Al2aint

Al2aint
Bagian 18


__ADS_3

“Akh!"


Suara pekikan dari Alisha sontak menghentikan ucapan Rain. Kedua gadis itu pun sontak menolehkan kepala mereka ke arah Alisha yang sudah terduduk di lantai dengan banyak tumpukan kardus berserakan di sekitar tubuhnya. Alisha kini tengah memejamkan kedua matanya rapat dengan kedua tangan terkepal kuat di depan dadanya.


“ALISHHAAA!!!” Teriak Rain segera berlari menyingkirkan kardus-kardus kosong yang menghalangi langkahnya dibantu oleh Ara. Ia membantu Alisha untuk bangun dan membersihkan tubuh Alisha dari debu yang mengotori pakaian putih sahabatnya itu.


“Astaga, Al! Apa kau baik-baik saja? Apakah kau terluka? Apa yang terjadi? Apakah kau diganggu oleh hantu? Ap-” Ara dengan sigap membungkam mulut Rain. Ia lalu beralih menatap Alisha dengan tangan yang masih membungkam mulut Rain membuat gadis itu menepuk-nepuk kesal punggung tangannya.


“Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?” Tanya Ara. Tangannya sudah lepas dari mulut Rain dan beralih membantu Alisha membersihkan pakaiannya dari debu.


“Tentu saja tidak, Dodol! Ini sakit!” Alisha yang mendapatkan pertanyaan tidak masuk akal dari Ara pun memekik kesal karena kepolosannya yang datang di waktu yang tidak tepat. Ara hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan, Rain masih sibuk mengisi udara ke dalam paru-parunya karena bekapan Ara yang menutupi hingga hidungnya. Alhasil, dia kesulitan bernapas tadi.


“Bagaimana kau bisa seceroboh ini, eoh?” Tanya Rain saat ia sudah menyelesaikan kegiatannya menarik dan membuang napas.


“Entahlah. Aku hanya tertarik dengan sebuah buku di rak itu dan berniat mengambilnya," sahut Alisha menunjuk rak buku tua di depannya. Membuat Ara dan Rain mengalihkan pandangannya sebentar ke arah benda itu.


"Lalu, aku melihat laba-laba besar tepat di depanku. Hingga secara tak sengaja aku menarik buku itu terlalu keras dan menabrak kardus-kardus itu. Alhasil, benda itupun ikut terjatuh. Aku tak menyangka bahwa kardus kosong seperti itu bisa membuatku terjatuh!” Ujar Alisha dengan nada kesal yang amat kentara terlihat dalam setiap kalimatnya. Ia bergidik ngeri kala membayangkan binatang berkaki delapan itu muncul tepat di depan wajahnya.


“Itu tandanya kau terlalu kurus, Al. Kau harus lebih banyak makan lagi. Hahaha!” Ujar Rain dengan nada meledek. Alisha yang masih kesal pun sontak memukul lengan Rain dengan sedikit lebih bertenaga dibandingkan biasanya, lalu mendelik kesal ke arah Rain.


“Akh! Kau menyakitiku!” Ujar Rain mendramatisir sembari memegang lengan yang baru saja Alisha pukul. Tingkahnya sungguh penuh drama. Begitu yang dipikirkan Ara saat melihatnya. Ia lalu memutar bola matanya malas menyaksikan tingkah ajaib kedua sahabatnya.


“Astaga, Al! Kau tahu? Aku dan Rain sudah berlari karena khawatir dan ternyata kau hanya melakukan hal bodoh? Tak habis pikir, Dedek.” ujar Ara dan Alisha hanya menyengir.


“Tapi, tunggu sebentar. Kau menabrak jaring laba-laba, Al? Kalau begitu, di ruangan ini pasti ada Peter Parker suamiku!” celetuk Rain dengan mata berbinar.


“Astaga, dia kumat lagi," cetus Ara menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan tingkah laku Rain, sementara Alisha hanya terkekeh.


