Al2aint

Al2aint
Bagian 12


__ADS_3

"Kak Alishaa! Disini!" Teriak seorang gadis melambaikan tangan pada Alisha. Alisha baru saja sampai di halaman rumah sakit tempat neneknya dirawat.


Alisha yang merasa namanya dipanggil menoleh ke asal suara. Netranya menangkap sosok remaja perempuan yang tengah menghampirinya membuatnya tersenyum lebar.


"Alena? Kenapa kau keluar? Apa nenek sedang tidur?" Tanyanya seraya mengusap lembut kepala gadis kecil yang ia panggil Alena itu.


Alena hanya menganggukkan kepalanya antusias. "Aku baru saja menemui temanku untuk menyerahkan tugasku padanya. Jadi, aku keluar sebentar untuk menemuinya," jelasnya.


Alisha hanya mengangguk paham dan menggiring adiknya untuk masuk ke dalam gedung rumah sakit itu.


"Bagaimana keadaan nenek?" Tanyanya memecah keheningan. Alena yang tingginya hanya sebatas dada Alisha harus mendongak demi melihat wajah kakak satu-satunya itu dan tersenyum gembira.


"Keadaan nenek sudah membaik, setidaknya itu yang dikatakan dokter. Kuharap nenek segera sembuh dan kita pulang ke rumah. Sungguh, kak! Aku benci menghabiskan hariku di rumah sakit. Aku ingin bisa segera pulang ke rumah dengan cepat!" Cerocos Alena kesal membuat Alisha terkekeh geli.


"Maafkan kakak, ya? Akhir-akhir ini kakak sangat sibuk." Sesalnya lalu mecubit pipi Alena gemas. Astaga! Sejak kapan adiknya ini memiliki pipi yang gembul?


"Pipimu makin berisi saja? Apa saja yang kau makan?" Tanyanya geli. Pasalnya, ia tahu jika sang adik sangat benci jika pipinya berisi. Itu menandakan jika berat tubuhnya semakin bertambah.


"Ah, benarkah? Entahlah, ka. Temanku memaksaku untuk banyak makan saat ini. Dia bilang, ia tak ingin melihatku sakit." Jawabnya dan memelankan suaranya di kalimat terakhir. Ia menunduk menghindari tatapan kakaknya yang kini menatapnya dengan selidik.


"Teman? Teman atau..." Celetuk Alisha tak melanjutkan perkataannya. Sedangkan, sang adik semakin salah tingkah dan menolehkan kepalanya ke sembarang arah untuk menghindari tatapan kakaknya.


"Hei! Aku bertanya padamu, Alena." Kekeh Alisha. Sepertinya, adiknya telah unggul satu langkah di depannya.


"Ah! Itu.. teman.. Ya! Hanya teman, ka! Sungguh!" Gugup Alena yang justru membuat Alisha semakin menguatkan dugaannya.


"Ah.. Teman rupanya.. Kenalkan aku padanya. Kupikir dia masih ada disini mengingat kau sangat yakin untuk meninggalkan nenek sendirian di kamarnya." Ucapan telak Alisha yang berniat untuk menggoda adiknya berhasil hingga membuat Alena mendongak padanya dan menatapnya terkejut. Pipinya sudah bersemu merah. Tebakannya benar jika pacar sang adik masih ada di ruang kamar neneknya.


"Jadi, benar? Kau sudah memiliki pacar? Ah.. sungguh! Kau membuatku sakit hati, Alena." Alisha berpura-pura sedih di depan Alena untuk lebih menggodanya.


"Ah! Tidak, ka! Kumohon maafkan aku! Ak-"


"Tada! kita sudah sampai. Jadi, biarkan aku melihat calon adik iparku, ya?" Ucapan Alena terpotong oleh suara Alisha yang kini sudah membuka pintu kamar rawat sang nenek. Di dalam, Alvin yang merupakan kekasih Alena tengah terkejut menatap ke arah pintu dimana dirinya dan sang kakak berdiri. Dilihatnya laki-laki itu segera berdiri dari sofa tempatnya duduk dan tersenyum kikuk pada kakaknya.


Alisha melangkahkan kakinya memasuki kamar rawat neneknya dengan senyum manis. Ia menghampiri Alvin yang kini menunduk kikuk di depannya. Tingginya hanya sebatas telinga Alisha. Sedangkan, Alena mengikutinya dari belakang sambil menatap Alvin dengan tatapan bersalah.


Alisha mengulurkan tangannya di depan kekasih Alena membuat laki-laki itu mendongak menatapnya bingung. Alisha pun tersenyum dan mulai memperkenalkan dirinya pada laki-laki itu.


