Al2aint

Al2aint
Bagian 16


__ADS_3

“Al, benarkah ada kebun teh di Bandung?” tanya Rain pada Alisha. Ia kini tengah berjalan di samping Alisha seraya merangkul lengannya.


Selama perjalanan ke kafe tempat mama Alisha bekerja, Rain selalu bertanya tentang Kota Bandung pada Alisha. Sementara Ara merasa bosan dengan temannya ini, Rain selalu memberikan pertanyaan yang berbeda namun dengan inti yang sama.


“Rain, bisakah kau berhenti bicara? Telingaku serasa ingin pergi dariku!” Sungut Ara kesal. Ia menutup kupingnya dan mendongakkan kepalanya ke atas seraya menghembuskan napasnya kasar.


“Kalau begitu kau tak perlu mendengarnya.” Sahut Rain acuh.


“Tapi, kau selalu bertanya dan hal i--" Ucapan Ara terpotong oleh selaan Rain.


“Hih! Itu wajar, Ara. Aku bertanya pada Alisha karena aku tak tahu apa-apa tentang Bandung. Lagipula, kau tahu satu pepatah yang mengatakan 'jika malu bertanya, maka akan sesat di jalan'. Kupikir kau ingat dengan pepatah itu?" Kesal Rain. Ia menghempaskan tangan Alisha membuat gadis itu mengaduh kesal.


“Ya, aku tahu. Tapi, kau selalu mengajukan pertanyaan yang sama sejak kita meninggalkan rumah Alisha setengah jam yang lalu," rengut Ara.


“Tidak! Aku mengajukan pertanyaan yang berbeda,” bela Rain.


“Memang. Tapi, intinya sama." Ucap Ara santai.


“Berbeda. Kau saja yang tak paham.” Sahut Rain tak mau kalah. Saat Ara akan membalas ucapan Rain, Alisha mengambil posisi Rain yang ada di tengah dan mendorong kedua sahabatnya ke kanan-kirinya membuat kedua sahabatnya itu terkejut.


“Sudahlah, kalian hanya membuat kepalaku pening saja.” Ucap Alisha.


“Alisha apa kau baik-baik saja? Apa kau tengah sakit? Kau ingin ke rumah sakit? Mengapa kau tak bilang kepadaku ? Kau ingin istirahat dulu? Kau sakit apa?” tanya Rain bertubi-tubi membuat Alisha dan Ara meliriknya datar.


“Dia sakit karenamu, Dodol, kau sangat berisik.” Celetuk Ara merangkul bahu Alisha.


“Hei bukankah kau yang berisik?” Tuduh Rain sementara Ara hanya diam saja. Mereka sudah sampai di tujuan mereka, yaitu Cafe Tune.


“Apakah ini tempatnya?” tanya Ara pada keduanya.


“Sepertinya iya.” Jawab Alisha singkat. Mereka masuk ke cafe tersebut dan bertanya ke petugas kasir.


“Selamat siang, Anda ingin memesan apa?” tanya petugas kasir ramah.


“Hm... Saya ingin memesan ice chocolate.” Ucap Rain yang segera mendapat jitakan dari Ara.


“Apakah kau tidak bisa serius untuk sedetik saja?” tanya Ara dengan kesal.


“Hilih! Apa salahku? Aku hanya ingin memesan minuman!” sungut Rain sementara Ara sudah memutar bola matanya entah keberapa kalinya.


“Maaf, kami ingin bertemu dengan pemilik cafe ini, apakah beliau ada?” tanya Alisha pada petugas kasir tersebut yang tengah melihat pertengkaran kedua sahabatnya bingung.


“Tunggu sebentar. Saya akan menghubungi atasan saya,” ucap petugas kasir tersebut.


Selang beberapa waktu, seorang pria berjas datang ke tempat kasir tersebut.


“Siapa yang mencari Pak Erico?” tanya pria yang berumur sekitar 30 tahun tersebut kepada petugas kasir.


“Mereka, Pak.” Jawab petugas kasir sambil menunjuk ke arah tiga gadis yang tengah sibuk berdebat.


