
Keesokan harinya ketika jam istirahat tiba, terlihat Ara, Rain, dan Alisha tengah menikmati nasi goreng pesanan mereka di salah satu meja kantin.
“Oh ya, Rain, apa kau sudah mendapatkan data karyawan di perusahaan itu?” tanya Ara menatap ke arah Rain. Membuat gadis itu urung memasukkan sesendok nasi goreng miliknya.
“Hah? Data karyawan? Untuk apa? Kau ingin mendaftar kerja?” tanya Rain dengan raut wajah polosnya. Ketika Rain akan memasukkan sesendok nasi goreng lagi ke dalam mulutnya, tiba-tiba sebuah sendok terlihat melayang ke arahnya dan tepat mengenai dahi kesayangannya.
“Aww... sakit! Kenapa kau melempariku dengan sendok eh? Aku melakukan kesalahan apa?!” Sungut Rain tidak terima sembari mengelus dahinya pelan. Sedangkan Alisha sedari tadi memilih melahap makanannya dalam diam dan mengabaikan interaksi kedua sahabat anehnya.
“Aku heran, kenapa aku harus memiliki teman sepertimu? Maksudku mengenai ibu Alisha, astaga!” geram Ara.
“Ah... Mengapa tidak kau katakan sedari tadi?” jawab Rain sembari mengangguk anggukkan kepalanya.
“Aku sudah mengatakannya! Kau saja yang tidak mengerti." Semprot Ara memutar bola matanya malas.
“Lagipula kau tidak mengatakannya dengan jelas, membuatku tidak dapat mengerti apa yang kau katakan,” ucap Rain dengan muka songong. Ara hanya memutar bola matanya jengah sementara Alisha hanya terkekeh melihat aksi keduanya.
“Sudahlah, apakah kalian tak bisa untuk melalui satu hari saja tanpa bertengkar?” kekeh Alisha.
“Ini karena ‘Nyai Dodol’ itu, bukan aku." Sungut Rain sementara Ara hanya diam dan memakan nasi gorengnya lagi.
“Hahaha... Memangnya kau sudah menemukan mamahku, Rain?” tanya Alisha serius.
“Belum." jawab Rain singkat.
“Kenapa? Kau bilang itu persoalan yang mudah,” ledek Ara.
“Tidak secepat itu, semua butuh proses. Dan sekarang, aku sedang dalam tahap pencarian datanya. Kalian tenang saja, aku pasti akan mendapatkannya. Karena aku adalah gadis dengan sejuta rencana." jelas Rain dengan santainya.
“Memang apa yang tengah kau rencanakan? Tidak semudah itu untuk mendapatkan data internal karyawan dari sebuah perusahaan besar. Kau harus memiliki izin khusus.” tanya Alisha.
“Tenanglah. Aku sudah mengatakan akan mendapatkannya. Jadi, kalian tidak perlu khawatir.” Jawab Rain menyeruput es teh miliknya.
“Tidak bisa, aku tidak ingin terlalu merepotkanmu. Jadi biarkan aku ikut membantu." Ucap Alisha memaksa.
__ADS_1
“Tenanglah, aku tidak merasa keberatan. Lagipula, aku sendiri yang mengajukan diri untuk membantu, bukan? Jadi, sudah pasti ini tidak merepotkan sama sekali.” jawab Rain mengibaskan tangannya pelan.
“Tapi-”
“Sudahlah, Al. Kita percayakan saja tugas ini dengannya. Lagipula benar apa yang dikatakan Rain, kita sendiri yang sudah mengajukan diri untuk menolongmu. Jadi, jangan sungkan.” jelas Ara menepuk bahu Alisha pelan.
“Baiklah, terima kasih banyak.” ucap Alisha dengan senyum manisnya.
“Ayo, kembali ke kelas. Bel masuk akan segera berbunyi.” ajak Rain mulai bangkit dari tempatnya.
“Tidak biasanya. Bukankah kau lebih senang terlambat masuk, eh?” ledek Ara.
“Tidak lagi. Aku sedang berusaha berubah. Jadi, jangan meledekku." ucap Rain kesal.
“Baguslah." Jawab Ara terkikik.
Mereka akhirnya pergi ke kelas bersama. Namun, di tengah jalan, Alisha tidak sengaja menabrak tubuh orang yang ada di depannya dan menumpahkan minuman milik orang tersebut.
