
"Alishaaa!!!"
Merasa di panggil namanya, seorang gadis tinggi berkacamata menoleh mencari pelaku yang memanggilnya. Dilihatnya perempuan yang juga berkacamata namun lebih pendek darinya berlari sembari melambaikan tangannya diikuti gadis lain yang hanya menepuk jidatnya kesal.
"Al, berhenti. Aku lelah berlari. Kau tau kan aku tak suka berlari?" Sungut gadis berkacamata tersebut saat sampai di samping Alisha. Ia membenarkan letak tas di punggungnya yang sempat melorot dari bahunya.
"Ada apa?" Tanyanya acuh.
"Tak ada apa-apa. Kami hanya ingin berjalan bersama denganmu ke kelas. Ayo!" Lanjutnya lalu menggenggam tangan kedua perempuan lainnya dan menariknya menuju ke kelas.
"Ini masih jam setengah sepuluh pagi. Tumben sekali kau sudah berangkat?" Celetuk satu-satunya gadis yang tidak memakai kacamata diantara ketiganya, Rain.
"Bukankah bagus jika aku berangkat pagi? Kau mengejekku, Rain." Sungut Alisha memandang Rain sebal.
"Aku tak mengejekmu, Alisha. Aku hanya mengatakan kebenaran saja," kekeh Rain. Alisha yang mendengarnya hanya memutar bola matanya jengah.
"Ya, ya. Terserahmu saja. Lagipula, Ara berangkat lebih siang dariku."
Ara yang sedari tadi diam memandang Alisha kesal. "Hei! Apa maksudmu? Aku selalu datang ke sekolah lebih pagi daripada kalian, asal kalian tau." Ucapnya tak terima dengan tuduhan Alisha. Alisha dan Rain hanya terkekeh menanggapi ucapan Ara.
Ketiganya kembali fokus berjalan menuju kelas mereka. Jarak dari gerbang sekolah menuju kelas mereka lumayan jauh, mengingat sekolah mereka yang luas.
Rain mengedarkan pandangannya ke arah lapangan yang tengah mereka lewati. Tiba-tiba netra nya menangkap seorang laki-laki yang tak asing baginya dan kedua sahabatnya.
"Al, coba lihat. Itu Rayhan!" Celetuknya membuat Alisha menoleh ke arah Rain yang kini tengah menatap ke arah lapangan. Ia pun mengikuti arah pandang Rain dan melihat seorang siswa yang tengah bercengkrama dengan seorang guru.
Rayhan adalah teman sekelas Alisha. Namun, tidak dengan Ara dan Rain. Mereka bertiga berada di kelas yang berbeda. Namun, perbedaan kelas itu tak membuat Ara dan Rain tak mengetahui apa yang terjadi pada Alisha. Ara dan Rain sangat tahu jika ia menyukai pemuda tinggi tersebut. Namun sayangnya, Rayhan adalah laki-laki yang cuek pada sekitarnya mirip seperti Alisha.
__ADS_1
"Abaikan saja," sahut Alisha cuek. Namun baik Ara maupun Rain tahu jika gadis itu tengah menyembunyikan senyumnya.
"Sungguh! Rasanya ingin kupanggil Rayhan ke sini!" Sahut Rain seraya menggoyangkan bahu Alisha heboh.
"Ahh.. Kau tersipu, Alisha. Lihat! Pipimu memerah!" Girang Ara. Ia ikut menarik-narik seragam Alisha bermaksud menggodanya.
"Alisha yang mendengarnya sontak memegang pipinya. Ia merasakan panas di sekitar pipinya. Ia cukup pintar untuk tahu bahwa apa yang dikatakan Ara memang benar. Ia pun melotot pada temannya itu lalu segera pergi meninggalkan mereka yang tengah tertawa puas.
"Diamlah kalian!"
Tanpa mereka sadari, laki-laki yang tengah mereka bicarakan melihat interaksi mereka. Laki-laki itu mendengar percakapan ketiga gadis tersebut. Dan sebuah seringaian licik muncul di wajahnya. 'Dapat kau, Rubah Cilik'
🌹🌹🌹
Bel tanda istirahat berbunyi. Rain dan Ara mendatangi kelas Alisha karena mereka tahu, Alisha tak mempunyai teman di kelas itu. Gadis itu tak mudah berbaur dengan yang lainnya. Namun, ada satu gadis yang cukup dekat dengannya. Gadis itu bernama Shanin. Akan tetapi, Shanin jarang berangkat. Oleh karena itu, dirinya lebih banyak menyendiri di dalam kelas.
