Aku Sang Pelakor

Aku Sang Pelakor
Ch. 40


__ADS_3

Tepat tengah malam, rumah sakit Healthy Life tampak riuh. Baik petugas medis, maupun tim keamanan, semua tampak sibuk karena suatu kejadian tak terduga yang dialami salah satu pasien VVIP rumah sakit tersebut.


Begitu pula pemilik rumah sakit itu, nampak begitu shock saat di waktu istirahatnya, tiba-tiba suara panggilan telepon memekakkan telinga membuat dirinya terbangun dari dalam tidurnya. Yang membuat shock adalah kabar tak terduga yang baru saja dikabarkan asisten pribadinya padanya. Nathalia, sang pemilik Rumah Sakit Healthy Life tampak begitu terguncang. Ia sampai terduduk lemas. Baru saja ia merasa tenang karena tadi siang ia mendapatkan kabar kalau pendonor ginjal untuk besannya selamat dari kecelakaan pesawat sebab mereka terlambat datang ke bandara, sedangkan pesawat telah lepas landas 10 menit yang lalu. Namun, ternyata yang terjadi justru peristiwa yang lebih buruk dari dugaannya. Nathalia menggeram murka. Tangannya terkepal erat dengan jantung bertalu-talu pun nafasnya terdengar memburu.


"Kurang ajar kalian! Aku takkan melepaskan kalian berdua. Itu sumpahku!" desisnya penuh kemurkaan.


Flashback on


Karena amarah dan kebencian Anastasia dan Monika pada Gea membuat mereka sibuk memikirkan bagaimana caranya membalas perbuatan Gea pada mereka. Mereka lantas menyelidiki segala hal yang menyangkut tentang Gea. Hingga mereka pun akhirnya mengetahui fakta Ibu Gea. yang sedang dirawat di rumah sakit milik ibu Calvin membuat mereka merencanakan hal licik guna membalaskan dendam dan sakit hati mereka.


Oleh sebab itu, saat tengah malam, Anastasia dan pun datang ke rumah sakit itu dengan menyamar sebagai seorang perawat. Kemudian diam-diam mereka menyelinap masuk ke ruang perawatan Martini.


"Ma," Anastasia memanggil Monika seraya berbisik memberikan kode kalau ada perawat yang menemani Martini namun ia dalam keadaan tidur di sofa.


Monika yang paham lantas mengambil sapu tangan kemudian meneteskannya sesuatu ke sana. Kemudian secara diam-diam, Monika membawa sapu tangan itu dan membekapkannya di hidung perawat itu.


"Hmmmmphhh .... hmmmph ... " Perawat itu mencoba memberontak namun matanya keburu terasa berat kemudian ia pun ambruk tak sadarkan diri.


"Hahaha ... " Monika dan Anastasia tergelak saat berhasil membuat perawat itu pingsan. Mendengar suara keributan di ruangannya, Martini lantas terbangun dari tidurnya.


Namun ia langsung terkesiap saat melihat siapa yang tengah berdiri di hadapannya sambil menatap dirinya dengan sorot penuh kebencian.


"Ka-kalian?" ucap Martini terkejut tapi justru dibalas menyeringai oleh mereka berdua. Tentu ia tahu siapa 2 wanita yang mengenakan seragam perawat itu. Untuk Monika, tentu ia ingat dengan wajah gundik yang merebut suaminya dari dirinya maupun ayah dari anaknya. Sedangkan perempuan yang lebih muda, ia pernah melihat di televisi. Keberadaan televisi di ruangan Martini membuatnya kerap menonton untuk menghilangkan jenuh. Banyaknya infotainment yang berseliweran kerap memberitakan hal yang sama bahkan hingga berkali-kali membuat para penonton jengah. Jadi sangat wajar ia bisa mengingat dengan jelas kedua perempuan jahat itu.


"Ya, ini aku," sahut Monika dengan tersenyum mengejek. "Aku pikir hidupmu baik-baik saja setelah suamimu aku ambil, tahunya ... hahahaha ... kasihaaaan," ejek Monika merasa bangga berhasil menghancurkan rumah tangga seorang wanita padahal dirinya pun wanita tapi seolah mati rasa tak punya hati, dengan tega-teganya Monika menghancurkan biduk rumah tangga Martini yang sudah terjalin sekian tahun lamanya.


"Mau apa kalian ke sini?" tanya Martini lemah. Ada sedikit getar rasa takut melihat kedua perempuan jahat itu. Apalagi mereka sampai membius perawat yang bertugas menjaganya malam ini, sudah bisa ditebak mereka pasti memiliki rencana busuk pada dirinya.


"Kau tanya mau apa kami ke sini nenek tua?" tanya Anastasia dengan nada mencemooh kemudian tersenyum sinis. "Tentu saja untuk menghabisimu,. Hahahaha ... " Anastasia tergelak kencang. Ia merasa sebentar lagi akan berhasil melenyapkan ibu dari wanita yang telah merebut Calvin darinya. Ibu dari perempuan yang menjadi penyebab segala malapetaka yang menimpa dirinya. Tidakkah ia sadari, apa yang ia tuai ini merupakan buah hasil perbuatannya sendiri.

__ADS_1


Deg ...


Mendengar hal tersebut, terang saja membuat Martini ketakutan bukan kepalang. Tubuhnya bergetar, tapi ia tetap berusaha bersikap tenang.


