil, Gea membutuhkan induksi untuk memperlancar proses persalinan. Dan satu jam kemudian, tangisan bayi pun pecah di ruangan serba putih itu. Calvin yang melihat bayinya telah lahir ke dunia dengan selamat tak dapat membendung rasa haru hingga meneteskan air matanya.


Calvin memandang wajah pucat Gea lalu menciumi semua bagian wajahnya. Rasa haru menyeruak memenuhi rongga dadanya. Akhirnya, impiannya sempurna sudah. Akhirnya, keluarga kecil impiannya tercapai sesuai harapan.


"Terima kasih sayang atas kado terindah baby boy nya. Mas mencintaimu. Sangat mencintaimu."


Karena terlalu lelah, Gea sampai tak mampu berucap satu kata pun. Ia hanya mengulas senyum sambil meneteskan air matanya.


'Bu, Gea sekarang sudah jadi seorang ibu. Gea sudah berhasil melahirkan cucu ibu. Semoga Gea mampu menjadi seorang ibu yang baik dan kuat. Gea merindukanmu, bu.'


***


"Gea serahin sama mas Calvin aja, ma," sahut Gea sambil bersandar di sandaran ranjangnya. Ia melirik Calvin yang tak henti-hentinya mengulas senyum.


"Gavian Moreno, bagaimana?"


Nathalia dan Gea saling menatap kemudian terkekeh karena nama tersebut hampir menyamai nama Gea.


"Nggak kreatif, tapi ... gimana ma?" tanya Gea sambil terkekeh.


"It's okey lah. Baby Gavi, kamu suka?" tanya Nathalia pada sang cucu yang padahal sedang memejamkan matanya. Namun seakan tahu dirinya sedang ditanyai, baby Gavi pun tersenyum dalam tidurnya membuat ketiga orang itu tersenyum lebar. "Sepertinya dia suka," imbuh Nathalia.


Sementara di dalam ruangan ketiga orang tersebut sedang berbahagia, di luar Mardian tampak tercenung seorang diri. Ia terlalu malu untuk melihat cucunya sendiri.


Tak lama kemudian, Calvin keluar menemui Mardian. Bagaimana pun, Mardian adalah ayah mertuanya. Berkat ayah mertuanya pula, Gea dapat segera ditangani dengan baik.


"Ayah mau lihat baby Gavi?" tegur Calvin membuat Mardian mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


"Baby Gavi?" beo Mardian.


"Ya, baby Gavi. Kami menamai putra kami Gavian Moreno. Kalau ayah mau melihat cucu ayah, ayo ikut aku ke dalam," ujar Calvin namun Mardian masih ragu.


"Emmm ... Bagaimana dengan Gea? Apa ... apa dia mengizinkan?" tanya Mardian memastikan. Ia terlalu khawatir dengan respon sang putri yang beberapa bulan ini belum juga mau memaafkannya. Bahkan untuk bertegur sapa saja, Gea enggan. Mardian kerap bertandang ke rumah Calvin berharap bisa meluluhkan hati sang putri, namun hingga kini hati Gea masih saja beku. Mardian maklum, luka yang ia torehkan bukanlah sebentar, tapi bertahun-tahun. Bertahun-tahun ia mengabaikan putrinya itu. Ditambah lagi, istri dan anak sambungnya telah menyebabkan sang ibu meninggal dunia. Betapa besar salah dan dosanya baik pada sang putri maupun mantan istrinya itu. Bolehkah Mardian berharap sang putri mau membukakan pintu maafnya walau sedikit saja? Mardian berharap, di akhir masa hidupnya, ia sudah mendapatkan maaf itu agar ia bisa menghadap sang pencipta dengan tenang dan hati yang lapang.


Calvin tersenyum dan membukakan pintu ruang pemulihan Gea dengan lebar.


Mardian melangkahkan kakinya dengan jantung yang berdegup dengan kencang. Hatinya begitu was-was, takut mendapatkan penolakan dari Gea.


