Al2aint

Al2aint
Bagian 21


__ADS_3

“Disaat dingin seperti ini, sangat menyenangkan ketika kita makan makanan yang berkuah!” ujar Alisha. Saat ini, mereka sedang duduk di warung Kang Husen langganan Alisha saat di Bandung. Di luar tengah hujan kecil membuat pagi ini semakin dingin.


“Memangnya kita mau makan apa?” tanya Rain penasaran.


“Mie kocok khas Bandung,” jawab Alisha tersenyum lebar membuat mata kedua gadis lainnya berbinar senang.


“Sungguh?” tanya Rain antusias. Jika ini merupakan dunia komik, mungkin sudah terdapat air liur yang siap menetes di sudut bibirnya.


“Yup!” ucap Alisha. Ara ikut tersenyum senang mendengar ia akan makan salah satu makanan favoritnya.


“Punten, Neng geulis. Bade mesen nanaonan?(Permisi, Neng cantik. Ingin memesan apa?)” tanya seorang pria dengan aksen sunda yang kental. Rupanya pria ini adalah pelayan di kedai ini. Alisha baru pertama ini melihatnya.


“Kami pesan tiga mie kocok dan air putih, ya Kang,” jawab Alisha dalam bahasa sunda.


“Siap! Mau makan disini, Neng?” tanya pelayan itu lagi. Dan Alisha hanya mengangguk ramah.


“Baik. Antosan sakedap (tunggu sebentar), ya?” ucap sang pelayan lalu berlalu pergi setelah mendapat persetujuan ketiganya.


“Siap, Kang. Oh iya, saya juga mau susu putih hangat,” sahut Alisha.


"Siap!"


Setelah menunggu sekitar 20 menit, pesanan mereka pun datang membuat Rain berusaha menahan liurnya agar tidak menetes.


“Ini, Neng. Selamat makan!” ujar sang pelayan meletakkan pesanan ketiga gadis itu di atas meja.


“Hatur nuhun (terima kasih), Kang!” ucap Alisha yang dibalas senyum hangat dari pelayan pria itu. Laki-laki itu pun berlalu pergi setelah urusannya selesai meninggalkan ketiganya yang kini mulai menyantap makanan masing-masing.


“Wuenake, pwol!*” celetuk Rain setelah memasukkan sesuap mie kocok miliknya. Alisha hanya tertawa karena lagi-lagi Rain menggunakan bahasa aneh dan (sedikit) alay.


“Ra, kenapa kau tidak memakan mie milikmu?Rasanya tidak enak, ya?” tanya Alisha bingung saat melihat Ara yang sedari tadi hanya melamun.


“Woi, Ra! Ada apa denganmu? Kau kerasukan hantu yang kau kejar tadi, ya? Makanlah mie milikmu sebelum makanan itu menjadi dingin. Kalau kau tak mau memakannya, berikan padaku saja!”


Rain hendak mengambil mangkuk mie kocok milik Ara. Namun, hanya cubitan yang Rain terima dari Ara membuat gadis itu mengaduh kesakitan. Ara mendengus kesal melihat tingkah Rain.


“Heol, enak saja! Kau ini rakus sekali?” sungut Ara melipat kedua tangannya di depan dada, bertingkah kesal.

__ADS_1


“Habisnya, kau tak menjawab saat kami bertanya. Hayati lelah!” ujar Rain dramatis. Ia berlagak menaruh punggung tangannya di depan dahinya dan menghela napas seolah tengah merasa sedih. Alisha dan Ara yang melihatnya hanya meringis jijik.


“Aneh,” sarkas Ara dan beralih memakan mie kocok miliknya. Rasanya sangat enak. Ia berniat mengajak kedua sahabatnya untuk makan mie kocok ini lagi suatu hari.


“Hilih! Kau yang aneh, Nyai! Apakah kita perlu ke dukun untukmu?” tanya Rain asal. Ia memasukkan sesendok mie kocok ke dalam mulutnya dan mengunyahnya pelan.


“Untuk apa?” tanya Ara polos. Ia menghentikan suapan sendoknya dan menaruhnya lagi ke dalam mangkuk. Lalu, mengalihkan atensinya pada Rain yang sibuk memasukkan suapan terakhir mie kocoknya.


“Untuk mengutukmu, Ra” celetuk Rain dengan mulut yang dipenuhi mie miliknya. Alisha yang melihatnya mengernyit jijik dan menyentil pelipis Rain karena posisinya yang berada di sebelah gadis itu.


"Telan dulu, Rain! Itu menjijikkan," semprotnya dan Rain hanya meringis lalu mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk 'v sign'.


“Ck! Sama sekali tidak lucu!” sahut Ara lalu meminum susu di gelas milik Alisha. Melihatnya, Alisha berteriak sewot membuat beberapa pasang mata melihat ke arah mereka dengan pandangan terganggu. Ayolah, kapan ketiganya tak membuat diri mereka menjadi pusat perhatian?


“Aku benar, bukan? Lebih baik kau langsung ke dukun saja! Agar ia bisa membacakan mantra padamu. Lalu setelah itu, ia akan menyemburmu dengan air supaya hantu yang ada di dalam dirimu itu pergi!” ujar Rain mulai ngawur.


“Al, dukun terdekat dari sini ada dimana?” tanya Rain kepada Alisha. Ara yang mendengarnya sontak mendelik tak percaya, sedangkan Alisha hanya menatap datar padanya.