“Sebenarnya, kau ini menyukai Thor atau Spiderman?” tanya Alisha terkekeh.


“Ah! Itu.. Mereka sama-sama tampan, jadi aku tidak akan memilih di antara keduanya” ucap Rain.


“Eh, tunggu sebentar. Buku? Buku apa yang kau maksud, Al?” Pertanyaan Ara membuat kedua sahabatnya mengalihkan pandangan mereka ke arahnya.


“Ahh, itu… Benar, buku. Tadi, aku melihat sebuah buku disana,” Tunjuk Alisha pada rak buku tadi. Tapi, tak ada buku apapun disana.


“Dimana?” Tanya Ara menatap ke arah rak buku tua itu kembali, namun tak juga melihat sesuatu yang menarik.


“Tadi, buku itu ada disana. Sungguh, aku yakin!" Ujar Alisha meyakinkan Ara yang kini menatap dirinya dengan pandangan menyelidik.


“Apakah ini yang kau maksud, Al?” Suara Rain membuat Ara dari Alisha mengalihkan tatapan pada Rain yang sudah memegang sebuah buku kusam. Buku itu terlihat seperti buku diary di tangan kanannya. Rain menatap kedua sahabatnya dengan tatapan tak terbaca.


“Ya! Itu bukunya!” Ujar Alisha dengan antusias. Ia lalu mendekati Rain. Sedangkan, Ara pergi ke sisi lainnya saat netranya menemukan sesuatu yang mereka cari sedari tadi.


Ara mengambil benda itu dan tersenyum puas mengetahui papan monopoli itu tidak rusak maupun kotor. Benda itu terbungkus plastik bening membuatnya terlindung dari debu. Ia lalu berniat memberitahukan temuannya pada kedua sahabatnya.

__ADS_1


“Hei, kalian! Cepat kemari. Aku sudah menemukan papan monopolinya!" Teriak Ara membuat Rain dan Alisha terkejut. Mereka baru saja akan membuka isi buku diary itu.


“Sungguh?” teriak Rain batal membuka buku itu dan berlalu meninggalkan Alisha. Alisha mendengus kesal dan berniat menyusul mereka. Namun, dirinya tak sengaja menyenggol box berukuran sedang.


Box tersebut terjatuh membuat isinya yang berupa kumpulan foto berserakan di samping kakinya. Alisha menghembuskan napasnya kesal dan mulai untuk membereskan foto-foto itu. Saat ia tengah memungut benda-benda itu, matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal. Seketika netranya melebar terkejut melihat foto tersebut.


“Buku apa itu?” Suara Ara menyadarkan Alisha dari keterkejutannya. Ia bergegas menghampiri kedua sahabatnya untuk memperlihatkan foto itu.


“Entahlah, Ra. Aku dan Alisha belum membukanya. Tunggu! Dimana Alisha?" Tanya balik Rain saat dirinya sadar tak ada Alisha di antara mereka.


"Kalian! Lihat ini!" Dengan tiba-tiba, Alisha sudah berada di samping Rain membuat gadis itu berteriak terkejut.


"Astaga! Kau membuatku hampir jantungan, Al!" Sungutnya seraya mengelus dadanya bermaksud membuat detak jantungnya kembali normal.


"Ada apa?" Tanya Ara tanpa menghiraukan Rain. Ia beralih memperhatikan selembar foto yang dipegang Alisha dengan kening berkerut.


Dalam foto itu, terdapat dua orang dewasa. Seorang pria dan seorang wanita. Sepertinya ia kenal dengan wanita yang ada di foto itu. Ia mencoba mengingat dan berhasil. Saat ia ingin menyampaikan hal yang baru saja dipikirkannya, Rain menyela dengan teriakannya.


“Eh? Al! Itu foto mamahmu, bukan? Dia bersama.. Pria lain,” teriak Rain heboh tepat di telinga Alisha, membuat gadis itu menjauhkan kepalanya dan mendelik kesal ke arah Rain. Ara yang kaget dengan teriakan Rain reflek menjitak kepala Rain membuat sang korban mengaduh kesakitan.


