Al2aint

Al2aint
Bagian 4


__ADS_3

Mendapat informasi jika para guru sedang rapat seperti mendapat pengumuman menang undian bagi para siswa SMA Galaksi. Semua siswa tengah asyik menikmati jam kosong mereka, sama halnya dengan Ara dan Rain. Rain yang seperti biasanya mengisi jam kosong dengan membaca buku sementara Ara hanya melamun dan memikirkan sesuatu. Rain merasa ada yang aneh dengan Ara yang hanya diam dan melamun seperti orang kerasukan. Tidak seperti biasanya, yang akan memanfaatkan jam kosong seperti ini dengan belajar atau pun mengganggu dirinya.


Ara merupakan murid terpandai di sekolah ini bahkan menjadi kesayangan para guru. Setiap hari dia selalu menyempatkan waktu untuk membaca buku atau mengerjakan soal-soal. Layaknya botol dan tutupnya, Ara tidak dapat dipisahkan dari buku yang dapat membuat orang lain ingin muntah saat melihatnya.


“Ra?” Panggil Rain. Namun, Ara tidak menyahut dan masih tetap melamun.


“Ara!?!” teriak Rain tepat di telinga Ara. Membuat si empunya berjengit kaget.


“Heol! Apa yang kau lakukan?!? Kau menyakiti telingaku. Kalau terjadi masalah pada telingaku ini, tunggu saja telingamu yang akan menjadi gantinya!” sungut Ara sambil mengusap telinganya kasar.


“Sadis sekali? Sorry. Lagipula, kau tidak menggubris sama sekali saat kupanggil." Ucap Rain sambil menyengir lebar.


“Aya naon, Nyai?*” tanya Rain, menggunakan bahasa sunda yang sudah menjadi kebiasaan Rain.


“Tak apa, aku cuma khawatir dengan Alisha. Aku takut Sheila tidak terima dan bertindak lagi padanya ketika kita tidak bersamanya. Kita semua tau, siapa pun yang mencari masalah dengannya tidak akan pernah selamat. Kecuali keluar dari sekolah ini.” jelas Ara.


“Hmm... I see, Kukira kau tengah kerasukan.” Ucap Rain dengan terkekeh.


“Heol! Kau pasti bercanda.” Sungut Ara dengan memutar bola matanya.


“Baiklah, ayo." Ajak Rain bangkit dari bangkunya.


“Kemana?” tanya Ara mengernyit heran.


“Ke ruang mayat! Tentu saja ke kelas Alisha, lah.” jawab Rain kesal.

__ADS_1


“Untuk apa?” tanya Ara dengan polosnya.


“Astaga, Ara? Inikah murid terpintar di sekolah kita? Kau bilang kau khawatir dengan Alisha. Tentu kita harus mendatanginya!” jawab Rain menarik tangan Ara keluar dari kelas.


Saat sampai di lorong yang menuju ke kelas Alisha. Tiba-tiba mereka melihat kerumunan siswa yang memadati lorong tersebut. Mereka menyerobot ke dalam kerumunan itu dan terkejut mendapati Alisha yang sedang dipojokkan oleh Sheila dan gengnya. Mereka melihat Sheila akan menampar pipi mulus Alisha.


Tak tinggal diam, Ara dan Rain segera mendekat dan akan menahan tangan itu tapi kalah cepat dengan gerakan tangan Alisha. Tatapan dingin Alisha tepat menusuk ke mata Sheila membuat gadis itu sedikit gentar. Bibirnya tetap tersenyum tipis. Sheila melihat ekspresi yang menurutnya mengerikan itu dan berusaha berontak melepaskan genggaman tangan Alisha yang begitu kuat dan berhasil.


“Beraninya keroyokan? Dasar lemah." ucap Rain santai sambil bersedekap.


“Ck! bocah ingusan ini, lagi." ucap salah satu teman Sheila.


“Huh? ingusan? Ck! kakak punya mata tidak? Lihat hidungku baik-baik. Pakai matamu untuk melihat bukan berjalan!” celetuk Rain sambil menekan hidungnya ke belakang dan dihadiahi dengan pelototan tajam dari kakak kelas tersebut.


“Untuk apa kalian kesini?! Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan gadis cupu itu, bukan kalian.” ucap Sheila tidak suka akan kehadiran Ara yang hanya terdiam menatapnya tajam.


