
"Apa yang kau lakukan? Tubuh suci milik Alisha jadi kotor karena kau peluk!" Ara dengan cepat menarik tubuh Bryan dari Alisha dan berdiri di depan gadis itu bermaksud melindunginya. Ia menatap laki-laki itu dengan tatapan tajam.
Begitupun dengan Rain yang juga ikut berdiri di samping Ara. Menutupi tubuh tinggi sahabat mereka yang justru sedikit sia-sia mengingat perbedaan tinggi ketiganya. Bahkan, tatapan semua pelanggan di kedai itu pun tak diacuhkan oleh keduanya.
Mereka berdua -- Ara dan Rain -- tetap berada di tempatnya dengan tatapan mata setajam silet. Sementara, Alisha yang berada di belakang tubuh keduanya memukul pelan dahinya saat menyaksikan tingkah sahabatnya. Tak jauh berbeda, Bryan pun hanya mengernyit heran dengan tingkah aneh dua gadis di depannya.
"Suci? Apa maksudmu?" Tanya Bryan bingung sembari mengerutkan keningnya. Tak mengerti apa yang dikatakan oleh gadis berkulit tan itu.
"Ya, suci! Karena selama ini, Alisha tak pernah menyentuh laki-laki, bahkan sampai berpelukan seperti yang kalian berdua lakukan tadi. Kau sudah membuatnya tidak suci lagi, sialan!" Jawab Ara dengan wajah garang.
Alisha yang sudah tak tahan melihat tingkah Ara menjitak kepala gadis itu dari belakang, membuat sang empunya mengaduh kesakitan. Oh ayolah! Mereka berempat menjadi pusat perhatian sekarang ini. Tak bisakah mereka melihat situasi terlebih dahulu sebelum bertingkah konyol?
Lalu, apa-apaan Rain itu? Bukankah gadis itu tadi ada di depannya bersama Ara? Tapi, mengapa sekarang dia sudah ada di sisi Bryan? Gadis itu bahkan sudah merangkul lengan Bryan genit membuat Alisha semakin kesal.
"Apa yang kau lakukan, Ra? Bryan adalah teman masa kecilku. Jadi, pelukan tadi jelas bukan karena ada maksud lain!" Rutuknya kesal membuat Ara menoleh pada dirinya.
"Kau juga, Rain! Sejak kapan kau menjadi genit seperti itu? Aku tidak pernah merasa mempunyai teman yang genit seperti dirimu saat ini," lanjutnya. Sementara, Rain mengerucutkan bibirnya kesal namun tidak melepaskan rangkulannya pada lengan Bryan.
Alisha kesal pada tingkah Rain bukan karena dirinya menyukai Bryan. Akan tetapi karena ia tahu bagaimana perangai Rain dengan laki-laki, itulah sebabnya. Ia tidak mau Bryan menjadi korban percintaan tidak serius Rain selanjutnya. Di sisi lain, Bryan sendiri bahkan tidak merasa terganggu dengan itu dan masih asyik memperlihatkan wajah bingung.
Alisha kembali menyuruh Rain untuk melepaskan lengan Bryan. Dengan enggan, Rain pun melepaskan tangannya pada lengan Bryan dan beralih duduk di meja yang tadi mereka tempati sesuai dengan perintah Alisha tanpa banyak bantahan. Alisha merubah tempat duduk Rain agar berada di sebelah Ara dan menghadap kearahnya dengan tujuan agar gadis itu tak melancarkan aksi genitnya pada Bryan.
“Lalu, bagaimana keadaan nenekmu sekarang?” tanya Bryan pada Alisha tanpa rasa canggung sedikitpun. Meskipun keduanya sudah lama tak bertemu, namun keduanya tetap aktif berhubungan di media sosial. Itulah sebabnya mengapa Bryan bisa tahu perihal nenek Alisha.
