Al2aint

Al2aint
Bagian 17


__ADS_3

Saat ini, Alisha, Ara, dan Rain tengah berada di stasiun kereta. Mereka akan berangkat ke Bandung hari ini.


“Al, apakah di Bandung banyak laki-laki tampan?” tanya Rain. Seperti biasa Rain akan mengajukan banyak pertanyaan yang tidak penting.


“Lumayan.” Jawab Alisha.


“Ohh. Kalau begitu, apakah mereka memiliki postur tubuh yang tinggi?” tanya Rain lagi.


“Tidak juga.” Jawab Alisha. Ia masih fokus pada buku yang tengah ia baca.


“Apakah mereka lebih tinggi darimu?” tanya Rain yang entah keberapa kalinya.


“Mereka---” ucapan Alisha terpotong.


“Rain, tidak bisakah kau berhenti bertanya? Kau akan mengetahui semuanya setelah kita sampai. Ocehanmu membuat telingaku panas!” sungut Ara yang duduk di sebelah Rain. Sedangkan, Alisha duduk di depan mereka bersama seorang laki-laki yang tengah sibuk dengan ponselnya.


Posisi Alisha yang terapit oleh laki-laki itu dan jendela kereta api membuatnya sedikit merasa risih. Laki-laki itu sepertinya sama sekali terusik dengan tingkah Rain yang sangat cerewet menurut Alisha.


“Ara, apakah hantu yang ada di dalam dirimu sudah bereaksi sehingga telingamu terasa panas? Padahal, aku tidak sedang merapalkan berdoa.” Celetik Rain.


“Heol! Enak saja! Justru kamu yang memiliki banyak hantu dalam tubuhmu. Itu sebabnya kamu menjadi cerewet!” ledek Ara tak mau kalah.


“By the way, Rain. Mengapa kau membawa banyak tas?” tanya Alisha pada Rain. Ia ingat tentang Rain membawa banyak tas seakan ingin mengikuti acara kemah sekolah.


“Oh? Koper kecil itu hanya berisi baju milikku,” jawab Rain santai menunjuk koper yang ada di atas tempat duduk Alisha.


“Lalu, ini berisi apa?” tanya Ara sambil menunjuk tas ransel yang berada di pelukan Rain.


“Oh, ini?” gumam Rain sambil membuka tas ransel tersebut.


“Tada..!” Ara dan Alisha terkejut melihat isi tas tersebut.


“Astaga, Rain! Untuk apa kau membawa jajan sebanyak itu?” tanya Ara tak habis pikir setelah melihat ke dalam tas ransel milik Rain.


“Untuk aku kubur di Bandung dan dijadikan peti harta karun. Tentu saja untuk kumakan! Apa yang kalian pikirkan, eoh?” celetuk Rain kesal.


“Kau bisa membelinya saat di kereta, Rain.” Cetus Alisha mengerutkan dahinya.


“Itu hanya akan membuang-buang uang saja, Al.” sahut Rain dan mengambil salah satu snack favoritnya lalu mulai memakannya.


“Asal kalian tahu, aku juga membawa snack kesukaan kalian” celetuk Rain membuat dua gadis lainnya melotot senang ke arahnya.


“Benarkah?! Mana?!” teriak Ara dan Alisha bersamaan membuat laki-laki di sebelah Alisha melirik tajam.


"A-ah.. Maafkan kami," sesal Alisha. Rain dan Ara hanya tersenyum meminta maaf atas sikap mereka. Laki-laki itu tak menggubris ketiganya dan kembali fokus pada buku yang tengah ia baca.


Buku itu juga merupakan novel kesukaan Alisha. Gadis itu ingin bertukar pikiran dengan laki-laki di sebelahnya. Namun, melihat sikap dingin dan tak acuh laki-laki itu membuatnya urung untuk memulai percakapan dengannya. Alhasil, dia hanya memendam opininya.


“Hilih! Belum ada lima menit sejak kalian mengomentariku!” rutuk Rain kembali sementara Ara dan Alisha tertawa.


                                          🌹🌹🌹


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka telah tiba di Bandung. Segera setelah ketiganya keluar dari stasiun tempat kereta yang mereka tumpangi tadi, Rain segera menghirup udara sejuk Bandung sebanyak-banyaknya. Hal itu membuat Ara mendengus kesal dan Alisha yang memasang wajah super datar.