Setidaknya, hanya Ara dan Rain yang berdebat, sedangkan Alisha hanya memandang datar pada keduanya. Namun, tangannya lalu bergerak menjewer kedua telinga temannya membuat sang korban berteriak karena terkejut. Hal itu membuat beberapa pasang mata pengunjung kafe menatap mereka aneh. Alisha segera tersenyum minta maaf.


“Maaf, apakah kalian yang ingin bertemu dengan pemilik kafe?” Tanya pria berjas tersebut pada ketiganya. Sontak ketiganya menghentikan perdebatan mereka dan mengalihkan atensinya pada pria tersebut.


“Ah! Maafkan atas sikap kami." Sesal Alisha menunduk meminta maaf pada pria itu. Kemudian, ia melanjutkan menyampaikan tujuannya datang ke kafe ini.


"Benar, Pak. Saya ingin bertemu dengan pemilik kafe ini. Apakah Bapak pemilik cafe ini?” Tanya Alisha sopan.


“Saya bukan pemilik cafe ini. Saya hanya manager disini. Sebelumnya, ada perlu apa kalian ingi bertemu dengan pemilik tempat ini?” tanya manager cafe itu.


“Saya ingin membicarakan sesuatu dengan Beliau.” Ucap Alisha tanpa ragu.


“Apakah kalian sudah memiliki janji?” tanya manager itu kembali. Dan ketiganya hanya menggeleng.


“Belum, Pak.” Ucap Alisha yang kini ragu bisa bertemu dengan pemilik kafe itu.


“Maaf, kalian tidak bisa bertemu tanpa membuat janji dulu. Jika tak ada lagi yang kalian perlukan, saya pamit undur diri,” ujar manager itu dan hendak pergi. Namun, tangannya dicekal oleh Alisha yang menatapnya penuh harap.


“Saya mohon, Pak. Sebentar saja, ini sangat penting.” Ujar Alisha dengan tatapan memohon.


“Saya sudah bilang tidak bisa. Lebih baik kalian pergi dari sini.” Ujar manager itu tetap pada pendiriannya.


“Aduh, Pak. Apa susahnya mengizinkan teman saya berbicara dengan Beliau? Lagipula, ini takkan lama.” Celetuk Ara.


“Kalian harus membuat janji terlebih dahulu sebelum bertemu dengannya.” Ujar manager itu hampir tersulut emosi karena celetukan Ara yang tak sopan.


“Sedetik saja juga tidak boleh?” tanya Rain asal.


“Kalian ini sangat keras kepala. Saya mohon keluar dari kafe ini sekarang atau saya harus mengusir Anda dengan cara tidak terhormat?” Tegas Manager itu. Untung saja suasana kafe sedang sepi. Jadi, tak banyak orang yang menyaksikan pertengkaran mereka. Lagipula, mayoritas pelanggan disana adalah mahasiswa yang tengah berkutat dengan tugas mereka.


“Heol! Itu tidak perlu! kami akan pergi sekarang juga dari tempat menyebalkan ini!" Sungut Ara sambil menggandeng tangan Alisha dan Rain untuk segera keluar dari tempat itu. Pria yang mengaku manager itu pun berlalu seraya memijit pangkal hidungnya kesal.


“Tunggu sebentar." Ucap Rain melepaskan tangannya dari genggaman Ara.


“Apa?” Tanya Ara sebal.

__ADS_1


“Ice chocolate pesananku belum datang. Aku sudah memesannya.” Jelas Rain santai.


“Ini pesanan anda,” ucap petugas kasir itu sambil memberikan cup ice chocolate pesanan Rain. Ara segera menarik tangan Rain saat gadis itu telah menerima pesanannya tanpa menunggu Rain mengucapkan terima kasih.


“Ara! Aku bisa berjalan sendiri. Jangan menarikku atau ice chocolate milikku akan jatuh!” sungut Rain menghentakkan tangan Ara.


Saat Rain ingin meminum ice chocolatenya, tiba-tiba seseorang menyenggolnya dan minuman tersebut terjatuh bersamaan dengan Rain yang jatuh tersungkur. Alisha dan Ara terkejut melihatnya. Mereka memiliki firasat buruk setelah ini.


“Oh, my? CHOCOLATE!!!” Teriak Rain mengundang perhatian seisi cafe. Rain bangkit dari posisinya dan bersiap memarahi pelaku yang telah menjatuhkan minumannya.


