
“Kalain tahu? Kalian sungguh berani menyerang kepala sekolah. Apa kalian tak takut dikeluarkan dari sekolah?” tanya Alisha heran. Ia melangkahkan kakinya lebih cepat dan menghadang keduanya. Mereka tengah berjalan kaki menuju rumah Alisha.
“Tenang saja, Al. Selagi kita tidak bersalah, untuk apa kita merasa takut? Benar begitu, Ara?” ucap Rain meminta persetujuan dari Ara. Ia menghalau Alisha yang menutupi jalannya membuat Alisha kembali berjalan di sampingnya.
“Hmm.. Oh, iya. Al, kamu masih pusing?” tanya Ara cemas.
“Um.. sudah lebih baik,” jawab Alisha tersenyum.
Alisha tiba-tiba berhenti mendadak membuat Rain dan Ara ikut berhenti.
“Ada apa, Al?” tanya Ara heran.
“Apa kalian mendengarnya?” tanya Alisha. Ia menolehkan kepalanya kesana kemari seperti mencari sesuatu.
“Dengar apa?” tanya Ara bertambah heran.
Sedangkan, Rain sudah takut terlebih dahulu. Ia mengira Alisha mendengar suara hantu. Ia bergelayut di lengan Ara membuat Ara merasa risih dan melepas paksa genggaman tangan Rain di lengannya.
“Apa yang kau lakukan?” sungutnya kesal. Ia mengusap lengannya kasar.
“Kukira Alisha mendengar suara hantu.” cicitnya membuat Ara mendengus kesal.
“Tunggu sebentar." ucap Alisha dan berlalu meninggalkan mereka.
“Dia mau kemana?” tanya Rain.
“Entahlah,” jawab Ara sambil mengendikkan bahu acuh.
“Lihatlah, dia sangat lucu. Sepertinya dia tersesat. Ayo kita pelihara!” ucap Alisha sambil menggendong seekor anak kucing kecil berwarna abu-abu yang menggemaskan.
“Ih! Alisha, buang itu! Dia kotor!” histeris Rain. Ia beringsut ke belakang Ara dan menatap anak kucing itu jijik.
“Dia sangat lucu, asal kau tahu. Cobalah untuk menggendongnya.” ucap Alisha menyodorkan anak kucing itu ke arah Rain yang kini menyembunyikan semua tubuhnya di belakang Ara.
“Tidak mau! Itu kotor dan bau, aku tak mau menyentuhnya!” tolak Rain mentah-mentah.
“Heol! Katakan saja jika kau takut dengannya.” celetuk Ara yang langsung mendapat pelototan dari Rain.
__ADS_1
“Eh? kau takut dengan kucing, Rain?” tanya Alisha dengan senyum jahilnya. Alisha mulai menjahili Rain dengan anak kucing itu.
“Al! Hentikan! Ahh!” jerit Rain saat Alisha dengan sengaja mendekatkan kucing itu dengannya. Ssementara Alisha dan Ara tertawa puas melihat Rain yang kini kabur menjauh.
“Hei, Rain! Cobalah mengelus bulunya! Dia sangat lembut dan menggemaskan!” teriak Alisha tertawa puas.
“Ayo, pulang!” jawab Ara di sela tawanya.
“Ayo!” sahut Alisha mulai mengejar Rain yang sudah jauh. Tak lupa membawa serta anak kucing itu dalam gendongannya. Ia bertekad akan merawat anak kucing itu.
“Al, hentikan!” teriak Rain saat Alisha mengejarnya dengan cepat diikuti Ara.
“Kalian berhentilah! Aku benci berlari, sungguh! Ya, meskipun kecepatan lariku lebih baik daripada kecepatan Rain. Tapi, sungguh! Aku membencinya! Tolong mengerti aku,” mohon Ara yang sudah berhenti. Ia menunduk untuk mengatur deru napasnya.
Alisha dan Rain yang mendengarnya spontan menoleh ke arahnya dengan ekspresi yang berbeda. Alisha tertawa sedangkan Rain melotot kesal.
“Apa kau bilang? Kau meledekku, bodoh!” sungutnya kesal.
“Benarkah? Aku tak merasa meledek siapapun,” sahut Ara datar yang hanya dibalas dengusan kesal dari Rain. Mereka bertiga melanjutkan langkahnya menuju rumah milik Alisha dengan Ara berada di tengah. Di tengah perjalanan, Alisha kembali bertanya pada rain.
“hei, Rain? Kau benar-benar tak mau menggendongnya ?”
🌹🌹🌹
"Kalian yakin, akan menginap hari ini?" Tanya Alisha tak yakin pada kedua temannya. Yang ditanya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya antusias.
"Tapi, hari ini adalah tugasku menjaga nenek, asal kalian tahu." gumam Alisha seraya berpikir. Ia mengambil Kiki-boneka beruang biru kesayangannya-dan memeluknya erat. Ia berjalan ke arah meja belajarnya untuk mengambil ponselnya. Setelahnya, ia duduk di kursi belajar miliknya menghadap kasur.
