
"Bagaimana dok keadaan istri saya?" tanya Calvin dengan raut wajah cemas.
"Istri Anda tidak apa-apa. Hanya saja dia kelelahan, tekanan darahnya cukup rendah. Ditambah banyaknya beban pikiran atau mungkin stres membuat istri Anda drop hingga pingsan.m Saya sudah meresepkan obat dan mohon ditebus dengan segera," tukas dokter itu sebelum berlalu dari sana.
"Terima kasih dokter atas bantuannya," pungkas Calvin setelah menerima kertas catatan resep obat yang harus ia tebus di apotek.
Setelah kepergian dokter yang memeriksa Gea, Calvin pun mendudukkan bokongnya tepat di tepi ranjang, bersisian dengan Gea yang masih memejamkan matanya. Ia juga sudah meminta penjaga rumahnya menebus resep obat dari dokter di apotek terdekat. Tak lupa, ia meminta istri penjaga rumahnya yang memang bekerja sebagai asisten rumah tangga paruh waktu untuk membuatkan bubur untuk Gea.
"Sayang, maafkan mas yang kurang perhatian padamu sampai kamu banyak beban pikiran pun aku tak tahu. Sebenarnya apa yang kau pendam? Tidakkah kau mau berbagi denganku?" gumamnya seolah-olah sedang berbicara dengan Gea. Calvin memandang sendu Gea sambil mengusap puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.
Calvin tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri karena tidak pernah mencari tahu permasalahan Gea. Ia hanya tahu kalau ibunya tengah terbaring sakit di rumah sakit tetapi selainnya tidak tahu apa-apa Bahkan mungkin ia tidak pernah tahu siapa ayah kandung Gea sebenarnya kalau tidak mendengar pertengkaran antara Gea, Mardian, Monica, dan Anastasia tadi. Namun, sayang ia tidak mendengar banyak karena dia pun baru saja pulang saat itu. Calvin benar-benar tak menyangka kalau sebenarnya Gea adalah Putri kandung Mardian, ayah mertuanya sendiri.
"Vin, bagaimana keadaan Gea?" tanya Nathalia cemas. Ia baru saja datang setelah mendapatkan kabar dari Calvin kalau Gea jatuh pingsan setelah terlibat pertengkaran dengan keluarga Anastasia.
"Gea baik-baik aja, ma. Gea hanya kelelahan dan tekanan darahnya rendah. Gea juga sepertinya banyak beban pikiran yang tidak diceritakannya. ke aku," tukas Calvin pelan.
Nathalia menghela nafas panjang, lalu ia memberikan kode pada Calvin agar mengikutinya.
"Apa tahu kalau papanya Cia itu juga papanya Gea?" tanya Calvin penasaran. Bagaimana pun, Gea bisa bekerja di sana berkat mamanya. Ia yakin, kalau mamanya bisa segitunya mempercayai Gea, pasti mamanya sudah mengetahui banyak hal tentang Gea.
Nathalia mengangguk tanpa ragu.
"Kenapa mama nggak bilang sebelumnya? Kenapa Gea merahasiakan ini padaku?" tanya Calvin. Sebenarnya ia agak kesal mengetahui fakta itu. Ia sudah seperti suami yang bodoh karena tidak mengetahui apa-apa tentang istrinya.
__ADS_1
"Jangan salahkan Gea, Vin!" sergah Nathalia saat melihat ekspresi tidak terima di wajah Calvin. "Itu karena memang awalnya Gea tidak tahu kalau papa Anastasia adalah papanya. Saat mama menunjukkan foto masa muda papa Cia lah baru Gea tahu. Sebab itulah ia bersedia bekerja dengan mama selain demi mendapatkan biaya untuk pengobatan ibunya. Maaf, sebenarnya mama memang sengaja mempekerjakan Gea agar bisa dekat denganmu. Gea gadis baik-baik. Meskipun miskin, ia memiliki harga diri yang tinggi dan ia tak mau merusak kebahagiaan orang lain apalagi rumah tangga orang lain sebab ia sangat tahu bagaimana hancurnya seseorang akibat yang namanya orang ketiga. Ayahnya berselingkuh dengan istri temannya sendiri kemudian dengan teganya meninggalkan ibu mertuamu dan Gea yang masih kecil. Gea dan ibunya harus banting tulang demi bertahan hidup. Kemudian ibunya pun jatuh sakit, membuat Gea harus mengorbankan masa mudanya untuk bekerja keras demi biaya pengobatan ibunya. Karena itu, ia saat itu menolak penawaran mama untuk mendekatimu. Tapi ... setelah mama tunjukkan foto-foto ayahnya dan istri muda serta anak tirinya, barulah Gea bersedia. Mama mohon, jangan kau buat Gea makin tertekan dengan menyalahkannya. Kalaupun mengapa sampai saat ini ia belum mau bercerita, mungkin ia merasa takut kau kecewa dan pergi meninggalkannya. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain ibunya, Vin. Apalagi ibunya saat ini kondisi ibunya tidak baik-baik saja, mungkin hal-hal inilah yang makin membuatnya tertekan. Takut jujur dan penyakit ibunya, lalu ditambah pertengkaran dengan orang-orang dari masa lalunya yang membuat hidupnya dan ibunya menderita," tukas Nathalia mengungkapkan yang sebenarnya.
