Al2aint

Al2aint
Bagian 15


__ADS_3

Hari ini adalah hari sabtu. Setelah kejadian malam kemarin dimana ia dan ayahnya berbaikan, esoknya ia meminta kedua sahabatnya untuk datang ke rumahnya. Mereka akan membahas perihal hacker yang kemarin Alisha sempat tanyakan pada keduanya.


Ara dan Rain sampai di rumah Alisha bersamaan. Mereka memang berangkat bersama dengan Ara yang menjemput Rain terlebih dahulu. Alisha tersenyum saat membukakan pintu untuk mereka dan memintanya segera masuk.


“Astaga, Al! Kau serius ingin memelihara anak kucing itu?” tanya Rain bergidik ngeri saat melihat Alisha yang tengah menggendong anak kucing di pelukannya.


“Tentu saja. Lagipula dia sangat lucu dan lincah. Dia akan menemaniku saat aku kesepian,” sahut Alisha sambil mengelus kucing tersebut.


“Dasar aneh,” ucap Rain acuh. Ia segera berlari menuju kamar Alisha demi menghindari anak kucing itu.


“Hei, Rain. Kaulah yang aneh, bagaimana bisa gadis kuat dan pemberani sepertimu takut dengan kucing lucu seperti ini?" Ledek Alisha dengan kekehannya. Ara berjalan di sampingnya seraya membelai kucing yang ada di dekapan Alisha.


“Aku tidak takut! Aku hanya geli saja melihatnya," sungut Rain membela dirinya. Ia sudah terduduk di atas kasur setelah meletakkan tasnya di atas meja belajar milik Alisha.


“Heol! Mengaku saja jika sebenarnya kau takut dengan kucing. Tidak ada yang akan menertawaimu,” ucap Ara sambil terkekeh.


“Hilih! Lihatlah! Kau bahkan sedang menertawaiku, Ra!" Sungut Rain melemparkan Kiki yang ada di sebelahnya. Alisha yang melihatnya segera tanggap menangkap Kiki dengan anak kucing yang masih ada di dekapannya. Setelah berhasil menangkap Kiki dengan baik, ia beralih menatap Rain dengan tatapan membunuhnya membuat gadis itu menciut takut. Rain menggumamkan kata maaf seraya menyembunyikan wajahnya di bantal hingga menyisakan kedua matanya yang melihat Alisha takut.


Alisha mendekati Rain dan segera meletakkan boneka kesayangannya di sebelah Rain. Setelahnya, ia mendekatkan anak kucing yang ada dalam dekapannya ke arah Rain. Alhasil, Rain berteriak menjauh dari jangkauan kucing yang ingin menggapainya. Gadis itu terus mundur hingga terjatuh dari kasur menimbulkan suara debuman yang cukup keras. Mulutnya berteriak kesakitan saat merasakan pantatnya mencium lantai dingin. Ara dan Alisha yang melihatnya


"Akh! Huaa.. sakit! Mommy!" Rengeknya seraya bangun berdiri dan mengusap pantatnya kasar. Ia melihat Alisha dengan tatapan kesal.


"Alisha! Kau harus bertanggungjawab! Lihatlah! Pantatku sakit. Huaa.." rengutnya menatap Alisha sengit. Membuat keduanya mengeraskan tawanya. Bahkan, Alisha tertawa hingga jongkok dan memegangi perutnya. Anak kucing yang ada dalam dekapannya, ia letakkan di sebelahnya membuat anak kucing itu duduk melihat tingkah majikan barunya.


“Berhenti menertawaiku,bodoh! Lagipula, Al. Kau menemukan kucing itu dalam keadaan kotor. Apa kau tak takut jika kucing itu membawa virus atau bakteri? Kau bisa tertular, Al. Dan jika kau sampai tertular dan kau sakit lalu masuk rumah sakit, kau tidak akan bisa bertemu kita," jelas Rain seraya bergidik ngeri.


"Tunggu, bagaimana kucing itu terkena kutukan atau dia kucing jelmaan yang sedang mencari tumbal?” cerocos Rain sementara Ara dan Alisha hanya memutar bola mata mereka.


“Ck, kau terlalu banyak menonton film, Rain” ucap Alisha jengah.


