Al2aint

Al2aint
Bagian 23


__ADS_3

Di dalam kamar Alisha, ketiganya tengah berbaring sambil menonton tv ditemani camilan yang Rain bawa. Rain yang masih asyik membicarakan tentang Bryan membuat Alisha hanya menatap datar pada dirinya.


“Astaga! Bryan adalah pribadi asyik diajak bicara. Ia juga tampan dan manis. Sepertinya dia cocok menjadi sosok Thor-ku” celoteh Rain sambil mengunyah keripiknya. Menatap ke arah langit-langit kamar sembari membayangkan kembali wajah Bryan.


“Ck! Kau memang selalu seperti itu. Semua pria yang kau anggap tampan akan dijadikan sebagai Thor-mu. Membosankan sekali,” ujar Ara yang berbaring di sebelah Rain. Ia masih fokus menonton film sambil menikmati camilannya sendiri.


“Hilih! Pria itu memang relatif tampan, Ra. Kau saja yang tidak tahu, dasar monoton!” cetus Rain sementara Ara hanya memutar bola matanya malas dan kembali menonton film fast and fourious seri terbaru.


Sementara Alisha terkekeh mendengar kata-kata Rain yang sangat menggambarkan Ara selama ini. Ya, monoton. Bagaimana tidak, mereka tidak pernah sekalipun melihat Ara dekat dengan laki-laki lebih dari teman. Mereka pun tidak pernah mendengar Ara mengatakan kata 'tampan' saat melihat laki-laki yang menurut ketiganya tampan. Gadis itu hanya akan menjawab 'Jelek. Dia tak memiliki jawline' dengan tatapan datar dan kembali fokus pada kegiatan nya lagi. Jawline adalah sebutan untuk rahang tegas. Ara sangat menyukai pria dengan rahang yang tegas. Menurutnya, itu sangat seksi.


Hingga saat ini, mereka pun masih penasaran mengenai siapa yang akan bisa meluluhkan hati beku milik Ara.


“Lalu, bagaimana dengan Erico-mu, hah?” tanya Alisha sambil terkekeh.


"Lagipula, aku takkan mengizinkan Bryan bersama denganmu. Aku takut kau hanya bermain-main dengannya, Rain. Jadi, aku takkan merestuimu," lanjutnya masih terkekeh.


“Ah.. Dia juga tampan, tapi tidak semanis Bryan. Lagipula, dia juga sudah memiliki nenek sihir tua itu,” ujar Rain membayangkan wajah Erico yang beberapa waktu lalu mereka temui.


"Restui aku, Al. Bantu aku juga untuk mendapatkannya! Aku akan membuatnya bahagia, aku janji!" lanjutnya. Ia bahkan sampai bangkit dari tidurnya dan menatap Alisha serius. Hal itu membuat kedua gadis lainnya terkekeh mendengarnya. Alisha lalu menggeleng diikuti telunjuknya yang ia goyangkan ke samping pertanda ia tak mau membantu Rain mendapatkan Bryan.


“Heol! Tania cantik dan cocok dengan Erico. Mengapa kau mengatakan jika dia adalah nenek sihir?” tanya Ara penasaran. Ia melirik ke arah Rain sudah kembali berbaring setelah mendapat gelengan dari Alisha. Gadis itu kembali memakan camilan miliknya dengan fokus sambil memikirkan cara bagaimana membujuk Alisha untuk membantunya agar bisa dekat dengan pemuda manis yang notabenenya adalah teman kecil Alisha.


“Yayaya.. Dia memang cantik. Tapi, kecantikannya tidak natural. Dia terlalu banyak menggunakan bedak! Itu membuatnya terlihat seperti buah kesemek!” celetuk Rain asal. Alisha dan Ara tertawa geli mendengar perkataan Rain. Buah kesemek dia bilang? Dasar Rain.


“Astaga Rain kau sungguh kejam, barusan kau mengatakan dia nenek sihir dan sekarang mengatakan dia seperti buah kesemek?” ujar Alisha yang masih tertawa.


“Ya mau bagaimana lagi memang seperti itu” sahut Rain mengedikkan bahunya acuh. Ia kembali menikmati camilannya sambil tetap memfokuskan penglihatannya pada layar tv di depan mereka.


