Aku Sang Pelakor

Aku Sang Pelakor
Bab. 25


__ADS_3

Mentari pagi mulai menyapa. Bahkan cahayanya mulai mengintip dari celah-celah gorden yang membentang di jendela balkon kamar presidential suite itu.


Untuk pertama kalinya dalam hidup, Gea bangun kesiangan. Bila biasanya sebelum fajar Gea sudah sibuk berkutat dengan pakaian kotor milik tetangganya, maka pagi ini ia justru masih asik bergelung dengan selimut dan jangan lupakan satu hal, sebuah lengan kekar yang melingkar di perutnya dan sebuah dada bidang yang mendekapnya hangat dan erat.


Gea menggeliat dalam tidurnya, perlahan ia mengerjapkan mata hingga netranya bersirobok dengan netra Calvin yang entah sejak kapan telah terjaga.


"M-mas Calvin, udah lama bangun?" tanyanya dengan suara sedikit serak, khas baru bangun dari tidur. "Maaf, Gea kesiangan," lanjutnya lagi saat sadar jarum jam ternyata telah menunjukkan pukul 8. Ternyata pergulatan panas mereka semalam cukup melelahkan. Apalagi saat dini hari, mereka kembali terjaga kemudian melanjutkan pertempuran mereka dengan lebih panas lagi. Wajah Gea seketika bersemu saat teringat bagaimana ia mencumbu tubuh suaminya tentunya atas inisiatifnya sendiri. Ia tak ingin hanya pasif saja, ia pun ingin bergerak aktif untuk memberikan kepuasan lahir batin pada sang suami. Alhasil, pagi ini ia baru merasakan kalau tubuhnya terasa remuk redam. Sekujur tubuhnya terasa ngilu. Apalagi pada bagian pangkal paha, perih dan sedikit berdenyut makin tenar jelas. Padahal saat melakukannya, ia hanya merasakan kenikmatan, tapi ternyata efeknya baru ia rasakan pagi ini. Gea sampai kesulitan sendiri untuk bergerak.


Mendengar ucapan Gea, Calvin justru mengeratkan pelukannya. Telapak tangannya terangkat untuk merapikan rambut Gea yang terlihat berurai berantakan. Namun bagi Calvin, bukannya terlihat jelek, Gea justru terlihat makin memesona.


Calvin jadi teringat saat pertama ia memasuki lembah surgawi istri mudanya itu. Terasa rapat, ketat, kesat, mencengkram kuat, dan begitu nikmat. Calvin jadi menerawang saat ia pertama kali menikah dengan Anastasia. Saat ia pertama kali memasukinya, Anastasia pun memekik khas orang kesakitan. Ia juga meringis karena telah memberikan keperawanannya padanya, tapi kenapa rasanya berbeda?


Calvin juga tidak melihat bercak sedikit pun. Calvin tidak mempertanyakan itu sebab ia pun pernah membaca, tidak semua gadis mengeluarkan darah keperawanan. Banyak faktor yang bisa jadi penyebab. Lagipula ia yakin, Anastasia merupakan gadis baik-baik saat itu. Tapi kenapa, setelah ia melakukan malam pertama dengan Gea, ia merasakan perbedaan yang begitu signifikan.


Tidak seperti Anastasia yang tidak mengeluarkan darah saat mereka pertama kali bercinta, Gea justru sebaliknya. Meski hanya sedikit, namun ia bisa melihat jelas dan bercak-bercaknya yang bercampur dengan bekas-bekas percintaan mereka yang menetes di atas seprai.


Tiba-tiba keraguan menyusup di relung sanubari Calvin. Ia tak pernah meragukan cinta dan ketulusan hati Anastasia selama ini, namun kali ini mengapa ia begitu meragukannya?


Melihat Calvin yang justru termangu, tanpa menjawab ucapannya sama sekali. Wajah Gea berubah menjadi sendu. Ia pun berusaha mengangkat tangan Calvin dari atas perutnya, membuat pria yang telah resmi menjadi suami dia tersebut tersentak.


"Ah, sayang, kau mau kemana?" tanya Calvin saat sadar Gea sudah hendak beranjak dari tempat tidur.

__ADS_1


"Mas ngelamunin apa sih? Apa mas ngelamunin mbak Anastasia? Mas nyesel nikah sama Gea? Mas merasa bersalah sama mbak Anastasia? Maaf ya mas, kehadiran Gea membuat mas jadi merasa ... "


"Ssst ... jangan berpikir yang tidak-tidak! Mas nggak mikirin itu kok. Justru sebaliknya, mas mikirin kamu. Mas merasa bersyukur banget dipertemukan sama kamu. Dan mas bahagia bisa menikahi kamu. Mas nggak pernah menyesal menjadikan kamu istri mas. Jadi, jangan berpikir macam-macam lagi oke!" ucap Calvin seraya berdiri membuat Gea memaki kaget saat melihatnya.


