Al2aint

Al2aint
Bagian 13


__ADS_3

"Jadi, kau adalah Papahku?" Tanya Alena dengan mata berbinar. Melihat lawan bicaranya mengangguk, ia segera memeluk sosok yang tengah terduduk si bangku bekas kakaknya duduk itu erat.


"Jadi, kau adalah Papah?" Tanyanya ulang tak percaya. Jonathan, Papah Alisha dan Alena hanya balas memeluk Alena erat dan mengusap kepalanya pelan.


Ia melihat Alisha yang tengah berdiri tak jauh darinya masih membuang mukanya tak ingin melihatnya. Ia lalu mengulurkan tangannya pada anak pertamanya itu. Alisha yang melihatnya menatapnya bingung dengan wajah datar andalannya. Jonathan mengisyaratkan untuk menggenggam tangannya dan dituruti oleh Alisha. Ia menarik genggaman tangannya dengan Alisha membuat gadis itu tertarik ke arahnya dan segera memeluknya erat.


"Papah tahu, kau merindukan Papah, sayang." Ucapnya mengelus kepala Alisha gemas. Alisha hanya balas memeluknya erat dan menangis di dada pria itu.


"Papah tega meninggalkanku!" Ucapnya mengeratkan pelukannya pada pria yang ia sebut 'Papah' itu. Sedangkan, Jonathan hanya balas memeluk Alisha pelan seraya menggumamkan kata maaf berkali-kali. Alena sudah melepaskan pelukannya saat sang ayah menarik kakaknya ke pelukannya. Ia terharu melihat interaksi keduanya.


Sang nenek yang melihat Alena menatap pasangan ayah dan anak itu hanya mengelus lengan Alena pelan. Alena yang merasakan sentuhan di lengannya segera berbalik dan melihat neneknya yang tersenyum merentangkan kedua tangannya. Ia lalu dengan senyum lebar menghambur ke pelukan neneknya seraya melihat interaksi sang kakak dengan Papahnya.


"Maafkan Papah, sayang. Papah sungguh frustasi karena kepergian Mamahmu." ucap Jonathan mengelus pelan rambut Alisha di pelukannya.


"Lalu, kenapa Papah menikah dengan perempuan itu?!" Sungutnya tak terima. Jonathan yang mendengarnya hanya tersenyum sedih.


"Papah hanya membantu sahabat yang sudah Papah anggap sebagai adik sendiri, Alisha. Dia memiliki anak di luar nikah, dan ayah dari anak yang dikandungnya tak mau bertanggung jawab. Hal itu membuat sahabat ayah depresi selama bertahun-tahun. Kesibukan Papah dalam pekerjaan dan masalah sahabat ayah, membuat mamahmu ikut depresi dan akhirnya selingkuh dari Papah." jelasnya panjang lebar. Alena yang mendengar jika ayahnya menikah lagi langsung terkejut. Ia melepaskan pelukannya pada neneknya dan menatap ayahnya tak suka.


"Jadi, Papah sudah menikah lagi?" Sengitnya.


"Ya, Alena," sahut Jonathan melihat ekspresi tak suka di wajah Alena.


"Lalu dimana keberadaan Mamah? Alena tak ingin memiliki ibu tiri. Ibu tiri itu jahat, seperti orangtua kak Rain," tolaknya mengingat perlakuan orangtua tiri Rain pada sahabat kakaknya itu. Alena memang mengenal kedua sahabat Alisha sejak awal pertemanan sang kakak. Ia juga sering diajak pergi hangout bersama ketiganya. Oleh karena itu, dia mengetahui sedikit kisah kedua sahabat kakaknya itu.


Alisha yang mendengar perkataan polos adiknya sontak tertawa. Ia melepaskan pelukannya pada ayahnya dan menghampiri sang adik yang terduduk di brankar bersama sang nenek. Ia menoyor kepala sang adik gemas membuat Alena berteriak kesal. Hal itu tak luput dari perhatian Jonathan dan neneknya. Mereka tersenyum haru melihat kehangatan yang sudah lama mereka rindukan.


"Dengar, ya. Tak semua orangtua tiri itu jahat, bodoh. Istri Papah adalah orang yang baik. Aku pernah bertemu dengannya." ucapan Alisha membuat Jonathan mengernyitkan dahinya bingung.


"Kau pernah bertemu dengan istriku?" Tanyanya penasaran. Alisha yang mendengarnya mengalihkan atensinya pada sosok ayahnya dengan ekspresi bingung.


