Al2aint

Al2aint
Bagian 8


__ADS_3

Saat jam istirahat, Rain dan Ara tengah makan di kantin seperti biasanya. Namun, kali ini tanpa adanya kehadiran Alisha.


“Tidak biasanya Alisha terlambat ke kantin.” gumam Ara menghentikan aktivitas makannya dan mulai khawatir dengan Alisha.


“Mungkin saja dia sedang buang air besar atau ada ulangan dadakan.” ucap Rain santai.


“Aku tak yakin, rain. Perasaanku tidak enak." cemas Ara.


“Baiklah. Ayo!” ajak Rain yang sudah berdiri dan menggandeng tangan Ara.


“Kemana?” tanya Ara heran.


“Ke surga,” jawab Rain singkat.


“Heol! Aku belum ingin mati, dodol!” ucap Ara sambil melepaskan tangannya dari genggaman Rain.


“Ih! Dasar dodol Ciamis! Kita akan ke kelas Alisha. Kau bilang khawatir dengannya, bukan?” sungut Rain kembali menggandeng tangan Ara mulai berlari tanpa menghiraukan sahabatnya yang masih terheran.


“Rain, memangnya ada dodol Ciamis, ya?” tanyanya penasaran di sela berlarinya. Rain yang mendengarnya memutar bola matanya malas tanpa membalas pertanyaan Ara yang terlalu bodoh menurutnya.


Ara hanya terdiam tak bersuara lagi dan mengikuti Rain. Sesampainya di kelas Alisha, mereka mendapati tempat duduk Alisha kosong.


“Woi! Para penghuni kelas! Apakah ada yang melihat Alisha?” teriak Rain sementara Ara yang menepuk jidat malu.


“Aku tak tahu. Alisha memang belum kembali sejak olahraga berakhir. Mungkin saja dia ke UKS. Dia terjatuh dan terluka saat pelajaran olahraga tadi." jelas Alya selaku ketua kelas.


“Mungkin saja dia malu setelah apa yang Rayhan lakukan padanya." celetuk salah satu siswa yang kini tengah tertawa degan teman sebangkunya.


“Apa? Memangnya apa yang dilakukan Rayhan?” Tanya Ara penasaran.


“Kau tanyakan saja pada Alisha.” ucapnya acuh dan kembali tertawa.


“Memangnya ada apa? Sampai Alisha terjatuh dan terluka?” tanya Rain tanpa menghiraukan percakapan Ara dengan salah satu siswa itu.


“Tadi, aku tak sengaja melempar bola dan mengenainya." jawab Rayhan yang entah muncul darimana.


“Oh? Jadi kamu biang keroknya? Dimana Alisha sekarang?” tanya Rain datar.


“Bagaimana aku tahu?” jawab Rayhan acuh. Ia melenggang pergi keluar dari kelasnya.


Ara dan Rain yang melihatnya hanya mengelus dada bersamaan dengan tingkat kecuekan laki-laki itu. Keduanya berlalu meninggalkan kelas dan menuju ke UKS. Namun, di UKS pun tidak ada tanda-tanda keberadaan Alisha.


“Huft! Alisha mengajak kita untuk bermain petak umpet, tapi ia tak mau memberitahu keberadaannya. Benar-benar...” sungut Rain tidak jelas Ara hanya memutar bola matanya jengah.


Mereka sekarang berada di area belakang sekolah. Namun, tetap saja tak mendapati keberadaan Alisha. Mereka berniat pergi dari tempat itu karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Namun, mereka mendengar suara ketukan keras berkali-kali dari ruang gudang. Mereka terlonjak kaget karena di daerah itu hanya ada mereka berdua.


“Ih.. Kukira aku mendengar suara ketukan berkali-kali dari arah gudang. Kupikir gudang itu kosong. Ra, apa sebaiknya kita kembali saja? Aku takut, sungguh!” ucap Rain sambil menarik-narik tangan Ara bermaksud mengajaknya pergi dari tempat itu secepat mungkin.


“Tunggu sebentar,” ucap Ara mendekati gudang itu. Ia mengetuk pelan pintunya.


“Halo? Apa ada orang di dalam?” tanyanya.


“Tolong! Aku disini, kumohon tolong aku!” ucap seseorang dari dalam. Mereka seperti mengenal suara itu. Ara segera memutar kunci yang tertancap di lubang kunci yang ada di pintu itu dan membukanya. Dilihatnya Alisha tengah berdiri tak jauh dari pintu gudang.


“ALISHA!” teriak Ara dan Rain.


“Jangan berteriak, sialan! Telingaku tidak tuli! Astaga, suaraku hampir habis.” semprot Alisha kesal.

__ADS_1


“Al, kenapa kamu ada disini? Apa kamu diculik oleh hantu penghuni sekolah?” tanya Rain yang dihadiahi jitakan oleh Ara.