“Heol! Apa yang akan kau lakukan, hah?” tanya Ara mulai kesal. Sungguh! Temannya yang satu ini sungguh luar biasa!


“Bukankah sudah kukatakan jika ini untuk mengutukmu?” tanya Rain berlagak polos.


“Aku tidak melawak, Nyai!” ujar Rain memasang wajah sungguh-sungguh.


“Heol! Obati saja otak gesrekmu itu, Rain!” sahut Ara lalu menjitak dahi Rain lumayan keras. Membuat yang dijitak mengaduh memegang dahinya.


“Aku tidak gila!" Rutuk Rain masih mengusap dahinya pelan lalu beralih meminum air gelas milik Alisha. 'Oh, Tuhan! Tabahkanlah hati Lisha' batin Alisha kesal. Ia menatap tajam Rain yang masih berdebat dengan Ara.


"Jelas-jelas kau sudah gila," ujar Ara berusaha memancing emosi Rain.


"Sudah kukatakan jika ak-"


Rain dan Ara terlonjak kaget saat Alisha menggebrak meja mereka. Hal ini mengundang perhatian banyak pelanggan. Tapi, Alisha tidak peduli akan hal itu dan tetap menatap keduanya bergantian dengan tajam.


“Hentikan! Ada apa dengan kalian? Sehari saja tidak bertengkar apa tidak bisa? Jika kalian ribut sekali lagi, aku akan menyemburkan mie kocok ini langsung dari mulutku!” bentak Alisha. Keduanya hanya diam mengkerut di kursinya mendengar bentakan Alisha. Oh tidak! Nyonya yang sebenarnya sudah marah!


"Apa-apaan ini? Tadi susu dan sekarang air putih pun kalian ambil? Besok-besok, sekalian saja makananku kalian jarah. Menyebalkan sekali! Astaga! Lihat! Susu ini sudah hampir habis? Keterlaluan sekali!" Semprotnya kesal. Ia mengangkat gelas susu miliknya dan memperlihatkan ke dua gadis lainnya dengan pandangan kesal.

__ADS_1


Rain menyadari tatapan banyak orang yang tertuju pada mereka. Ia pun menendang kaki Ara di bawah meja dan mengisyaratkannya untuk melihat ke sekitar. Ara yang paham dengan isyarat Rain segera mengalihkan pandangannya ke sekitar.


Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka dengan tatapan ingin tahu. Dengan cepat ia menggumamkan kata maaf pada mereka membuat Alisha juga sadar dengan apa yang ia lakukan. Ia dengan segera menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya yang berada di atas meja, malu. Ia menggumamkan kata-kata mutiara pada kedua temannya yang telah membuatnya malu sekarang.


“Wah! Bagus jika kau berkata seperti itu, Al. Jadi, aku tak perlu lagi menyewa seorang dukun. Kau hebat, Al! Kau punya bakat sebagai dukun!” celetuk Rain berusaha mengembalikan suasana ceria di antara mereka lagi. Hal itu membuat Alisha dan Ara hanya menepuk jidat mereka. Saat mereka sudah melanjutkan makan tiba-tiba ada seorang pria menghampiri ketiganya.


“Eum.. Permisi. Apa benar kau Alisha?” kata pria tersebut pada Alisha. Ketiganya sontak menoleh bersamaan dan mendapati pria tampan dengan hidung mancung dan berkulit sedikit kecoklatan.


'Astaga! Siapa pria tampan ini?’


Teriak Rain dalam hati. Ia mengukur pasti tingginya sama dengan Alisha atau bahkan lebih. Sungguh tipenya.


“Eh? Sebentar. Sepertinya saya pernah.. Brian?!” kaget Alisha saat melihat pria tadi. Ia kini ingat pria yang tengah berdiri di samping Ara itu adalah teman masa kecilnya.


“Ternyata benar ini kamu, Al! Lila teu tingali, kumaha damang? (Sudah lama tidak bertemu, apa kabar?)” tanya Brian dalam bahasa sunda.


“Salaku tingali, Ian!” jawab Alisha. Ia berdiri memeluk Brian yang disambut baik oleh laki-laki itu.


"Abdi kangen sareng, Al," ujar Brian mengelus rambut panjang Alisha yang terurai.


Ara dan Rain sontak melebarkan matanya terkejut. Setahu mereka, Alisha tak pernah suka jika berdekatan dengan laki-laki. Apalagi sampai kontak fisik seperti ini. Hal ini sungguh mengejutkan mereka. Alisha yang alim dan suci milik mereka telah terkontaminasi virus dari lekaki tampan itu! Tidak bisa dibiarkan!


Ara dan Rain segera berdiri berniat memisahkan keduanya. Rain menarik lengan Brian dan menggenggamnya erat di sebelahnya. 'Lumayan, rezeki anak soleha, bisa memegang lengan laki-laki tampan!' batinnya senang.


Ara menarik Alisha hingga membuat gadis itu kini sudah berada di belakang tubuh Ara. Gadis itu sama bingungnya dengan Brian melihat tingkah dua gadis ajaib ini. Ara menatap tajam Brian membuat laki-laki itu tambah bingung.


'Ada apa dengan gadis ini?' pikirnya.


                                        🌹🌹🌹


                                           TBC


                                                              @The_granat


                                                              @garnissr


                                                              @theodra_ara

__ADS_1


                                                              @leesona_09


                                         


__ADS_2