Aku Sang Pelakor

Aku Sang Pelakor
Bab. 24


__ADS_3

Gea tampak kebingungan di kamar mandi. Ia tak henti-hentinya mondar-mandir layaknya setrika. Sesekali ia menggigit ujung kukunya dengan gelisah. Ingin memanggil Calvin, tapi ia malu. Ingin keluar begitu saja, lebih malu lagi sebab ia lupa membawa pakaian ganti ke dalam sana. Hanya ada selembar handuk putih yang membalut separuh tubuhnya. Ya, hanya separuh, sebab sebagian aset kembarnya saja sudah mengintai dan setengah pahanya sudah melambai seolah tidak sabar ingin minta jamah dengan suaminya itu.


"Astaga, gimana ya? Keluar, enggak, keluar, enggak? Kalau keluar, entar kata mas Calvin aku kayak udah nggak sabaran banget. Kayak udah haus belaian banget. Kayak cewek penggoda. Tapi mau minta ambilin baju ganti, malu juga. Kan pasti ada dalaman yang harus diambil. Duh, kok jadi bloon gini sih! Harusnya tadi sebelum masuk, bawa baju ganti dulu," gumam Gea kebingungan.


Sementara itu, di sofa, tampak Calvin memperhatikan pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka.


"Kok lama banget ya? Apa dia grogi?" gumam Calvin sambil mengulum senyum.


Lalu mata Calvin melirik ke koper kecil yang masih bersandar di tempat ia letakkan sebelumnya. Dahinya berkerut, kini ia sadar mengapa Gea tak kunjung keluar juga. Lantas ia pun segera membuka koper milik Gea. Matanya membulat saat melihat beberapa gaun seksi dan juga ada lingerie yang tersusun rapi di dalamnya.


"Ini tadi yang serahin Mega atas perintah mama. Hmmm ... sepertinya mama suka banget sama Gea sampai-sampai melakukan hal kayak gini. Aku yakin, semua ini ide mama. Mana mungkin Gea yang masih polos itu bisa berpikir sampai sejauh ini," gumamnya sambil mengambil sebuah gaun tipis dan ********** kemudian ia beranjak membawanya ke depan pintu kamar mandi.


Tok tok tok ...


Gea terperanjat saat pintu kamar mandi diketuk. Ia sampai menelan ludahnya sendiri.


"I-iya, mas. A-ada apa? Tung-tunggu sebentar. Gea ... Gea masih sakit perut," dusta Gea sambil menggigit bibirnya.


Mendengar hal tersebut, Calvin pun menempelkan sebelah wajahnya ke pintu, "Ge, ini ambil pakaian ganti kamu. Kamu lupa bawa pakaian ganti kan!" pekik Calvin dari balik pintu membuat Gea makin merasa malu hingga ke ubun-ubun.


"Astaga, ternyata mas Calvin udah nyadar toh! Benar-benar suami idaman banget. Kau memang perempuan bodoh Anastasia. Kau menyia-nyiakan laki-laki seperti Calvin demi karirmu yang bahkan tak mungkin bisa membantumu saat kau mati nanti. Dasar bodoh. Lihat, kini suamimu ada dalam genggamanku. Aku pastikan, kau akan menyesal sampai ingin menangis darah saat suamimu lebih memilihku nanti," seringai Gea sambil membayangkan wajah Anastasia.


"Bukan aku bermaksud jahat, tapi kau pun harus merasakan jadi aku dan ibuku. Kami berdua menderita karena ulah kalian dan aku takkan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membalaskan dendam aku dan ibuku. Kalian memang pantas merasakannya. Dan kau tuan Mardian yang terhormat, aku ingin tahu bagaimana reaksimu saat suami dari anak kesayanganmu direbut anakmu yang lain," imbuhnya sambil menyeringai puas.


Gea lantas membuka pintu dan menyembulkan kepalanya ke luar. Kemudian tangannya terulur untuk meriah baju yang disodorkan Calvin. Namun baru saja tangannya terulur dan memegang pakaian gantinya, Calvin justru menarik pergelangan tangan Gea hingga ia tertarik keluar dengan tubuh yang hanya tertutup sebagian dengan handuk. Wajah Gea sampai merah hingga ke telinga. Ia benar-benar malu. Seumur hidupnya, tak pernah ada yang melihat tubuhnya dalam keadaaan nyaris telan*jang seperti ini. Dan hanya Calvin satu-satunya.


