Al2aint

Al2aint
Bagian 5


__ADS_3

“Kakak kelas itu benar-benar parah. Padahal ayahnya hanya seorang kepala sekolah. Kecuali jika dia keturunan kerajaan Inggris, baru aku bisa memakluminya bersikap seperti itu." Cerocos Rain sambil mengambil air dingin di kulkasnya.


Sekarang, mereka tengah berada di kamar kost milik Rain. Setelah pulang sekolah, mereka memutuskan untuk pergi ke kost milik Rain untuk membahas masalah perihal ibu Alisha.


Diantara mereka bertiga, Rain dan Alisha memang memilih untuk tinggal di rumah kost. Alisha memilih tinggal di tempat tersebut karena dia memang bukan berasal dari Jakarta. Sementara Rain, kedua orangtua tirinya memang tinggal di Jakarta. Namun, jarak antara rumahnya dengan sekolah sangat jauh sehingga dia memutuskan untuk tinggal di kost-an.


Akan tetapi, alasan sebenarnya ia memutuskan untuk tinggal di tempat tersebut adalah karena dia malas untuk tinggal seatap dengan keluarga tirinya yang menurutnya kejam.


Sedangkan Ara tinggal bersama kedua orangtuanya. Akan tetapi, dia lebih sering menginap di kost-an milik Rain karena kedua orangtuanya yang sangat jarang pulang ke rumah karena sibuk bekerja. Rain dan Ara memang sudah berteman sejak mereka masih SD. Itu sebabnya mereka sangat dekat.


Sementara Alisha baru berteman dengan mereka saat pertama masuk SMA. Karena keduanya mudah berteman, alhasil mereka bisa sangat dekat hingga bisa diibaratkan seperti permen karet yang menempel di rambut.


“Astaga! Berhenti mengoceh, Rain. Memang mereka seperti itu.” Celetuk Ara yang tengah berbaring di kasur milik Rain dan asyik dengan ponselnya.


Sedangkan Alisha memilih duduk di tepian kasur sembari memakan cemilan yang ada di nakas samping tempat tidur Rain.


“Ara benar. Kau seperti Ibu-ibu yang mengoceh minta diskon pada penjual sayur keliling, Rain." kekeh Alisha.


“Itu karena aku sangat kesal dengan mereka. Untung saja aku adalah orang yang sabar dan santai.” Ucap Rain bangga.


“Ah iya, Rain, kau bilang sudah mendapatkan data para pegawai di perusahaan itu, kan?" tanya Ara tanpa menghiraukan ucapan Rain.


“Oh, itu? Tentu saja sudah” ucap Rain sambil mengambil sesuatu di laci meja belajarnya.


“Gila! Kenapa cepat sekali? Kau pasti berbohong." tuduh Ara tak percaya.


“Ck! Untuk apa aku berbohong? Ambil ini!” ucap Rain sambil melempar barang yang tadi diambilnya.


“Flashdisk? Untuk apa?” tanya Alisha sambil mengambil flashdisk yang telah tergeletak di kasur itu.


“Itu bukan sembarang flashdisk. Di dalamnya ada data-data pegawai dari awal dibangunnya perusahaan itu sampai sekarang,” jelas Rain lalu duduk di meja belajar di samping kasur miliknya.


“Heol! Bagaimana bisa? Kau mendapatkannya dari mana?” tanya Ara mengubah posisinya menjadi duduk.


“Tentu saja bisa! Aku adalah Rain, si gadis sejuta rencana!” ucap Rain dengan sombongnya.


“Kenapa kau bisa mengambil semua data pegawai sebanyak itu?” tanya Alisha heran. Ia memutar-mutar flashdisk yang ada di genggamannya.


“Itu karena kau tak memberitahuku kapan mamahmu bekerja di sana!" Sungut Rain beranjak duduk di samping Ara.


“Eh? Benarkah? Aku lupa, maafkan aku." Ucap Alisha dengan cengirannya.


“Rain, ini sangat lengkap dan banyak! Bagaimana bisa? Alisha saja tak bisa mendapatkannya, tapi kau malah dengan mudah mendapatkan semua data ini.” bingung Ara yang sudah membuka data tersebut di laptop miliknya.