Mereka berdua masuk ke kelas Alisha dan mendekati mejanya yang berada di sebelah jendela. Ara menepuk pundak Alisha pelan bermaksud membangunkan gadis itu. Alisha terbangun dan menatap mereka sedih namun tak mengatakan apa-apa. Ara yang paham kondisi Alisha segera mengajak kedua temannya keluar dari kelas tersebut.
"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Ara ketika mereka telah duduk di bangku yang menghadap lapangan.
Alisha yang mendengarnya menolehkan kepalanya bingung. "Kau bertanya padaku?" Tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Tentu saja, bodoh." Sungut Ara. Alisha yang mendengarnya mendengus kesal. Ia menggerakkan tubuhnya tidak nyaman. Tubuhnya yang diapit kedua temannya merasa sesak karena Ara san Rain duduk sangat dekat dengan dirinya.
"Kalian, minggir sedikit. Aku sesak," protesnya membuat kedua gadis lainnya segera menggeser duduknya sedikit jauh. "Nah, sudah. Ayo cerita!" Ucap Rain semangat.
Alisha menghela napasnya kasar. Ia mengingat kembali kejadian di dalam kelasnya beberapa menit yang lalu.
"Kondisi nenek memburuk. Aku baru saja mendapat pesan dari dokter yang tengah merawatnya. Aku bingung harus apa sungguh!" Alisha mengerang frustasi. Ia takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada neneknya. Keluarga satu\-satunya yang ia miliki. Ia tak ingin kehilangan anggita keluarganya lagi. Tidak untuk yang ketiga kalinya. Tidak akan.
__ADS_1
Ara dan Rain yang mendengarnya seketika ikut sedih. Mereka tahu Alisha hanya hidup bertiga dengan nenek dan adiknya. Dan sekarang, neneknya harus dirawat di rumah sakit karena kondisi jantungnya yang lemah. Mereka berusaha menghibur Alisha dan menguatkannya.
"Kamu yang semangat ya? Aku yakin nenekmu pasti sembuh. Aku dan Ara akan selalu mendampingimu, kami janji." Hibur Rain dan diangguki oleh Ara. Ia ikut memegang bahu Alisha untuk memberinya kekuatan agar bisa menghadapi masalahnya.
"Terima kasih” jawab Alisha menyunggingkan sedikit senyumannya.
“Nah! Begitu lebih baik. Aku lapar. Ayo ke kantin! Ara akan mentraktir kita” celetuk Rain dengan polosnya.
“Heol! Enak saja. Aku tak pernah bilang seperti itu,” balas Ara dengan kesal.
“Hilih! Kau terlalu serius, Nak!” ledek Rain dengan kekehannya. Ara yang mendengarnya hanya memutar bola matanya jengah dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
Rain memang salah satu temen Alisha yang sangat jahil dan suka membuat teman-temannya marah. Lihat saja Rain mengejar Ara dan mengejeknya lagi. Hingga Ara merasa jengkel lalu memukul bahu Rain keras. Namun seolah tidak merasa jengah, Rain kembali meledek Ara dengan tingkah konyol nya.
Rain bahkan tidak perduli dengan tatapan murid murid lain yang menatap ke arah dirinya. Ia terlalu cuek untuk menanggapi hal tidak berguna seperti itu. Bukan hanya Rain, tetapi dalam kamus hidup mereka bertiga mereka tidak perduli dengan pendapat orang lain. Toh mereka hidup bukan hanya untuk mendapat pujian dari mereka bukan. Benar benar satu hati. Sedangkan Ara yang awal nya merasa kesal kini menjadi tertawa terbahak bahak melihat tingkah konyol Rain.
Alisha merasa beruntung walaupun banyak masalah yang menimpanya namun, Alisha masih memiliki sahabat yang selalu ada disisinya dan selalu menghiburnya meskipun kadang membuat dirinya terkena tekanan tinggi.
🌹🌹🌹
TBC
@The_granat
@garnissr
@theodra_ara
__ADS_1
@lee_sona09