“Apa kau tak bisa berjalan dengan hati-hati, hah?? Kau telah menumpahkan minumanku yang bahkan belum masuk ke dalam mulutku! Kau-!" Teriakan Rain menggantung dan tubuhnya mematung.


'Astaga! Siapa pria tampan ini?' Teriak Rain dalam hatinya.


“Maaf, Nona. Saya tidak sengaja menyenggol anda karena Saya tengah terburu-buru. Saya akan mengganti minuman Anda dengan yang baru.” Sesal pria tampan tersebut.


'Oh my god! Suaranya bahkan selembut kapas. Astaga! Dedek meleleh!


Teriak Rain dalam hatinya. Ia masih terpaku seraya tatapannya tetap tertuju pada pria tinggi di hadapannya.


“Nona? Apa Anda baik-baik saja?” Tanya pria tampan itu lagi sementara Rain masih diam. Ara dan Alisha yang melihat tingkah sahabatnya itu mulai keheranan.


“Rain, kamu kenapa?” tanya Alisha sementara Rain hanya diam saja.


“Apakah dia kemasukan hantu? Rain sadarlah!” ujar Alisha mengguncangkan badan Rain. Rain kembali sadar dari lamunannya.


“Um.. Apa?” tanya Rain yang membuat Ara menjitak kepalanya.


Pria tampan itu adalah Erico, pemilik Cafe Tune. Erico memiliki wajah yang sangat tampan, rahang yang tegas, hidung yang mancung, dan alis yang tebal sehingga membuat semua wanita tertarik dengannya tak terkecuali Rain. Setelah kejadian tadi, mereka duduk di salah satu bangku cafe dan mengobrol.


“Oh? Jadi, kalian ingin bertemu dengan saya?” Tanya Erico pada ketiganya.


“Iya betul, Pak.” Ucap Alisha yang berada di sebelah Erico. Sedangkan Rain berada di depan Erico di sebelah Ara yang berhadapan dengan Alisha.


“Ara, dia sangat tampan, kan?” bisik Rain pada Ara yang hanya terdiam memainkan ponselnya. Rain yang kesal karena diabaikan oleh Ara, akhirnya menginjak kaki gadis itu keras.


“Akh! Sakit, Dodol! Apa yang kau lakukan?” Kesal Ara. Ia mengusap kasar kakinya yang memerah samar di bawah meja.


“Tidak ada.” Acuh Rain membuang muka layaknya anak kecil yang tengah merajuk.


“Nona, apa Anda baik-baik saja?” Ucap Pak Erico pada Ara membuat Rain segera menoleh pada Ara yang masih mengelus kakinya. Rain langsung menegang dan salah tingkah.


"Apa kau baik-baik saja, Ra?" Cicitnya merasa bersalah. Ara yang mendengarnya segara menatap Rain nyalang.


"Tentu saja tidak! Bagaimana jika jari kakiku patah? Kau mau menggantinya dengan jari kakimu?!" Sungutnya. Rain yang mendengarnya mencicit minta maaf dan berusaha memegang kaki milik Ara namun ditepis kasar oleh gadis itu.


Alisha yang melihat interaksi keduanya hanya memukul keningnya merasa malu. Matanya bertatapan dengan Erico yang baru melihat interaksi 'luar biasa' dua gadis di depannya dengan muka tak enak. Alisha lalu tersenyum minta maaf.


"Maafkan kedua sahabat saya, Pak. Mereka memang seperti itu. Saya terkadang malu karena mereka selalu tak tahu tempat ketika bertengkar." Ujarnya malu. Kedua sahabatnya seakan tak mendengar percakapan Alisha dan Erico dan tetap berdebat seperti biasanya.


Erico melirik ke arah dua 'makhluk luar biasa' di depannya, lalu kembali mengalihkan atensinya pada Alisha seraya tersenyum manis.


"Tak apa. Saya baru melihat interaksi seperti ini. Kau pasti tak pernah merasa kesepian dengan tingkah mereka." Ujar Erico tersenyum tipis.