“Tentu saja! Sudah kubilang jika hal seperti ini sangat mudah bagiku. Aku memiliki kenalan orang dalam di perusahaan itu." Jelas Rain yang juga melihat ke arah layar laptop itu.


“Heol! Memangnya siapa kenalanmu itu?” tanya Ara penasaran.


“Salah satu pacarku. Ia adalah anak dari pemilik perusahaan itu. Jadi, aku meminta tolong padanya." jelas Rain.

__ADS_1


“Wah! Ada untungnya juga memiliki banyak pacar." celetuk Alisha.


"Bisa dibilang seperti itu. Tapi itu tidak gratis.”ucap Rain kesal.


“Maksudnya?” tanya Alisha dan Ara bersamaan.


“Maksudku, demi mendapatkan itu, dia meminta imbalan padaku." Jawab Rain.


“Apa imbalannya?” tanya Ara penasaran.


“Hmm.. Berkencan dengannya.” jawab Rain acuh.


“Eh? Bukankah sudah biasa jika sepasang kekasih berkencan? Kenapa meminta imbalan seperti itu?” tanya Alisha dan Rain hanya menunjukkan cengirannya.


“Kalian tentu tahu jika aku tak pernah serius dalam berpacaran. Itu sebabnya meskipun kami berstatus pacaran, kami tak pernah berlaku seperti sepasang kekasih. Itu karena aku malas saat diminta untuk pergi berkencan. Jadi, setiap mereka meminta untuk berkencan, aku selalu menolak dengan berbagai alasan.” jelas Rain sembari tersenyum layaknya bintang iklan pasta gigi.


“Kau ini benar-benar, Rain. Aku merasa kasihan pada mereka." Ucap Alisha menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya yang satu ini.


“Sudahlah, tak perlu membahas itu. By the way, mamahmu bekerja di kantor itu pada tahun berapa?” tanya Ara sembari melihat-lihat data pegawai yang ada di laptopnya.


“Nenekku bilang, dia bekerja antara tahun 2013 atau 2014.” jawab Alisha seraya berpose berpikir dengan menempelkan telunjuknya di dagu miliknya dan memiringkan kepalanya.


Ara mulai mengecek data sekitar tahun tersebut dengan teliti. Setelah beberapa menit mencari, ia tetap tak menemukan data milik ibu Alisha. “Al, disini tak tertera nama ibumu,”ucap Ara bingung. Ia memalingkan mukanya kearah Alisha yang kini menatapnya heran.


“Benarkah?” tanya Alisha yang kini sudah berpindah ke sebelah Ara dan merebut laptop yang ada di pangkuannya dan mencoba mengeceknya.


“Bagaimana bisa tidak ada? Bukankah data ini lengkap, Rain?” tanya Alisha kepada Rain yang kini berada di belakangnya ikut melihat ke dalam laptop milik Ara.


“Sudah, Rain. Tetap tidak ada.” ucap Alisha lesu.


“Berikan padaku." ucap Rain dan mengambil alih laptop itu.


Rain mengecek berkali-kali dan memang benar tidak ada nama ibu Alisha disana.


“Al, Benarkah mamahmu bekerja di perusaahan ini?” tanya Ara.


“Tentu saja benar. Nenek yang mengatakannya sendiri padaku.” jawab Alisha yakin.


“Yup, ketemu!” celetuk Rain yang berhasil membuat mereka berdua menoleh ke arah Rain.


“Kau serius?” tanya Alisha mulai mengintip ke dalam laptop yang ada di pangkuan Rain.


“Iya. Kalian tahu? Kalian hanya mencari nama ibu Alisha saja, bukannya mencari fotonya. Tak ada yang tahu jika mamah Alisha akan mengganti nama dan data pribadinya untuk bersembunyi entah dari siapapun itu. Ini, coba kalian cek, siapa tahu benar.” ucap Rain menyerahkan laptop tersebut pada Alisha.


“Ya, benar. Ini foto mamah.” ucap Alisha senang.


“Al, coba kau cek alamat tempat tinggal mamahmu,” ucap Ara.


