
Selesai resepsi pernikahan, Calvin mengajak Gea masuk ke dalam kamar hotel yang sudah dibooking Edgar sebelumnya. Edgar memilihkan kamar tipe presidential suite untuk pasangan suami istri tersebut.
Gea yang baru saja keluar dari kamar mandi tampak mencari-cari keberadaan Calvin yang tak terlihat dimana pun. Namun, ia melihat tirai balkon yang tertiup angin. Gea pun melangkahkan kakinya mendekati tirai itu dan menyingkapnya. Ternyata suaminya sedang menikmati keindahan malam ibu kota dari balkon hotel itu. Gea pun mendekati Calvin dan memeluknya dari belakang.
"Sayang," ucap Calvin saat merasakan sepasang lengan memeluk tubuhnya erat dari belakang.
"Mas Calvin lagi liatin apa?" tanya Gea sambil menyembulkan kepalanya dari balik tangan Calvin.
Kemudian Calvin menekan ponselnya yang ada di tangan. Gea bingung, sebab ia pikir Calvin ingin melakukan panggilan, tetapi ternyata tidak. Ia justru menekan tombol merah pada panggilan kemudian menarik lengan Gea sehingga kini posisi mereka berbalik. Kini Calvin lah yang memeluk Gea dari belakang.
"Lihat ke langit!" bisik Calvin di telinga Gea membuat Gea menggeliat karena geli.
Gea pun menuruti perintah sang suami, kemudian terdengar Calvin menghitung mulai dari angka satu membuat Gea kebingungan. Namun, sesuatu terjadi pada hitungan ke-lima.
"Satu-dua-tiga-empat-lima."
Zzzzt ... duar duar duar ...
Langit yang tampak begitu pekat karena tak ada satu bintang pun bulan tiba-tiba jadi terang benderang. Puluhan kembang api memercikkan cahayanya membuat langit kelam tersebut jadi begitu indah memukau mata.
"Mas," seru Gea dengan bibir merekah indah dan mata berbinar cerah.
"Kau suka?" bisik Calvin lagi sambil mengecup cuping telinga Gea membuat darahnya berdesir.
Gea pun mengangguk cepat, "bagus banget. Ini mas yang lakuin?"
"Menurutmu?" Bukannya menjawab, Calvin justru balik bertanya.
Gea pun segera membalikkan badannya dan melingkarkan tangannya di leher Calvin. Gea menjinjitkan kakinya kemudian mengecup bibir Calvin dengan binar cinta yang berkilauan.
"Makasih ya mas. Aku nggak nyangka, bisa dapat kejutan bertubi-tubi hari ini. Tahun ini merupakan tahun paling spesial sekaligus ulang tahun paling istimewa yang pernah Gea rasakan. Makasih ya, mas," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Tak lama kemudian, air matanya lirih disertai sebuah senyuman lebar. Air mata kali ini mengalir bukan karena kesedihan, melainkan sebaliknya, sebuah kebahagiaan. Bahagia karena dipertemukan laki-laki seperti Calvin. Bahagia karena memiliki pasangan hidup seperti Calvin.
__ADS_1
"Apapun yang bisa membuatmu bahagia akan aku lakukan, sayang."
Bagaimana Gea tidak merasa bahagia, memiliki suami yang begitu menyayangi dan mencintainya seperti ini.
Gea lagi-lagi menjinjit dan mencium bibir Calvin. Baru saja Gea hendak menarik wajahnya, tangan Calvin justru bergerak lebih cepat menahan tengkuknya. Kemudian Calvin menekan tengkuk itu dan memperdalam ciumannya. Dengan senang hati Gea menerima ciuman itu apalagi Calvin sudah menggerakkan bibirnya, melu*mat, memagut, dan mencecap bibir atas dan bawahnya. Tangan Calvin yang bebas bergerak mengusap punggung Gea dengan gerakan seduktif membuat Gea tanpa sadar melenguh dan di saat bersamaan Calvin melesatkan lidahnya ke dalam rongga mulut Gea. Lidah kedua saling bergulat dengan dengan gairah yang kian memuncak. Merasa pasokan oksigen kian menipis, Calvin pun menarik dirinya. Nafas keduanya terengah. Dahi keduanya masih saling menempel. Senyum bahagia merekah kedua bibir mereka.
"Mas, hari ini bukan cuma aku yang dapat kado, tapi kamu juga," tukasnya dengan senyum tak kunjung memudar.
"Lho, kok bisa! Emang ... kamu mau kasih mas kado juga?" tanya Calvin bingung dan Gea mengangguk.
"Gea ada kado spesial buat mas."