"Ya, tentu saja, Pak. Tingkah mereka benar-benar luar biasa. Mereka selalu acuh pada sekitar. Tak mau mempedulikan pendapat orang lain mengenai mereka. Tapi, meskipun begitu, Saya bangga dengan kesetiaan dan kepedulian mereka terhadap satu sama lain. Saya sungguh beruntung memiliki mereka." Ujar Alisha seraya tersenyum memandangi kedua sahabatnya yang kini tengah mengganggu satu sama lain. Rain kini tengah mengganggu kaki Ara yang ia naikkan ke atas kursi.


Erico ikut tersenyum melihat bagaimana tatapan gadis itu pada kedua gadis lain di depan mereka. Namun, ketika pandangannya jatuh ke leher gadis itu, entah kenapa ia merasa tak asing dengan kalung yang dipakai Alisha. Kalung berwarna perak dengan tulisan 'Alvalisha' iu terasa familiar baginya. Namun, ia tak bisa mengingatnya.


"Ah! Benar, Saya lupa! Bapak sela-"


"Ah! Bisakah kau tak memanggilku dengan sebutan 'bapak'? Aku masih sangat muda untuk mendapat panggilan itu." Potong Erico menatap Alisha kaku. Alisha yang terkejut hanya mengangguk mengiyakan.


"Memangnya usia Anda berapa?" Tanyanya iseng.


"23 tahun," Sahut Erico membuat Rain terkejut.


"Sungguh?!" Itu artinya dia dan aku terpaut 6 tahun! Sepertinya aku memiliki kesempatan untuk mendekatinya, Ra!" Heboh Rain dilanjut dengan berbisik pada Ara. Ara yang mendengar bisikan itu hanya memutar bola matanya malas. Alisha dan Erico yang terkejut dengan teriakan Rain segera tersenyum kecut seraya saling memandang satu sama lain.


Oh, ayolah! Satu-satunya gadis yang tak berkacamata itu tiba-tiba berteriak pada keduanya. Padahal, yang mereka tahu, gadis itu tengah berdebat sengit dengan Ara.


"Rain, aku bisa mendengarmu." Sarkas Alisha.


"Oh, benarkah? Maafkan atas kelancanganku, Pak. ah! Maksudku.. Kak. Ah! Aku bingung harus memanggil Anda dengan sebutan apa!" Ujar Rain menjatuhkan kepalanya di meja. Hal itu membuat Erico tersenyum kecil.


"Kau bisa memanggilku dengan sebutan 'Kak Erico'. Namaku adalah Erico. Anggap saja jika aku adalah kakak kelasmu di perguruan tinggi."


Rain mengangkat kepalanya gembira. Saat ia akan mengucapkan sesuatu, seorang pelayan kafe datang membawa 3 ice chocolate dan 1 hot coffe ke meja mereka.


"Maaf atas ketidaknyamanannya dalam menunggu ice chocolate kalian, silahkan dinikmati!" Ujar pelayan tersebut sebelum pamit undur diri.


"Ah, benar! Ini, ice chocolate untuk kalian. Maafkan atas kecerobohanku yang telah menumpahkan minuman milikmu, Nona ....?" Ujar Erico yang tergantung di akhir kalimat karena tak tahu nama Rain.


"Ah! Aku Rain. Salam kenal, Kak Erico!" Celetuknya girang seraya mengulurkan tangannya semangat. Erico pun membalas uluran tersebut.


"Ya, salam kenal." Ujarnya lalu melepaskan jabatan mereka.

__ADS_1


“Ah! Terima kasih atas minumannya." Ujar Rain seraya meminum ice chocolate miliknya.


"Sama-sama. Sekali lagi, aku minta maaf atas kecerobohanku." Sesalnya yang segera mendapat gelengan cepat dari Rain.


"Tak apa. itu tak masalah untukku." Sahutnya bersemangat.


"ah, baiklah.."


"Jadi, ada perlu apa kalian ingin bertemu denganku?” tanya Erico pada ketiganya.


“Ah, Saya lupa. Saya kesini untuk menanyakan tentang mamah saya yang bekerja disini.” Ujar Alisha.


“Ibumu bekerja disini?” Tanya Erico mengerutkan dahinya bingung. Setahunya semua pegawainya masih lajang.


“Iya, Kak” sahut Alisha yakin.


“Siapa nama ibumu?” tanya Erico. Ia pikir itu adalah pegawainya saat dulu.


