
Di kantin, Rain kembali menjahili Ara. Ia membujuknya untuk mentraktirnya hari ini.
“Ara, kumohon traktir makananku. Kau sangat cantik seperti ibumu asal kau tahu. Ya, ya? Kau mau mentraktirku, kan?” Mohon Rain pada Ara yang tengah memakan bakso nya.
“Tentu saja, bodoh. Ibuku yang melahirkanku. Tentu saja aku cantik seperti ibuku!" Sungut Ara.
“Ya ampun! Kau terlalu mudah marah. Awas hati-hati, nanti cepat tua, baru tahu rasa..” ucap Rain enteng.
“Apa maksudmu? Tidak lucu sama sekali.” Ara kembali berkata dengan wajah yang kesal.
“Hilih! Lagipula siapa yang sedang melawak?" Rain menjulurkan lidah nya ke arah Ara. Meledeknya.
“Lanjutkan saja pertengkaran Kalian hingga kucing bertelur. Sudahlah. Aku akan kembali ke kelas. Ada tugas yang belum aku selesaikan” Sarkas Alisha bersiap untuk berdiri. Namun, tangannya ditahan oleh Ara dengan cengiran khasnya.
“Alisha, jangan seperti itu. Ini bukan salah Rain, ini salah Ara,” jelas Rain sembari menunjukan ekspresi seperti anak kecil yang merengek.
“Heol! Mengapa kau menuduhku? Bukankah ka-"
Ucapan Ara terhenti setelah mendengar deheman dari Alisha. Keduanya melirik Alisha sembari tersenyum lebar menampilkan deretan gigi mereka.
Alisha yang melihatnya hanya terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Tingkah mereka selalu saja membuat Alisha tertawa. Saat Alisha sedang mengedarkan pandangannya ke arah lain, dirinya tidak sengaja melihat Rayhan bersama teman-temannya di pojok kantin.
Tak disangka Rayhan juga menatapnya hingga terjadilah aksi saling menatap. Akan tetapi, Alisha segera memalingkn mukanya ke arah lain. Ia bertanya-tanya mengapa Rayhan menatapnya dengan tatapan yang intens.
“Alisha, kamu ingin memesan apa?” Tanya Ara sembari menoleh ke arah Alisha yang tengah menunduk memainkan ponselnya. Merasa tak ada respon dari lawan bicaranya, Ara menggoyangkan bahu Alisha pelan. Alisha tersentak dan segera menatap Ara dengan tatapan bingung.
"Kau ingin memesan apa?" Tanya Ara ulang.
"Ahh.. tidak. Maksudku, susu coklat saja." Gugup Alisha. Ia kembali memandang ke arah Rayhan. Namun, ia segera mengalihkan pandangannya ketika dilihatnya Rayhan masih memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ada apa dengamu? Kenapa ekspresimu seperti itu?" Selidik Ara.
"Itu.. Si Sialan.." Cicit Alisha menunjuk Rayhan diam-diam. Alisha memang selalu memanggil Rayhan denga sebutan 'Si Sialan'. Ara yang paham segera mengikuti arah tunjuk Alisha. Ia melihat Rayhan yang memang tengah menatap ke arah mereka. Namun, ketika tatapan Rayhan bersirobok dengan tatapannya, laki-laki itu memalingkan mukanya ke arah lain.
"Dia sepertinya memperhatikanku sedari tadi. Apa ada yang aneh dengan wajahku?" Tanya Alisha dengan wajah bingung sembari menunjuk wajahnya sendiri. Namun, bukannya menjawab pertanyaan Alisha, gadis itu malah memanggil Rain yang tengah memainkan tisu yang ada di atas meja kantin.
“Sst....Rain” Panggil Ara. Namun, yang dipanggil justru sedang sibuk dengan tisunya dan membentuk sesuatu yang tidak jelas dan membuat Ara kesal. Ara punya ide yang cemerlang. Sedangkan Alisha memilih memperhatikan kedua sahabatnya dengan muka datar.
“Aww.... Apa yang kau lakukan, Ara?! Sakit tau” Rain kesakitan ketika sebuah sendok melayang di jidat mulusnya. Sedangkan Alisha dan Ara hanya tertawa renyah.
“Kau tahu? Alisha tengah diperhatikan oleh pujaan hatinya” jawab Ara tanpa memperdulikan jidat Rain yang memerah. Alisha yang mendengarnya menjitak kepala Ara gemas.
"Apa katamu?!" Sungutnya. Rain yang bingung memilih mengedarkan pandangannya dan tatapannya jatuh ke arah Rayhan yang tengah bercengkeraman dengan temannya.