"Apa? Mas jadi penasaran," tukas Calvin dengan kedua alis terangkat ke atas.
Kemudian Gea merogoh kantong di outer piyama satinnya.
"Mas tutup mata dulu!" titahnya. Calvin pun menurut dan langsung menutup mata dengan dada berdebar.
Kemudian Gea menarik telapak tangan Calvin dan meletakkan sesuatu di atasnya.
"Silahkan mas buka mata!"
Calvin pun segera membuka mata dan memperhatikan dengan seksama benda panjang yang ada di telapak tangannya.
"Ini ... "
Calvin mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu benda apa yang diletakkan Gea di telapak tangannya itu.
"Mas nggak tahu ini apa?" tanya Gea dan Calvin menggeleng cepat membuat Gea terkekeh kecil.
"Ini namanya testpack alias alat test kehamilan."
__ADS_1
"Terus?" tanya Calvin masih bingung.
"Nah, ini ada berapa garis yang muncul?"
"Hmmm ... 2."
Kemudian Gea menarik ponsel Calvin yang ia letakkan di meja sampingnya kemudian mengetikkan sesuatu di dalamnya.
Dalam hitungan detik, mata Calvin membola. Senyumnya merekah sangat lebar hingga matanya terlihat menyipit.
"Ka-kamu ... hamil sayang?" tanya Calvin terbata.
Gea mengangguk seraya tersenyum manis.
"Selamat jadi calon papa, mas," ucap Gea membuat Calvin tanpa sadar menitikkan air matanya. Lalu Calvin pun menarik tubuh Gea dan mendekapnya erat. Dikecupnya kening, mata, hidung, pipi, dan berakhir di bibir. Ini benar-benar kado yang sangat luar biasa bagi pasangan itu.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih.as bahagia. Sangat bahagia. I love you."
"I love you more than you know."
Kemudian mereka menutup malam indah itu dengan saling berpagutan mesra. Indah. Malam itu memang terasa begitu indah bagi keduanya. Ternyata bukan hanya Gea yang mendapatkan kejutan spesial, tapi juga Calvin.
Tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Calvin untuk mendua apalagi menikah lagi. Namun, ternyata takdir berkata lain. Kehadiran Gea di saat ia dilanda kesepian mampu membuat hidupnya lebih berwarna. Awalnya dalam diam, Calvin merasa sedikit rasa bersalah pada Anastasia. Bagaimana pun Anastasia telah menjadi istrinya selama 3 tahun ini, namun sikapnya kerap membuatnya kecewa. Di antara kekecewaan yang makin menggerogoti benaknya, fakta-fakta kehidupan mantan istrinya di luar sana pun terkuak. Hingga satu keputusan tak terduga pun ia ambil. Dan kini ... Calvin tak pernah menyesali keputusannya itu. Sebab ternyata keputusannya itu mampu menyempurnakan hidupnya dan memberikannya kebahagiaan luar biasa.
...***...
Kabar bahagia kehamilan Gea kini telah sampai di telinga Nathalia. Tak ingin Gea merasa sendirian, kesepian, pun kelelahan, Nathalia memboyong asisten rumah tangganya ke rumah Calvin yang baru.
Ya, kini Calvin dan Gea telah menempati rumah baru. Rumah yang jauh dari kenangan sang mantan istri. Calvin ingin memberikan segala yang terbaik untuk sang istri termasuk sebuah rumah yang memang khusus diperuntukkan untuknya. Menurutnya, Gea pantas mendapatkan yang terbaik. Bukan bekas sebab rumah lama itu dibelinya untuk Anastasia.
Dan di sinilah mereka sekarang. Menghuni sebuah rumah yang terdiri atas 3 lantai dengan didominasi cat warna putih. Halaman bagian depan terbentang luas. Bagian belakang terdapat gazebo dan kolam renang. Karena rumah itu sangat besar, tidak mungkin Gea mengandalkan satu orang asisten rumah tangga saja. Jadi Nathalia memboyong semua asisten rumah tangganya ke sana. Apalagi Gea juga meminta Nathalia tinggal bersama mereka. Gea tentu tak tega melihat mertuanya itu tinggal seorang diri di usia senjanya. Tentu saja Nathalia menyambutnya dengan bahagia. Bila dulu Anastasia jangankan mengajaknya tinggal bersama, ke rumahnya saja Anastasia enggan. Namun Gea justru sebaliknya. Ia begitu menyayangi ibu mertuanya itu seperti ibu kandungnya sendiri. Nathalia bahagia, akhirnya ia bisa menghabiskan masa tuanya dengan anak, menantu, dan calon cucunya.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...