“Heol! Yang benar saja!” sergah Ara jengah.


“Siapa yang tahu?” Rain mengedikkan bahunya acuh.


“Al, kenapa kamu bisa ada disini?” tanya Ara lagi.


“Tadi aku habis diserang-” ucap Alisha terpotong.


“Hah? diserang hantu? Mana hantunya? Biarkan Ara yang melawannya” ucap Rain melihat sekeliling was-was.


“Heol! kenapa harus aku” ucap Ara kesal.


“Perkataanmu, Al. Diserang, seperti tak ada kata lain saja,” sambungnya yang ditujukan untuk Alisha.


“Lho? Kan hanya kamu yang berani berhadapan dengan hantu. Lagipula, hantu itu temanmu, bukan?” kelakar Rain.


“Jika hantu adalah temanku, maka kamu adalah hantu, bodoh. Kau temanku, asal kau tahu,” telak Ara.


“Hei! Yang benar saja!” semprot Rain tak terima.


“Kalian bisa berhenti bertengkar? Kepalaku pusing,” ucap Alisha lemah.


“Ya sudah. Ayo kita ke UKS” ucap Ara.


Mereka berniat menuntun alisha menuju UKS, akan tetapi Alisha menolaknya dengan alasan dirinya kotor dan banyak kuman yang menempel di badannya. Ara dan Rain yang paham dengan yang dibicarakan Alisha mengerutkan dahinya bingung.


Sesampainya di UKS, Alisha segera membasuh lengannya di wastafel hingga bersih. Setelahnya, ia duduk di atas brangkar yang tersedia dan langsung bercerita apa yang terjadi. Ara yang mendengarnya marah dan mengepalkan tangannya.


“Sialan!” rutuknya dan berlalu meninggalkan Rain bersama Alisha yang sudah tidak heran dengan sikapnya.


“Sebentar ya, Al. kau istirahat saja dahulu, aku akan menyusul Ara." ucapnya pada Alisha.


“Kejar dia, Rain. Aku takut dia melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Aku akan menyusul kalian setelah mengobati lenganku,” pinta Alisha khawatir.


Ia ingin ikut menyusul Ara. Namun, dirinya masih risih dengan luka yang belum dibalutnya. Itu sangat mengganggu aktifitasnya.


Rain yang telah berada di sebelah Ara mulai mengimbangi jalannya. Rain tahu jika Ara sedang emosi. Dari dulu, banyak yang takut dengan Ara jika dia sedang marah, terkecuali Rain. Hanya Rain yang dapat mengendalikan emosi Ara karena ia sudah mengenal Ara lebih lama daripada orang lain.


“Ih! Ara pelankan jalanmu! Aku lelah mengikutimu. Aku tidak mau tahu, setelah ini kau harus membelikanku minum." sungut Rain bermaksud mencairkan suasana di anatara mereka. Akan tetapi, Ara tidak merespon sama seperti yang dipikirkannya.


Saat ini, mereka sudah berada di koridor kelas 12. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di depan kelas tempat Sheila berada. Masih ada waktu 5 menit sebelum bel masuk berbunyi.


“Siapa yang bernama Sheila?! Keluar!” Teriak Ara.


Seisi kelas terlonjak kaget mendengar suara Ara, sementara Rain hanya menepuk jidat malu. Rasanya Rain ingin membuat lubang untuk mengubur dirinya sendiri.


“Ra, kau tak perlu berteriak. Bagaimana jika ada yang memiliki riwayat penyakit jantung?” bisik Rain meringis.


“Shit!” umpat Ara dan pergi meninggalkan Rain saat tak dilihatnya batang hidung Sheila.


“Eh, Ra? Aduh, kumohon maafkan sikap temanku yang mengganggu, permisi,” sesal Rain dan segera pergi mengejar Ara.


“Sialan si Ara bikin malu aja” cicitnya. Ia menolehkan kepalanya ke segala arah ketika disadarinya ia kehilangan jejak Ara.


“Ah, sialan. Dia pergi kemana?” kesalnya.

__ADS_1


Rain merasa heran pada semua siswa yang berbondong-bondong menuju kantin. Ia pun mengikutinya berharap dapat menemukan Ara. Ia merasa ada yang tidak beres yang berhubungan dengan Ara. Dan benar saja, saat dirinya baru saja menginjakkan kakinya di kantin, ia melihat Ara yang sudah bersama Sheila dan gengnya. Ia pun menghampiri mereka.


“Aduh, maaf atas keterlambatanku, ya?” ucap Rain yang sudah berdiri di samping Ara.


“Kenapa!?! Kau mengganggu acara makanku, sialan?!”sungut Sheila kesal.