Mereka segera menaiki angkutan umum untuk pergi ke rumah milik nenek Alisha yang lumayan jauh dari stasiun. Akan tetapi, ketika sudah setengah perjalanan, mereka turun dari angkutan umum dan berjalan kaki untuk bisa menjangkau tujuan mereka.


“Al, apa rumah nenekmu masih jauh?“ tanya Rain lelah. Ia berjalan terseok seraya menyeret malas koper kecilnya. Punggungnya lumayan pegal karena menggendong tas ransel ukuran sedang.


“Sedikit lagi,” sahut Alisha singkat.


“Kenapa kita tidak naik angkutan saja?” tanya Rain lagi.


“Tidak ada angkutan yang lewat sini.” Jawab Alisha. Mereka telah sampai di perumahan tempat rumah nenek Alisha berada.


“Tapi---”ucapan Rain kembali terpotong.


“Rain, berhentilah mengeluh.” Celetuk Ara santai.


“Astaga, Ara! Kau tau? Kakiku rasanya seperti ingin patah,” keluh Rain berlebihan.


“Dasar lemah.” Sindir Ara.

__ADS_1


“Hey! Aku tidak lemah! Kaulah yang lemah!” sahut Rain tersulut emosi. Oh ayolah! Dia ingin istirahat sebentar saja. Kini, ia menyesal membawa serta koper mininya ke Bandung. Sungguh menyebalkan!


“Heol! Kenapa aku? Bukankah kau yang mengeluh?” sahut Ara tak kalah.


“Tentu saja! Kau hanya membawa satu buah tas, sementara aku dua buah!” sungut Rain.


“Hei! Sudahlah, jangan berdebat! Lihatlah rumah nenek sudah ada di depan mata,” ucap Alisha.


“Mana?” tanya Rain antusias. Ia mengedarkan pandangannya ke beberapa rumah yang berjejeran di kanan-kiri jalan yang mereka lalui.


“Itu! Rumah dengan gerbang hitam,” jawab Alisha menunjuk sebuah rumah bercat biru cerah berukuran sedang dengan dua lantai di samping kanan mereka.


“Sungguh? Baiklah, aku akan duluan, bubay!” celetuk Rain sambil berlari meninggalkan Alisha dan Ara. Mereka hanya menggelengkan kepala mereka melihat tingkah satu temannya itu. Rain sudah duduk di depan gerbang itu sementara Alisha dan Ara baru sampai.


“Hilih! Kalian sangat lambat!" Cetus Rain sombong.


Alisha dengan segera membuka gerbang dan mengambil kunci yang ada di tas kecilnya. Ia lalu membuka pintu rumah neneknya dan mempersilahkan kedua sahabatnya masuk. Ketiganya beristirahat sejenak di sofa yang ada di ruang tamu rumah tersebut.


“Al, sudah berapa lama rumah ini kosong?” Tanya Rain. Ia meneguk air minum yang ia beli saat di stasiun.


“Saat aku pergi ke Jakarta, rumah ini sudah kosong.” jawab Alisha.


“Serius, Al? Kalau begitu, rumah ini pasti berhantu!” cetus Rain ketakutan.


“Yup! Memang benar. Hantu itu wanita.” Sahut Alisha asal sementara Rain sudah bergidik ngeri. Mereka sudah ada di kamar Alisha yang berada di lantai 2.


“Nah, ini kamarku." ucap Alisha.


Kamar Alisha memang cukup luas. Di dalamnya terdapat kasur yang berukuran queen size dan terdapat kamar mandi dalam. Ada dua buah boneka beruang satu berwarna coklat susu dan satunya berwarna putih susu mirip seperti Kiki di tengah kasurnya.


“Eh? Al, bagaimana bisa Kiki ada disini? Lalu, ada apa dengan warnanya? Apa warnanya sudah pudar menjadi putih?” tanya Rain yang sudah menunjuk boneka beruang berwarna putih tersebut. Ia lalu mengambil boneka berwarna coklat susu dan memeluknya.


"Astaga! Kenapa boneka ini manis sekali?" Ujarnya mengendus boneka beruang itu.


"Wangi sekali!" Lanjutnya berbaring di kasur milik Alisha. Alisha yang melihatnya segera mendekati Rain yang tengah menenggelamkan wajahnya di boneka miliknya.


“Kembalikan. Ini Cookie, boneka milikku,” Alisha merebut boneka berwarna coklat susu itu dari Rain. Rain yang melihatnya hanya mendengus kesal.