"Kenapa Papah bertanya padaku? Bukankah Papah yang menyuruh istri Papah untuk berbicara denganku? Memintaku untuk berbaikan denganmu?" Tanyanya balik. Kini, ia bingung dengan sikap ayahnya yang seolah tak tahu apa-apa perihal pertemuannya dengan istri ayahnya.

__ADS_1


"Tidak pernah. Apa dia benar-benar bertemu denganmu? Apa kau yakin dia istriku?" Tanya Jonathan memastikan. Alisha mengernyitkan keningnya mendengar perkataan sang ayah.


"Tentu saja! Aku pernah melihatnya bersama Sheila di pertemuan orang tua. Saat itulah, sepulang sekolah ia menemuiku dan mengajakku berbicara." jelas Alisha yakin. Ia ingat kejadian setengah tahun lalu saat penerimaan raport kenaikan kelasnya.


                                          🌹🌹🌹


*Saat itu, Ara, Rain, dan Alisha yang masih duduk di bangku kelas sepuluh SMA, tengah berlarian di lapangan sekolah entah melakukan hal apa. Mereka menghabiskan waktu bersama sebelum liburan kenaikan kelas tiba. Ya, meskipun nantinya saat liburan mereka akan sering menghabiskan waktu bersama, tapi bagi mereka menghabiskan waktu bersama di sekolah tak ada salahnya bukan?


Ara dan Rain berlari mengejar Alisha yang membawa bola. Mereka tengah berebut mendapatkan bola itu untuk nantinya dimasukkan ke dalam ring basket. Bukan! Mereka bukan sedang bermain permainan bola basket, karena yang mereka lakukan hanya berlarian mengelilingi lapangan dengan salah satunya memegang bola basket berusaha agar tidak ditangkap oleh kedua perempuan lainnya yang tidak memegang bola.


Banyak siswa-siswi maupun guru-guru yang lewat menatap mereka dengan pandangan yang berbeda-beda. Ada yang menatap mereka aneh, ada juga yang menatap mereka geli dengan tingkah mereka yang seperti anak kecil. Namun, ketiga perempuan itu sepertinya tak menghiraukan pendapat orang sekitarnya karena sibuk dengan permainan tidak jelas mereka. Setelah puas bermain bola, mereka berfoto ria di tengah lapangan. Mereka duduk di lapangan, lagi-lagi tanpa menghiraukan pandangan orang lain yang menatap mereka aneh.


Saat tengah berfoto ria, sesosok perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik menghampiri mereka. Rain yang menyadari kehadiran wanita itu segera memberi kode pada keduanya yang masih asik melihat hasil selfie mereka. Ara dan Alisha menolehkan kepala mereka pada Rain yang mengisyaratkan mereka untuk melihat ke arah wanita itu. Sontak ketiganya segera berdiri yang membuat wanita di hadapan mereka mengulum senyum melihat betapa kumalnya keadaan ketiga remaja itu.


"Hai.. Kau pasti Alisha, bukan?" Sapanya pada Alisha yang kini menatapnya bingung.


"Eum.. Ya. Saya Alisha. Apa Anda mengenal Saya?" Tanyanya bingung.


"Ah.. Kau tak mengenalku. Aku adalah Ibu Sheila. Kakak kelas satu tahun di atasmu." jelas wanita itu memperkenalkan diri.


"Bisakah kita berbicara secara pribadi, Alisha? Aku ingin membahas tentang ayahmu." pinta Ibu Sheila yang membuat Alisha mengatupkan rahangnya keras. Namun, tatapannya menunjukkan jika ia bingung. Ia pun mengiyakan ajakan tersebut dan mengikuti wanita itu ke kafe depan sekolahnya*.


                                          🌹🌹🌹


"*Jadi, kau adalah wanita yang merebut Papah dari Mamahku?" Tanya Alisha dingin. Alisha dan wanita yang baru ia ketahui adalah istri dari ayahnya itu telah duduk di salah satu meja di kafe depan sekolah Alisha.


Ibu dari Sheila yang mendengar pertanyaan dingin Alisha hanya tersenyum sedih menghadirkan decakan kesal dari Alisha. Wanita itu menatap Alisha sendu. Ia berusaha meraih tangan Alisha yang terletak di atas meja. Namun, dengan cepat Alisha menurunkan tangannya dari atas meja menghindari tangan wanita itu. Wanita itu hanya kembali tersenyum sendu.