"Memangnya kenapa?" Tanyanya bingung. Ara yang mendengarnya memutar bola matanya jengah.
"Rayhan tadi memperhatikan Alisha. Kau tahu maksudku?" Jelasnya.
"Memangnya maksudmu apa?" Celetuk Alisha bingung. Ketika Ara ingin menjawab pertanyaan Alisha. Rain menyela.
“Oh my god! Ternyata ada yang tengah berbunga-bunga karena cintanya berbalas. Jangan lupa traktir kami kalau sudah official, ya?" Ledeknya yang ditujukan pada Alisha.
Alisha yang mendengarnya mendelik lucu. Ia membuka mulutnya bermaksud menjawab tapi tak tahu ingin menjawab apa. Alhasil ia menutup mulutnya dan memalingkan mukanya ke arah lain. Wajahnya mungkin sudah memerah.
“Hilih! Katamu, kau tak peduli dengannya. Tapi mengapa pipimu memerah, Alisha? Bukan begitu, Rain?” ledek Ara meminta persetujuan Rain.
“Yupp” timpal Rain. Mereka berdua tertawa cukup keras membuat beberapa pasang mata melihat ke arah mereka. Alisha yang menyadari tatapan orang-orang yang mengarah ke mereka tersenyum meminta maaf pada mereka. Ia menoleh pada kedua sahabatnya yang masih tertawa.
"Hentikan, Sialan! Kalian membuatku malu. Lihat! Orang-orang menatap kita aneh." Sungutnya membuat kedua sahabatnya seketika terdiam dan tersenyum malu.
"Tidak ada yang lucu disini. Sialan kalian berdua," lanjutnya kesal.
“Mengaku saja, Al. Aku tahu kau mengharapkannya menyukaimu," ledek Rain yang disaut dengan deheman Alisha. Ara dan Rain kembali tertawa puas melihat ekspresi Alisha malu dan salah tingkah bercampur kesal.
Hal itu tak luput dari perhatian Rayhan. Ia tersenyum miring dan melanjutkan pembicaraannya dengan temannya.
🌹🌹🌹
Kelas yang ditempati Ara dan Rain sedang tidak ada kegiatan pelajaran. Para siswa sibuk dengan aktivitas mereka, tak terkecuali Ara dan Rain yang tengah duduk di kursinya dan sibuk dengan aktifitas masing-masing.
Tiba-tiba Ara memikirkan sesuatu. “Rain, kupikir Alisha sangat sedih. Bagaimana jika kita menolongnya?” Tanya Ara sambil menghadap lurus ke depan. Ara merasa bingung karna tidak ada jawaban dari sebelahnya. Akhirnya dia memutuskan untuk menoleh. Saat dia menoleh, ia mendapati Rain yang sedang membaca buku novel tepatnya.
Membaca novel memang sudah menjadi kebiasaan Rain. Saat tidak ada pelajaran seperti ini, ia biasanya memanfaatkan waktu untuk membaca novelnya. Buruknya, ketika Rain sudah membaca novel maka dia tidak akan peduli dengan sekitarnya. Rain sangat suka membaca novel.
__ADS_1
Oleh karena itu, dia akan marah jika ada yang mengganggunya. Kebiasaan marahnya Rain itu sangat menakutkan bagi semua orang terkecuali Ara dan Alisha.
“Woy, Rain!” panggil Ara sambil melempar pensil ke arah Rain. Namun, itu tidak mempan terhadap Rain. Akhirnya Ara mengeluarkan senjata rahasia yang akan membuat Rain mengalihkan perhatiannya.
“APAAN SIH, ARA?!!” kesal Rain sambil menatap tajam ke arah pelakunya. Ia meletakkan buku novelnya dengan gusar. Sementara itu, pelaku yang membuat Rain marah justru tengah cengengesan tanpa merasa bersalah. Ara berhasil menggelitiki Rain. Itu adalah salah satu kelemahan Rain.
“Ya ampun! Hanya seperti itu saja kau sudah marah. Lagipula kau tak merespon ucapanku," jawab Ara sambil nyengir.
“Kamu ingin bicara apa?” tanya Rain kesal.
“Hmm... Dasar. Kupikir kita harus membantu Alisha. Aku tak tega melihatnya bersedih seperti itu.” ucap Ara menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan lesu.
“Membantu bagaimana?” tanya Rain bingung.
“Kau ingat saat Alisha bilang ia berjanji pada adiknya untuk menemukan ibu mereka?” tanya Ara.