Bagaimana tidak kaget, tanpa rasa malu ataupun canggung, Calvin justru memamerkan tubuh polosnya yang hanya ditutupi segitiga bermudanya saja. Gea sontak menutup matanya dengan wajah yang sudah merah padam.


"Mas," pekik Gea membuat Calvin terkekeh geli. Lalu dengan sekali sentak, Gea kini sudah berada dalam gendongannya membuat Gea reflek mengalungkan tangannya di leher Calvin.


"Kita mandi bareng aja ya biar cepat!" ucap Calvin acuh tak acuh.


"Mas," pekik Gea frustasi. Ia malu. Meskipun mereka telah saling melihat tubuh masing-masing dalam keadaan polos, tetap saja ia merasa malu.


"Malu?" goda Calvin. "Ck ... padahal semalam mata kamu sampai membulat gitu liat punya mas yang lagi on fire," lanjutnya membuat Gea makin malu mengingat bagaimana ia begitu penasaran ingin memegang senjata suaminya yang sedang mengacung tegak. "Lagipula mas kan udah lihat bahkan setiap inci tubuh kamu sampai tahi lalat di pinggul pun mas udah lihat, jadi kenapa harus malu lagi?"


...***...


Sementara itu, di kediaman Calvin tampak seorang wanita paruh baya sedang duduk dengan angkuh di sofa ruang tamu. Dia adalah Monika, ibu dari Anastasia.


"Kemana Calvin?" tanya Monika pada bi Murni, pekerja di kediaman Calvin. Seperti biasa, saat pagi hari ia akan berada di rumah itu untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian.


"Maaf, nyonya. Saya tidak tahu. Sejak kemarin tuan Calvin belum pulang," jawab Bi Murni jujur. Ia memang tidak tahu menahu perihal kegiatan tuannya tersebut.

__ADS_1


Monika berdecak kesal, lantas ia meraih ponsel dan berusaha menghubungi Calvin, namun nomor yang ia hubungi ternyata tidak aktif. Monika sampai mengumpat. Tidak biasanya menantunya itu bersikap seperti itu. Biasanya, nomornya tak pernah tidak aktif. Bahkan setiap ia menghubungi ingin meminta bantuannya, tanpa banyak tanya Calvin langsung bergerak. Termasuk saat memberikan jatah bulanannya. Ia tak pernah terlambat, namun kali ini ia merasa heran, mengapa menantunya itu seakan-akan lupa dengan kewajibannya untuk mengirimkannya sejumlah uang seperti yang biasa ia lakukan.


Tadi ia sudah datang ke kantor Calvin, ternyata ia tidak ada. Ia pikir mungkin Calvin berada di rumah, namun ternyata Ia juga tidak berada di rumah.


"Jadi kemana dia? Tidak biasanya Calvin tidak berada di kantor maupun rumah. Dihubungi juga tidak bisa," gumamnya sambil memutar-mutar ponsel di tangannya.


Monika yang sangat tahu betapa Calvin mencintai Anastasia tidak pernah berpikir kalau Calvin akan melakukan hal yang macam-macam di belakang putrinya.


"Apa dia ada pekerjaan di luar kota?" gumamnya lagi lantas ia segera menghubungi Anastasia kemudian menceritakan perihal yang terjadi.


"Mama minta kamu nanti segera hubungi Calvin! Minta ia segera kirim uang mama. Atau gini aja kamu kirim saja dulu uang ke Mama nanti baru kamu minta gantinya dengan suami kamu itu," tukas Monika membuat Anastasia berdecak kesal.


"Nanti aja ah! Aku sedang sibuk. Nanti aku pasti hubungi Calvin. Mama tunggu aja, mungkin dia sedang ada kerjaan jadi belum sempat transfer."


Lalu tanpa basa-basi, Anastasia langsung menutup panggilan itu membuat Monika mengumpat kesal.


"Dasar anak kurang ajar. Main tutup aja," geram Monika dengan wajah masam.


Sementara itu, di Milan, Anastasia terus bertanya-tanya, mengapa sikap Calvin benar-benar berubah. Bahkan ia tak menggubris pesan dan panggilan telepon darinya.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Sepertinya Calvin benar-benar marah saat ini. Aku harus segera pulang dan mengambil hatinya kembali sebelum ia benar-benar membuangku," gumam Anastasia sambil membaca deretan pesan yang ia kirimkan sejak kemarin. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak membuat hati Anastasia kian tidak tenang.

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2