“Tunggu sebentar. Dia tinggal di Jalan Mawar no. 09-"

__ADS_1


“Wah! Aku tahu tempatnya! Ayo kita kesana!” ajak Rain semangat menghentikan kalimat Alisha.


“Sekarang? Tapi-” tanya Alisha ragu.


“Kenapa Al? Kau bilang ingin bertemu dengan mamahmu. Lagipula kau harus menepati janjimu pada Alena, kan?” sela Ara mengingatkan Alisha tentang tujuannya mencari ibunya.


“Kau benar. Baiklah, ayo!” ajak Alisha semangat.


“Ah! Tunggu sebentar!” sergah Rain.


“Ada apa, Rain?” tanya Ara bingung.


“Sebelum kita mulai melakukan pencarian, kita harus membuat nama untuk geng kita dulu seperti cerita detektif-detektif yang terkenal!” ucap Rain semangat.


“Hah? Apa maksudmu?” tanya Alisha heran sementara Ara memutar bola mata jengah.


“~Eum.. Bagaimana dengan Al2raint?” usul Rain tanpa menghiraukan pertanyaan dari Alisha.


“Arain? Apa itu?” Tanya Alisha penasaran.


“Tunggu sebentar.” Rain lalu mengambil sebuah kertas dan pensil di atas meja belajarnya dan mulai menulis kata ‘Al2AINT’.


“Ai-dua-ain… t? Aku tak mengerti maksudmu, sungguh!” Bingung Alisha. Rain yang mendengar ucapan Alisha menyerit kesal.


“Bukan itu maksudku! Perhatikan ini!” Sungutnya.


“Al2RAINT. Kata ‘Al’ diambil dari nama depan Ara dan Alisha. Kita tentu tahu jika nama lengkap Ara adalah Aleora Stephanny Stansen. Itulah sebabnya aku mengambil nama depannya. Selain itu, aku mengambilnya agar bisa digabung dengan nama Alisha. Jadi, kita hanya tinggal menambahkan angka dua saja sebagai tanda jika kata ‘Al’ mengandung 2 arti. Sedangkan, kata ‘Rain’ adalah namaku sendiri. Dan yang terakhir, huruf ‘t’ merupakan singkatan dari team. Kesimpulannya, ‘Al2AINT’ berarti Tim Ara, Alisha, dan Rain. Seperti itu. Apa kalian paham dengan maksudku?” jelas Rain panjang lebar.


“Huft.. Terserah padamu saja!” ucap Ara berlalu ke pintu depan. Namun, saat sudah hampir memegang gagang pintu, tangannya dicekal oleh Rain. Alisha yang melihatnya hanya terduduk di pinggir kasur lalu memeriksa ponselnya. Ia mendapat pesan dari Alena yang berisi jika sang adik tengah menunggui neneknya di rumah sakit.


“Tunggu, Ra! Kita harus membuat yel-yel penyemangat!” Ia mendengar Rain mengucapkan hal itu dengan semangat. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku roknya dan mulai menghampiri kedua sahabat ‘luar biasa’nya itu.


“Tidak perlu, Rain. Aku malas melakukannya, sungguh!” ucap Ara datar.


“Ih! Berikan tanganmu!” ucap Rain menarik tangan Ara dan Alisha dan menumpuknya menjadi satu dengan tangannya.


“KITA TIM DETEKTIF HANDAL, Al2AINT! PARA REMAJA DENGAN SEJUTA RENCANA, TRUE FRIEND IS NEVER DIE!”ucap Rain berteriak semangat hingga terdengar ke luar kamar kost-nya.


“Aduh! Siapa yang berteriak? Berisik sekaali, saya sedang sakit gigi!” teriakan ibu kost terdengar dari luar kamar. Mereka bertiga yang mendengar nya pun tertawa terbahak sambil berlari ke luar rumah kost. Bertingkah seolah bukan mereka pelaku nya.


                                        🌹🌹🌹


                                          TBC


                                                              @The_granat


                                                            @garnissr


                                                            @theodra_ara

__ADS_1


                                                                @lee_sona09


                                         


__ADS_2