“Menemukan? Memangnya Ibu Alisha kemana? Diculik oleh Thor?” tanya Rain dengan kekehannya.
“Heol, seriuslah, Rain. Sekali saja," kesal Ara yang disahut dengan kekehan Rain.
“Baiklah.. Baiklah” jawab Rain masih terkekeh.
“Bagaimana jika kita membantu mencari Ibunya? tanya Ara.
“Waw! Itu keren. Kita seperti Detektif Conan, saja.” jawab Rain yang dibalas dengan putaran bola mata jengah dari Ara karena Rain memang orang yang susah untuk diajak serius.
“Bagaimana?” tanya Ara jengah.
“Baiklah” jawab Rain yang kembali membaca novelnya. Ara yang melihat Rain hanya memutar bola matanya lagi.
'Al, kita pasti bisa menemukan Ibumu, aku yakin', Gumam Ara dalam hati.
🌹🌹🌹
Esoknya, Alisha disibukkan dengan berbagai macam ulangan harian hingga jam pelajaran sebelum istirahat kedua. Ia tidak sempat bertemu kedua sahabatnya karena sibuk mempersiapkan ulangannya. Saat jam istirahat berbunyi, ia segera berlari ke kantin guna menemui sahabatnya untuk makan bersama.
“Ra, maaf, aku terlambat. Ulangan tadi benar-benar membuat kepalaku pusing.” Cerocos Alisha dan duduk di sebelah kanan Ara.
“Tak apa, Al” jawab Ara yang sibuk dengan ponselnya.
“Rain dimana?” tanya Alisha yang mengedarkan pandangannya.
“Sedang memesan nasi goreng” jawab Ara tanpa memalingkan wajahnya dari ponselnya. Alisha pun mencoba mencari sosok Rain dikerumunan murid yang tengah mengantri makan siang juga.
Saat Alisha sedang mencari keberadaan Rain matanya menemukan seseorang yang baru saja datang ke kantin.
Gumam Alisha dalam hati. Lagi-lagi mereka saling menatap.
“Lebih baik kau menghampirinya daripada saling menatap tanpa bicara. Hati-hati bola matamu bisa lepas dari matamu," celetuk Ara yang melihat kejadian itu.
“A..Apa maksudmu, Ra?” Alisha terkejut karena dia ketahuan tengah menatap Rayhan.
“Eum.. Ra, menurutmu apakah ada peluang untuk aku bisa mendekatinya?” tanya Alisha malu-malu.
“Pasti ada, Al. Setiap orang pasti punya kesempatan, Al” jawab Ara sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku roknya.
“Menurutku, jika kau memang menyukainya, lebih baik segera nyatakan perasaanmu sebelum terlambat,” sambungnya.
“Tapi.. Ak-" Ucapan Alisha terpotong karena kedatangan Rain.
“Eh? Alisha, bagaimana ulanganmu?” tanya Rain.
“Huft.. Not bad," jawab Alisha singkat.
“Rain, kau bawa pesananku?" tanya Ara.
“Niki, Nyai*” jawab Rain sambil memberikan nasi goreng milik Ara. Ia lalu duduk di sebelah Alisha.
“Nyai? Kau pikir aku penjaga pantai?!” sungut Ara.
“Penjaga pantai? Bukankah itu kernet ?” tanya Rain.
“Itu penjaga bus, Dodol. Teman siapa ini? Tolong bawa pergi.” jawab Ara.
“Tidak ada yang menjual dodol disini” saut Rain dan Ara hanya memutar bola matanya malas.
“Ah, iya. Alisha, ini kubelikan nasi goreng kesukaanmu. Ya ampun, Rain! Kau sungguh pengertian” puji Rain pada dirinya sendiri sembari meletakkan bungkus nasi goreng di hadapan Alisha.
“Dasar gila," gumam Ara.
“Kau iri?” ledek Rain.
"Nope" sahut Ara enteng. Ia kemudian menjulurkan lidah nya ke arah Rain yang kini menatap Ara dengan pandangan yang membunuh.
__ADS_1
Sedangkan Ara membalas dengan menunjukkan wajah konyol nya. Menyatukan kedua retina nya ke tengah dan menggerak kan kepala nya dengan perlahan sembari memanggil nama Rain dengan nada seperti layak nya anak kecil.
"Rain.... Rain.... Rain...." ujar Ara meledek dan kemudian ia tertawa keras saat Rain memukul lengan nya dengan keras.