Dilihatnya, Baby Gavi tampak tertidur pulas di sisi kanan Gea. Gea pun mengangkat wajahnya sehingga mata ayah dan anak itupun bersirobok. Tak lama kemudian, Gea pun mengulas senyum membuat dunia Mardian seolah berhenti.


'Bila ini hanya mimpi, aku mohon jangan pernah bangunkan aku,' batin Mardian.


"Ayah kok berhenti di situ? Memangnya ayah tidak mau melihat cucu ayah?" celetuk Gea sambil mencebikkan bibirnya membuat Mardian mengerjapkan matanya, mencoba meyakini yang dilihatnya bukan sekedar mimpi.


"Ayah," rengek Gea membuat Mardian tersentak. Yakin apa yang ia lihat bukanlah mimpi, Mardian segera berhambur memeluk tubuh Gea dari sisi kirinya. Mardian terisak membuat Gea yang sudah lama merindukan pelukan sang ayah pun ikut terisak. Mereka menangis bersamaan.


Tadi, saat Mardian tercenung seorang diri di luar, Calvin sempat menasihati Gea. Ia mengatakan, kini mereka telah menjadi orang tua, sebuah sepantasnya mereka melepaskan segala kebencian, amarah, dan dendam. Bukankah madrasah terbaik seorang anak adalah orang tua, khususnya seorang ibu. Memaafkan bukanlah kekalahan, melainkan awal yang baik untuk memulai kehidupan yang lebih indah. Bukankah impian setiap anak adalah memiliki keluarga yang lengkap dan sempurna. Baby Gavi telah memiliki ayah, ibu, dan seorang nenek. Bukankah akan lebih sempurna bila baby Gavi juga memiliki seorang kakek?


Setelah menimbang, Gea pun menyetujui pemikiran sang suami. Dibalik sebuah kebencian, sebenarnya Gea memiliki kerinduan yang mendalam pada sang ayah. Ia yakin, ibunya takkan marah bila tahu ia memaafkan sang ayah. Apalagi sepanjang hidupnya, ibunya tak pernah menanamkan kebencian pada sang ayah. Ia harap, dengan membukakan pintu maaf pada sang ayah dapat membuat kehidupannya makin sempurna.


"Gea, maafkan ayah! Maafkan segala kesalahan ayah," raung Mardian sambil tergugu di pelukan Gea.


"Iya, yah. Gea udah maafin ayah kok" ucap Gea sambil menepuk-nepuk punggung sang ayah yang bergetar hebat. "Sudah, jangan nangis lagi. Entar cucu ayah bangun terus nangis," imbuhnya.


Mardian pun segera menarik diri sambil menyeka air matanya. Ia tersenyum lebar. Dipandanginya wajah sang cucu, ia tak menyangka hari bahagia ini akan datang. Ia benar-benar tak menyangka, akhirnya ia bisa mendapatkan kata maaf dari sang putri.


Akhirnya, lengkap sudah kebahagiaan Gea dan Calvin. Mereka kini hidup bahagia, saling mencintai, menyayangi, dan saling melengkapi. Berawal dari menjadi pelakor, berakhir menjadi seorang istri sah yang begitu dicintai. Mungkin hanya dia yang bisa seperti itu. Othor ingatkan bukan berarti menjadi pelakor itu baik ya! Jangan coba-coba jadi pelakor ya! Tidak selamanya jadi pelakor itu berakhir bahagia seperti Gea karena pelakor seperti Gea hanya ada di cerita othor. 🤣😂


...***...


Akhirnya, sampai juga kita di akhir cerita. Terima kasih untuk para pembaca yang telah setiap membaca dari awal hingga akhir. Terima kasih juga untuk para pembaca yang udah rajin kasi like, komen, nonton iklan, kasi hadiah, dan vote. Sampai jumpa di cerita othor yang lain ya! Bye ... bye ...


Oh ya, untuk 3 top fans get pulsa di akhir cerita, diumumkan Senin entar ya! 🙏😄😍🤩

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2