Al2aint

Al2aint
Bagian 19


__ADS_3

Ketiga gadis tersebut kini telah kembali ke kamar Alisha. Alisha pun sudah tenang dan berhenti menangis. Kini, ketiganya tengah bermain permainan monopoli diselingi gelak tawa di antara mereka.


"Oalah.. Jadi Alva adalah cinta pertamamu? Lalu, bagaimana dengan Rayhan? Dan.. kak Jason?" Celetuk Rain ketika Alisha menceritakan tentang rasa sukanya pada teman masa kecilnya, Alva. Ia juga menyinggung tentang Jason, salah satu senior mereka di SMA Galaksi.


Alisha pernah menyukai kakak kelas jenius itu saat kelas sepuluh, bahkan hingga sekarang. Namun, cintanya bertepuk sebelah tangan karena sang senior tak pernah memikirkan soal asmara. Ia terlalu fokus mengejar impiannya. Akan tetapi, beberapa waktu yang lalu, sang senior dikabarkan telah berpacaran dengan teman sekelasnya.


Seorang gadis yang sama pintarnya dengan Jason dan sangat cantik juga feminin. Berbeda dengan Alisha yang tomboy dan malah terlihat cupu dengan kacamatanya. Berita itu membuat Alisha kecewa dan berusaha menghilangkan perasaannya. Hingga, di saat ia menaiki kelas 11, ia bertemu dengan pemuda itu.


Rayhan yang merupakan murid pindahan di kelasnya mampu menarik perhatian Alisha. Laki-laki yang sama berkacamata seperti dirinya itu membuat Alisha mulai memiliki perasaan padanya dan perlahan mulai melupakan keberadaan Jason yang selalu mengumbar kemesraannya di sekolah. Oh! Jangan lupakan juga jika Alisha sangat terobsesi dengan pemuda berkacamata dan berkepribadian cuek. Mirip seperti Rayhan.


Di samping obsesinya itu, Alisha seperti merasa akrab dengan laki-laki itu entah mengapa. Rasanya sangat hangat saat di dekatnya meskipun sikap laki-laki itu sangat cuek terhadap perempuan. Ah, sudahlah.. hanya memikirkannya pun bisa membuat pipi Alisha memerah malu.


"Kenapa kau malah membahas tentang mereka? Itu tak ada hubungannya, sialan!" Rutuknya pada Rain. Ia mendelik kesal ke arah Rain yang menatapnya lekat.


"Astaga, Alisha! Pipimu memerah!" Teriaknya heboh disusul gelak tawanya dan Ara. Alisha sontak membuang mukanya ke samping sembari menggerutu.


"Berhentilah menggangguku, dasar kalian berdua!"


Gadis tinggi itu menepuk-nepuk pelan pipinya berusaha menghilangkan rona merah yang ada meskipun itu mustahil.


"Ayolah, jangan memerah," gerutunya pelan. Ara dan Rain yang mendengar sontak tertawa lebih keras melihat kepolosan temannya itu. Ara menepuk-nepuk pundak Alisha sambil berusaha mengatakan sesuatu, namun sulit karena dirinya bahkan msih tertawa geli.


"Berhenti.. menepuknya... Alisha! Hahaha! Itu akan membuatnya semakin memerah," katanya disela-sela tawanya. Alisha yang mendengarnya sontak memukul lengan Ara kesal. Baiklah, ia sudah malu sekarang.


"Sudahlah! Ayo lanjutkan permainannya!" Gerutunya lalu mengambil dadu yang ada di depan Rain. Sedangkan, gadis itu masih sibuk berbaring dan tertawa memegang perutnya.


"Tak ada yang lucu, Rain!" Sungut Alisha kesal. Rain berusaha bangkit dan menghentikan tawanya. Ia lalu mengambil dadu yang ada di tangan Alisha dan mengocoknya.


"Giliranku, Al," ujarnya masih sedikit tertawa. Alisha hanya merengut kesal. Rona di pipinya berangsur-angsur memudar perlahan bersama rasa malunya.


"Huftt.. Membuatku kesal saja," rutuk Alisha pelan disambut kekehan Ara dan Rain.


“Astaga Al, apakah tidak ada pria selain Rayhan di hidupmu? Sungguh aku sangat bosan mendengar namanya. Tunggu, aku harus membeli hotel atau rumah ya?” Ujar Rain yang kembali fokus dengan permainan monopolinya.


Ara yang mendengar niat Rain yang ingin membeli properti seketika merengut. "Uangmu sudah sekarat tapi kau masih ingin membeli properti? Hati-hati, uangmu bisa ludes. Sebentar lagi kau akan melewati hotel milik Alisha." Rain yang mendengarnya hanya menggeleng tanda dia baik-baik saja.


