Aku Sang Pelakor

Aku Sang Pelakor
Bab. 26


__ADS_3

Gea tampak sedang berkutat di depan penggorengan. Ia sedang membuat sarapan untuk sang suami. Setelah 3 hari menginap di hotel, akhirnya semalam mereka kembali ke rumah itu. Bahkan kini Gea telah menempati kamar utama rumah itu.


Bagaimana dengan barang-barang milik Anastasia?


Ternyata tanpa sepengetahuan pasangan pengantin baru itu, semua barang-barang Anastasia telah berpindah ke kamar lainnya. Semua itu tentu tak lepas dari tangan sang Nyonya besar, siapa lagi kalau bukan Nathalia.


Bahkan Gea benar-benar tak menduga hal itu. Nathalia juga melengkapi semua kebutuhan Gea. Gea benar-benar seperti menantu kesayangan. Semua serba baru dan mahal, membuatnya sampai menganga dengan decakan kagum luar biasa.


Bagaimana dengan Calvin?


Dia tak mempermasalahkannya sama sekali. Mungkin karena rasa kecewanya dengan sikap Anastasia selama ini, membuat rasa cintanya perlahan terkikis. Apalagi kini ia telah memiliki Gea. Meskipun ia belum bisa memastikan perasaannya pada perempuan yang sudah tak gadis lagi itu, tapi dari dasar hati yang terdalam, ia menyadari ada rasa sayang seiring dengan rasa nyaman yang diberikan istrinya itu padanya. Kehadiran Gea membuatnya sempurna, baik sebagai seorang laki-laki maupun sebagai seorang suami.


Deg ...


Tiba-tiba tubuh Gea menegang saat sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang. Jantungnya seketika berdetak dengan kencang, darahnya berdesir. Meskipun mereka telah beberapa kali melakukan lebih dari ini semenjak mereka menikah, bahkan hampir di setiap waktu senggang mereka isi dengan sesi percintaan yang panas dan menggebu, namun tetap saja rasa gugup, tegang, dan berdesir itu ia rasakan saat tubuhnya dan Calvin saling menempel seperti ini.


"Mas ... " Rengek Gea manja saat telapak tangan Calvin telah merayapi bagian depan tubuhnya. Lalu tangan itu dengan nakalnya mere*mas dada Gea dan memilih ujungnya membuat Gea meremang.


"Apa sayang?" desis Calvin serak. Niat hati ingin mengganggu sang istri, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ia justru terbakar sendiri dengan gairah yang mulai naik ke permukaan.


"Mas, Gea ... Gea mau masak dulu ahhh ... "


Ceklek ...


Tak ingin kegiatannya terhenti, Calvin lantas mematikan kompor.


"Nanti aja masaknya. Mas ... sudah nggak tahan," bisiknya sambil menggigit cuping telinga Gea membuat Gea menggelinjang kegelian.

__ADS_1


Kaki Gea seketika melemas saat salah satu tangan Calvin telah menyusup di antara kedua kakinya. Kepala Gea mendongak ke atas dengan mata merem melek saat jari-jari kokoh suaminya itu bermain di bawah sana membuat ******* lolos dari bibir tipisnya.


"Mas, ini di da-pur. Gi-gimana ka-lau ada yang da-tang," ucap Gea terbata sambil mendesah antara geli bercampur nikmat.


"Tak masalah, sayang. Tidak ada yang akan menggangu kita."


Lalu tanpa banyak bicara lagi, Calvin meraih bokong Gea dan mendudukkannya di atas meja dapur. Tangan Gea reflek mengalungi leher Calvin membuat mata mereka kini saling beradu dengan kilat gairah yang kian menggebu.


Tangan Calvin terulur mengusap pipi mulus Gea dengan lembut, membuat Gea tersenyum manis karena merasa begitu disayangi.


"Kau tahu sayang, sudah lama aku memimpikan bisa melakukan hal seperti ini," ucap Calvin lirih seraya memandang lekat wajah cantik Gea.


"Seperti ini? Maksud mas?" tanya Gea belum begitu paham maksudnya.


"Ya, seperti yang barusan kita lakukan. Melihat istriku sedang memasak, mengganggunya, memeluknya mesra saat di dapur, lalu ... bercinta di setiap bagian rumah ini," ucapnya seraya tersenyum jahil campur mesyum.