Calvin terdiam. Ia merenung. Calvin kini bertanya-tanya, apakah Gea bersedia menjadi istrinya hanya karena untuk membiayai pengobatan ibunya dan membalaskan sakit hati pada ayahnya? Lalu setelah semuanya tercapai, apakah Gea akan meninggalkannya? Dan yang membuatnya makin penasaran, adakah rasa cinta di hati Gea untuk dirinya? Mendadak, Calvin diserang rasa khawatir. Ia takut, ia cemas, bagaimana bila Gea pergi meninggalkannya di saat ia sudah mulai merasakan benih-benih cinta tumbuh subur di hatinya?
"Sudah, jangan terlalu banyak berpikir. Sekarang masuklah ke kamar. Siapa tahu Gea sebentar lagi sadar. Mama harus kembali ke rumah sakit sekarang," tukas Nathalia seraya berdiri dan segera berlalu dari sana.
Sedangkan Calvin, ia pun segera kembali ke kamar mereka. Dan sesuai dugaan ibunya tadi, saat ia masuk, Gea sudah mulai mengerjapkan matanya sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.
"Sayang, kau sudah bangun?" tanya Calvin sambil mengusap pipi Gea.
"Mas," cicit Gea pelan berusaha mendudukkan tubuhnya.
Calvin pun gegas membantu Gea untuk duduk dan segera mengambilkan air putih yang telah ia siapkan sebelumnya.
Setelah minum, Calvin meletakkan kembali gelas itu ke atas nakas.
"Kamu tunggu sebentar ya sayang, mas minta bibi siapkan bubur untukmu dahulu supaya setelahnya kamu bisa minum obat," ujar Calvin seraya mengusap surai Gea
Calvin memang begitu menyayangi Gea. Bahkan rasa sayangnya melebihi rasa sayangnya pada Anastasia dahulu.
Tak butuh waktu lama, bibi asisten rumah tangga Calvin sudah datang dengan sebuah nampan yang berisi semangkuk bubur hangat dan segelas air putih hangat serta irisan buah semangka, apel, dan kiwi.
Setelah bibi asisten rumah tangganya keluar, Calvin pun membantu menyuapi Gea makan.
__ADS_1
"Sini, ayo mas suapi!" ujar Calvin sambil memegang mangkuk berisi bubur di tangannya.
"Aku bisa sendiri kok, mas," sergah Gea saat Calvin ingin menyuapinya.
"Nggak. Pokoknya kamu harus nurut mas suapin. Atau ... kamu mau mas suapi pakai mulut, hm?" goda Calvin seraya menaik-turunkan alisnya.
"Is, mas aneh-aneh aja. Emang mas nggak jijik apa?"
"Ngapain jijik sama istri sendiri? Saling bertukar ludah aja sering, apalagi cuma nyuapin pake mulut, nggak masalah. Jorok dari mana, coba!" ujar Calvin santai namun berbeda dengan Gea. Wajahnya sudah merah padam saat mendengar kata-kata Calvin yang sangat ia paham maksudnya.
"Mas Calvin ... " rengek Gea sambil menepuk pundak Calvin membuat Calvin terkekeh geli melihat ekspresi istrinya itu.
Lalu Gea pun dengan pasrah menerima disuapi sang suami. Rasanya cukup menyenangkan diperhatikan seperti ini. Sudah lama ia ingin sekali mendapatkan perlakuan manis dan perhatian indah seperti ini. Ia merasa bersyukur sekali dipertemukan dengan Nathalia dan juga Calvin.
"Makasih ya, mas."
"Untuk?"
"Untuk perhatian dan kasih sayang dari mas. Gea bahagia banget bisa memiliki mas sebagai seorang suami. Mas itu suamiable banget. Mbak Anastasia benar-benar bodoh udah menyia-nyiakan suami seperti mas."
"Bukan hanya kamu sayang yang bahagia, tapi mas juga. Mungkin di awal, mas dipertemukan dengan orang yang salah. Tapi kini, mas yakin kau adalah yang terbaik yang dikirim sang pencipta untuk menjadi pasangan hidup mas, sekarang hingga selamanya. Jangan pernah tinggalkan mas ya!" ucap Calvin sungguh-sungguh yang diangguki Gea disertai senyuman manisnya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...