"Jangan macam-macam kalian!" sergah Martini was-was. "Aku bisa melaporkan kalian pada pihak yang berwajib bila mencoba macam-macam denganku!" desis Martini dengan suara lemahnya.


"Udah mau mati tapi masih banyak bacot. Udah yuk ma, segera kita akhiri semuanya sampai di sini. Bye ... bye ... " Ucap Anastasia bahagia.


Lalu Anastasia merangsek maju ke depan dan mengambil sebuah bantal yang tergeletak di lantai sana kemudian membekapkan di mulut Martini. Martini awalnya berontak, tapi karena fisik yang lemah. Sedangkan Monika segera mengeluarkan gunting dan menggunting selang cairan infus yang menancap di pergelangan tangannya.


Saat merasa Martini sudah tidak bergerak lagi, barulah mereka melepaskan bekapan itu. Keduanya tersenyum puas lalu dengan mengendap-endap, mereka pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Martini yang sudah tak bernyawa.


2 jam kemudian, perawat yang tadi dibius Monika, mulai mengerjapkan matanya. Ia tersentak saat menyadari kalau ia tadi telah dibius seseorang. Khawatir akan keadaan pasien yang ditugaskan padanya untuk dijaga, dengan kesadaran yang belum benar-benar pulih, perawat itu beranjak mendekati ranjang Martini. Mata perawat itu membeliak saat melihat selang infus telah terputus dan wajah Martini telah sepucat kapas. Ia pun bergegas memeriksa keadaan Martini, perawat itu seketika terhenyak saat mengetahui pasiennya telah tidak bernyawa lagi. Dengan tubuh yang bergetar ia pun segera menekan tombol darurat. Tak lama kemudian dokter pun segera berhambur ke ruangan itu. Dokter itu menggeleng, Martini ternyata benar-benar telah tiada.


Flashback off


...***...


"Sayang, bangun sayang. Sayang ... "


Mata Gea seketika terbuka. Dengan nafas memburu dan jantung berdegup kencang, Gea langsung berhambur ke pelukan Calvin lalu memeluknya erat kemudian menangis kencang membuat Calvin terkesiap.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu mimpi buruk, hm?"


"Mas, ibu, Mas, ibu ... huhuhu ... " Gea tergugu melihat membuat Calvin kebingungan. Lantas Calvin pun mengusap punggung Gea dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Ibu kenapa, sayang? Kamu mimpi? Ingat sayang mimpi itu bunga tidur, jadi jangan terlalu dipikirkan," ujar Calvin memberikan nasihat. Tapi Bunga masih saja menangis.


"Tapi mas, di mimpi Gea, ibu ... ibu ... "

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar dering ponsel Calvin. Calvin sangat tahu panggilan dari siapa itu sebab ia sengaja menyematkan nada dering khusus untuk 2 orang terdekatnya, yaitu ibu dan istrinya.


"Sayang, mas angkat panggilan dari mama dulu ya!" ujar Calvin yang diangguki Gea meskipun masih dalam keadaan terisak. Setelahnya Calvin pun segera mengangkat panggilan itu.


"Halo ma, assalamu'alaikum."


"... "


Seketika Calvin tersentak. Nafasnya menderu. Raut wajah pun memucat membuat Gea yang tadi terisak seketika cemas. Untuk apa mama mertuanya menghubungi Calvin dini hari seperti ini? Apa telah terjadi sesuatu yang buruk? Tapi apa? Gea hanya menunggu Calvin menjelaskan padanya.


"Ada apa, mas? Apa ada hal buruk yang telah terjadi?" tanya Gea cemas sambil menyeka air matanya kasar.


"Maaf, mas belum bisa jelasin sekarang! Lebih baik, kita segera ke rumah sakit," tukas Calvin cepat sambil mengusap puncak kepala Gea dengan sorot mata sendu dan nyaris berkaca-kaca.


Melihat Calvin seperti itu, rasa khawatir seketika menyeruak. Gea pun bergegas mengganti baju tidurnya dengan yang lebih layak kemudian segera pergi mengikuti langkah Calvin yang kini telah menggandengnya.. Meskipun Calvin tetap berusaha tersenyum, tapi entah mengapa senyum itu terasa pahit. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan suaminya itu. Tapi apa? Gea tak ingin bertanya.


Seketika Gea mengingat mimpinya tadi. Di dalam mimpi itu, ibunya datang menemuinya menggunakan gamis panjang berwarna putih. Wajah ibunya terlihat begitu cantik, tidak pucat lagi. Bahkan ibunya tersenyum sangat manis. Seolah tak ada lagi beban yang menghimpit pundaknya. Kemudian ibunya memeluk tubuhnya erat. Tak lupa Martini mencium pipi kiri dan kanan serta dahi Gea. Setelah itu, Martini perlahan menjauh sambil melambaikan tangan. Melihat itu, Gea berusaha mengejar, tapi ibunya justru menghilang bersama kabut putih yang memenuhi padang ilalang tempatnya berdiri.


...***...


...Maaf ya kakak kemarin othor nggak up soalnya ada kesibukan yang nggak bisa ditinggal. Mana malamnya si bocil demam tinggi jadi nggak bisa konsen deh mau ngetik....


...Terima kasih atas segala dukungannya!...


...Jangan lupa mampir ke cerita othor yang lain ya!...


...Selamat berakhir pekan semua. 🥰🥰🥰...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2