Al2aint

Al2aint
Bagian 11


__ADS_3

Saat itu, sudah larut malam ketika Ara datang mengunjungi rumahnya dengan membawa tas punggung besar di belakangnya. Ia datang dengan mata berkaca-kaca seolah siap untuk menjatuhkan air matanya saat itu juga. Alhasil, Alisha yang bingung pun segera menyuruhnya untuk masuk ke dalam karena di luar sedang hujan. Di malam itu, ia melihat sisi lain dalam diri Ara. Sisi rapuh yang tak pernah dia tunjukkan pada siapapun.


Gadis itu menceritakan masalah keluarganya dengan lelehan air mata yang sudah tak terhitung jumlahnya. Membuat Alisha meringis dan menatap prihatin pada gulingnya yang sudah lepek terkena lelehan air mata gadis berkacamata itu.


Oh! Jangan lupakan juga ingus yang menempel dengan cantiknya di gulingnya itu. Namun, ia tak menghiraukan semua itu dan memilih mendengarkan semua keluh kesah gadis itu. Baginya, menghibur sudah tak dibutuhkan lagi saat ini. Ia tahu, ia hanya harus mendengarkan tanpa menyela ceritanya. Karena disaat seperti ini, orang hanya ingin didengarkan bukan dikomentari.


Malam itu, Alisha membiarkan Ara menginap di rumahnya. Tak lupa, ia mengganti sarung bantal bekas ingus dan air mata gadis itu dengan yang baru. Dan karena hal itu pula, ingin rasanya ia menyumpal telinganya ketika terus menerus mendengar peemintaan maaf Ara hanya karena masalah ingus itu. Bahkan hingga paginya, saat gadis itu dijemput oleh supir pribadinya yang mengatakan jika kedua orangtuanya telah pergi ke luar kota lagi, ia masih saja meminta maaf dan berniat untuk mengganti sarung bantal itu. Benar-benar membuatnya kesal dan hanya memutar bola matanya malas.


"Tidak mau! Pak Hendra akan terkena marah karena membiarkanku tak pulang." tolak gadis itu frustasi. Pak Hendra adalah sopir di keluarga Ara yang sudah mengabdi bahkan sebelum Ara dilahirkan di dunia ini. Kepribadian Pak Hendra yang ramah dan penuh kasih sayang membuat Ara menyayanginya seperti ayahnya sendiri. Ia bahkan iri dengan anak-anak Pak Hendra yang tumbuh dengan kasih sayang lelaki itu.


"Kalau seperti itu, pulanglah dan hadapi kedua monster itu." celetuk Rain yang sedari tadi diam. Perkataannya tak digubris oleh kedua sahabatnya membuatnya menoleh dari ponselnya.


"Ada apa?" Tanyanya bingung.


"Huftt!! Baiklah!" Ara menghembuskan napasnya kasar. Ia bangkit dari acara rebahannya dan mulai merapikan pakaiannya. Ia mengemas barang-barangnya dan tak lupa memasukkan seragam sekolahnya ke dalam tas ranselnya.


Ara dan Rain memang selalu meninggalkan pakaian mereka di rumah Alisha ketika menginap. Mereka beralasan agar ketika mereka memutuskan untuk menginap tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu seperti permintaan Rain tadi, keduanya tak perlu repot-repot pulang ke rumah untuk sekedar mengambil pakaian.


"Itu baru temanku!" Celetuk Rain bangga. Ia hanya ingin Ara menghadapi masalahnya bukannya lari. Gadis itu sudah terlalu sering lari dari masalahnya. Rain takut, keadaannya akan semakin memburuk jika Ara tetap memaksakan keputusannya untuk menghindar dari orangtua gadis itu.


"Apa Pak Hendra akan menjemputmu?" Tanya Alisha ikut bangkit dari kasur. Ia meletakkan Kiki di samping Rain yang masih setia terbaring di tengah-tengah kasur.


"Iya, kupikir lima belas menit lagi dia akan sampai," sahut Ara melihat jam dinding bergambar karakter keroppi yang ada di kamar Alisha. Alisha mengikuti tingkah Ara dengan melihat arloji di lengan kanannya.


Bukan! Bukan karena Alisha kidal lalu menggunakan jam tangan di tangan kanannya. Tapi karena ia memang sudah terbiasa dan nyaman dengan posisi itu. Semua aksesoris untuk tangan seperti gelang, cincin, dan jam selalu ia pakaikan di tangan kanannya. Sedangkan, tangan kirinya hanya terdapat satu buah gelang kain yang sama dengan yang dipakai oleh Rain dan Ara. Rain menyebutnya gelang persahabatan.


"Sudah jam setengah tujuh malam. Kau tak ingin pulang, Rain?" Tanya Alisha memalingkan wajahnya ke arah Rain yang sudah terduduk memainkan Kiki. Rain yang melihat Alisha melotot dan akan menghampirinya segera menginterupsi langkahnya.


"Tenanglah. Aku sedang mengambil helaian rambut yang menempel di tubuh Kiki. Kau posesif sekali," rutuk Rain mengembalikan boneka beruang itu pada Alisha. Alisha yang menerimanya segera memeluk boneka itu sayang.


"Ini adalah kenang-kenangan dari sahabat masa kecilku, kau tahu?" Ucap Alisha lembut. Ia kembali mengenang teman masa kecilnya yang sudah lama tak ada kabar.

__ADS_1


"Sahabat masa kecil? Laki-laki atau perempuan?" Tanya Ara tiba-tiba. Ia berhenti mengemasi barangnya dan menatap Alisha dengan mata berbinar.


"Eum.. Laki-laki." cicit Alisha yang kini menyembunyikan wajahnya di perut boneka itu.


"Sungguh?!!" Koar kedua temannya demi mendengar jawaban Alisha.