“Hilih! Aku hanya memeluknya sebentar!” sungut Rain. Ia merubah posisinya menjadi duduk di pinggiran kasur milik Alisha.


“Sudahlah, aku ingin mandi” ujar Ara mengambil pakaiannya di tas miliknya.


                                          🌹🌹🌹


Sore telah berlalu. Sinar bulan memancar redup menggantikan sinar sang surya. Ketiga gadis SMA itu kini tengah bersantai di sofa ruang keluarga sambil menonton acara kartun favorit Alisha, yaitu sebuah kartun dengan tokoh utama seekor kucing biru dengan ikan berwarna oren. Alisha sangat menyukai karakter kucing biru dalam kartun itu karena tingkahnya yang konyol dan bodoh. Rain pun menyukainya.


Tetapi, berbeda dengan Ara. Ia justru bosan dengan film kartun. Ia lebih suka menonton film barat dengan tokoh utama laki-laki berdagu lancip dan tegas. Ia terkadang bertukar pikiran mengenai pria idamannya dengan Rain.


"Ya ampun! Apa yang keluarga Gumball pikirkan? Padahal mereka bisa mendaftarkan nama Gumball di internet. Tidak perlu hingga dikejar-kejar polisi donat itu!" Gelak Alisha. Ia tertawa terpingkal-pingkal saat melihat aksi kejar-kejaran mobil antara polisi berbentuk donat dan keluarga si kucing biru.


Rain ikut tertawa sambil memeluk bungkus cemilannya. Sedangkan, Ara? Ia ikut tertawa melihat kedua temannya tertawa. Baginya, kebersamaan seperti ini membuatnya nyaman dan menghangatkan hatinya. Ia tak ingin merusak momen seperti sekarang.


Beberapa menit setelahnya, film kartun favorit Alisha telah selesai dan berganti ke acara opera komedi. Ketiganya kembali tertawa terbahak-bahak menonton aksi konyol para pemain. Namun, tak lama Ara beranjak dari sofa dan menuju dapur yang ada di sebelah ruang keluarga diikuti Rain meninggalkan Alisha yang masih sibuk tertawa. Ara melihat lemari pendingin milik Alisha dan membukanya. Tak ada apapun kecuali minuman soda dan cemilan yang tadi sore mereka beli. Ia kecewa dan kembali ke ruang keluarga untuk protes.


“Astaga, Al? Kau serius? Tidak ada satupun makanan di kulkas milikmu!” rengut Ara.


“Hm... Kau tahu jika ini adalah pertama kalinya aku ke Bandung setelah satu tahun. Tahun lalu aku hanya menetap 2 hari bersama Alena disini dan segera pulang. Tentu saja tak ada makanan apapun," tutur Alisha santai dan tetap fokus menonton TV.


"Lagipula, pembantu rumah kami hanya datang setiap pagi dan sore untuk membersihkan rumah ini, lalu pulang. Apa yang bisa diharapkan?" lanjut Alisha dengan cengirannya. Ia menatap Ara yang berdiri menganga di sebelah sofa tempatnya duduk. Ia terkekeh lalu beranjak berdiri.


"Baiklah! Ayo, ber-"


Ucapan Alisha terpotong saat mendengar suara gaduh dari arah dapur. Keduanya segera menuju tempat berisik tersebut dan menemukan Rain yang sedang duduk di lantai dengan peralatan masak yang berserakan di sekitarnya.


“Astaga, Rain! Apa yang terjadi?” tanya Alisha khawatir. Ia menghampiri Rain yang beranjak berdiri lalu merapikan pakaiannya.


“Aku hanya ingin mengecek isi lemari dinding itu. Tapi yang terjadi malah benda-benda ini terjatuh tepat diatas kepalaku. Uh! Sakit!” jelas Rain mengelus kasar puncak kepalanya. Sontak, Alisha dan Ara tertawa keras.


“Tidak ada yang lucu” sungut Rain. Ia mendengus masih tetap mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit.


“Kupikir ada hantu,” celetuk Ara dengan tawanya.

__ADS_1


“Sudahlah, hentikan. Sekarang bagaimana? Kita akan makan apa?” tanya Alisha yang masih sedikit tertawa.


“Tunggu, aku ingat jika aku membawa mie instan” ujar Rain.


