Al2aint

Al2aint
Bagian 20


__ADS_3

“Rain, bangunlah! Ini sudah jam 6 pagi!” teriak Alisha membangunkan Rain. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Rain kasar, namun gadis itu tak kunjung terbangun juga.


Ara dan Alisha yang telah berpakaian rapi pun mendesah kesal. Pasalnya, mereka berdua telah bergantian membangunkan Rain sejak satu jam yang lalu. Akan tetapi, gadis itu hanya menggumam mengiyakan dan akhirnya tertidur lagi. Sungguh menyebalkan.


Tadi malam, ketiganya sepakat untuk pergi ke kebun teh yang tak jauh dari perumahan tempat Alisha tinggal. Ini karena permintaan Rain yang ingin pergi menghirup udara pegunungan yang sejuk sambil berjalan santai di pagi hari. Alhasil, ketiganya pun sepakat untuk pergi jam 7 pagi, hari ini. Namun, Rain yang merupakan penyebab keduanya bangun pagi-pagi sekali pun bahkan masih tertidur pulas.


“Rain, ayolah! Aku lelah mencoba membangunkanmu!” ujar Alisha lagi. Ia mengguncangkan tubuh Rain lebih keras hingga membuat gadis itu berpindah posisi lebih jauh dari jangkauannya. Namun, gadis itu hanya menggumam singkat dan beralih memeluk guling yang ada di sebelahnya kemudian melanjutkan tidur kebonya.


“Astaga, dia sendiri yang meminta kita untuk pergi pagi-pagi! Tapi, justru dia yang bangun terlambat. Menyebalkan sekali!” sungut Ara.


“Lalu, kita harus bagaimana?" Tanya Alisha. Ia berkacak pinggang di sebelah Ara. Keduanya menatap Rain kesal. Tiba-tiba, Ara memiliki ide yang cukup bagus agar dapat membangunkan Rain.


“Aku tahu! Tunggu sebentar!" Ujar Ara semangat dan berlalu ke kamar mandi, sementara Alisha hanya diam menatap kepergiannya bingung. Namun setelahnya, Alisha terkejut terkejut melihat Ara yang telah kembali membawa sebuah benda dengan senyuman nakal.


“Ra, kau serius?” tanya Alisha. Ia mengerutkan keningnya menatap Ara. Ara hanya mengangguk mantap dan memulai aksinya.


“MOMMY!!! DINGIN!!!” teriak Rain yang sudah terbangun setelah diguyur air dari kamar mandi yang sangat dingin. Alisha hanya meringis melihat Rain. Ia tahu betapa dinginnya air itu.


“Ara! Apa kau gila, hah?! Ini sangat dingin, kau tahu? Astaga, Ara! Kau sangat kejam! Bahkan lebih kejam daripada ibu tiriku!” sungut Rain saat melihat Ara membawa gayung. Sekarang ia tahu siapa pelaku penyiraman air dingin pada dirinya. Sambil menggigil, ia menatap tajam Ara yang hanya cengengesan seperti tanpa dosa. Alisha yang melihat Rain basah kuyup bergegas pergi mengambil handuk untuknya dan melilit tubuh basah itu secepatnya.


“Mau bagaimana lagi? Kau sangat susah untuk dibangunkan. Padahal kau sendiri yang merengek meminta untuk pergi ke kebun teh pagi ini,” ujar Ara santai. Ia menenteng gayungnya sambil berkacak pinggang di samping tempat tidur.


“Kebun teh?" Kata Rain bingung. Namun, sedetik kemudian ia langsung tersenyum cerah.


"Ah.. Ini sudah pagi, ya? Baiklah, aku mandi dulu, kalian berdua cepat bersiaplah! Aku tak mau kita terlambat karena kalian!” lanjut Rain riang sambil berlalu ke kamar mandi. Alisha dan Ara hanya menganga melihat tingkah ajaib Rain yang cepat berubah.


"Apa-apaan dia itu?" Rutuk Ara kesal dan Alisha hanya memasang muka super datar.


                                          🌹🌹🌹

__ADS_1


Jam 07.12, ketiganya telah sampai di kebun teh. Mereka menaiki mobil box bersama para pemetik daun teh untuk bisa sampai disini. Saat ini, ketiganya tengah berjalan-jalan di antara petak tanaman teh sembari menghirup udara segar banyak-banyak.


“Wah.. Sejuk sekali,” ujar Rain sambil merentangkan tangannya dan mendongakkan kepalanya. Alisha dan Ara yang berada di belakang Rain tersenyum dan ikut menikmati hembusan angin dingin yang menerpa kulit mereka. Namun, tidak se-alay Rain yang sampai merentangkan kedua tangannya.