"Hai! Namaku Alisha. Aku adalah kakak Alena. Kau bisa memanggilku dengan sebutan 'kak' seperti yang selalu pacarmu gunakan untuk memanggilku." sapanya sembari mengulum senyum geli melihat reaksi lawan bicaranya.


Laki-laki yang merupakan kekasih Alena itu menatapnya terkejut. Tatapannya beralih pada Alena yang ada di sampingnya. Alisha bisa mendengar Alena mencicit mengucapkan permintaan maaf pada kekasihnya. Alisha yang melihatnya tak bisa menahannya lagi. Ia tertawa geli melihat interaksi dua remaja yang masih awam dalam berpacaran itu.

__ADS_1


"Ahahaha... Kalian benar-benar menggemaskan!" Tawanya seraya mencubit masing-masing pipi mereka. Membuat mereka mengaduh kesakitan. Alisha melepaskan cubitannya dan mengehentikan tawanya. Ia berusah mengulum senyumnya demi menahan tawanya.


"Jadi, siapa namamu?" Tanyanya halus.


"Alvin, kak. Salam kenal." Sahut Alvin malu-malu.


"Ah.. Jadi, Alvin? Terima kasih sudah menemani Alena menjaga nenek kami," ucap Alisha tulus pada Alvin yang kini menatapnya dengan binar di kedua matanya dan mengangguk.


"Tak apa, ka. Aku juga senang bisa menemani Alena." sahutnya balas tersenyum.


"Tentu saja kau senang." Kekeh Alisha yang dihadiahi cubitan Alena di lengannya. Sedangkan, Alvin hanya tersenyum canggung.


"Baiklah, Alvin. Kau ingin makan malam bersama kami? Kebetulan aku membawa banyak makanan dari rumah," tawar Alisha dan menghampiri neneknya yang tengah tertidur. Ia mengusap pelan kepala neneknya agar tak membangunkan sang nenek.


"Kurasa tak perlu, ka. Mungkin lain kali." tolak Alvin menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sebenarnya ia ingin. Namun, ia masih canggung dengan perempuan yang berstatus kakak Alena itu. Alisha yang menyadari gelagat Alvin kembali tertawa. Ia kembali ke sofa tempat keduanya duduk dan duduk di sofa yang lain. Bermaksud untuk tak mengganggu keduanya.


"Hei, jika kau canggung padaku, itu sungguh tidak perlu sama sekali, Vin. Makanlah bersama kami. Jika kau mau, Alena bisa menyuapimu." tawaran bodoh Alisha kembali dibalas dengan cubitan Alena yang kini bertambah keras. Membuatnya mengaduh kesakitan di tengah tawanya. Aksi keduanya membuat Alvin terkekeh geli.


"Um.. baiklah, ka. Kupikir makan bersama calon ipar tak masalah." celetuknya membuat Alisha melayangkan tosnya pada Alvin dan disambut baik oleh lelaki itu. Mereka lalu tertawa bersama. Sedangkan, Alena mengernyitkan dahinya bingung melihat interaksi antara kekasihnya dan kakaknya.


'sejak kapan mereka dekat?' batinnya polos.


Ketiganya makan malam dengan riang dipenuhi tawa Alvin dan Alisha yang selalu menggoda Alena. Saling menceritakan keburukan Alena hingga membuat gadis itu marah sekaligus malu mengingat tingkahnya sendiri.


Sepeninggal Alvin, Alisha menghampiri neneknya, sedangkan Alena membereskan bekas makan malam mereka. Alisha mengusap pelan pipi sang nenek bermaksud membangunkannya. Sang nenek terbangun dan segera tersenyum lemah begitu melihat sosok yang ada di depannya.


"Alisha? Kau sudah datang?" Tanyanya dengan suara lemah. Ia mengangkat tangan ringkihnya untuk mengusap pipi sang cucu pelan.


Alisha menutup matanya merasakan sentuhan lembut neneknya. Nenek yang selalu menyayangi dan melindunginya dari segala rasa sakit. Sosok yang selalu memberinya kekuatan untuk melakukan apapun.


"Alisha datang, Nek. Ayo, bangunlah. Jika kau terus berbaring seperti ini, kau takkan sembuh dengan cepat." ucapnya yang hanya dibalas dengan kekehan lemah sang nenek.


Alisha membantu sang nenek untuk duduk. Ia menyusun bantal agar neneknya bisa bersandar dengan nyaman di brankarnya. Setelah merasa neneknya nyaman dengan duduknya, ia lalu duduk di bangku yng ada di samping brankar beneknya.