"Ini sakit, Ara!" Rutuknya kesal yang dibalas delikn kesal dari dua gadis lainnya.


"Telingaku lebih sakit mendengar teriakanmu, bodoh!" Sungut Alisha mengusap-usap kasar telinganya. Ara menganggukkan kepalanya tegas pertanda dia setuju dengan perkataan Alisha.


Rain yang menyadari kelakuannya hanya tersenyum meminta maaf. "Maaf, hehehe," cicitnya yang dibalas dengan tatapan datar dari keduanya.


“Bukan.. Seingatku, dia adalah ayah dari Alva” ucap Alisha.


“HAH?!” teriak Ara dan Rain bersama. Alisha yang mendengarnya sontak menjitak kepala keduanya bergantian. Ara dan Rain refleks mengaduh hanya menyengir malu seraya mengusap dahi masing-masing. Oh ayolah! Jitakan maut Alisha adalah yang terburuk. Itu sangat sakit, kalian tahu?


"Dasar lebay," sarkas Alisha.


"Rain, buka buku diary itu! Siapa tahu ada petunjuk mengenai foto ini di dalamnya," perintah Alisha menunjuk diary yang dipegang Rain.


Buku diary bermotif polos dengan sampul biru muda itu masih terlihat terawat meskipun di sampul bagian depannya sudah kusam. Dengan perlahan, Rain membuka sampul depan dari buku tersebut. Terlihat sebuah tulisan latin indah dengan goresan sangat tipis menyapa ketiga nya.


“Salsa Bianti,” ujar mereka bertiga mengeja nama yang tergores indah di halaman depan buku diary tersebut. Sontak mereka saling menatap. Berucap melalui tatapan masing masing. Seolah mengerti arti dari tatapan yang mereka lakukan, Rain dengan segera membalik halaman selanjutnya dari diary tersebut.


***⃟ ⃟━━━━━━ೋ๑꧁꧂๑ೋ━━━━━━ ⃟ ⃟


2003-04-16, 12.12 PM - Bandung


͝ ꒦ ͝͝͝ ꒷ ͝ ꒦ ͝͝͝ ꒷ ͝ ꒦ ͝͝͝ ꒷ ͝ ꒦ ͝͝͝ ꒷ ͝ ꒦ ͝͝͝ ꒷ ͝ ꒦ ͝͝͝ ꒷ ͝ ꒦ ͝ ꒦**


"Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Telah hadir satu malaikat kecil yang amat indah di hidupku. Seorang gadis kecil yang sangat cantik. Dengan kulit putih kemerahan dan mata besarnya itu seakan-akan mampu menghilangkan semua rasa sakitku selama ini. Sungguh, aku sangat berterima kasih pada-Mu Tuhan. Aku berjanji akan selalu menjaganya*.

__ADS_1


⃟ ⃟━━━━━━ೋ๑꧁꧂๑ೋ━━━━━━ ⃟ ⃟


“Al, bukankah itu tanggal lahirmu?” Rain menghentikan bacaannya dan menatap ke arah Alisha yang tengah terpaku di tempatnya.


“Al? Kau tidak apa-apa?” panggil Ara khawatir, namun Alisha masih terpaku.


“Al! Jangan membuatku takut.” Ujar Rain dengan nada takut melihat Alisha yang masih terdiam di tempatnya. Ara menyentuh bahu Alisha pelan dan menggoyangkan tubuh Alisha dengan perlahan. Menyadarkan Alisha dari lamunannya saat ini.


“OH?!?” Alisha tersentak dari lamunannya. Ia menatap kedua temannya dengan tatapan yang sulit diartikan namun sarat akan kesedihan.


“Are you okay?” tanya Ara memastikan lagi.