"Tak apa. Aku takkan kalah," sombongnya.


“Hmm.. sepertinya sudah tidak ada," sahut Alisha berpikir.


“Heol! Terlalu monoton. Aku lebih memilih kau yang bersama kakak Johnson baby-mu itu,” celetuk Ara yang mendengar sahutan Alisha. Ia mengungkit kembali tentang kakak kelas mereka, Jason. Ara selalu memanggil Jason dengan sebutan Johnson Baby. Alasannya adalah karena namanya mirip dengan merk sabun bayi yang selalu digunakannya saat mandi. Sungguh konyol menurut Alisha.


“Hm?! Kau yang monoton, Ra. Masalah pria saja kau tak tahu, kau itu terlalu payah,” sahut Alisha.


“Sudahlah kalian berdua sama-sama monoton dan payah. Hiduplah sepertiku, selalu mengalir bagai air,” celetuk Rain sombong.

__ADS_1


“Heol, Rain! Hidupmu memang tidak monoton, tapi terlalu rumit!” sembur Ara. Rain hanya menatap tajam pada Ara, sementara Ara dan Alisha sudah tertawa.


“Eh, aku baru ingat, Al. Saat itu, kenapa kau membutuhkan seorang hacker?” tanya Ara yang sudah berhenti tertawa.


“Ah.. Itu. Jadi, papahku mengatakan jika dahulu mamahku ingin menjadi seorang hacker. Tetapi, orang tua mamah tidak menyetujuinya. Jadi, mamah belajar menjadi hacker secara diam-diam,” papar Alisha.


“Apa? Benarkah mamahmu hacker? Pantas saja jika kita kesulitan untuk mencari mamahmu, Al! Astaga, aku juga ingin menjadi hacker!” sahut Rain dengan mata berbinar. Ara hanya memutar bola matanya malas dan Alisha terkekeh.


"Seingatku, cita-citamu juga menjadi hacker, bukan?" Cetus Ara pada Alisha yang masih terkekeh. Alisha yang mendengarnya seketika mengalihkan perhatiannya pada Ara.


"Yap! Oleh sebab itu, saat aku mendengar perkataan papah, aku sangat terkejut," jawab Alisha sambil merenung. Sejak menduduki bangku SMP, Alisha memang bercita-cita menjadi seorang hacker. Sejak kecil, ia sangat menyukai semua hal berbau komputer. Ia sungguh jatuh cinta dengan dunia teknologi informatika persis seperti ibunya.


“Lalu, bagaimana perkembangannya?” tanya Ara.


“Hm.. Papahku belum memberi tahu apa-apa lagi,” sahut Alisha.


“Omaigat! Uangku habis! Bagaimana ini, Al, Ra?! Kumohon belilah salah satu gedung ini!” celetuk Rain heboh. Uang monopolinya habis karena harus membayar dana pembuatan rumah dan biaya singgah di hotel milik Alisha yang cukup mahal.


“Heol! Kubilang juga apa? Jangan asal membeli rumah!” celetuk Ara.


“Ah, sudahlah. Aku sudah malas bermain!" Rain bangkit dari lantai dan membaringkan tubuhnya ke kasur meninggalkan kedua sahabatnya di lantai kamar.


“Dasar lemah," celetuk Ara.


“Tunggu! Jika mamah Alisha berteman dekat dengan ayahnya Alva, sudah pasti ayahnya Alva tahu tentang mamahmu, Al,” cetus Rain yang menatap ke atap kamar sambil menerawang.


“Ya. Sepertinya yang dikatakan Rain ada benarnya. Seperti kita yang berteman dekat, jadi kita saling membagi masalah satu sama lain,” sambung Ara.


“Mungkin saja. Jadi, kita harus bagaimana?” tanya Alisha pada keduanya.


“Astaga, Al! Kenapa kau dodol sekali? Tentu saja kau tanyakan pada papah Alva tentang mamahmu!” sarkas Ara.


“Kau lupa ya? Aku dan Alva sudah putus kontak sejak kecil? Kau ingin mati?” jawab Alisha sangat datar. Rain dan Ara hanya menepuk jidat mereka dan menggumamkan kata maaf pada gadis itu.


"Maafkan aku! Aku lupa, sungguh. Ah, begini saja, kenapa kau tidak tanyakan saja pada papahmu, Al?” tanya Ara mencari solusi lain.


"Benar! Papahmu pasti mengenalnya. Mungkin saja dia tahu keberadaan teman kecilmu itu!" Celetuk Rain semangat. Ia ingin melihat teman masa kecil Alisha. Siapa tahu dia tampan dan bisa ia ajak kencan, bukan? Ah, Rain! Pikiranmu hanya berisi laki-laki tampan saja!