“Salsa Bianti.” Jawab Alisha.


“Hmm.. Dia memang pernah bekerja disini. Tapi, dia sudah lama mengundurkan diri dari cafe ini.” Ujar Erico yakin. Ia ingat dengan wanita yang bekerja beberapa tahun yang lalu.


“Kapan dia mengundurkan diri, Pak?” tanya Alisha mulai ragu bisa menemukan ibunya kembali.


“Sekitar 4 tahun yang lalu.” Sahut Erico yakin.


“Ra, kau tau dia sangat tampan.” Bisik Rain sementara Ara hanya diam. Gadis itu masih fokus pada pembicaraan di depannya.


“Sepertinya, dia cocok untuk menjadi Thor-ku.” Bisik Rain lagi dan Ara masih tetap terdiam.


“Ra, kau tau dia sepertinya menyukaiku.” Bisik Rain percaya diri.


“Heol, darimana kau tahu, eoh?” Jawab Ara sarkas.


“Dari tatapan matanya yang selalu melihatku dan juga dia memberikanku minuman spesial.” Ujar Rain penuh percaya diri.


“Heol! Itu hanya sebagai rasa bersalah karena telah menyenggolmu.” Sahut Ara sambil memutar bola matanya.


“Hih! Kau itu sangat payah dalam hal laki-laki, ya?” Sungut Rain.


“Terserahmu saja.” Acuh Ara.


“Ra, kau juga suka dengannya kan? Sepertinya kau harus menahan rasa sukamu karena dia telah menjadi milikku.” Celetuk Rain yakin sementara Ara hanya memutar bola matanya. Tiba-tiba ada seorang wanita cantik datang ke tempat mereka duduk.


“Hei, Sayang. Aku sudah menunggumu sangat lama.” Ucap wanita itu sedikit merajuk.


“Maafkan aku, Sayang. Aku sedang ada tamu." Jawab Erico pada wanita itu. Lalu berbalik pada ketiga gadis yang tengah menatap interaksi mereka.


"Oh, perkenalkan. Dia Tania, tunangan saya.” Ujar Erico. Seketika Rain merasakan tenggorokannya tercekat.


“Ups.. Rain, kau menyukainya, bukan? Sepertinya kau harus menahan rasa sukamu karena dia telah menjadi miliknya.” Bisik Ara pada Rain seraya menirukan gaya bicara gadis itu lalu terkekeh geli, sementara Rain diam seribu bahasa.


Beberapa menit setelah kejadian itu, mereka melanjutkan pembicaraan sebentar dan tak memperoleh informasi apapun dari Erico. Ketiganya lalu pergi dari kafe itu dengan tangan hampa. Mereka memutuskan untuk langsung pulang ke rumah masing-masing.


Alisha merasa heran dengan sikap Rain yang berubah menjadi murung setelah mereka pulang dari kafe.


“Ra, apa yang terjadi dengan Rain?” bisik Alisha pada Ara.


“Hah? Oh, dia hanya sedang patah hati. Kau tahu maksudku, bukan?” ujar Ara sambil terkekeh.


“Tidak.” Sahut Alisha polos sementara Ara menepuk jidatnya.


“Dia suka dengan Kak Erico” Ujar Ara to the poin.


“Sungguh? Pantas saja. Tapi, lihatlah wajahnya! Aku benar-benar merasa kasihan melihatnya.” Celetuk Alisha.


“Hei!” Seru Ara sambil menepuk bahu Rain sementara Rain masih terdiam.


“Rain, bukankah kau ingin pergi ke Bandung? Ayo! Aku akan ikut.” Ujar Ara sambil merangkul bahu Rain.


“Sungguh?!” Tanya Rain antusias. Matanya berbinar senang.


“Yup!" jawab Ara. Alisha yang berjalan di kanan Rain hanya terkekeh geli.


“Yeay..! Yuhu! Ini akan menyenangkan!” teriak Rain girang sambil melompat-lompat. Ara dan Alisha hanya geleng-geleng melihatnya.


                                        🌹🌹🌹


                                          TBC


                                                              @The_granat


                                                            @garnissr


                                                            @theodra_ara

__ADS_1


                                                                @leesona_09


                                         


__ADS_2