“Jika memang benar kucing itu mencari tumbal, aku dan Alisha akan dengan senang menjadikanmu tumbal, Rain.” celetuk Ara sambil terkekeh.


“Enak saja, jika kalian sampai berani melakukan itu, mas Thor-ku tidak akan diam. Liat ak.. ALISHA HENTIKAN!!!” teriak Rain karena Alisha melempar anak kucing itu ke arah Rain sehingga Rain ketakutan dan berlari ke pojok kamar sementara Alisha dan Ara tertawa puas.


Beberapa menit setelahnya, Ara dan Alisha berhenti tertawa melihat Rain yang merajuk. Ara dan Rain merebahkan diri di kasur


sementara Alisha duduk di kursi belajar miliknya ambil memangku anak kucing itu.


“Rain apakah kau masih marah padaku?” tanya Alisha sambil terkekeh sementara Rain hanya diam saja.


"Jangan marah, Rain. Alva adalah kucing yang baik," lanjut Alisha. Perkataannya membuat kedua sahabatnya menoleh terkejut ke arahnya.


"Alva? Bukankah itu nama sahabat masa kecilmu? Lagipula, memangnya kucing itu jantan?" Tanya Ara penasaran. Alisha yang mendengar peetanyaan Ara menoleh pada gadis itu dan mengernyitkan keningnya.


"Tentu saja dia jantan. Kau mau lihat?" Ujarnya asal.


"Heol! Itu tak perlu. Tapi, mengapa kau memberi nama kucing itu dengan nama 'Alva'?" Tanya Ara ulang. Alisha yang mendengarnya menatap ke langit-langit kamarnya seraya berpikir.


"Eum.. Entahlah. Aku hanya ingin saja," sahutnya asal. Kedua temannya hanya memutar bola mata mereka malas mendengar jawaban alisha.

__ADS_1


Beberapa menit terdiam, Rain menghembuskan napasnya kasar seraya bangkit dari acara tidurannya.


"Ayo, makan! Aku lapar.." rengeknya pada Alisha dan Ara. Kedua sahabatnya yang mendengar rengekannya hanya tertawa geli.


"Kurasa, kita harus makan siang di luar. Aku tak memiliki makanan di rumah," sahut Alisha. Ia meletakkan Alva -- kucingnya -- di kandang yang ada di pojok kamar miliknya. Rain hanya melihat gerak-gerik Alisha was-was.


"Baiklah, ayo!" Ujar Ara yang sudah bangkit dari kasur Alisha. Mereka pun pergi keluar untuk mencari makan.


                                          🌹🌹🌹


Saat ini, mereka sedang makan siang di luar karena tidak ada makanan yang bisa dimakan oleh mereka di rumah Alisha. Mereka memilih untuk makan di rumah makan yang ada di komplek perumahan tempat Alisha tinggal. Rain masih kesal dengan Alisha karena kejadian tadi.


“Sudahlah Rain, Alisha hanya bercanda kenapa kau menganggapnya serius? Biasanya saja kau tidak pernah serius." ujar Ara.


“Heh! Itu adalah masalah serius, kau tahu? Bagaimana jika aku punya riwayat jantung dan mati." sungut Rain sambil memajukan bibirnya.


“Semoga saja." celetuk Ara.


“ARA!” bentak Rain yang membuat semua orang di rumah makan tersebut terlonjak kaget dan menatap mereka kesal.


“Sudahlah, Rain maafkan aku, ya? Okay?” mohon Alisha.


“Aku akan memaafkanmu. Tapi, dengan syarat kau harus mentraktir makananku ini.” ucap Rain dengan gaya sombongnya.


“Heol! Bilang saja jika kau ingin makan dengan gratis!” sahut Ara memutar bola matanya.


“Heol! Kenapa Ara?” sungut Ara.


“Kalau Ara yang akan mentraktirku, dengan senang hati aku akan memaafkanmu, Alisha.” ucap Rain.


“Tidak! Kenapa harus aku? Bukankah kalian yang sedang bermasalah?” kesal Ara.


“Maka dari itu, Ra. Kau sebagai penengah antara kita, harus membantu kita agar kembali berbaikan. Jadi kau juga harus bertanggung jawab. Benar begitu, Al?” tanya Rain pada Alisha meminta persetujuannya.