"Kenapa kalian terkejut?" Bingung Alisha.


"Benarkah sahabat kecilmu itu laki-laki? Siapa namanya? Bagaimana wajahnya? Apa dia baik dan ramah? Dimana dia sekarang? Kenapa aku tak pernah melihatnya?" Pertanyaan bertubi-tubi yang dilayangkan Rain membuat Alisha menatapnya datar. Ia beralih duduk di kursi belajarnya dan menatap kedua sahabatnya yang balik menatapnya dengan mata berbinar.


"Namanya Kak Alva. Aku selalu memanggilnya seperti itu. Aku tak tahu nama aslinya karena dia tak mau memberitahunya padaku. Dia bilang, aku hanya harus memanggilnya seperti itu karena dia menyukainya. Jadi, kuturuti saja permintaannya," jelas Alisha mengenang masa lalunya.


Saat Rain ingin bertanya sesuatu, terdengar suara klakson mobil dari luar rumah Alisha. Ketiganya serentak menoleh ke arah jendela kamar yang langsung memperlihatkan halaman rumah Alisha. Di depan rumah Alisha, sudah terparkir mobil hitam milik keluarga Ara. Pak Hendra tiba lebih cepat dari waktu yang diperkirakan membuat Rain mendengus sebal. Ia batal mendengarkan kisah masa kecil Alisha. Alisha yang mengetahui alasan dari dengusan Rain hanya terkikik geli. Ia lalu berpaling pada Ara yang sudah berdiri menggendong tas ranselnya.


"Semoga berhasil, Ra!" Alisha memberi semangat pada Ara yang mulai berjalan keluar kamar. Ia mengikuti langkah Ara diikuti Rain yang juga membawa ranselnya berniat pulang. Ia sudah membereskan barang-barangnya lebih awal setelah ia mandi tadi.


"Eh? Kau juga ikut pulang, Rain?" Heran Alisha. Pasalnya, gadis itu berkata tak ingin pulang ke kost-an miliknya lebih cepat. Pertanyaannya hanya dibalas dehaman lesu dari Rain. Sedangkan, Ara menepuk-nepuk bahu Rain memberinya semangat setelah batal menginap.


Alisha dan Rain balas melambai sambil tersenyum. Setelah, Ara pergi dengan mobilnya, Rain berbalik menatap Alisha yang masih menatap arah mobil Ara pergi.


"Aku juga pamit, Al," pamit Rain sembari memanyunkan bibirnya. Ia masih kesal karena batal menginap di rumah Alisha. Padahal dirinya masih ingin mendengarkan cerita Alisha dan ingin bercerita tentang pengalamannya beberapa hari ini.


"Hahaha.. Jangan menunjukkan muka jelekmu padaku, Rain. Itu menjijikkan," ledek Alisha yang membuat Rain sekarang melebarkan matanya lucu dan mendengus kesal.


"Hah.. Terserahmu saja, Al. Aku pamit, ya?" Sahutnya Lesu. Ia memaksakan senyumnya pada Alisha membuat gadis berkacamata itu terkekeh.


"Hati-hati di jalan," pesan Alisha tersenyum manis. Rain hanya membalasnya dengan gumaman. Ia lalu melambaikan tangannya dan berlari ke arah yang sama dengan mobil Ara tadi.


Setelah tubuh Rain hilang di tikungan jalan, Alisha berniat memasuki rumahnya untuk bersiap pergi ke rumah sakit tempat neneknya dirawat. Ketika, ia ingin membuka pintu depan rumahnya, sebuah suara yang sangat familiar baginya terdengar.


"Alisha.."

__ADS_1


Alisha terkejut, ia mengeraskan rahangnya dan bersikeras untuk tak berbalik meski hatinya berontak.


"Alisha, sayang?" Suara itu terdengar lagi. Alisha mengeratkan pegangannya pada gagang pintu di depannya.


"Untuk apa kau kemari?" Tanyanya dingin.


Sosok laki-laki di belakangnya tersenyum miris. Ia memberanikan diri untuk menyentuh bahu Alisha berniat membalikkan badan gadis itu.


"Jauhkan tanganmu dari tubuhku!" Respon Alisha segera berbalik menghadap orang itu dan menepis kasar tangannya. Ia menatap menyalang pada lelaki yang telah berumur itu.


Lelaki di depannya tersenyum sedih. Ia tak terkejut dengan sikap Alisha yang membencinya.


"Sayang, Papah mohon-"


"Jangan memanggilku dengan panggilan itu! Dan apa yang tadi Anda katakan? 'Papah'? Saya pikir Anda salah orang. Sebaiknya Anda segera pergi dari sini sebelum Saya berteriak!" Ancam Alisha membuat sosok lelaki di depannya menunjukkan raut kecewa yang sangat kentara.


"Baiklah, Papah akan pergi. Jaga dirimu baik-baik, ya? Papah akan datang lagi, Papah janji," ucap lelaki tua itu seraya tersenyum sedih. Ia membalikkan badannya setelah puas menatap putri kecil kesayangannya itu. Ia menaiki mobilnya dan pergi dari rumah itu.


Sepeninggal orang yang mengaku ayah dari Alisha itu, badan Alisha merosot dan terduduk di teras rumahnya. Air mata yang sedari tadi ditahannya kini lolos tanpa mau ia cegah. Ia menangis merutuki sikapnya yang sangat tidak sopan beberapa saat lalu. Lelaki itu, lelaki yang menorehkan luka di hatinya di masa lalu. Lelaki itu, ayah Alisha.


                                        🌹🌹🌹


                                          TBC


                                                              @The_granat


                                                            @garnissr


                                                            @theodra_ara


                                                                @lee_sona09

__ADS_1


                                         


__ADS_2