Al2aint

Al2aint
Bagian 14


__ADS_3

Alisha menceritakan semuanya kepada sang ayah yang penasaran mengenai kapan dan dimana dirinya bertemu dengan istri barunya.


Setelah menceritakan semuanya, Jonathan hanya tersenyum menatap Alisha dengan pandangan sayang dan penuh kerinduan. Ia tak menyangka bahwa gadis kecil kesayangannya kini sudah beranjak dewasa. Ia bahkan menyayangkan dirinya yang tidak dapat melihat pertumbuhkan gadis kecilnya itu karena keegoisan sikapnya dulu.


Jonathan mengusap lembut kepala Alisha, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alena yang masih duduk di brankar sang nenek, yang juga merupakan sang ibunda tercinta.


"Sebenarnya aku tidak pernah menyuruh istriku untuk menemui mu saat itu. Bahkan, aku tak tahu jika ia mengenalimu. Ia sendiri yang berinisiatif melakukannya tanpa sepengetahuanku. Dan mungkin, alasan ia mengatakan bahwa aku yang menyuruhnya adalah agar kau lebih percaya bahwa semua yang ia katakan adalah kebenaran. Jika saat itu ia tidak mengatakannya, aku yakin kau tidak akan mempercayainya dan berpikir bahwa itu semua adalah rekayasa belaka agar dirinya tidak disalahkan karena telah menerimaku yang berniat menikahinya," ujar Jonathan menjelaskan kejadian sebenarnya pada Alisha yang masih menatapnya. Meminta penjelasan mengenai kejelasan akan cerita yang sudah ia katakan sebelum nya.


Jonathan bersyukur ia tidak harus menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Alisha, Alena dan nenek mereka yang kini berada di ruangan yang sama dengan nya. Ia bersyukur bahwa istrinya sudah mau berinisiatif melakukan hal tersebut. Karena jika tidak, ia sendiri tidak yakin dapat menceritakan luka yang hingga kini masih menyakiti relung hatinya yang terdalam. Ia takut cerita itu tak tersampaikan dengan jelas dan dapat di terima dengan baik oleh kedua putrinya. Luka yang masih sangat terasa dampaknya hingga kini, bahkan rasanya luka itu baru saja tergoreskan kemarin. Karena luka yang dibuat oleh ibunda Alisha beberapa tahun lalu nyatanya masih basah hingga kini.


"Lalu, dimana keberadaan Mamah sekarang, Pah?" pertanyaan Alena membuat Jonathan kembali tersadar dari lamunannya. Ia menatap sendu putri keduanya.


"Papah juga tidak mengetahuinya sayang. Semenjak mama mu pergi setelah kejadian itu, Papah tidak pernah bertemu dengannya lagi. Bahkan semua orang suruhan Papah tidak dapat menemukan jejak Mamahmu yang menghilang." jawab Jonathan dengan nada lesu.


"Papah sudah mencarinya?" Tanya Alisha. Bertanya tentang kebenaran yang baru saja Jonathan katakan.


"Sudah, Nak. Papah sudah mencarinya sendiri dengan bantuan dari orang-orang suruhan Papah. Bahkan, Papah membayar seorang detektif handal untuk membantu mencari Mamah kalian. Tapi, hasilnya nihil. Mamah kalian tidak ditemukan. Kemungkinan besar ia mengganti seluruh identitas dirinya agar tidak dapat terlacak oleh orang-orang suruhan Papah." Jawab Jonathan pada Alisha yang seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Bukankah Papah berkata jika Papah menyewa seorang detektif handal untuk membantu Papah? Tapi, mengapa Papah tidak bisa mendapatkan informasi mengenai identitas diri Mamah?" Tanya Alisha lagi. Ia merasa tidak puas dengan apa yang dikatakan Jonathan.


"Ya, Papah memang menyewanya. Namun, ternyata bakat terpendam Mamahmu membuat detektif itu tidak bisa melacaknya dengan mudah, sayang." jawab Jonathan mencoba meyakinkan Alisha.


"Bakat terpendam? Apa maksudnya, Pah?" Alena bertanya dengan dahi yang sudah mengernyit tidak mengerti.


