Aku Sang Pelakor

Aku Sang Pelakor
Bab. 30


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam dan ini merupakan waktunya makan malam. Tampak Gea sedang berkutat dengan peralatan memasaknya di dapur. Gea benar-benar memanjakan baik kebutuhan perut maupun bawah perut suaminya dengan begitu baik. Bagaimana Calvin tidak makin klepek-klepek coba kalau Gea melayaninya sebaik itu.


Semua hidangan telah tersaji apik di atas meja. Gea pun segera beranjak menghampiri sang suami yang tengah memeriksa beberapa laporan di layar laptopnya di ruang tamu.


"Masa makan yuk! Semua udah siap, " ujar Gea lembut sambil mendudukkan bokongnya di lengan sofa. Menyadari kehadiran istrinya, Calvin pun segera menutup layar laptopnya dan meletakkannya di atas meja. Kemudian, Calvin merengkuh Gea ke atas pangkuannya lalu mengecupi bibirnya mesra.


"Beneran udah siap?" tanya Calvin ambigu.


Berpikir yang ditanyakan suaminya itu adalah menu makan malam mereka, Gea pun mengangguk.


"Udah siap dimakan dong!"


"Iya maaaasss, ya udah kita makan yuk!"


"Hayuk!"


Baru saja Gea hendak berdiri untuk ke ruang makan, Calvin justru menahan pinggangnya dan melabuhkan kecupannya di atas bibir Gea membuat mata Gea terbelalak.


"Mas, udah ih! Katanya mau makan!" rengek Gea berusaha melepaskan rengkuhan Calvin.


"Ini mau makan," jawab Calvin enteng yang kemudian kembali memagut bibir indah Gea.


"Mas ..."


"Apa?"


"Mas nakal banget sih!" cebik Gea membuat Calvin terkekeh kemudian justru membenamkan wajahnya di ceruk leher Gea dan memberikan kecupan-kecupan di sana.

__ADS_1


"Aaahhh ... "


Gea melenguh saat Calvin membelai lehernya dengan ujung lidahnya membuat Calvin kian bergairah.


"Oh, benar apa yang dikatakan anak saya? Kamu selingkuh Calvin? Dasar, menantu tak tahu diri!"


Terdengar suara seorang wanita menggelegar dan penuh amarah membuat Calvin sontak menghentikan kegiatannya. Kemudian keduanya pun menoleh ke arah pintu masuk. Ternyata tanpa mereka sadari atau lebih tepatnya karena terlalu asik dengan kegiatan mereka, telah berdiri 3 orang di ambang pintu dengan tatapan berbeda. Mereka adalah Anastasia dan kedua orang tuanya.


Anastasia yang memandang mereka dengan derai air mata, Monika yang memandang keduanya dengan penuh emosi, dan Mardian yang memandang skeptis.


"Ma, Pa, kalian lihat sendiri kan apa yang mereka lakukan di rumah ini. Mereka tanpa rasa malu memamerkan kemesraan mereka di ruang tamu rumahku. Padahal mama tahu sendiri, rumah ini dibeli untuk harian pernikahan kami, tapi ... Calvin justru dengan tanpa rasa bersalah membawa wanita lain ke dalam rumah ini. Bahkan yang lebih parah, Calvin membawa wanita itu ke kamar kami dan aku justru disuruh pindah ke kamar tamu. Mereka benar-benar jahat, ma, pa," lirih Anastasia sambil menangis pilu di dalam pelukan ibunya.


Dengan santai Gea turun dari pengakuan Calvin kemudian berdiri. Pun Calvin ikut berdiri dan berjalan hendak menyalami mertuanya itu. Meskipun ia marah dan kecewa dengan Anastasia, bukan berarti ia harus bertindak tidak sopan pada kedua mertuanya.


Gea pun mengikuti langkah Calvin sambil memasang senyum semanis mungkin di hadapan kedua orang tua Anastasia.


Monika dan Mardian menyambut uluran tangan Calvin. Namun saat Gea mengulurkan tangan, Monika dengan cepat menepis. Sangat berbanding terbalik dengan Mardian yang justru terpaku bahkan menegang saat melihat raut wajah Gea. Satu sudut bibir Gea sedikit terangkat saat menyadari ayah mertua suaminya itu menegang kaku saat melihat wajahnya.


'Mengapa Cia tidak bisa bersikap sebaik dirimu?'


