
Malam itu adalah mimpi buruk bagiku, ku berharap akan segera terbangun dari mimpi ini tapi sayangnya ini semua nyata.
Bukan perkara mudah untuk menerima kekalahan, bertubi-tubi peristiwa itu menyakiti, berulang-ulang kenyataan pahit itu menghampiri. Bukan perkara mudah, bahkan untuk sekedar menjejakkan kaki tetap kokoh di bumi, ketika sebahagian rasa di hati bercampur aduk bagai nyata dan mimpi
Tapi pada saatnya nanti ia akan menerima kenyataan ini, betapa pedih ketika terbangun dari mimpi, betapa nyerinya ketika harapan tak seelok angan-angan. Berulang kali di pecundangi, jatuh bangun tetapi suratan tangan seperti menghianati
Seperti kemarau yang tak berbekas di sapu hujan, seperti malam yang tega menelan siang, ia akan menyendiri di batas kemampuan diri, ia pernah ingin menggali kubangan kesedihan. Tapi ia lelaki sejati, yang pernah ribuan kali tersakiti, yang pernah tertatih-tatih meniti hari
Pada saatnya nanti ia akan menerima kenyataan ini, hidup bukan sekedar kalah dan menang, hidup bukan pertempuran siang dan malam, hidup juga bukan persaingan abadi dan kehancuran.
...Flashback...
Dirumah sakit
Alessandro hanya terdiam dan terpaku menunggu kabar dari dokter. Semua medis berusaha untuk menyelamatkan Andres yang mengalami pendarahan yang hebat, rasa takut, sedih, gundah dan khawatir beraduk menjadi satu. Membatu disudut ruangan rumah sakit tanpa suara.
"Minumlah dulu! Jangan sampai kau juga ikutan sakit"
Alessandro tidak menggubris Maverick
"Alessandro! Dia akan baik-baik saja" Sekedar mengucapkan baik-baik saja itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa takut.
"Jangan coba menghiburku"
"Dia orang yang kuat, dia pasti akan bertahan. Dia hanya butuh doa dari kita"
"Emangnya tau apa kau tentang kami hah! Jangan sok menghiburku disini. Sejak pertama aku bertemu denganmu, aku sudah membencimu dan sampai sekarang akan tetap seperti itu"
"Aku tidak peduli kau akan membenciku atau tidak, bagiku itu bukan masalah besar. Emangnya siapa yang berharap kalau kau akan menyukaiku?"
"Aku tidak ingin berdebat denganmu!"
"Kalau begitu ambil air ini dan minumlah, jangan banyak bicara" Maverick memberikan botol minuman padanya, Alessandro pun mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah.
Maverick tidak menghiraukannya dan pergi ke ruang tunggu.
Tiga jam kemudian dokter pun keluar dengan raut wajah yang lesu.
__ADS_1
"Dok! Bagaimana keadaannya?" Maverick bertanya
Dokter menarik nafas dalam-dalam dan mengatakan "Kami sudah berusaha, tapi sayangnya takdir berkata lain"
"Apa yang kau katakan! Apa tidak ada dokter yang becus disini" teriak Alessandro didepan wajah dokter itu
"Kami sudah berusaha, dia sudah banyak kehilangan darah. Dan dia tidak bisa bertahan" Dokter itu langsung pergi dari sana, tanpa mengatakan sepatah kata apapun
"Ini tidak mungkin! Tolong katakan padaku kalau aku sedang bermimpi. Maverick, semua ini mimpi kan?"
Dengan langkah yang kecil Maverick dan Alessandro masuk ke dalam ruangan dimana Andres dirawat, mulut yang membisu dengan mata yang tidak akan pernah percaya melihat temannya terbujur kaku diatas pembaringan dengan kain yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Andres bangun" panggil Alessandro dengan pelan "Andres, Andres.. Andres Bangun!!" teriak Alessandro "Katanya kamu mau lihat aku sembuh, sekarang aku sudah mulai bisa berdiri. Lihat-lihat aku!" Alessandro mencoba bangun dari kursi rodanya dengan perlahan "Lihat! Aku bisa berdiri, kita akan bermain basket bersama lagi. Aku mohon buka matamu!"
"Cukup Alessandro! Dia telah pergi"
"Diam kau! Tau apa kau hah?"
"Aku tau ini sangat menyakitkan, dia tidak akan pergi dengan tenang jika kau terus seperti ini teman. Jangan hapus air matamu, biarkan itu mengalir agar hatimu lega. Tapi kau harus mengikhlaskannya."