"Mas," pekik Gea terkejut saat tubuhnya kini sudah merapat sempurna ke tubuh Calvin. Bahkan ia bisa merasakan aroma tubuh bercampur parfum yang melekat di tubuh suaminya itu dengan jelas.

__ADS_1


"Kenapa? Malu?" goda Calvin sambil menyeringai.


"Udah tau, nanya. Mas, aku mau pakai baju dulu. Lepas!" rengek Gea manja yang justru membuat Calvin makin mengeratkan pelukannya.


"Ngapain pakai baju? Kan bentar lagi dibuka lagi. Malah kita bakal sama-sama polosan," godanya lagi membuat Gea rasanya ingin menyembunyikan wajahnya yang pasti telah merah hingga ke telinga dan leher.


"Ge, sebenarnya kamu pakai apa, hm? Kenapa dalam sekejap saja kau bisa membuatku yang sukar nyaman dengan seseorang tiba-tiba merasa luluh bahkan jatuh pada pesonamu? Nggak mungkin kan kamu pakai susuk atau semacamnya itu?"


"Ck ... enak aja. Musyrik tahu. Biar dikata aku masih sering lalai, aku masih tahu mana yang boleh dan nggak."


"Tapi sungguh, aku bahagia bisa memilikimu. Menjadikanmu istriku."


"Mas, bagaimana kalau mbak ... "


"Please, nggak usah bahas orang lain dulu. Yang penting sekarang itu kita, aku dan kamu. I want you, Ge. Aku ingin kamu. Sekarang. Bisa?"


'Ya, karena aku sang pelakor.'


Melihat anggukan dari Gea, Calvin merasa seolah-olah mendapat angin dari surga. Ia lantas meraih tengkuk Gea dan menyatukan bibirnya dengan bibir Gea yang sudah menjadi candu semenjak pertama kali ia mengecupinya.


Ada rasa bahagia dan bangga yang membuncah sebab ia akan jadi laki-laki pertama dan satu-satunya bagi Gea. Bahkan setiap inci kulitnya, ia yakini hanya dia saja yang pernah menyentuhnya.


Calvin melu*mat bibir Gea dengan rakus. Sudah lama ia menantikan kesempatan ini. Semenjak terakhir kali mereka berciuman, entah berapa kali ia bermimpi kembali melu*mat bibir Gea seperti ini. Namun keinginan itu harus ia tahan sampai mendapatkan kepastian dan jawaban dari Gea sebab ia tahu bila mereka kembali melakukannya, bukan tidak mungkin ia menginginkan lebih. Gea memang secandu itu. Bahkan melihatnya memakai apron saja bisa membangkitkan hasratnya. Gila kan! Ya, itu benar-benar gila dan Calvin bisa benar-benar gila bila tidak bisa memiliki Gea.


Calvin lantas menuntun Gea ke ranjang king size bertabur bunga di kamar itu lalu dengan perlahan membaringkannya tanpa melepaskan pagutan mereka. Setelah Gea terbaring pasrah, Calvin pun beranjak naik ke atas ranjang dan mengungkung Gea yang handuknya mulai merenggang dan tinggal sekali tarik saja sudah pasti akan terlepas.


Gea mengerang dalam pagutan liat Calvin. Calvin menggigit bibir Gea hingga terbuka dan dengan cepat Calvin melesatkan lidahnya masuk ke dalam rongga mulut Gea dan mulai menari-nari di dalam sana sambil sesekali menghisap lidah Gea membuat gadis itu mengerang dalam kenikmatan pagutan.

__ADS_1


Tangan Calvin tak mau diam. Ia pun ikut berpartisipasi menyusuri setiap inci kulit Gea yang terbuka. Gea kian meremang dibuatnya. Apalagi saat telapak tangan itu singgah di atas salah satu puncak asetnya yang masih tertutup handuk dengan gerakan mere*mas membuat Gea kian belingsatan dibuai gairah. Nafas keduanya kian memburu, antara nikmat dan napsu, tak lagi ada yang bisa membedakannya. Yang pasti mereka kini tengah saling mendamba.


