Al2aint

Al2aint
Bagian 6


__ADS_3

Sheila tengah berbaring di kasur kesayangannya. Ia tengah memikirkan perkataan Alisha tadi siang. Tak ada yang mendengar perkataan itu karena suara Alisha yang sangat kecil. Namun, ia dapat mendengarnya dengan jelas.


‘Anak haram. Darimana dia tahu?’


Batinnya penasaran. Setahunya, hanya ia dan keluarganya yang mengetahui kenyataan ini.


Ia adalah anak yang dilahirkan tanpa seorang ayah. Hingga ketika ia berumur tujuh tahun, seorang pria yang baik hati menikahi ibunya dan membuatnya dapat merasakan kasih sayang seorang ayah. Ayah tirinya yang merupakan pemilik dari sekolah tempat ia belajar sangat menyayanginya meskipun ia hanyalah seorang anak tiri.


Namun, ketika ia menginjak usia 17 tahun, sikap sang ayah mulai berubah. Ia sudah jarang menghabiskan waktu bersama sang ayah. Itu sebabnya, ia melampiaskan kekesalannya dengan membully anak-anak yang berani menentang keinginannya. Hingga kini, ia bertemu dengan tiga perempuan sialan yang selalu membuatnya kalah berdebat. Ia berjanji akan membalas perbuatan mereka yang membuatnya malu. Terutama pada Alisha yang sudah mengetahui identitasnya bahkan mengatainya di depan umum, meskipun tak ada yang mendengarnya.


Saat ia tengah memikirkan rencana untuk membalas perbuatan Alisha dan gengnya, ia mendengar suara deru mesin mobil milik ayahnya. Ayahnya berjanji akan menemaninya berbelanja hari ini. Ia pun bergegas pergi keluar dari kamarnya dan turun ke bawah demi menyambut sang ayah.


Dilihatnya sosok sang ayah yang menampilkan ekspresi datar. Wajahnya yang menampilkan gurat lelah membuatnya tak tega untuk menagih janji sang ayah. Ia pun memilih bergegas menghampirinya untuk membantu membawakan tas miliknya.


“Ayah sudah pulang?” tanyanya berbasa-basi.


Ia mengambil alih tas milik ayahnya dan menuntun sang ayah ke sofa di ruang keluarga. Pertanyaannya hanya dibalas dehaman sang ayah. Ia hanya tersenyum memaklumi sikap sang ayah.


“Ayah, sepertinya hari ini kita tak jadi pergi berbelanja.” gumamnya lirih namun ia tahu lawan bicaranya mendengar gumamannya.


“Memangnya kenapa?” Tanya sang ayah.


“Ayah sangat lelah hari ini, jadi kupikir kau harus istirahat. Mungkin lain kali kita berbelanja bersama.”


“Baiklah.”


Sesungguhnya ia kecewa dengan jawaban sang ayah. Ia mengharapkan jawaban lain darinya. Namun, apa yang bisa dia lakukan? Ia melihat sang ayah berdiri dan mengambil tas kerjanya dan berlalu ke arah kamar miliknya di lantai dua rumahnya.


“Ayah ke kamar, kau belajarlah menjadi siswa yang baik di sekolah. Jangan mencari masalah yang membuat ayah malu.”


Ucapan sang ayah yang datar itu tepat menusuk ke hatinya. Sebisa mungkin ia tak menangis. Ia pun tersenyum miris dan kembali ke kamarnya.


Ya, Ayah. Aku tahu aku hanya seorang anak tiri bagimu. Tapi, tak bisakah kau menyayangiku seperti dulu?


                                          🌹🌹🌹


Ketiga perempuan itu telah sampai di alamat yang mereka tuju. Di sana, terdapat sebuah rumah minimalis berwarna hijau dengan halaman yang cukup luas.


“Baiklah, sekarang apa?” tanya Alisha memecah keheningan.


“Hey! Kenapa bertanya padaku? Tentu saja kita harus mengetuk pintunya, masuk, lalu mengucapkan salam, dan selesai." jawab Rain asal.


“Hmm... Tapi... aku tak ingin bertemu dengannya” ucap Alisha lesu.


“Heol! kita sudah berjalan jauh, meskipun naik angkutan umum tapi cukup menguras tenaga hanya untuk menemukan alamat rumah mamahmu dan sekarang kamu bilang kamu tak ingin bertemu dengan mamahmu? Al, aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi apa kamu tak merasa kasihan dengan adikmu?” tanya Ara sedikit kesal. Ia paling benci jika harus berjalan jauh.