"Ck ... ujung-ujungnya mesyum," ejek Gea seraya terkekeh. "Gea pikir semua itu cuma ada di novel aja, taunya emang ada ya suami modelan mas kayak gini," imbuhnya sambil membelai rahang tegas Calvin.


Calvin menjatuhkan wajahnya di ceruk leher Gea setelah mendapatkan pelepasannya. Dengan nafas yang tersengal, Calvin tersenyum.


"Terima kasih, sayang. Kau memang yang terbaik," puji Calvin tulus membuat Gea tersenyum lebar.


"Terbaik ya terbaik, tapi Gea lapar." Gea mengerucutkan bibirnya membuat Calvin terkekeh. Tubuh Gea sudah lemas. Ia sudah kehilangan semangat untuk memasak. Ya ada justru ia ingin segera berbaring di atas ranjangnya yang empuk. Tapi sebelumnya ia harus makan dahulu karena perutnya sudah berdemo minta diisi.


"Maaf," ucap Calvin sambil mengulum senyum seperti tidak merasa bersalah sama sekali. "Kita sarapan di luar aja gimana? Setelahnya ikut mas ke kantor, oke?" tawar Calvin sambil menatap wajah Gea yang masih cemberut.


Gea nampak berpikir, "aku masih kerja jadi asisten pribadi, mas ya?" tanyanya polos.

__ADS_1


"Ikut bukan berarti bekerja, sayang. Tapi menemani sekaligus melayani. Pasti menyenangkan saat bekerja ada yang menunggui. Bikin makin semangat berkerja."


"Terserah mas aja deh! Tapi kalau di kantor jaga jarak aman ya! Aku nggak mau jadi bahan gosip."


Calvin tersenyum, "kita lihat aja nanti!" jawabnya sambil menyeringai jahil.


...***...


Sebuah mobil berwarna merah tampak memasuki pekarangan rumah Calvin. Setibanya di carport, sang sopir pun segera membukakan pintu tuannya sambil membungkukkan sedikit badannya.


Seorang wanita cantik pun keluar dari dalamnya dengan tersenyum lebar. Tak sabar rasanya ia ingin memberikan kejutan pada sang suami. Ya, dia adalah Anastasia. Ia baru saja tiba di Indonesia dua jam yang lalu. Sebelum pulang, ia terlebih dahulu menghampiri rumah orang tuanya, setelah itu barulah ia pulang untuk membuat kejutan berharap Calvin tidak marah lagi padanya


Diliriknya, jarum jam menunjukkan pukul 2 siang. Ia tahu, Calvin pasti masih berada di kantor. Sementara suaminya masih bekerja ia akan menyiapkan kejutan. Dengan penuh semangat, Anastasia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah menuju kamar.


Namun netranya membulat saat melihat beberapa perabot miliknya yang telah berubah. Semua berganti yang baru. Jantungnya berdebar, mungkinkah Calvin hendak memberikan kejutan untuknya dengan membelikan perabot yang lebih mahal dan terbaru itu pikirnya. Bahkan meja riasnya pun telah berubah. Alat-alat make up, parfum, dan skin carenya juga nampak berbeda. Sofa yang biasa mereka duduki pun telah berganti dengan yang terbaru.


Dengan tersenyum lebar Anastasia masuk ke walk in closet untuk memeriksa barang-barangnya seperti perhiasan, tas, pakaian, sepatu, dan koleksi jam tangan mewahnya, mungkinkah ada sesuatu yang lebih spesial lagi pikirnya.


Namun, matanya membelalak saat melihat deretan pakaiannya sudah tidak ada dan berganti pakaian yang ia ketahui brand ternama tapi tak ada satupun miliknya. Bahkan koleksi perhiasan, tas, sepatu, jam tangan, semuanya tidak ada. Semuanya berubah. Semuanya serba baru. Matanya mengerjap bingung. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di sini. Tapi apa, ia masih belum bisa mencernanya.


"Di-dimana barang-barangku?" gumamnya sambil memperhatikan ke sekeliling.


Ingin bertanya, tapi di rumah itu tak ada asisten rumah tangganya. Hanya ada keamanan yang berjaga di depan. Tak mungkin pula ia bertanya pada Calvin, bisa-bisa rencananya gagal pikirnya.


Anastasia menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar dilanda kebingungan saat ini.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumamnya mendadak merasa khawatir.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2