“Baiklah. Aku akan mencoba bertanya pada papahku,” ujar Alisha yang mulai berbaring di sebelah Rain.


“Ah.. Bermain monopoli membuatku lapar,” celetuk Rain yang bangkit menuju tas ranselnya dan mengambil snack.


“Heol! Dasar perut karet!” sarkas Ara. Ia beralih membereskan papan monopoli dan menaruhnya di atas meja belajar milik Alisha. Namun, saat ia berbalik menghadap Rain, seketika mata Ara menjadi berbinar.


“Astaga, Rain! Itu stick keju, bukan?” tanya Ara antusias. Ia beralih mendekati Rain yang berjalan menuju kasur seraya menatap datar pada Ara.

__ADS_1


“Yup! Benar sekali. Ini adalah snack kesukaanmu,” jawab Rain yang kembali duduk di atas kasur.


“Aku mauu,” girang Ara yang mulai bergabung dengan Alisha dan Rain di kasur. Namun, saat Ara sudah ingin mengambil snack kesukaannya, jajan itu segera ditarik oleh Rain.


“No no no.. Apa-apaan kau? Baru saja kau mengataiku dan sekarang kau ingin meminta jajanku? Kau itu terlalu labil dan monoton, Ara” ucap Rain sambil memeluk snacknya erat-erat.


“Astaga, Rain! Kenapa kau pelit sekali, sih? Hati-hati! Nanti kuburanmu sempit” jawab Ara.


“Ck! Peringatan seperti itu sudah kadaluwarsa. Lagipula, jika kuburanku menyempit, aku hanya perlu menghantuimu dan mengancammu untuk melebarkannya lagi,” sahut Rain sambil memakan snack miliknya.


“Heol, sungguh menyebalkan!” sungut Ara. Ia merengut menatap Alisha meminta dukungan. Tapi, Alisha hanya terkekeh tidak peduli. Alhasil, Ara hanya memajukan bibirnya tanda tak suka.


“Cie.. kau marah. Baiklah.. Ambil saja snack kesukaanmu di dalam tasku,” ucap Rain. Ara tersenyum dan segera bangkit menuju tas milik Rain dan mengambil snack favoritnya. Setelah berhasil mendapatkan yang ia mau, gadis itu kembali bergabung dengan kedua temannya seraya memeluk snack miliknya.


“Oh ya, Al. Aku juga membawa roti isi keju dan coklat kesukaanmu,” ujar Rain pada Alisha yang tengah berusaha mengambil isi snack milik Ara. Namun, tak diperbolehkan oleh gadis yang sama berkacamata dengannya.


"Dasar pelit!" Rutuknya kesal.


"Bodoamat," jawab Ara tak peduli.


“Sungguh?” tanya Alisha mengalihkan atensinya pada Rain. Rain mengangguk dan Alisha segera mengambil roti kesukaannya dalm tas Rain. Sama seperti Ara, ia memeluknya agar tak ada yang memintanya. Ara yang menyadari tingkah lakunya mendengus kesal.


"Heol! Aku tak menyukai roti itu!" Kesalnya.


"Tak menyukainya kau bilang? Bukankah terakhir kali kau menghabiskan roti isi coklat milikku saat di sekolah?" Balas Alisha tak kalah kesal.


"Itu karena aku tengah lapar," jawab Ara santai tak merasa bersalah. Alisha yang melihatnya sontak mendengus kesal dan duduk di sebelah Rain. Rain hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua sahabat anehnya.


"Mendengar kau berbicara tentang sekolah, aku jadi merindukannya," celetuk Ara melamun. Mereka bertiga sebenarnya izin tak masuk selama empat hari hanya untuk berlibur ke Bandung. Jadi, wajar bukan jika Ara merindukan sekolahnya. Ingat saja jika dia adalah pecinta belajar.


"Heol! Ini baru satu hari kita tak masuk sekolah! Kau sudah merindukannya? Astaga, membosankan sekali," sarkas Alisha. Ia dan Rain menatap datar Ara yang tengah cengengesan.


"Hehehe.. Kalian tahu bukan jika aku sangat suka belajar? Tidak seperti kalian yang kerjanya hanya memikirkan pria tampan saja," jawabnya masih cengengesan.


Sontak, Alisha dan Rain yang mendengarnya memilih menyerang Ara dengan bantal tidur milik Alisha. Alhasil, terjadilah perang bantal di antara mereka. Hal ini terus terjadi hingga mereka kelelahan dan tertidur begitu saja. Sungguh persahabatan yang menyenangkan.


                                        🌹🌹🌹


                                           TBC


                                                              @The_granat


                                                              @garnissr


                                                              @theodra_ara

__ADS_1


                                                              @leesona_09


                                         


__ADS_2