“Bagaimana jika dia mendengarnya dan memarahimu?” tanya Ara yang berusaha meredakan tawanya.


“Biarkan saja. Aku tidak melarang dia untuk marah, bahkan aku sangat ingin bertengkar dengan dia. Itu pasti sangat menyenangkan!” ujar Rain antusias. Alisha dan Ara hanya menggelengkan kepalanya heran. Entah apa yang dipikirkan Rain hingga gadis itu sangat menyukai pertengkaran.

__ADS_1


“Dasar Aneh,” cetus Ara. Ia melemparkan chiki ke dalam mulutnya dan dengan sukses masuk ke dalam mulutnya. Ia kembali memfokuskan pandangannya pada tv di depan.


“Oh, iya, Al. Bryan itu teman kecilmu, apakah kau sangat dekat dengan dia?” tanya Rain penasaran. Ia menoleh ke arah Alisha yang masih serius memainkan ponselnya ketimbang menonton film di depannya. Alisha yang mendengar pertanyaan Rain mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan menatap Rain antusias.


“Tentu saja! Kami bertiga sangat akrab. Ya.. Walaupun Brian lebih tua dari kami. Usianya dua tahun di atas kita,” papar Alisha. Ia beralih menatap langit-langit kamarnya, menerawang ke masa lalu. Masa kecil yang indah menurutnya, memiliki dua teman laki-laki yang selalu menjaganya.


"Tunggu! 'Kami bertiga?' Memangnya siapa lagi teman kecilmu selain Bryan?" Celetuk Ara. Ia kini lebih tertarik pada cerita Alisha. Gadis itu bahkan sampai mengubah posisinya menghadap Alisha membuat pandangan Rain tertutupi punggungnya mengingat posisinya yang berada di ujung kasur berseberangan dengan Alisha.


"Hei! Aku tak bisa melihat Alisha, bodoh! Ubah posisimu seperti semula!" Cecarnya kesal. Melihat Ara hanya bergeming dan meleletkan lidahnya ke arahnya, ia mendengus kesal dan beralih menjadi duduk bersandar pada akhirnya. Gadis itu bahkan sempat menarik sedikit helai rambut Ara membuat gadis itu berteriak kesal.


Alisha yang melihat tingkah keduanya hanya menatap datar. Benar-benar sudah terbiasa dengan kelakuan mereka. Ia lebih kesal karena sepertinya keduanya melupakan salah satu teman kecilnya. Ia lalu mengambil Koko untuk dibawanya ke dalam dekapannya. Kembali melihat langit-langit kamarnya.


"Tentu saja 'kami bertiga'. Aku, Ian, dan Ka Alva! Apa kalian tak ingat?" Kesalnya. Setelah kalimat terakhir, ia menoleh ke arah keduanya dengan pandangan kesal. Yang ditatap justru malah memperlihatkan wajah cengo yang Alisha artikan jika memang benar mereka tak mengingatnya. Ia lalu mendengus kesal lalu memilih menatap ke arah Koko di dekapannya.


"Ka Alva. Laki-laki kecil yang memberiku boneka Kiki. Apa tak ingat?" Ujarnya seraya memainkan pita yang ada di leher Koko. Ia mendengar kedua sahabatnya ber-oh ria. Mungkin keduanya sudah ingat dengan teman kecilnya.


“Kalau begitu, dimana dia tinggal?” tanya Rain tak memperdulikan perkataan Alisha tentang Alva. Ia lebih tertarik pada Bryan.


"Bryan, tentu saja! Untuk apa aku bertanya tentang Alva, Alvamu itu?" Ujarnya kesal membuat Alisha juga sama kesalnya mendengar ucapan Rain. Gadis itu bahkan sudah melirik sinis ke arahnya yang bahkan tak ditanggapi olehnya.


“Heol! Untuk apa kau bertanya seperti itu? Kau ingin menemuinya?” tanya Ara membalikkan pertanyaan Rain yang ditujukan untuk Alisha. Gadis itu melirik Rain dengan tatapan tidak percaya. Keningnya bahkan berkerut, tak mengerti dengan apa yang tengah dipikirkan Rain tentang rumah sahabat kecil Alisha.


