
"Kau ingat rumah besar yang kita lewati ketika pulang tadi?" Alisha bertanya pada Rain yang dengan segera gadis itu angguki.
"Itu rumah Bryan," lanjut Alisha pelan. Mata Rain seketika berbinar. Dengan sangat antusias, a meminta Alisha untuk mengantarnya kesana dan memperkenalkan dirinya pada orangtua Bryan. Kedua gadis lainnya yang mendengarnya menatap Rain aneh. Rain sangat lebay. Alisha lalu berkata jika orangtua Bryan sudah tidak ada membuat Rain terdiam seketika.
“Orang tuanya sudah lama meninggal. Jadi, dia tinggal dengan nenek asuhnya,” jelas Alisha pelan. Mendengar kata nenek asuh, Ara dan Rain mengernyitkan dahi mereka bingung. Mereka menatap Alisha seolah meminta penjelasan lebih. Alisha yang peka segera menceritakan kisah Bryan lebih lanjut.
“Dia diasuh oleh keluarga Aldebra yang merupakan keluarga terpandang disini,” ceritanya.
“Nenek pernah bilang jika dulu anak, menantu beserta cucu dari keluarga Aldebra menghilang tiba-tiba tanpa ada yang mengetahuinya. Suami dari nenek asuh Bryan sudah mencoba mencarinya bahkan bantuan dari warga juga. Namun, hasilnya nihil," papar Alisha.
"Hingga ketika suami nenek asuh Bryan meninggal. Ia bertemu Bryan di panti asuhan. Bryan mengingatkannya pada cucu kesayangannya. Ia lalu langsung mengadopsi Bryan untuk dijadikan cucunya," lanjut Alisha. Ia menarik napas pelan setelah bercerita panjang.
“Lalu sekarang bagaimana?” tanya Ara penasaran. "Apa keluarga mereka belum ditemukan?"
“Ya. Tetap belum ketemu,” angguk Alisha. Rain yang iba menatap Alisha sedih. Ia bertanya apakah Bryan mengetahui tentang keluarga nenek asuhnya. Ia lalu tersenyum simpul ketika melihat anggukan Alisha.
“Tentu saja dia tahu. Ia tidak mempermasalahkannya karena Bryan sangat menyayangi nenek asuhnya itu,” ujar Alisha.
“Sungguh kasihan” iba Rain. Ia menerawang membayangkan nasib nenek asuh Bryan dan suaminya. Ah.. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan jika dirinyalah yang berada di posisi itu. Pasti sangat menyakitkan jika dalam satu waktu kehilangan seluruh keluarga yang dicintainya.
“Tapi, jika ini sebuah kejahatan, sangat mustahil tidak ada jejak yang tertinggal, Al," celetuk Ara tiba-tiba. Alisha dan Rain seketika menoleh pada Ara yang tengah menopang dagunya. Rain membenarkan perkataan Ara. Tidak mungkin jika polisi tidak mendapatkan petunjuk apapun.
“Sepertinya ini sebuah kejahatan yang sudah direncanakan!" Sambung Ara lagi. Namun, kali ini, Rain tak membenarkan perkataanya. Ia memiliki pemikirannya sendiri. Sedangkan Alisha hanya menyimak pembicaraan mereka dalam diam. Dulu, ia juga berpikir sama seperti Ara. Sangat aneh jika seluruh keluarganya hilang dan hingga sekarang belum ditemukan. Mungkin saja mereka sudah lama terbunuh karena suatu dendam.
“Bisa saja mereka pergi tanpa meminta izin,” ujar Rain berpikir positif. Mendengarnya, Ara menggeleng tidak setuju.
“Sepertinya tidak mungkin, Rain. Jika memang seperti itu, sudah pasti mudah untuk dipecahkan,” papar Ara. Saat Rain hendak menjawab perkataan Ara, Alisha segera menyela pembicaraan mereka.