Ara membuang air jus yang ada di meja itu ke baju Sheila. Semua orang menganga melihat kejadian itu begitupun dengan Sheila yang baru menyadari apa yang terjadi dengan baju dan minumannya. Ia melotot marah menatap Ara yang kini tersenyum sinis.


“Sialan! Apa maksudmu, hah?!” teriaknya hendak menampar Ara. Namun, dengan cepat Ara menangkap tangan Sheila dan hendak memukul wajah Sheila, akan tetapi tangannya dicekal oleh Rain.


“Tenang, Ra,” ucap Rain dengan suara yang rendah namun tegas. Setelah merasa Ara bisa mengendalikan emosinya, ia melepaskan tangannya dan beralih menatap Sheila yang masih melotot marah. Ia tersenyum tipis.


“Hai, Kak Sheila! Apa kabar? Kita bertemu lagi, sepertinya kau sangat suka bertemu dengan kami. Oh? Jangan katakan kalau kau adalah penggemarku? Wah.. aku sangat terharu mengetahuinya!” ucap Rain santai walaupun sebenarnya dia merasakan hawa gelap disini. Di sini benar-benar sunyi hingga suaranya sedikit menggema.


“Diam, Kau! Apa maksudmu menumpahkan jus di bajuku yang mahal, hah?! Kau harus menggantinya!” teriak Sheila pada Ara yang hanya menatapnya tajam.


“Untuk apa kau marah? Seharusnya Alisha yang marah karena kau menguncinya di gudang yang kotor itu,” ucap Ara dingin.


“Oh, hanya itu? Aku hanya sedang bermain-main saja,” celetuk Sheila dengan senyumnya


.


“Apa maksudmu dengan bermain-main? Kau pikir Alisha adalah mainan?” sergah Ara dingin dan mulai menarik kerah baju milik Sheila hingga gadis itu harus berjinjit karena tingginya yang tak sebanding dengan tinggi badan Ara.


“Lepaskan tangan kotormu dari bajuku atau aku akan melaporkanmu pada Ayahku!” bentak Sheila di depan wajah Ara.


“Bukankah aku yang seharusnya bicara seperti itu? Lihatlah! Baju mahalmu kotor, ini benar-benar membuatmu terlihat menjijik kan,” ucap Ara dengan senyum yang mengerikan.


Rain menarik tangan Ara dari kerah baju Sheila. Ara hanya diam dan mengikuti permainan Rain selanjutnya.


“Hei! Kalian semua yang ada disini! Apa kalian benar-benar takut dengan orang seperti ini?” teriak Rain pada semua orang yang ada di dalam kantin.


Bahkan Rayhan pun ada disana dan menyaksikan semuanya dengan muka datarnya. Ia sangat menyukai tontonan ini, dimana dua geng itu saling beradu mulut.


Hei, ayolah ! Semua siswa bahkan senang dan berlomba-lomba untuk menyaksikan kesempatan langka antara kedua geng itu.


“Memang benar jika wajahnya mirip seperti kuntilanak. Menyeramkan. Tapi ketahuilah, jika dia bahkan lebih lemah daripada kita. Menjadikan posisi Ayahnya sebagai tameng untuk menjadi ratu? Sungguh cocok jika dia disebut sebagai pengecut sekaligus bocah ingusan yang pengadu. Menjijikkan sekali,” lanjut Rain yang disambut dengan gelak tawa semua orang yang ada disana. Hal itu membuat wajah Sheila memerah menahan marah sekaligus malu. Ia berteriak menyuruh mereka diam. Dan seketika, suasana hening kembali.


Tiba-tiba bel masuk berbunyi, tapi semua orang yang ada disana enggan untuk meninggalkan arena pertempuran antara tiga perempuan itu.


Berterimakasihlah pada para guru yang tengah megadakan rapat hari ini hingga mereka dapat menyaksikan pertempuran itu lebih lanjut.


Sheila mendorong kursi yang dinaiki oleh Rain hingga membuat Rain terjatuh. Ara yang melihatnya dengan sigap mendorong Sheila hingga terjatuh.


Teman-teman Sheila tak tinggal diam dan menyerang Ara. Rain yang tidak terima akhirnya ikut menyerang. Terjadilah aksi serang antara mereka sementara yang menonton hanya bersorak seperti tengah mengadu ayam. Tak ada yang berani melerai aksi mereka hingga Pak Surya selaku guru BK datang.


“Ada apa ini?!” tanya Pak Surya dengan suara bariton miliknya. Semua orang yang berada disana terdiam dan menunduk tanpa suara apapun.


                                        🌹🌹🌹


                                          TBC


                                                              @The_granat


                                                            @garnissr


                                                            @theodra_ara

__ADS_1


                                                                @lee_sona09


                                         


__ADS_2