"Ya, bakat terpendam. Dulu Mamah kalian pernah bercita-cita menjadi hacker bertopi hitam. Oleh karena itu, ia mempelajari semua hal mengenai komputer ketika baru saja lulus dari sekolah dasar. Ketika SMA, Mamah kalian yang sudah sangat menguasai ilmu tersebut mengatakannya pada nenek dan kakek kalian yang berada di Bandung. Bermaksud meminta izin untuk berkuliah dengan jurusan yang dapat membantunya mencapai cita-citanya menjadi seorang hacker. Tapi ternyata, orang tua dari Mamah kalian menentang keras permintaannya dan menyuruhnya untuk berkuliah di jurusan bisnis agar bisa bekerja di kantor besar dan mendapatkan gaji yang besar pula. Hal tersebut bertujuan agar dapat mengangkat derajat kakek dan nenek kalian," papar Jonathan panjang lebar. Ia berhenti sejenak untuk melihat reaksi ketiga perempuan yang ada di ruangan itu sebelum melanjutkan.


"Mamah kalian yang mendengar hal itu pun hanya mengiyakan dan mengubur dalam cita-citanya. Akhirnya, Mamah kalian berkuliah dan bekerja sesuai dengan keinginan orang tuanya. Ia tidak melanjutkan cita-citanya, meskipun sesekali ia meretas beberapa kantor di belahan dunia lain untuk mendapatkan uang. Sehingga ia bisa mempelajari ilmu komputer lebih dalam lagi." Sambungnya.


"Kalau begitu, mengapa Papah tidak menyewa seorang hacker untuk meretas data-data karyawan di semua perusahaan saja?" Tanya Alisha. Ayahnya mulai mempertimbangkan ucapan Alisha yang memang masuk akal.


"Kau benar, sayang. Untuk apa Papah menyewa seorang detektif, sementara yang sebenarnya Papah butuhkan adalah seorang hacker?" ucap Papah Alisha heran dengan tindakannya selama ini.


"Bagaimana bisa kau menjadi sangat pintar hah?" Sambungnya seraya mencubit hidung Alisha yang terduduk di lantai di sebelahnya.


"Aku memang pintar sejak dulu," ujar Alisha jujur.

__ADS_1


"Ah, kau benar. Kau adalah anakku. Jadi, tentu saja buah yang jatuh takkan jauh dari pohonnya" ujar Papahnya penuh percaya diri.


"Ah! Lagipula, Papah lupa jika kau selalu menjuarai lomba di bidang olahraga dan beberapa lomba di bidang teknologi informatika. Pantas saja! Kau mirip seperti ibumu, sayang." sambung Jonathan seraya berpikir.


"Hmm... tapi aku tidak seperti Papah yang selalu payah dalam segala hal." ucap Alisha polos.


"Apa maksudmu? Papah payah dalam segala hal, hah?" Tanya Papah Alisha pada Alisha yang kini hanya terkikik geli.


"Sudah terbukti, Pah. Bahkan Papah yang dikenal sebagai orang pintar saja tidak memahami perasaan mamah." ujar Alisha memutar bola matanya.


"Hei! papah tidak sepayah itu! Namun, wanitalah yang memang susah untuk dipahami," sahut Jonathan tak mau kalah. Rupanya sifat keras kepala Alisha menurun dari Papahnya.


"Ih! Mengaku sajalah, Pah!" ujar Alisha. Lihatlah, keduanya saling mempertahankan opini menunjukkan siapa yang benar disini. Alena dan neneknya hanya terkekeh geli melihat interaksi luar biasa antara anak dan ayah itu. Mereka kembali berpelukan sembari menonton aksi gratis di depan mereka.


"Baiklah, Papah memang payah dalam hal yang menyangkut Mamahmu" ujar papah Alisha menyerah. Ia takkan bisa menang melawan Putrinya sejak dulu.


"Pantas saja mamah meninggalkan Papah," celetuk Alisha bermaksud bercanda. Jonathan melihatnya dengan air muka yang sinis bermaksud membalas candaan putrinya itu. Ia tahu Alisha hanya bercanda, meskipun wajahnya datar.