“Astaga, kalian ini kenapa, sih? Kalian bertingkah seolah kalian berdua adalah detektif! Menyebalkan sekali? Yang bercita-cita detektif kan aku!” semprot Alisha memutar bola matanya. Ara dan Rain sontak terkejut mendengarnya.
“Al, kita ini memang tim detektif handal. Tapi, sejak kapan kau bercita-cita menjadi seorang detektif? Bukankah kau ingin jadi hacker?” jawab Rain. Seingatnya, Alisha tak pernah bercerita ingin menjadi seorang detektif.
“Heol, kata siapa? Mamahnya Alisha saja belum bisa kita temukan!” ejek Ara menyahuti perkataan Rain membuat Alisha terkekeh.
"Lagipula.. Memangnya sejak kapan kau ingin menjadi detektif, Al?" Lanjut Ara yang kini bertanya pada Alisha. Alisha sontak berhenti terkekeh dan hanya tersenyum masam.
"Sejak berdirinya Al2aint, mungkin?" Sahutnya pelan.
"Yeuuu"
Ara dan Rain menyoraki Alisha begitu mendengar jawaban gadis itu. Mereka bahkan melempari Alisha dengan bantal atau boneka yang ada di sekitar ketiganya. Alisha sendiri hanya terkekeh malu.
“Tenang kita pasti menemukan mamah Alisha. Kita hanya perlu berusaha lebih keras lagi,” ujar Rain tiba-tiba. Alisha dan Ara menghentikan candaan mereka dan mengalihkan atensinya pada Rain. Mereka berdua mengangguk setuju dengan perkataan yang dilontarkan Rain. Mereka, terutama Alisha yakin jika mereka akan bisa menemukan mamahnya.
“Oh, iya. Besok pagi kita akan pulang ke jakarta. Aku sudah memesan tiketnya,” ucap Alisha membuat kedua sahabatnya terkejut. Terlebih Rain, ia sudah melebarkan matanya tidak percaya.
__ADS_1
“Sungguh? Kau bilang kita akan berlibur hingga dua hari kedepan? Kenapa rencananya berubah?” tanya Rain kesal. Pasalnya, dari awal mereka sudah berjanji akan berlibur di Bandung selama empat hari. Tapi, sekarang gadis putih berkacamata itu bahkan merubah jadwalnya tanpa membicarakannya terlebih dahulu pada dirinya dan Ara.
“Iya. Lagipula, aku lupa jika empat hari lagi akan diadakan ujian tengah semester. Apa kalian lupa?” sahut Alisha santai. Ara dan Rain kini melebarkan kedua mata mereka terkejut. Mereka lupa jika ujian tengah semester akan datang lebih awal.
Terlebih Ara, pantas saja jika supir keluarga mereka sedikit tidak rela jika Ara pergi berlibur dengan alasan ujian sebentar lagi. Ara pikir ujian itu datang dua minggu lagi, jadi dia sedikit tenang untuk berlibur. Jangan tanyakan darimana supirnya tahu, kita tentu sudah tahu jika hubunga mereka seperti ayah dan anak.
"Sialan! Aku lupa dengan ituu! Kukira tidak jadi diubah jadwalnya!" Heboh Rain. Ia benar-benar melupakan hal ini sama seperti Ara. Ia lalu mendengus kesal.
“Ah...tidak asik. Benar 'kan, Ra?” lesu Rain kemudian menoleh pada Ara. Namun, respon yang didapatnya hanya Ara yang tengah diam melamun tak menanggapi ucapannya.
“Astaga, apa dia mulai lagi?” tanya Rain pada Alisha yang hanya mengedikkan bahunya acuh sebagai jawaban. Rain mendengus kesal. Lalu, sebuah ide muncul di otaknya. Ia mengambil guling yang ada di sebelahnya dan dengan tidak berperasaan segera menimpuk Ara dari belakang menggunakan guling itu.
Ara yang sedang melamun sontak terkejut menerima serangan tiba-tiba dari Rain hingga membuatnya terjatuh dari atas kasur. Ia mengaduh kesakitan kala punggungnya mendarat mulus di lantai kamar yang dingin. Ia terjatuh dengan posisi telentang membuat Rain dan Alisha tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesakitan gadis berkacamata bundar itu.