“Baik, Ian” ucap Alisha tersenyum manis. Lalu meminum susu putihnya hingga tandas. Bryan yang mendengar kata 'Ian' keluar dari mulut Alisha memutar bola matanya malas. Tangannya sontak bergerak mengacak rambut Alisha hingga gadis itu mengerang kesal dan menatapnya tajam. Kesal dengan tingkah Bryan yang dengan seenak jidatnya merusak tatanan rambut miliknya.
Sebenarnya, panggilan 'Ian' tidak cukup buruk, terlebih lagi dirinya tahu bahwa 'Ian' adalah panggilan kesayangan dari Alisha untuk dirinya. Tapi masalahnya, terkadang Alisha memakai nama itu hanya untuk meledeknya saja. Jadi, Bryan merasa kesal terlebih lagi ia lupa panggilan kecil untuk Alisha.
Sementara Ara dan Rain hanya menatap keduanya dalam diam. Tak berniat mengganggu interaksi keduanya.
__ADS_1
Merasa ada yang menatap selain Alisha, Bryan menggerakkan matanya menatap kedua teman Alisha yang tengah memandang penuh rasa penasaran padanya dan Alisha.
"Eum, hai! Aku Bryan, teman Alisha sejak kecil," Sapa Bryan ramah dan mengulurkan tangan pada Ara yang ada di depannya. Ara yang melihatnya sontak terkejut dan akan membalas jabatan tangan Bryan sebelum Rain dengan seenak jidatnya mengambil alih tangan laki-laki itu.
“Ah.. perkenalkan! Nami abdi teh Rain. Abdi mangrupikeun babaturan pangdeukeutna sareng paling dipikacinta ku Alisha," ucap Rain tanpa melepas jabatan tangannya dengan Bryan.
Ara hanya mendengus kesal karena kelakuan bar-bar Rain yang hanya muncul saat dekat dengan laki-laki tampan, tentu saja tampan menurut Rain bukan dirinya. Berbeda dengan Alisha yang sudah menganga karena terkejut. 'Sejak kapan temannya itu bisa berbahasa sunda?'
“Rain, kau sungguh bisa berbahasa sunda?” tanya Alisha takjub.
“Ah.. Hanya sedikit," jawab Rain sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sudah melepaskan jabatan tangannya dengan Bryan.
“Hai! Aku Bryan, siapa namamu?” tanya Bryan yang ditunjukkan kepada Ara dan kembali mengulurkan tangannya. Menunggu respon gadis yang tengah berfokus pada ponsel miliknya. Rain yang melihat respon Ara itu segera menjitak kepala Ara, membuat korbannya mengaduh kesakitan.
Ara menatap Rain dengan tatapan bertanya sekaligus kesal secara bersamaan. Ia mengelus pelan kepalanya yang telah menjadi korban kebrutalan Rain setelah sebelumnya meletakkan ponsel berlogo apel itu diatas meja.
“Kau ini, punya telinga tidak?” ujar Rain gemas.
“Lalu, kenapa kau hanya diam saja?” tanya Rain lagi dengan gemas melihat wajah tanpa dosa yang Ara perlihatkan.
“Memangnya aku harus apa?” sahut Ara tak kalah gemas karena perkataan Rain yang terlalu bertele-tele.
“Apa kau tidak dengar?" Sahut Rain menjawab pertanyaan Ara dengan pertanyaan kembali. Ara hanya menaikkan sebelah alisnya bingung. Memangnya apa yang harus ia dengar? Sedari tadi, ia tidak mendengar apapun.
“Astaga, Ara! Berhentilah melamun! Bryan ingin berkenalan denganmu,” Ujar Rain gemas menunjuk ke arah tangan Bryan yang masih menggantung, menunggu balasan dari Ara. Ara yang peka akan apa yang dikatakan Rain segera menoleh ke arah Bryan kemudian beralih menatap tangannya dengan tatapan datar miliknya.
“Ara” Dengan enggan, Ara mengucapkan namanya tanpa berniat membalas uluran tangan dari Bryan. Ia pun kembali melanjutkan memainkan ponselnya. Bryan yang mendapat perlakuan seperti itu hanya tersenyum kikuk dan menarik tangannya kembali.