“Umm....”


“Sudahlah! kau ini lama sekali." ucap Rain mendorong Alisha untuk masuk ke halaman rumah itu.


“Baiklah. Ayo tekan belnya, Al!” pinta Ara.

__ADS_1


Akhirnya Alisha menekan bel rumah tersebut. Tak lama, seorang wanita cantik membuka pintu tersebut. Mereka semua ternganga kaget melihat sosok di depan ketiganya.


“Iya, ada yang bisa saya bantu?”tanya wanita itu heran.


“Hei, Al. Kenapa wajah mamahmu berbeda? Apa mamahmu seorang power rangers hingga bisa berubah?” bisik Rain yang dihadiahi injakan kaki dari Ara.


“Heol! Rain, Jaga ucapanmu, jangan asal berbicara, dodol!” ucap Ara kesal.


“Ya sudahlah. Tak perlu hingga menginjak kakiku. Ini sakit, Ra. Lihat! Kakiku memerah.” Sungut Rain.


“Maaf apa ini kediaman Ibu Salsa Bianti?” tanya Alisha sopan tanpa menghiraukan pertengkaran kedua sahabatnya.


“Maaf, tapi sepertinya Anda salah alamat,” jawab wanita itu dengan ramah. Ia agak sedikit terganggu dengan pertengkaran dua orang lainnya. Apa-apaan? Dirinya dituduh bisa berubah-ubah. Apa mereka pikir ia adalah bunglon? Yang benar saja!


“Apa? Tunggu sebentar, bukankah alamat ini benar?” tanya Alisha sambil menunjukkan kertas berisi alamat.


“Iya, benar ini alamatnya. Tapi maaf, tidak ada yang namanya Salsa Bianti disini. Mungkin orang yang sedang Anda cari adalah pemilik rumah ini sebelum Saya. Anda bisa tanyakan pada ketua RT di komplek ini, rumahnya terletak dua rumah di samping kanan rumah ini.” jelas wanita itu dengan tersenyum. Senyum paksa.


“Oh, baiklah. Terima kasih atas infonya, Bu.” Ucap Alisha tersenyum tulus. Wanita itu hanya balas tersenyum. Ia berpikir apakah wajahnya meiliki kerutan seperti ibu-ibu yang biasa bergosip di warung depan rumahnya? Hell! Dia masih kuliah semester 7 asal tiga perempuan itu tahu!


Setelah berjalan agak jauh dari rumah tadi, akhirnya mereka sampai di rumah ketua RT komplek tersebut. Ara pun berinisiatif mengetuk pintu bercat putih itu.


“Permisi." Ucap Alisha. Tak butuh waktu lama, pemilik rumah membukakan pintunya untuk ketiga perempuan haus itu.


“Ya? Ada yang bisa Saya bantu?” sapa seorang pria tua berpeci yang tadi membuka pintu.


“Maaf mengganggu, apakah benar ini kediaman ketua RT di komplek ini, Pak?” tanya Alisha sopan.


“Begini, Pak. Saya ingin bertanya tentang pemilik rumah hijau yang terletak dua rumah dari sini,” ucap Alisha menunjuk ke arah rumah wanita tadi.


“Ah, baiklah. Lebih baik kita berbicara di dalam,” ucap Pak RT mempersilahkan mereka masuk. Ara dan Rain langsung sumringah karena sedari tadi mereka menahan haus.


Di ruang tamu, ketua RT pun menjelaskan tentang pemilik rumah tersebut.


“Al, perlihatkan fotonya,” pinta Ara pada Alisha.


“Oh iya, Pak. Maaf, apakah sebelumnya pemilik rumah tersebut adalah wanita ini?” tanya Alisha menunjukkan foto ibunya pada pria yang berumur kisaran 50 tahunan itu.


“Ah, benar. Tapi dia sudah pindah 3 tahun yang lalu.” jelas Pak RT.


“Kalau boleh tahu, wanita itu pindah kemana, ya, Pak?” tanya Alisha berharap.


“Kalau itu saya kurang tau. Tapi sebelumnya, apakah anda mengenal wanita itu?” tanya Pak RT.


“Saya anaknya, Pak." ucap Alisha tersenyum tipis.