“Ra, apa kau baik-baik saja? Itu pasti sakit,” tanya Alisha dengan nada khawatir. Kontras dengan wajah memerah demi menahan tawanya. Ia bahkan masih tertawa kini. Ara bangkit dengan wajah yang memerah malu sekaligus marah.
“Rain, apa kau sudah gila? Bagaimana jika aku geger otak?” hardik Ara dengan nada yang kentara kesal. Ia sudah bangun dan mengusap-usap pantat dan punggungnya yang sakit.
“Ck! Itu tidak mungkin. Kepalamu 'kan sekuat baja, mustahil kau akan terkena geger otak,” celetuk Rain yang menahan sakit pada perutnya akibat tertawa. Ara dan Alisha menanggapi perkataan Rain dengan ekspresi yang berbeda. Ara yang semakin menunjukkan raut kekesalannya, sedangkan Alisha yang sudah kembali tertawa keras.
“Sialan!” rutuk Ara. Ia lalu mengambil bantal yang ada di pangkuan Rain dan bersiap membalas perbuatan gadis itu. Namun, dengan cekatan Rain berhasil menghindar dari serangan itu. Alhasil, serangan tersebut mengenai Alisha. Karena posisinya yang berada di pinggir tempat tidur sama seperti posisi Ara sebelum terjatuh, ia pun oleng karena hantaman kuat Ara hingga membuatnya terjatuh ke samping tempat tidur sama seperti yang dialami Ara.
“Aw.. sakit sekali pantat dan pinggangku!” rutuk Alisha. Ara meringis melihatnya dan berinisiatif membantu Alisha berdiri, sementara Rain semakin keras saja tertawanya.
“RAIN!” teriak Ara dan Alisha bersamaan lalu menyerang Rain membabi buta dengan bantal atau boneka yang ada dalam jangkauan mereka. Ketiganya berakhir dengan perang bantal hingga mereka kelelahan dan sepakat untuk berhenti.
“Ya. Aku juga sangat lapar,” sahut Alisha mengangguk pelan. Ia sejenak mengatur napasnya agar kembali normal.
“Kita tidak punya makanan” ujar Ara lesu. Ia juga sama halnya dengan kedua sahabatnya yang sibuk mengatur napas masing-masing.
“Siapa bilang? 'Kan stok mie instanku unlimited!” kilah Rain bangga. Ia beranjak menuju tas mikiknya berniat mengeluarkan mie instan miliknya untuk mereka bertiga makan.
“Mie instant lagi?” tanya Ara sedikit tak rela. Ia sangat jengah karena mengonsumsi mie instan selama mereka di Bandung. Memangnya mereka tidak bisa makan di luar atau paling tidak membeli makanan apapun asalkan bukan mie instan? Lagipula, itu juga tidak baik untuk kesehatan mereka bertiga.
“Sudahlah, yang penting kita makan. Ayo!” ajak Alisha menarik tangan Ara untuk segera pergi ke dapur mengikuti Rain yang sudah hilang dibalik pintu kamar. Ara berusaha berontak dan merengek mengutarakan keinginannya tentang mencari makan diluar, namun, rengekannya hanya dibalas dehaman atak niat dari Alisha. Ia pun hanya bisa pasrah.
🌹🌹🌹
Kereta api jurusan Bandung-Jakarta sudah berangkat sejak lima menit yang lalu. Seperti saat berangkat ke Bandung, posisi Rain duduk berada di sebelah Ara sementara Alisha duduk sendiri.
Sebelum berangkat, mereka sempat berpamitan dengan Bryan dan neneknya. Nenek Bryan mengatakan jika Alisha harus sering-sering berlibur ke Bandung untuk bermain di rumah mereka. Alisha pun berjanji akan datang lagi dalam kurun waktu dekat membuat Rain menatapnya dengan mata yang berbinar.