"Hahahahahaha" Ara tertawa terbahak bahak melihat reaksi Rain saat ia melakukan wajah konyol seperti tadi.
“Terima kasih, Ara, Rain," ucap Alisha sambil terkekeh melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
Mereka menikmati nasi goreng masing\-masing. Nasi goreng Bu Irah memang satu\-satunya makanan favorit mereka.
“Aku sungguh heran denganmu, Rain. Kau makan seperti tukang becak saja," ucap Ara.
“Aku setuju. Bagaimana jika pacarmu melihat ini? Mereka pasti merasa risih,” ledek Alisha.
“Tenang aja, aku memiliki banyak pacar. Jadi, jika salah satu dari mereka meminta untuk mengakhiri hubungannya denganku, aku takkan peduli," ucap Rain yang masih fokus dengan nasi gorengnya.
“Memangnya kau memiliki berapa pacar?” tanya Alisha.
“Berapa, ya? Aku lupa. Yang jelas, aku mengikuti langkah salah satu lagu milik band T2 yang liriknya seperti ini, 'Dan.. aku sudah pernah bilang, pacarku bukan cuma kamu saja, dan nanti, bila kau tinggalkan aku, kumasih punya lelaki cadangan ” jawab Rain sembari menyanyikan lirik lagu salah satu band di Indonesia jaman dulu.
“Apakah harus sebanyak itu? Apa kau mencintai mereka semua?” tanya Ara
“Tentu saja tidak. Kalian tahu? Meski aku memiliki banyak pacar, akan tetapi hatiku hanya untuknya saja," jelas Rain yang disahuti dengan kekehan Alisha dan Ara.
Sama halnya denga Alisha, Rain juga suka dengan seorang pria yang tidak pernah menyukainya. Namun, yang membedakan mereka adalah Alisha hanya setia pada satu orang. Sedangkan Rain, hatinya bercabang walau sebenarnya dia tidak pernah serius berpacaran dengan para lelaki yang dipacarinya.
“Ah.. Rain? Kenapa namamu 'Rain'?” tanya Alisha.
"Hum.. Aku tak tahu. Mungkin ibuku melahirkabku di tengah hujn mungkin?" jawab Rain asal yang disahuti tawa dari Ara dan Alisha.
“Memangnya apa arti dari namamu?” tanya Ara.
“Aku tak tahu dan tidak oeduli juga dengan itu.” jawab Rain.
“Oh, iya. Al, saat itu kamu pernah mengatakan jika ingin mencari keberadaan ibumu. Apa kau sudah mendapatkan petunjuk?” tanya Ara mengalihkan pembicaraan.
Alisha hanya diam. Pertanyaan Ara membuat dirinya mengingat masa lalu dan janjinya kepada adiknya. Ara yang tau apa yang sedang Alisha pikirkan pun memegang bahu Alisha.
“Al, kamu tak sendirian disini. Ada aku dan Rain yang akan membantumu mencari ibumu.” ucap Ara.
“Tak perlu. Aku akan mencarinya sendiri. Aku tak ingin merepotkan orang lain.” sahut Alisha sembari menggoyangkan tangannya.
“Al, kami berdua adalah sahabatmu, bukan orang lain. Membantu sahabat saat kesusahan itu adalah tugas seorang sahabat, Al.” jelas Ara.
“Ra, sahabat Alisha adalah kita berdua. Bukan hanya seorang sahabat." bantah Rain menekankan suarany pada kata 'seorang sahabat'.
“Bawel.” sungut Ara.
“Kau mau, kan, Al?” tanya Ara.
“Aku sangat berterimakasih pada kalian. Tetapi, bagaimana cara kita menemukannya?” tanya Alisha.
“Kau tak ada info lain perihal ibumu, Al?” tanya Ara.
“Nenek pernah bilang jika Mamah bekerja di perusahaan Crystal Coorperation” jawab Alisha mengingat-ingat.
“Kau sudah mengeceknya ke sana, Al?” tanya Ara.
“Sudah. Tapi aku tak mendapat informasi apapun,” jawab Alisha lesu.
“Pasti identitas pegawainya dirahasiakan. Kita takkan mudah untuk mendapatkan data para pegawainya," jelas Ara.
“Kalau itu sangat mudah," sahut Rain yang sedari tadi diam.
“Bagaimana caranya?” tanya keduanya. Menatap ke arah Rain yang kini hanya tersenyum misterius. Menunjukkan smirk andalan nya.
*ini nyonya
🌹🌹🌹
TBC
@The_granat
@garnissr
@theodra_ara
__ADS_1
@lee_sona09