“Yup! Aku juga ingin berkenalan dengan orang tuanya. Siapa yang tahu jika nanti kedua orang tuanya menyukaiku dan berniat menjadikanku sebagai menantunya?” angguk Rain percaya diri. Ia bahkan sampai memukul pelan dadanya berulang kali bermaksud membanggakan dirinya. Entah bangga dalam hal apa keduanya pun tak tahu.


“Heol, yang ada kau akan dijadikan pembantu di rumah mereka, Rain. Lagipula, untuk apa kau mendekatinya? Apa para kekasihmu yang segudang itu tidak cukup menyenangkanmu?” sindir Ara. Gadis itu bahkan tersenyum mengejek ke arah Rain. Tubuhnya sudah kembali ke posisi telentang dengan kepalanya yang menoleh menghadap Rain.


"Aku setuju dengan Ara," celetuk Alisha tiba-tiba tanoa mengalihkan atensinya dari ponsel miliknya. Ara dan Rain yang mendengar Alisha berbicara sontak menoleh pada gadis itu. Merasa diperhatikan, Alisha segera mengangkat tangan kanannya membentuk 'v sivn' tanpa melihat ke arah mereka membuat keduanya tak menanggapinya lagi.


Alisha sendiri pun cuek dan memilih tetap fokus pada ponselnya yang memperlihatkan percakapannya dengan Bryan. Rain sendiri tidak tahu jika ia tengah ber-chat ria dengan teman masa kecilnya karena tengah sibuk beradu mulut dengan Ara.


“Ah mereka sangat mebosankan” lenguh Rain menjawab pertanyaan Ara. Ara sendiri hanya memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Kalau begitu, putuskan saja mereka. Toh, tak ada untungnya bagimu," Ara mengubah posisi tidurnya menjadi duduk bersandar seperti Rain. Ia meminta tolong pada Alisha untuk mengambiljan masker wajah miliknya yang ada di nakas di samping Alisha. Setelah mendapatkannya, ia memasang masker instan itu ke wajahnya dan menepuk-nepuknya pelan agar lebih menempel.


"Tentu saja ada! Aku bisa menyuruh mereka mengantar-jemput kemanapun aku mau, membelikan es krim favoritku, membelikanku hadiah. Mereka sangat bermanfaat bagiku, Ra,"


Ara dan Alisha yanv mendengarkan perkataan Rain sontak menatapnya terkejut. Di pikiran mereka, apa zeburuk itu Rain memperlakukan semua kekasihnya? Sungguh playgirl sejati!


"Rain? Kau.. Apa kau benar-benar memperlakukan mereka seperti itu? Menjadikan mereka seakan-akan adalah pelayanmu?" Tanya Alisha tak percaya. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk menjauhkan Rain dari Bryan.


Rain sedikit berpikir aetelah mendengar pertanyaan Alisha. Ia memikirkan kembali tentang sikapnya pada para kekasihnya itu. Gadis itu menimang apakah harus memberitahukan hal ini pada kedua sahabatnya atau tidak. Namun akhirnya, ia memilih untuk memberitahukan perihal sikapnya ini.


"Eumm.. Sebenarnya, aku sudah terbiasa memperlakukan mereka seperti itu. Itu juga bukan salahku! Mereka yang dengan suka rela menawarkan bantuan padaku. Aku tak pernah meminta apapun pada mereka. Hanya sesekali, sih," papar Rain. Ara dan Alisha mendengarkan penjelasan Rain dengan kening berkerut.


"Jadi, ya seperti itu, akhirnya. Aku menjadi terbiasa untuk memanfaatkan kebaikan mereka. Apa aku jahat?" Lanjutnya diakhiri dengan pertanyaan polos pada dua gadis lainnya. Ia menunjukkan wajah polosnya yang membuat Ara seketika menjitak kepala gadis itu.


"Jangan menunjukkan ekspresi itu di depanku. Itu menjijikkan," sarkasnya membuat Rain memajukan bibirnya kesal seraya mengusap-usap dahi bekas jitakan Ara.


Alisha hanya menghela napasnya berat. Ia tak habis pikir dengan Rain. Kebiasaan semacam itu, apa ada? Benar-benar menggelikan baginya.


                                        🌹🌹🌹


                                           TBC


                                                              @The_granat


                                                              @garnissr


                                                              @theodra_ara


                                                              @leesona_09


                                         

__ADS_1


__ADS_2