Ia mengambil tangan sang nenek dan meletakkannya di pipinya. Ia menatap neneknya sendu membuat sang nenek mengerutkan alisnya.


"Apa ada masalah, sayang?" Tanyanya mengusap pelan pipi Alisha.


"Ya, Nek. Papah.. dia datang ke rumah sebelum aku pergi ke sini," ucap Alisha tersenyum sendu. Sang nenek ikut tersenyum lembut.


"Lalu, apa kau berbicara dengannya?" Tanyanya lagi. Alena yang mendengar kata "papah" segera menghampiri keduanya dengan raut penasaran. Pasalnya, ia tak pernah melihat kedua orangtuanya selama ini.

__ADS_1


"Papah? Apa Papah datang ke rumah? Kenapa kau tak bilang padaku, kak?" Tanyanya bertubi-tubi pada Alisha yang ada di sampingnya.


Ia lalu duduk bersila di lantai dan bersiap mendengar jawaban sang kakak yang memasang ekspresi sedih. Ada apa dengan kakaknya?


"Aku tak berbicara padanya, Nek. Aku tak bisa, meski aku ingin memeluknya. Entahlah, Nek. Aku masih merasa sakit hati dengan perbuatannya dulu," jujurnya tanpa menggubris pertanyaan Alena. Alena yang mendengarnya mengernyit bingung.


"Kak, ada apa dengan papah? Memangnya apa yang dia lakukan dulu? Apa itu ada hubungannya dengan perginya Papah dan Mamah? Kumohon jawab pertanyaanku!" Tanya Alena sedikit memaksa. Pasalnya, ia sangat penasaran dengan kedua orang tuanya.


"Alena.. Simpan pertanyaanmu dulu, sayang," tegur sang nenek menatap Alena dengan pandangan penuh kasih sayang. Membuat Alena menghembuskan napasnya pelan. Sepertinya ia harus memendam rasa penasarannya sebentar. Setelah dirasa Alena akan diam, sang nenek kembali menatap Alisha tersenyum.


"Alisha, sayang. Kau harus mulai belajar memaafkan kedua orangtuamu. Bicaralah pada papahmu, sayang. Dia pasti sangat merindukanmu," tegur sang nenek membuat Alisha menunduk.


"Tapi, nek-" ucapannya terpotong oleh perkataan neneknya.


"Jika kau seperti ini, bagaimana kau akan menemukan mamahmu? Apa kau tak merasa kasihan pada Alena? Dia tak pernah bertemu keduanya sejak ia masih berumur 2 tahun, Al. Mengertilah perasaan Alena, sayang," nasihat sang nenek membuat matanya berkaca-kaca.


Neneknya benar, ia seharusnya tak boleh egois seperti ini. Tingkahnya sama saja menyakiti hati Alena secara tak sadar. Air matanya perlahan jatuh, ia bangkit memeluk neneknya dan menggumamkan kata maaf berkali-kaki. Alena yang masih tak paham dengan situasinya ikut memeluk keduanya.


Alisha melepas pelukannya pada sang nenek membuat Alena ikut melepaskan pelukannya. Sang adik mengusap pelan bahu Sang kakak untuk menenangkannya. Saat Alisha sudah merasa baik. Ia ingin mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba suara ketukan pada pintu menginterupsi kegiatan mereka bertiga.


Alena berlari menghampiri pintu untuk membukakan pintu bagi siapapun yang tadi mengetuk pintu kamar rawat neneknya itu.


Saat pintu terbuka, ia melihat sosok lelaki yang asing baginya tengah berdiri di depan pintu dengan, pandangan kikuk membawa sebuket bunga.


Alisha yang merasa aneh karena tak mendengar langkah kaki mendekat pun menoleh ke arah pintu dan terbelalak kaget. Netranya menangkap sosok lelaki yang baru saja ditemuinya beberapa jam lalu.


Sang nenek yang juga merasa aneh segera melirik ke arah pintu bermaksud mencari tahu siapa yang telah datang menjenguknya. Pandangannya bertemu dengan sosok anak yang sudah lama dirindukannya tengah berdiri canggung di depan pintu kamar rawatnya


"....?!"


"Ehm! Boleh aku masuk?" Tanya sosok lelaki itu.


                                        🌹🌹🌹


                                          TBC


                                                              @The_granat


                                                            @garnissr


                                                            @theodra_ara

__ADS_1


                                                                @leesona_09


                                         🌹🌹🌹


__ADS_2