"Maafkan aku. Sungguh maafkan aku, atas apa yang terjadi pada orangtuamu. Aku sudah melarang ayahmu untuk mengurusi masalahku, tapi ayahmu bersikeras untuk bertanggungjawab menjadi ayah Sheila." ujar Ibu Sheila sendu. Alisha hanya mendengarkan dengan muka datar andalannya. Wanita di depannya itu kembali melanjutkan ceritanya setelah dirasanya Alisha mendengarkan.


"Meskipun saat itu Sheila sudah berumur 7 tahun, tapi ayahmu bersikeras menikahiku. Itu membuatnya semakin depresi karena bingung ingin berkata yang sejujurnya pada ibumu tentang masalahku. Ia takut jika ibumu akan kecewa karena diduakan. Namun, suatu ketika, ibumu memergoki kami yang tengah bersama dan salah paham dengan menuduh kami berselingkuh. Ditambah lagi, perusahaan ayahmu yang hampir bangkrut karena salah satu karyawannya kepercayaannya berkhianat dan membawa lari uang perusahaan." wanita itu mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan.

__ADS_1


"Ayahmu sangat frustasi hingga melampiaskannya dengan bersikap kasar pada ibumu dan padaku. Namun, sikapnya bertambah kasar pada ibumu setelah mengetahui jika ibumu berselingkuh dengan karyawan yang mengkhianatinya. Itulah sebabnya mereka bertengkar hebat pada suatu hari hingga menyebabkan mereka bercerai," papar wanita itu sendu. Ia merasa bersalah karena dirinya lah yang menyebabkan retaknya keluarga Alisha.


'Dan membuatku terluka di hari ulang tahunku.' sambung Alisha dalam hati. Ia tak menyangka jika kejadiannya seperti itu. Tak ada yang bisa disalahkan karena semuanya memiliki alasan yang jelas. Tapi, ia menyayangkan sikap ibunya yang berselingkuh dari ayahnya padahal ayahnya justru sangat mencintainya.


"Jadi, kejadiannya seperti itu? Tapi, mengapa Mamah melakukan itu?" Tanya Alisha tak menyangka. Air matanya telah turun satu persatu dari mata tajamnya. Ibu Sheila yang melihatnya segera berpindah tempat menjadi di sebelah Alisha dan memeluk gadis itu. Ia membiarkan gadis kecil itu menangis di dadanya. Setidaknya, ia lega bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya pada anak kandung suaminya itu.


"Aku pun tak tahu, Al. Yang jelas, jangan pernah membenci ibumu karena dia juga korban disini. Hanya saja, caranya salah." ujar Ibu Sheila itu lembut. Alisha menarik tubuhnya dari dekapan wanita itu dan menatap lekat wanita itu. Ada satu pertanyaan yang membuatnya penasaran dari awal pertemuan mereka.


"Ah, iya. Bagaimana kau mengenalku?" Tanyanya penasaran. Ibu Sheila yang mendengar pertanyaan Alisha menjadi salah tingkah.


"A-ah.. Itu.. Aku.. Ayahmu menyuruhku untuk menemuimu. Kumohon, segeralah menemuinya, ia merindukanmu." tutur Ibu Sheila gugup. Alasannya datang menemui Alisha adalah karena ia merasa bersalah menyembunyikan kebenaran akan hal ini selama sepuluh tahun lebih.


"Benarkah?" Tanya Alisha dengan pandangan menyelidik.


"Hmmm.... Ya. Ya tentu saja. Aku tidak berbohong. Kau bisa menemui dan menanyakan nya sendiri padanya." jawab ibunda Sheila dengan pandangan gugup dan sarat akan ragu.


"Tidak perlu. Ini sudah cukup. Baiklah, apa ada yang ingin kau bicarakan lagi?" Tanya Alisha sembari menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya.


"Tidak ada. Aku sangat berterima kasih padamu karena sudah mau mendengarkan cerita ku. Aku berharap hubungan kau dan ayahmu lekas membaik." Jawab ibunda Sheila menepuk pelan bahu Alisha dengan penuh perhatian. Sheila hanya mengangguk kan kepala nya singkat.


"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu ya. Sampai jumpa sayang." Ibu Sheila beranjak dari tempat duduk nya dan meninggalkan Alisha yang masih termenung di tempat nya. Menatap ke depan dengan pandangan* kosong.


                                        🌹🌹🌹


                                          TBC


                                                              @The_granat


                                                            @garnissr


                                                            @theodra_ara

__ADS_1


                                                                @leesona_09


                                         


__ADS_2