Calvin melepaskan tautan bibirnya. Dipandanginya wajah Gea yang memerah dan nafas tersengal serta dada naik turun akibat pasokan oksigen yang berkurang drastis membuat Calvin makin tak bisa mengendalikan hasratnya yang kian memuncak.


Calvin kini melabuhkan bibirnya di rahang Gea. Turun dan terus turun lalu berlabuh di leher. Disapukannya ujung lidah ke leher putih Gea membuat Gea kian tak terkendali. Dihisapnya kulit putih mulus itu hingga meninggalkan jejak-jejak membuat Gea melenguh. Tak puas sampai disitu, kini Calvin membungkukkan tubuhnya di depan dada Gea yang handuknya telah tersingkap lalu dengan sekali raup, salah satu asetnya masuk ke dalam mulut Calvin kemudian menghisapnya seperti bayi yang sedang kelaparan. Salah satu tangannya masih bergerak aktif mere*mas aset di sebelah, sedangkan tangan satunya lagi sibuk berkelana menyusuri hingga ke lembah tersembunyi milik Gea dan bermain-main di sana.


Saat dirasanya Gea telah siap memasuki tahap inti permainan, Calvin mengangkat wajahnya dan dengan gerakan cepat mulai melucuti setiap helai kain yang menempel di tubuhnya hingga keduanya kini sama-sama polos. Calvin tak dapat menutupi kekagumannya pada tubuh mulus Gea yang begitu terawat juga indah. Mata mereka saling beradu pandang, seolah bertanya 'bolehkah'.


Gea mengangguk, Calvin pun tersenyum, lalu dengan perlahan Calvin menurunkan bokongnya untuk memulai penyatuan yang tak bisa lagi ia tunda.


"Mas," pekik Gea saat ujung tombak Calvin mulai memasuki inti Gea.


"Tenang, mas akan melakukannya dengan pelan!" ucapnya lembut sambil menatap netra Gea dengan tatapan penuh cinta.


Lalu Calvin kembali me****** bibir Gea dan di saat bersamaan, Calvin melesakkan miliknya ke dalam liang surgawi milik Gea.


"Aaakh ... " erang mereka berdua bersamaan saat keduanya berhasil menyatukan diri.


Gea meringis saat intinya diterobos masuk oleh benda tumpul berurat dan keras milik suaminya. Tanpa sadar, air mata meleleh dari ujung netranya membuat Calvin sedikit merasa bersalah sekaligus bangga. Calvin berdiam diri sejenak, tangannya terulur untuk menghapus bulir-bulir bening itu. Setelah melihat Gea sudah lebih tenang, Calvin pun kembali bergerak maju mundur. Awalnya gerakan itu pelan, namun lambat laun gerakan itu berubah temponya makin cepat dan menuntut. Kembali, Calvin melu*mat bibir Gea dengan lebih panas dari sebelumnya. Membuat Gea terengah karena dipacu dari atas dan bawah. Hujaman demi hujaman Calvin lakukan dengan penuh kepuasan. Suara desa*han dan erangan dalam kamar itu menjadi saksi bersatunya dua insan yang sedang dilanda gelora asmara dengan ikatan halal. Hingga akhirnya gelombang kepuasan itu tiba menggulung keduanya dalam puncak gelora yang tak terkiaskan. Keduanya mengerang bersamaan. Benih-benih cinta pun telah tersemai sempurna memenuhi ladang Gea.


Calvin bahagia. Bahkan sangat bahagia. Ia tak pernah merasa sepuas ini. Padahal Gea hanya bergerak pasif, tapi nyatanya mampu membuatnya benar-benar berada di puncak tertinggi kepuasan.


"Terima kasih, sayang. Terima kasih. Kau sempurna. Kau sangat istimewa. Kau ... sungguh luar biasa," puji Calvin tulus setelah melepas penyatuan mereka.


...***...


Kalau ada yang typo, bantu tandain kak ya! Lagi migrain berat. Jadi kurang konsen ngetiknya. Udah minum obat tapi masih aja. Kopinya kurang kali ya! 😂

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2