"Benarkah?" Tanya Rain kecewa. Alisha hanya mengangguk-anggukkan kepalanya lucu. Ia lalu membuka pesan Alena di ponselnya yang dikirim beberapa menit lalu dan menunjukkan isinya pada Rain. Rain menerimanya dan membaca pesan dari Alena yang meminta Alisha untuk datang ke rumah sakit jam 7 malam.
"Kau mau ikut menginap di rumah sakit?" Usul Alisha menaik-turunkan alisnya bermaksud menggoda Rain. Ia tahu Rain paling benci rumah sakit. Selain karena baunya yang tidak gadis itu suka, Rain juga percaya bahwa disanalah tempat hantu bersarang.
Pertanyaan Alisha jelas mendapat gelengan kuat dari Rain. Alisha sampai khawatir jika kepala gadis itu akan terlepas dari lehernya. Sedangkan Ara? Ia lebih memilih berbaring telentang di kasur milik Alisha seraya memainkan ponselnya.
"Tidak-tidak! Terima kasih. Aku lebih baik pulang saja." sarkas Rain ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Ara. Ara yang merasa terusik karena gangguan di sebelahnya hanya meliriknya sinis dan kembali memainkan ponselnya.
"Ara.. Menginaplah di rumahku." rengek Rain menggoyangkan lengan Ara. Alhasil, ponsel yang ada pada genggamannya terjatuh mengenai mukanya. Ia pun mengaduh membuat kedua insan lainnya tertawa renyah.
__ADS_1
"Ahahahaa.. Apa itu sakit, Ra?" Tanya Alisha masih tertawa. Sedangkan Rain semakin tertawa kencang saat melihat bibir Ara yang sedikit membengkak karena kejatuhan ponselnya.
Ara yang kesal dengan tingkah Rain bangkit dan segera menyerang Rain dengan cubitan bertubi-tubi. Membuat gadis yang masih tertawa itu mengaduh kesakitan di sela tawanya. Alisha tak tinggal diam dan maju membawa serta Kiki dalam dekapannya untuk menggelitiki pinggang Rain. Alhasil, kamar Alisha penuh dengan teriakan Rain yang meminta keduanya untuk berhenti.
"Ahaha... Berhenti, kumohon. Ahaha... Akh! Berhenti! Huaa.. Mommy..." rengek Rain masih menggeliat mencoba berontak dari dua pasang tangan yang tengah menyiksanya. Ara dan Alisha berhenti setelah puas menggoda Rain. Baginya, ketika Rain sudah membawa nama ibunya, itu berarti Rain sudah dalam tahap menyerah meladeni serangan mereka. Mereka berdua berbaring di kanan-kiri Rain dan tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Rain menangis sambil tertawa.
"Jika kalian ingin menginap, sebaiknya esok hari saja," Alisha membuka suaranya setelah tawa mereka reda. Ia masih berbaring mencoba mengatur napasnya setelah puas menggelitiki Rain.
"Hah.. Baiklah," sahut Rain yang juga masih mengatur napasnya. Napasnya putus-putus karena banyak tertawa.
"Kalian mau menjenguk nenekku?" Tanya Alisha berbasa-basi. Rain yang mendengarnya hanya mendengus kesal. Sedangkan, Ara kembali memainkan ponselnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, ia segera bangkit keluar kamar untuk menerimanya.
Beberapa menit kemudian, Ara kembali dengan muka masam membuat kedua gadis lainnya menatapnya heran.
"Ada apa?" Tanya Alisha setelah melihat Ara menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan keras. Membuat kasur sedikit bergoyang karena gerakannya.
"Orangtuaku akan pulang ke rumah. Ah! Benar-benar akhir hari yang buruk!" Rutuknya kesal. Ia menenggelamkan wajahnya di badan Kiki membuat Alisha sontak mengambilnya paksa.
"Hei! Jangan menyiksa Kiki!" Sungutnya kesal. Gadis itu mengusap-usap punggung bonekanya dengan lembut seolah itu adalah bayinya.
Ara yang terkejut hanya mendengus kesal dan mengambil bantal yang ada di kasur dan kembali menenggelamkan wajahnya disana. Ia lalu mengerang frustasi dalam bantal itu membuat suaranya sedikit teredam. Alisha dan Rain yang mendengarnya hanya menatapnya maklum.
Ara memang kurang suka dengan kedua orang tuanya. Ia paling benci saat keduanya pulang ke rumah. Hal itu karena setiap kepulangan mereka, mereka selalu menanyakan perihal sekolah Ara. Menanyakan sudah sejauh mana prestasinya tanpa mau memuji kerja keras Ara selama ini. Ada saja hal- hal yang membuat kedua orangtuanya merasa tidak puas dan justru memarahi dan menuduhnya kurang berusaha.
"Sebaiknya kau menginap di rumah Rain saja, Ra." usul Alisha prihatin dengan keadaan sahabatnya. Ia juga tahu perihal keluarga Ara satu tahun yang lalu.
Hal yang slalu membuat Ara tidak pernah merasa nyaman bahkan hanya unyuk terduduk bersama kedua orang tua kandung nya.
🌹🌹🌹
TBC
@The_granat
@garnissr
@theodra_ara
__ADS_1
@lee_sona09