“Lagipula, kau bilang urusanmu dengan Alisha? Tapi mengapa kau membawa serta para pembantumu?” Lanjutnya langsung dihadiahi pelototan para pengikut Sheila.


“Jaga mulutmu, Sialan!” Semprot salah satu pengikut Sheila mendorong bahu Rain kasar.


“Wow, wow, jaga tanganmu. Kita perempuan bukan lelaki. Jadi, tetap gunakan mulut untuk bertengkar, bukan tangan.” Ucap Ara menepis kasar tangan perempuan tadi sekaligus menyindir kelakuan Sheila.


“Apa kau tidak punya sopan santun, huh? Aku senior di sini, jaga sikapmu!” cetus Sheila dengan sombongnya. Rain yang berniat untuk menyahut ucapan Sheila terhenti, melihat Ara yang sudah mulai angkat bicara.


“Perlu kakak tahu, kita sudah menjaga sikap dengan kakak yang berstatus lebih senior dari kita. Tapi, melihat sikap kakak yang semakin semena-mena, sepertinya bersikap sopan sudah tidak perlu dilakukan lagi.” ucap Ara yang makin membuat Sheila geram.

__ADS_1


“Ck! Jangan hanya karena kau anak kepala sekolah, kau bisa bersikap semena-mena seperti ini. Aku bisa saja meminta papaku untuk berhenti menjadi donatur utama sekolah ini. Tapi itu takkan akan terjadi karena aku tidak ingin menjadi seorang pengecut yang hanya mampu memanfaatkan kekuasaan orang lain seperti kau, Kak Sheila yang terhormat,” ujar Ara tepat mengenai sasaran. Merasa kalah berdebat, Sheila yang malu memilih untuk pergi dari sana. Ia menatap geram pada Ara yang balik menatapnya dengan senyum kemenangan.


“Ayo, guys! Kita pergi dari sini. Tunggu saja pembalasanku.” Ancam Sheila berniat pergi dari sana secepatnya. Namun, Alisha menahan lengannya sembari tersenyum tipis. Sheila yang terkejut segera berontak berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Alisha yang kuat namun gagal.


“Apa yang kau lakukan, cupu?! Lepaskan tanganmu dariku, Sialan! Hei! Apa yang kalian lakukan?! Cepat bantu aku!” Berontaknya marah menyuruh para pengikutnya untuk membantunya melepaskan cengkraman Alisha yang bukan main kuatnya. Ia yakin lengannya sudah memerah. Para pengikut Sheila berniat menolong Sheila, namun tangan Alisha terangkat mengisyaratkan untuk tidak ikut campur. Wajahnya mendekat pada Sheila dan membisikkan kalimat yang membuat gadis itu membeku seketika.


“Anak haram sebaiknya diam saja.” Alisha berbisik dengan sangat pelan.


Alisha pergi meninggalkan kerumunan itu dengan tatapan datar. Tak ada yang mendengar ucapannya selain dirinya sendiri dan Sheila. Rain dan Ara saling berpandangan dengan tatapan bingung. Namun mereka seolah tidak peduli dengan kejadian itu. Karna yang mereka pikirkan sekarang adalah Alisha. Mereka pun lebih memilih mengejar Alisha yang sudah jauh dari kerumunan itu.


Sedangkan Sheila yang tersadar, mengedarkan pandangannya ke kerumunan di sekitarnya dan berteriak dengan muka memerah marah membuat para siswa takut dan segera membubarkan diri.


“Apa yang kalian lihat?!!” Ujar Sheila dengan berteriak. Sedangkan anggota geng nya hanya terdiam takut. Menatap Sheila yang kini tengah meluapkan emosi nya yang entah karena apa. Entah itu karena adik-adik kelas mereka tadi, atau karena bisikan yang diucapkan oleh gadis cupu tadi. Mereka tidak tau dan tidak ingin tau. Toh Sheila juga sepertinya tidak ingin menceritakan hal itu pada mereka. Jadi untuk apa mereka pikirkan. Mereka hanya perlu diam dan menunggu Sheila meredakan emosi nya kini.


*aya naon nyai \= ada apa nyonya


                                        🌹🌹🌹


                                          TBC


                                                              @The_granat


                                                            @garnissr


                                                            @theodra_ara

__ADS_1


                                                                @lee_sona09


                                         


__ADS_2