Alisha dan Rain sedang asyik bermain ponsel mereka, sementara Ara sedang memikirkan sesuatu di dalam pikirannya. Sepertinya, akhir-akhir ini melamun adalah hobi baru yang dimiliki Ara. Alisha dan Rain memilih untuk tidak memperdulikannya.
'Apa dia masih hidup? Tapi, tidak mungkin!' ujarnya dalam hati. Ara semakin frustasi dengan pikirannya. Gadis itu mendengus keras membuat fokus Rain terpecah. Rain yang tengah streaming film pun melirik ke arah Ara dengan tatapan heran.
__ADS_1
‘Apakah dia benar-benar kemasukan hantu?’ tanya Rain dalam hatinya.
Gadis itu lalu memilih mem-pause film yang ia tonton dan melepas earphone yang melekat di telinganya. Ia lalu memanggil nama Ara pelan bermaksud menarik atensi Ara. Namun seperti yang ia duga, gadis itu hanya diam tak mendengar panggilan Rain.
“Hei, Nyai Monoton!” panggil Rain sekali lagi kini dengan menepuk pundak Ara. Yang ditepuk merasa terkejut dan menoleh.
“Ada ap- Heol! Apa-apaan dengan panggilan nyai monoton itu?” seru Ara menatap Rain kesal. Ia tentu tahu jika panggilan itu ditujukan untuknya. Yang ditatap balik menatapnya datar.
“Yup, Nyai Monoton” angguk Rain dengan penuh penekanan. Mereka bertatapan sengit sebentar.
Di sisi lain, Alisha tak menghiraukan keduanya. Gadis itu tengah sibuk ber-chat ria dengan Bryan. Bryan mengatakan jika Alisha harus datang saat ulang tahunnya yang akan datang sebentar lagi. Gadis itupun berjanji akan datang dan mengajak kedua sahabatnya sekalian.
“Heol, enak saja! Namaku Ara tahu?” sahut Ara kesal. Ia bahkan mendelik ke arah Rain yang kini tersenyum mengejek membuat gadis itu semakin bertambah kesal padanya.
“Yayaya! Aku tahu itu. Tapi, kau itu terlalu monoton, Ra” kata Rain mengulang perkataannya tempo hari membuat Ara merasa deja vu dengan situasi ini.
“Lebih baik monoton daripada sepertimu yang kehidupannya terlalu rumit!” balas Ara dengan penekanan pada kata ‘rumit’ membuat Rain kini kesal.
“Setidaknya hidupku penuh dengan warna,” ujar Rain tak mau kalah. Keduanya kembali bertatapan sengit hingga suara Alisha mengalihkan atensi mereka pada gadis itu.
“Di kereta pun masih bersikap seperti anak-anak?” celetuk Alisha tiba-tiba seraya melirik keduanya sinis. Matanya yang tajam membuat kesan sinis semakin kentara di wajahnya. Hal itu membuat baik Ara maupun Rain cengengesan merasa bersalah. Ekspresi sinis dengan tatapan tajam milik Alisha membuat keduanya merasa terintimidasi dan memilih untuk tidak berbuat macam-macam.
“Kami tidak sedang bertengkar, Al," kilah Rain tersenyum lebar. Ara pun mengangguk membenarkan perkataan gadis di sampingnya itu.
“Lalu?” singkat Alisha yang kembali mengalihkan atensinya pada ponsel miliknya.
“Kami sedang bermain adu debat saja. Benar 'kan, Ra?” sahut Rain meminta persetujuan Ara kembali. Yang diajak bicara hanya mengangkat bahunya acuh dan memilih memainkan ponselnya. Hal itu membuat Rain gemas ingin menjambak rambut gadis itu sekuat tenaga.
“Sama saja, Rain.”
“ Tentu saja beda, Al.”
“Terserah kau saja.”
🌹🌹🌹
TBC
@The_granat
@garnissr
@theodra_ara
@leesona_09
__ADS_1