“Ya. Aku baik-baik saja,” Alisha tersenyum simpul dan mengangguk pelan. Meyakinkan kedua temannya untuk tidak mengkhawatirkan dirinya. Namun Ara dan Rain tahu bahwa pada kenyataannya, Alisha tidak sedang baik baik saja. Gadis itu pasti tengah merasa sedih.


“Bisa aku lanjutkan?” Tanya Rain meminta izin pada Alisha, ia tidak mau dengan ia melanjutkan cerita ini, maka sahabatnya akan terluka lebih dalam lagi. Alisha hanya mengangguk kecil, mengiyakan pertanyaan Rain. Namun, saat Rain akan melanjutkan ke halaman selanjutnya, Ara menghentikan kegiatannya.


“Baca halaman terakhir. Siapa tahu itu bisa menjadi petunjuk bagi kita untuk menemukan tante Salsa,” Ujar Ara menginstrupsi kegiatan Rain. Rain mengangguk mengerti dan bergerak mencari halaman terakhir diary tersebut.


***⃟ ⃟━━━━━━ೋ๑꧁꧂๑ೋ━━━━━━ ⃟ ⃟


2009-04-16, 00.00 PM - Bandung


͝ ꒦ ͝͝͝ ꒷ ͝ ꒦ ͝͝͝ ꒷ ͝ ꒦ ͝͝͝ ꒷ ͝ ꒦ ͝͝͝ ꒷ ͝ ꒦ ͝͝͝ ꒷ ͝ ꒦ ͝͝͝ ꒷ ͝ ꒦ ͝ ꒦**


Hari ini adalah hari ulang tahun putri kecil kesayanganku. Tak kusangka, malaikat kecilku akan tumbuh secepat ini. Ia tumbuh menjadi gadis yang amat pintar dan cantik. Namun, aku tak tahu apakah akan bisa bertemu dengannya lagi setelah semua yang telah aku lakukan padanya. Aku tahu, aku belum bisa menjadi ibu yang baik. Namun di relung hatiku yang terdalam, aku akan selalu menyayanginya Tuhan.


Maafkan mama, Alisha. Mungkin ini cara yang salah, tapi hanya ini yang bisa mama lakukan agar tidak ada yang terluka lebih dalam lagi. Mama sudah siap jika nantinya kamu akan membenci mama seumur hidup kamu. Mama terpaksa mengambil jalan ini karena ini yang terbaik bagi semuanya. Mama harap kamu akan hidup bahagia dengan papamu, ya, sayang. Jaga dia, jangan memusuhi dan membencinya karena dia tidak bersalah. Mama yang salah. Jaga pula Alena, dia masih terlalu polos untuk mengerti semua ini.


Mama sayang kalian*...


⃟ ⃟━━━━━━ೋ๑꧁꧂๑ೋ━━━━━━ ⃟ ⃟


Tubuh Alisha merosot ke bawah dan jatuh terduduk. Air matanya sudah tak terbendung lagi. Dadanya sungguh sesak kala mengetahui sedikit kebenaran dari ibunya. Ia memukul-mukul kasar dadanya berusaha menghilangkan sesak yang semakin menjadi-jadi. Oh ayolah! Dia tak pernah secengeng ini setelah 10 tahun berusaha menjadi pribadi yang kuat. Ia tak pernah lagi menunjukkan sisi rapuhnya, terkecuali kedua sahabatnya ini.


"Hiks.. Ini sakit," rintihnya masih memukul-mukul dadanya keras. Ara dan Rain yang mengerti segera bergerak memeluk tubuh rapuh itu dengan sangat erat berusaha memberikan ketenangan dan kekuatan pada gadis itu. Mereka serentak mengusap punggung dan kepala Alisha pelan. Membiarkannya mengeluarkan seluruh beban yang ia pendam selama ini.


                                        🌹🌹🌹


                                           TBC


                                                              @The_granat


                                                              @garnissr


                                                              @theodra_ara

__ADS_1


                                                              @leesona_09


                                         


__ADS_2