"Ayo, ma, kita makan malam dulu! Kalian belum makan malam kan! Maaf untuk pemandangan tadi. Lebih baik kita makan dahulu, baru membicarakan yang lainnya," ujar Calvin sopan mengabaikan ucapan yang baru saja dilontarkan Anastasia dan Monica sebelumnya.


Monika mendengus. Sebenarnya ia masih ingin meluapkan amarahnya, namun ia akan memberikan kesempatan menantu kesayangannya itu makan terlebih dahulu. Membicarakan sesuatu saat perut dalam keadaan kosong bukanlah sesuatu yang bagus. Perut kenyang bisa membuat otak lebih baik untuk berpikir.


Anastasia mengepalkan tangannya. Ia kesal, sepertinya Gea sudah berhasil mencuci otak Calvin hingga benar-benar mengabaikannya. Namun ia tetap mengikuti kemauan orang tuanya yang juga telah melangkahkan kakinya ke ruang makan.


Tatapan ketiga orang itu terpaku ke atas meja yang telah dipenuhi aneka hidangan seolah telah siap menyambut kedatangan mereka. Hidangan itu bukan seperti menu restoran mewah, tapi ternyata terlihat begitu menggugah selera membuat ketiga orang itu penasaran siapa yang menyiapkan semua itu.

__ADS_1


"Silahkan duduk ma, pa. Silahkan mencicipi masakan Gea, istri kedua Calvin," tutur Calvin tanpa beban sama sekali.


"Halah, palingan ini semua beli. Nggak perlu kamu melebih-lebihkan perempuan itu, Calvin. Apa sih kelebihan perempuan itu sampai kamu tega menduakan Cia yang nyata sempurna dalam segala hal ini?" ketus Monika seolah Anastasia manusia paling sempurna.


"Ma, kita makan dulu! Bari setelahnya kita bahas itu," sergah Mardian tak ingin membuat kegaduhan di meja makan.


"Maaf mamanya mbak Anastasia, semua ini murni masakan Gea kok. Iya sih beli, beli bahannya aja tapi kalau untuk memasak, Gea bisa sendiri. Ngapain beli mahal-mahal kalau bisa masak sendiri. Kebutuhan suami itu bukan hanya di atas ranjang, tapi perut juga. Perut kenyang, pikiran tenang," seloroh Gea sambil tersenyum manis.


Mendengar hal tersebut, Anastasia meradang kemudian memukul meja dengan kencang.


Bruakkk ...


"Kamu mau nyindir saya yang nggak bisa masak begitu? Wajar saja saya nggak bisa masak, saya itu sibuk. Bukan kayak kamu, perempuan miskin yang pasti pengangguran. Bahkan aku yakin, pendidikan kamu juga rendah," berang Anastasia membuat yang lainnya tersentak.


"Kamu bisa diam tidak, Cia! Kamu tahu kan, aku paling nggak suka ada keributan di meja makan!" desis Calvin sambil menatap tajam Anastasia.


"Calvin, kamu membela pelacur itu di depan kami!" bentak Monika tidak terima Anastasia dibentak seperti itu.


"Ma, sudah! Cia, kau juga diam! Jangan membuat kegaduhan!" desis Mardian memperingatkan anak dan istrinya.


Sedang beberapa orang itu sibuk bertengkar, Gea dengan telatennya melayani Calvin. Pemandangan itu sontak saja membuat Mardian seperti de javu. Ia seakan tertarik ke masa lalu.


Dalam hati, Mardian mengakui, wajar saja menantunya tertarik pada wanita yang ada di hadapannya ini sebab ia ternyata begitu telaten melayani suaminya. Sangat berbanding terbalik dengan istri dan anaknya yang justru selalu sibuk sendiri dan meminta maid untuk melayani mereka. Bahkan setelah menikah bertahun-tahun, Monika tidak pernah melayaninya sedemikian rupa.


Diam-diam Mardian memandangi wajah Gea, mengapa perasaannya begitu campur aduk saat memandang wajah istri muda menantunya itu? Wajah itu begitu familiar. Tapi siapa, ia tak ingat.


'Siapa sebenarnya perempuan ini? Kenapa wajahnya tampak tak asing? Siapa namanya tadi, Gea? Gea ... Ah, mana mungkin dia Gea yang sama! Tapi bagaimana bila ia benar-benar Gea? Putri yang telah ku tinggalkan?'

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2