“Hilih! Hanya begitu saja? Apakah kau tidak tahu tata cara berkenalan yang baik dan benar, eh?” tanya Rain kesal. Ara yang mendengarnya balik merasa kesal dan mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke arah Rain yang masih mencibir padanya.
__ADS_1
“Kenapa kau mengatakan itu? Bukankah aku sudah memberi tahu namaku tadi? Apalagi yang kurang?" Tanya Ara kesal. Memang hari ini mood Ara sedang tidak baik efek dari melihat sosok temannya di kebun teh tadi. Ia sedang tidak ingin bertengkar, tapi entah kenapa Rain selalu memancing emosinya lagi dan lagi.
“Kau sepertinya benar-benar kerasukan hantu yang ada di kebun itu, Ra!” celetuk Rain membuat Ara makin merasa kesal. Ketika dirinya hendak membalas perkataan tidak masuk akal dari Rain, Alisha dengan cepat berdehem. Menginstruksi kegiatan keduanya yang bertengkar hanya karena masalah sepele. Mendengar suara deheman dan tatapan tajam dari Alisha sontak membuat keduanya tersenyum lebar dan segera menghentikan perdebatan konyol mereka.
“Bisakah kalian berhenti bertengkar?” tanya Alisha dingin. Menatap tajam pada keduanya. Mereka yang awalnya hendak bersuara kembali terdiam. Alisha mengancam akan kembali ke Jakarta sebelum waktunya dan tidak akan mengajak keduanya berlibur di Bandung lagi jika keduanya tak kunjung berhenti bertengkar. Ancaman itu dengan cepat membuat keduanya kembali menutup mulut mereka rapat. Tidak berani membantah ataupun bersuara.
“Ah! Baiklah. Maafkan aku dan Ara, Al” ujar Rain tersenyum. Setelah melihat Alisha yang kembali terdiam memberi waktu untuk dirinya dan Ara berbicara, ia berinisiatif untuk berkata demikian terlebih dahulu karena melihat Ara yang hanya terdiam tanpa berniat mengatakan sesuatu.
Ia tentu takkan mau jika harus pulang ke Jakarta dengan cepat. Ia bahkan belum menjarah seluruh kota wilayah tempat tinggal Alisha lebih dalam. Terlebih lagi kota yang di juluki sebagai kota para pria tampan ini pun membuat Rain lagi-lagi harus menuruti perkataan Alisha. Ia tidak mau jika harus mengorbankan kesenangan melihat para pria tampan itu hanya karena mulutnya yang tidak bisa diam.
Waktu berlibur bertiga seperti ini pun sebenarnya adalah hal yang langka bagi ketiganya. Padatnya jadwal sekolah dan kegiatan mereka membuat Ara, Alisha, dan Rain jarang pergi bersama ke tempat yang lebih jauh dari kawasan tempat tinggal mereka. Mereka hanya sempat untuk berkumpul di rumah ketiganya secara bergantian.
Menurutnya, Bandung adalah pilihan yang cukup bagus untuk tempat berlibur mereka. Jadi, tidak mungkin mereka akan menyiakan kesempatan langka dan berharga seperti ini hanya karena masalah sepele bukan?
Bryan yang menyaksikan interaksi ketiganya hanya terkekeh geli. Sifat Alisha memang tak pernah berubah sejak kecil. Selalu menjadi penengah saat temannya bertengkar.
Dulu, dia dan satu lagi sahabat mereka juga sering bertengkar. Dan, Alisha jugalah yang selalu menjadi penengah dengan ancamannya yang berhasil untuk membuat keduanya berhenti bertengkar. Namun, keduanya selalu mengulangi kembali pertengkaran mereka hanya untuk menggoda Alisha kecil. Sungguh ia merindukan masa-masa itu.
Mereka pun kembali melanjutkan berbincang santai bersama Bryan. Akan tetapi, Bryan harus undur diri karena ada sesuatu yang harus ia urus di rumah. Mereka berempat memutuskan untuk pulang.
🌹🌹🌹
TBC
@The_granat
@garnissr
@theodra_ara
__ADS_1
@leesona_09