“Yup! Betul sekali.” ucap Alisha mengiyakan ucapan Rain.


“Heol! Sejak kapan ada pernyataan seperti itu?” sungut Ara.


“Aku baru saja mengatakanya. Jadi itu bertanda jika pernyataan itu memang ada.” sahut Rain. Sedangkan, Alisha sudah terkiki geli.


“Ayolah, Ara! Sekali saja, ya?" bujuk Alisha.


“Heol! Sejak kapan kalian bersengkokolan untuk menyerangku?" kesal Ara sementara Alisha dan Rain hanya tertawa puas.


“Eh, aku akan pulang ke Bandung minggu ini. Keadaan nenek membaik. Jadi, aku perlu untuk membawa barang-barangnya yang tertinggal di Bandung," jelas Alisha.


Sebelum neneknya sakit dan harus dirawat di rumah sakit, neneknya dan Alena memang tinggal di Bandung, sementara dirinya tinggal di Jakarta demi memenuhi permintaan ayahnya yang memaksanya untuk bersekolah di sekolahnya sekarang. Awalnya, ia hanya menyewa kamar kost untuk dirinya sendiri. Namun, setelah neneknya sakit dan dia meminta pada ayahnya agar neneknya dirawat di Jakarta, Alisha akhirnya membeli sebuah rumah minimalis untuk dirinya sendiri dan Alena tinggal.


“Syukurlah. Lalu bagaimana dengan pencarian mamahmu, Al?” tanya Ara.

__ADS_1


“Ya... Menundanya.” ucap Alisha ragu.


“Berap-” ucapan Ara terpotong omongan Rain.


“Bandung?! Kau serius, Al? Jadi, asalmu dari Bandung?!” tanya Rain antusias. Dirinya bahkan sudah berdiri membuat beberapa pasang mata melihat ke arahnya aneh.


“Ho-oh,” jawab Alisha singkat.


“Wah! Keren sekali! Aku tidak pernah ke Bandung sama sekali. Banyak yang bilang jika disana sangat sejuk dan memiliki pemandangan indah. Apa itu benar, Al?" tanya Rain heboh. Ia sudah duduk saat ini.


“Ya indah sekali” ucap Alisha lagi-lagi singkat.


“Wah serius? Al, bolehkah kami ikut denganmu?” tanya Rain antusias.


“Kita?” tanya Ara bingung.


“Iya, kita. Aku dan kau, Ara.” ucap Rain ikut bingung.


“Heol! Aku tak pernah mengatakan akan ikut.” ucap Ara acuh.


“Astaga, Ara! Kau harus ikut! Hukumnya wajib, kau tahu?" Paksa Rain.


“Aku tidak mau, kenapa kau memaksaku untuk ikut?” tanya Ara bersikeras.


“Karena aku harus selalu bersamamu dimanapun dan kapanpun, asal kau tahu. Kita bagaikan bulan dan matahari yang walaupun berbeda, namun saling melengkapi." ucap Rain layaknya orang yang sedang berpuisi.


“Heol! Apa yang kau bicarakan?” sahut Ara bergidik ngeri sementara Alisha hanya tertawa geli melihat tingkah sahabatnya ini.


“Rain, apa kau baik-baik saja? Atau kau baru saja terbentur tiang, hah? Darimana kau belajar menjadi seorang yang romantis?” tanya Alisha dengan tawanya.


“Entahlah. Aku hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh para kekasihku. Mereka berkata jika kata-kata seperti itu bisa membujuk seseorang. Jadi aku mencobanya, bagaimana? Apakah itu berhasil?” papar Rain polos sementara Alisha sudah tertawa keras.


“Aku tak tahu jika aku memiliki teman yang bodoh," sarkas Ara memutar bola matanya.


“Sudahlah! Ayo kita lanjutkan mencari Mamahku sebelum aku tidak bisa berjalan karna aksi bodohmu itu, Rain” ujar Alisha sambil menetralkan tawanya walaupun perutnya sakit karena tertawa.


                                        🌹🌹🌹


                                          TBC


                                                              @The_granat


                                                            @garnissr


                                                            @theodra_ara


                                                                @leesona_09


                                         

__ADS_1


__ADS_2