"Aku tidak butuh nasehatmu!!! Pergi dari sini"
"Pergi!!" Teriak Alessandro
"Lelaki tidak boleh merengek! Itu tidak enak dilihat! Semenderita apapun dirimu diamlah dan bertahan! Itu pun kalau kau memang seorang pria!. Lambat! Lemah! Kekanak-kanakan! Itu bukanlah sifat seorang pria!."
Maverick merasa kasihan melihat Alessandro seperti orang yang sudah kehilangan harapan. Maverick pun pergi dari sana dan dia mencoba menelpon Laura
Kringg, kringgg......"Ya, ada apa?" tanya Laura
"Laura, bisa kah kamu kerumah sakit La Fe sekarang"
"Kenapa, apa yang terjadi?"
"Datanglah kesini, nanti aku ceritakan!"
"Baiklah. Aku segera kesana, apa Baltasar ada disana juga?"
__ADS_1
"Tidak aku disini bersama Alessandro, akan ku hubungi Baltasar juga"
Tak lama kemudian Laura pun tiba di rumah sakit La Fe
"Dimana Alessandro?" ujar Laura
"Ada didalam!" tunjuknya
Mereka pun masuk ke ruangan itu dan Laura begitu kaget melihat Alessandro yang menangis histeris.
"Kenapa, apa yang terjadi?" tanya Laura dengan kaget dan penasaran dengan apa yang terjadi
"Siapa itu?" tanya Laura sambil menunjuk ke arah pasien yang diselimuti kain itu
"Itu Andres, dia telah pergi!" jawab Maverick
"Mhaha, kau bercanda kan?"
"Kau tau kalau aku tidak pernah bercanda pada saat seperti ini"
"Andres" Laura pun mendekati Andres yang terbujur kaku
Menyendiri dalam kebekuan sunyi, seakan menangisi musim yang cepat berlari. Air mata kepedihan kini bagai teman siang dan malam.
Tikaman rindu bagaikan malaikat maut mengucap salam, jauhkan harapan kembali terbang bersama awan. Adakah waktu sebentar saja? Menanti kembalinya hijau ranum musim bersemi
Bangku di taman yang kesepian, seakan mengabarkan arti kesetiaan berujung penderitaan, musim berganti, angin terus berlari. Bahkan ketika petir dan hujan saling bermesraan, bangku taman tetap terdiam dalam penantian
...Flashnow...
Pemakaman Andres sudah usai beberapa hari yang lalu. Semuanya berubah, tanpa hadirnya canda dan tawa dari seseorang yang bernama Andres. Bunga lama telah layu, musim semi telah berakhir dan dedaunan mulai gugur.
Dengan langkah yang berat menuju ke kamar sahabatnya itu, tak cukup kuat tangan ini untuk membuka pintu kamar apartemennya. Dia memaksakan diri untuk membukanya, semua kenangan menghiasi kebersamaan mereka selama ini. Baltasar tidak bisa menahan air matanya, dia menyelusuri setiap sudut apartemen itu, terasa hidup benar-benar tidak adil. "Kenapa? Kenapa secepat ini kau pergi teman!" Baltasar membuka lemari temannya itu dan mengambil salah satu baju Andres, dia meratapi baju itu tanpa henti dan memeluknya untuk melepaskan rasa kangennya yang tidak akan pernah terobati lagi.
"Aaaaaaaaaaaa!!! Aaaaaaaaaaaaaaa!"
Selamat tinggal temanku, kamu pergi! Sudah waktunya kamu pergi. Dan sekarang aku akan sangat merindukanmu. Kami berbagi begitu banyak rahasia. Kamu mencerahkan hari-hari aku. Kamu membawa aku begitu banyak kebahagiaan. Kamu mengangkat semangatku disaat aku merasa sedih. Tidak peduli apa yang terjadi? Kamu tahu persis apa yang harus dilakukan. Kami berlari di antara tetesan hujan dan berjalan di bawah teriknya matahari, berlari tanpa alas kaki di musim panas, dan oh! Kami bersenang-senang. Teman terbaik yang pernahku miliki. Tuhan ada di sini untuk membawamu pulang. Sekarang kamu dan aku harus berpisah. Aku akan terus mengenang mu, dan selamanya kamu akan ku kenang my friend~.
__ADS_1
...***...