"Sudahlah, kenapa kalian membahas hal lain?" ujar nenek Alisha menengahi perdebatan keduanya.


"Ah benar juga, jadi bagaimana rencanamu, Al?" Tanya papah Alisha kepada Alisha yang kini menatapnya sarkas.


"Ah, iya! Benar juga," gumam ayahnya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tapi, Papah tidak memiliki kenalan seorang hacker." lanjutnya.


"Tenang saja, aku akan bertanya pada temanku. Sepertinya, mereka memiliki koneksi yang lebih banyak darimu," ujar Alisha tersenyum. Ia mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu. Setelah beberapa detik, ia menunjukkan isi ponselnya pada sang ayah yang berisi pesannya dengan kedua sahabatnya.


"Lihatlah! Kita mendapatkan 2 hacker, Pah!" Girang Alisha.


"Wah! Bagaimana bisa?" Tanya papah Alisha bingung. Ia melihat pesan yang dikirimkan Rain, seorang siswa yang telah berani melawan perkataannya beberapa hari yang lalu.


"Itulah kehebatan Al2AINT, Pa. Para remaja dengan sejuta rencana!" ujar Alisha bangga dan berlalu menghampiri neneknya, sementara sang ayah hanya kebingungan.


"Nek, bagaimana keadaanmu?" Tanya Alisha pada sang nenek.

__ADS_1


"Nenek baik-baik saja, sayang." ujar sang nenek seraya tersenyum lembut.


"Tentu saja! Siapa yang menjaganya? Alena!" Celetuk Alena sombong seraya menepuk-nepuk dadanya bangga. Sementara, Alisha memutar bola matanya. Sejak kapan adiknya ini menjadi konyol seperti Rain.


"Terserahmu saja. Lagipula, kau mau menjaga nenek hanya karena ditemani oleh kekasihmu, bukan?" Bebernya yang membuat Jonathan membulatkan matanya menatap Alena. Alena yang ditatap seperti itu hanya menyembunyikan wajahnya di pelukan sang nenek.


"Kau sudah memiliki kekasih, Al?" Tanyanya yang ditujukan pada Alena. Namun, Alisha salah menangkap maksudnya.


"Bukan Alisha, Pah! Alisha tak memiliki pacar!" Sungutnya tak suka. Sedangkan, Jonathan menatapnya heran.


"Siapa yang bertanya padamu? Papah bertanya pada Alena," kernyitan di dahinya muncul. Perkataannya membuat Alisha salah tingkah.


"Lagipula, ini salah Papah memberi nama yang mirip pada kami!" Sungutnya membela diri.


"Hanya dua huruf di depan tak masalah, kan?" Ujar Papahnya asal.


"Tentu saja menjadi masalah. Kami selalu salah paham ketika ada yang memanggil salah satu dari kami. Membuatku malu saja," cibirnya. Bibirnya sudah maju beberapa senti membuat Jonatan bergerak mencubit bibirnya. Alhasil, Alisha berteriak dan memukul lengan ayahnya tak suka.


"Memangnya kau ingin mengganti namamu sekarang?" Tanyanya yang hanya dibalas dengusan tak suka dari putri pertamanya itu. Jonathan terkekeh melihat reaksinya.


"Lagipula, kau sudah besar. Akan tetapi, kau kalah dengan adikmu yang masih menginjak kelas 1 SMP? Apa kau tak malu belum berpacaran hingga saat ini usiamu hampir 17 tahun?" Celetuk Jonathan menggoda putrinya. Alena hanya terkikik puas merasa ayahnya berpihak padanya.


Alisha yang mendengar ejekan sang ayah hanya melorot tak suka. Ia kembali mendengus kesal membuat ketiga orang lainnya tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya.


'*Kuharap, kami bahagia selamanya. Tuhan, jangan renggut kebahagiaan keluargaku lagi, kumohon.'


                                        🌹🌹🌹


                                          TBC


                                                              @The_granat


                                                            @garnissr


                                                            @theodra_ara

__ADS_1


                                                                @leesona_09*


                                         


__ADS_2