“Maafkan aku, Kak. Aku tidak sengaja." ucap Alisha menatap tumpahan minuman itu di lantai. Ara dan Rain yang sudah berjalan lebih dahulu berhenti karena merasa tidak melihat Alisha. Mereka terkejut saat melihat Alisha tengah berhadapan dengan kakak kelas mereka.
“Pakai matamu saat berjalan! Apa gunanya kedua mata kamu jika tidak digunakan?!” bentak Sheila yang membuat mereka menjadi pusat perhatian semua siswa yang ada di kantin.
“Jangan berlebihan, Kak. Bukankah Alisha sudah mengatakan ia tidak sengaja melakukannya. Anyway, mata bukan untuk berjalan, tetapi untuk melihat.” Celetuk Rain yang sudah berada disisi Alisha yang kini terkikik bersama Ara mendengar celetukan Rain.
“Kau!!! Apa kau tahu siapa yang tengah kau hadapi sekarang, hah?” Tunjuk Sheila pada Rain geram.
“Tentu saja. Kau seorang manusia, bukan?” jawab Rain dengan santainya.
“Sialan! Kau mencari mati denganku hah?" ucap Sheila dengan marah dan hendak memukul Rain.
Namun, tangannya ditahan oleh tangan seseorang. Tangan itu milik Ara. Memang dari sekian banyaknya siswa yang ada di sekolah ini hanya ketiga perempuan itu yang berani dengan Sheila dan gengnya.
“Ck, jangan pernah berani menyentuh sahabatku jika kau masih sayang dengan tangan jelekmu ini. Bahkan, tangan Rain dan Alisha lebih mulus dibanding milikmu.” Ucap Ara dingin dan menghempaskan tangan Sheila dengan kasar, sementara Rain menjulurkan lidah kepada Sheila dan gengnya.
__ADS_1
“Sialan!! Tunggu saja, aku akan melaporkan masalah ini kepada kepala sekolah. ” ucap Sheila dengan sombongnya. Ia melipat tangannya di depan dada angkuh. Para pengikutnya hanya menyaksikan mereka dengan ekspresi mengejek.
“Mengadu pada kepala sekolah? Cih, kekanakan sekali. Jadi ini, keahlian dari kakak kelas yang paling di takuti. Apanya yang hebat?” ucap Rain tanpa rasa takut. Sheila yang hendak memukulnya kembali mengurungkan niatnya karna mendapat tatapan elang dari Alisha dan Ara.
“Tunggu saja, kalian. Sekarang, kalian kulepaskan. Tapi, tunggu pembalasanku nanti!!!" Ancam Sheila sambil menunjuk ke arah Alisha. Sheila dan gengnya berlalu meninggalkan kantin. Namun langkah mereka terhenti mendengar kalimat yang diucapkan Rain.
“Ck! Kenapa harus nanti, Kak? Kenapa tidak sekarang? Apa mungkin kau takut dengan kami?” celetuk Rain yang dihadiahi tatapan tajam dari Alisha. Sheila dan geng nya pun membalikkan tubuh mereka lagi ke arah Rain yang kini tengah menatap nya dengan tatapan mengejek.
“Sudahlah hentikan, daripada kalian terkena masalah nantinya.” ucap Alisha kesal.
“Alisha, kita tak bisa hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Itu akan membuatnya semakin semena-mena.” ucap Rain sementara Alisha memutar bola matanya jengah dan berlalu meninggalkan Ara dan Rain.
“Cukup untuk hari ini. Jika ada kesempatan lagi, kau boleh melakukannya,” ucapnya. Rain dan ara yang mendengarnya tersenyum.
“Al, tunggu!!!”Ucap Rain sambil berlari mengejar Alisha dan menggandeng tangan Ara yang hanya diam saja.
Sementara Sheila dan geng nya masih berdiri di tempat mereka tadi, menatap Ara, Rain, dan Alisha dengan tatapan tidak suka dan tidak terima oleh apa yang baru saja mereka lakukan.
Ini sungguh mencoreng nama baik nya disekolah ini sebagai orang yang paling berkuasa dan ditakuti oleh semua orang. Terlebih lagi pandangan dari murid-murid yang sudah berdiri di sekitar mereka. Menatap dengan penasaran apa yang tengah terjadi. Beberapa dari mereka yang sudah berada di tempat, menatap Sheila dan geng nya dengan pandangan mencibir.
Kurang ajar. Tunggu dan lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan pada kalian adik-adik manis.
🌹🌹🌹
TBC
@The_granat
@garnissr
@theodra_ara
@lee_sona09
__ADS_1