“Heol! Kenapa kau tak mengatakannya daritadi?” rutuk Ara.


“Aku lupa,” sahut Rain santai.


Akhirnya, mereka memutuskan membuat mie instan untuk makan malam mereka. Alisha menambahkan telur dan sosis yang mereka beli sore tadi bersama minuman soda dan cemilan.


“Rain, apakah kau masih sering mengonsumsi mie instant?” tanya Ara pada Rain yang tengah menelan makanannya.


“Yup! Mau bagaimana lagi? Aku malas keluar dan tidak ada makanan yang mudah dibuat selain mie instan," sahut Rain sambil meniup mie miliknya. Ara menatap Rain prihatin. Pasalnya, Rain selalu mengonsumsi mie instan sebagai makanan pokoknya.


“Kenapa kau tidak memesan delivery saja?” tanya Alisha.


“Sudah kukatakan jika aku malas keluar, Al” jawab Rain.


Tak ada yang menyahut perkataan Rain. Mereka melanjutkan makanan diselingi candaan ringan. Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Alisha mencuci piring dan membereskan dapur. Sedangkan, Rain dan Ara pergi ke kamar untuk membereskan tempat untuk mereka tidur.


Setelah selesai dengan urusan dapur, Alisha pergi ke depan berniat mengunci pintu. Ia lalu naik ke kamarnya untuk segera tidur. Ia sudah sangat lelah, mengingat perjalanan mereka bertiga yang lumayan panjang.


Setibanya di kamar miliknya, ia melihat Rain dan Ara tengah terbaring menyaksikan serial malam di TV nya. Rain terlihat tengah mengganti-ganti saluran TV dengan wajah bosan tak beda jauh dengan Ara. Di kamar Alisha memang disediakan TV agar ia bisa menonton tanpa harus diganggu anggota keluarga lainnya.


“Astaga! Apakah tidak ada acara TV yang bagus? Ini sangat membosankan! Al, apa tidak ada sesuatu yang bisa menghilangkan rasa bosanku?” tanya Rain yang melempar remote TV ke sisi tempat tidur yang lain.


“Hmm... Ah, benar! Sepertinya aku memiliki permainan monopoli,” ujar Alisha yang beranjak ke meja belajar dan duduk di sana menghadap tempat tidur sementara Ara kini sibuk dengan ponselnya.


“Sungguh? Dimana?” tanya Rain antusias.


“Aku sudah lama tidak memainkannya. Sepertinya, nenek menaruhnya di gudang” sahut Alisha.


“Ayo, kita cari!” ajak Rain bangkit dari kasur menarik tangan Alisha juga Ara.


“Heol! Kau mau kemana? Jangan tarik tanganku dengan kencang atau tanganku akan putus!” sungut Ara memutar bola matanya.


“Kita akan ke gudang mencari monopoli milik Alisha. Ini pasti seru! Kita seperti akan mencari harta karun!” ujar Rain antusias.


"Tapi, ini sudah malam. Apa tak apa?" Gumam Alisha. Ia berjalan ke arah gudang milik keluarganya diikuti kedua sahabatnya.


"Tak apa. Ini masih jam setengah sembilan malam. Masih ada banyak waktu, Al," sahut Rain semangat.


Saat mereka sampai di gudang rumah Alisha, sebuah bangunan bercat hijau pastel menyambut kedatangan mereka. Gudang tersebut memiliki ruangan terpisah yang letaknya di belakang bangunan rumah Alisha.


“Al, apakah kau pernah masuk ke gudang ini?” tanya Rain memecah keheningan di antara mereka.


“Tidak,” jawab Alisha singkat. Ia membuka kunci gudang tersebut. Saat sudah terbuka, mereka masuk ke gudang itu. Gudangnya sangat kotor dan berdebu membuat mereka bersin-bersin.


“Astaga, Al! Apakah tidak ada yang membersihkan tempat ini?” tanya Ara menutup hidungnya menggunakan lengan bajunya.


“Astaga, Ara! Kau sangat aneh. Apakah ada orang yang mau membersihkan gudang?” jawab Rain.


“Heol! Aku tidak bertanya padamu!” rutuk Ara.


“Hilih! Masih untung ak-"


“Akh!"


                                        🌹🌹🌹


                                           TBC


                                                                @The_granat


                                                                @garnissr


                                                               @theodra_ara


                                                                @leesona_09


                                         

__ADS_1


__ADS_2