“Oh, begitu. Saya tidak tahu dimana dia tinggal sekarang. Akan tetapi, menurut warga yang tinggal disini, wanita ini bekerja di cafe dekat komplek ini, Nak." jelas Pak RT.


“Cafe?” tanya Alisha bingung.


“Benar,” jawab Pak RT.

__ADS_1


“Ah, baiklah. Terima kasih atas infonya, Pak. Kalau begitu saya pamit pulang, maaf mengganggu waktu istirahat bapak." Pamit Ara sopan. Ia berdiri di ikuti ketiga orang yang ada di situ.


“Iya, sama-sama.” Ucap Pak RT mengantar ketiga tamunya keluar rumah.


Setelah pergi dari rumah ketua RT itu, mereka melanjutkan perjalanan. Ketiganya sepakat mampir ke kafe yang disebutkan pria tua itu.


“Bagaimana ini? Apa yang kita harus lakukan?” tanya Ara yang duduk di depan Alisha. Sedangkan Rain duduk di sebelah Alisha.


“Sudahlah lupakan. Aku tidak mau mencarinya lagi.” ucap Alisha putus asa. Ia meminum jus strawberry-nya dengan gusar.


“Hei! Tidak bisa seperti itu! Asal kau tahu tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup Ara.” jawab Ara percaya diri. Ia menggebrak meja pelan.


“Ara benar, Al. Kita tak boleh menyerah begitu saja. Mana ada detektif berhenti di tengah jalan. Kita adalah Al2AINT, si detektif handal! Ck! kau sangat lemah, ya, Al. Seperti burung yang hanya pasrah dalam kurungan sangkarnya. ” ucap Rain datar namun cukup untuk menyentil hati kecil Alisha. Rain memang selalu berkata apapun tanpa memikirkan perasaan orang lain.


“Baiklah, aku mengerti! Ayo, kita harus melanjutkan pencarian!” ucap Alisha berdiri dari kursinya dan berniat pergi dari kafe itu.


“Kita lanjut besok saja. Aku lelah." Pinta Ara.


“Tapi, kalian bilang kita tidak boleh menyerah, bukan?” ucap Alisha duduk kembali di kursinya.


“Heol, tapi tidak harus sekarang, Al. Kita harus memiliki rencana terlebih dahulu!” sungut Ara. Ia memakan spaghetti pesanannya.


“Tapi-”


“Ayolah! kita makan saja dulu. Aku sangat lapar. Kita harus makan supaya aku bisa memikirkan banyak rencana untuk besok dan aku juga butuh mandi. Llihatlah! baju kita sudah lusuh dan bau keringat. Kalau seperti ini, Mas Thor kesayanganku bisa ilfeel.” keluh Rain dan dihadiahi jitakan dari Ara dan Alisha.


“Hei! Bangunlah, Miss. Ini masih senja. Jangan berhalusinasi.” ledek Ara.


Ia menyeruput jus alpukatnya hingga tandas. Dan berlari keluar dari kafe itu meninggalkan kedua sahabatnya.


Rain yang tidak terima langsung mengejar Ara. Mereka berlari meninggalkan Alisha yang kini ikut berdiri dan berjalan menuju kasir untuk membayar makanan mereka. Setelahnya, ia berlari mengejar kedua temannya yang telah jauh di depannya.


“Hei, kalian! Tunggu aku!” teriak Alisha sambil berlari.


“Ayolah, Alisha! Kau sangat lambat!” ledek Rain ikut berteriak. Tak butuh waktu lama, Alisha sudah berlari di sampingnya. Bahkan, ia telah menyusul Ara dan meninggalkan Rain di belakangnya.


“Ayolah, Rain! Kau sangat lambat!” ledek Alisha mengembalikan ucapan Rain padanya. Rain yang mendengarnya hanya mendengus kesal. Bagaimana bisa ia lupa jika temannya adalah pelari top di sekolahnya yang sudah membawa pulang banyak piala lomba lari? Astaga! Dia harus berhati-hati untuk mengejeknya mulai sekarang. Ara dan Alisha yang melihat raut kesal di wajah rain hanya tertawa dan bertos ria dan melanjutkan larinya tanpa mau menunggu Rain yang tertinggal jauh.


‘Terima kasih Ara, Rain. Kalian selalu membuatku tersenyum.’


                                        🌹🌹🌹


                                          TBC


                                                              @The_granat


                                                            @garnissr


                                                            @theodra_ara


                                                                @lee_sona09

__ADS_1


                                         


__ADS_2