Ara tengah mengangkat ponselnya dan mengambil beberapa foto, sedangkan Alisha berjalan dengan dua tangan yang ia letakkan di belakang tubuhnya. Sesekali, ia menutup matanya saat angin menerpa wajahnya membuat helaian poni rambutnya terbang kesana kemari.


“Tentu saja! Tempat kelahiran siapa dulu?” celetuk Alisha dengan bangga.


“Yayaya.. Tapi jakarta juga tidak kalah bagus. Benar bukan, Ra?” sergah Rain lalu meminta persetujuan Ara. Namun, yang dipanggil justru tengah terdiam memandang sesuatu di kejauhan.


“Anna?” bisik Ara.


“Hah? Ap-” pertanyaan Rain terpotong karena tiba-tiba Ara berlari meninggalkan Alisha dan Rain. Membuat keduanya berteriak memanggil namanya dan segera mengejarnya.


“Ra, kau mau kemana?” teriak Rain. Alisha tetap berlari di samping Rain agar gadis itu tak tertinggal.


“Anna!” teriak Ara. Gadis dengan gaun pendek berwarna putih yang tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi seketika menoleh saat namanya dipanggil. Namun, ia segera melebarkan matanya dan dengan cepat berlari menjauh. Ara mengejarnya, namun sekeja saja ia telah kehilangan sosok itu. Ia celingukan mencari keberadaan gadis yang ia kenal itu.


“Tadi, aku mengejar temanku. Ia gadis yang berpakaian putih tadi,” ucap Ara pelan.


'Bagaimana bisa aku kehilangan jejak perempuan itu?' Pikirnya mulai kalut.


Mendengar perkataan Ara, seketika tubuh Rain menegang dan menelan ludahnya. Ia menatap Ara ragu.


“Ara, apa kau serius? Tidak ada gadis berpakaian putih disini,” ujar Rain dan seketika wajahnya berubah menjadi pucat pasi.


“Memang tidak ada. Dia sudah pergi. Tapi, serius aku tadi melihatnya!” sahut Ara meyakinkan keduanya. Namun, air muka keduanya justru menunjukkan keraguan dengan perkataannya.


“Astaga, Ara! Yang kau kejar tadi, itu hantu! Apakah kau sudah gila? Bagaimana jika hantu itu menangkap dan memakan kita, hah? Apa kau sudah gila? Dan juga, mengapa kau menyebut Anna, hah? Siapa Anna? Dia kekasihmu? Tunggu! Jangan bilang kau sudah belok, maka dari itu kau menyukai wanita, apa kau juga menyukaiku?” cerocos Rain sementara Ara hanya diam melamun.

__ADS_1


“Astaga, Ara! Kau mendengarkanku tidak?” sungut Rain sambil menepuk pundak Ara. Yang ditepuk sontak terkejut dan memasang muka polos.


“Hah? Ada apa?” tanya Ara polos membuat Rain mendesah kesal, sedangkan Alisha hanya terdiam memikirkan perkataan Ara. Ia memang melihat sosok gadis bergaun putih tadi. Tapi, ia memilih diam dan menunggu Ara sendiri yang menjelaskannya.


“Hih! Aku tadi bertanya, siapa Anna?” semprot Rain kesal. Ara terdiam sesaat, menimbang apakah harus mengatakan hal ini atau tidak pada kedua sahabatnya.


“Dia bukan siapa-siapa. Mungkin aku memang melihat hantu, sungguh mengerikan. Untung saja kita tidak diculik. Ayo cepat pulang, aku sudah lapar,” ucap Ara berlalu meninggalkan Rain dan Alisha. Alisha tertegun mendengarnya. Ia merasa jika ada hal yang tengah disembunyikan oleh Ara.


“Hilih! Apa-apaan, dia meninggalkan kita lagi, sungguh menyebalkan!” sungut Rain dan Alisha berusaha terlihat baik-baik saja. Ia pun terkekeh.


“Rain, kau mau tahu? Sebenarnya, masyarakat sekitar bilang, tempat kita berdiri sekarang adalah markasnya para hantu, kau tahu?” ujar Alisha membuat bulu kuduk Rain meremang.


“Sungguh?” tanya Rain. Wajahnya kini sudah pucat. Alisha hanya mengangguk. Ia menahan untuk tidak tertawa melihat ekspresi takut pada wajah Rain.


“Ara! Tunggu aku!” teriak Rain sambil berlari menyusul Ara. Alisha tertawa karena berhasil menggoda Rain. Ia pun berlalu menyusul kedua sahabatnya.


Namun, di balik pohon besar yang tak jauh dari tempat tadi, seorang gadis menghembuskan nafasnya lega. Ia lalu berlalu pergi meninggalkan tempat itu dengan hati-hati agar tak ketahuan lagi.


                                        🌹🌹🌹


                                           TBC


                                                              @The_granat


                                                              @garnissr


                                                              @theodra_ara


                                                              @leesona_09

__ADS_1


                                         


__ADS_2