
Setelah mendapatkan clue dari keluarga Consuella, tim kepolisian segera ditugaskan untuk menangkap pelaku peledakan mobil yang terjadi di tengah kota, dengan bantuan tuan Alonzo dan tuan Yeldirin, tim kepolisian segera menuju ke kediaman tuan Ambros.
Tok tok tok tok "Selamat siang!!" tok tok tok tok "Permisi!!" panggil pak inspektur
"Dobrak saja pintunya pak!!" teriak tuan Alonzo
"Tenang Alonzo, biar polisi mengurus semua ini"
"Bagaimana aku bisa diam, dia itu ingin mencelakakan keluarga ku Yeldirin"
"Belum tentu dia pelakunya, dia masih tersangka bukan pelaku!" tegas temannya itu
Nyonya Solmaz pun membukakan pintunya "Selamat pagi, ada apa ini pak." nyonya Solmaz terlihat kaget saat melihat tim kepolisian datang kerumahnya "Alonzo, Yeldirin ada apa?"
"Dimana suamimu!" teriak tuan Alonzo
Pak inspektur pun menghampiri tuan Alonzo "Tuan, kami berterimakasih karena kalian telah mengantarkan kami ke kediaman Ambros dan sekarang biarkan tim kami bekerja dengan baik, saya harap anda bisa kembali ke rumah anda, kami akan mengabari apapun yang terjadi nanti"
"Tidak pak, saya akan menunggu disini! Saya yakin pria goblok itu pelakunya, berani-beraninya dia mengancam istriku. Kalau dia berani temui aku" tegas tuan Alonzo lagi
"Ada apa ini sebenarnya, pagi-pagi kalian teriak-teriak di rumah orang apa kalian gila hah!!" sahut nyonya Solmaz
"Alonzo ayo kita pergi dari sini, ayo!!" ajak tuan Yeldirin sambil menyeret temannya itu
"Ada apa ini pak?" tanya Nyonya Solmaz
"Bisa panggilkan tuan Ambros" suruh pak inspektur
"Baiklah, Ambros! Ambros cepat kesini. Polisi mencarimu disini"
"Ada apa pagi-pagi kau teriak-teriak" sahut tuan Ambros sambil menghampiri istrinya
"Lihat polisi datang menjemputmu, apa yang telah kau lakukan?"
"Apa yang aku lakukan?"
"Alonzo dan Yeldirin juga disini tadi, dia marah-marah gak jelas, jangan bilang kau berulah lagi Ambros"
"Jangan ngaco kamu ah! Biar aku jumpai mereka dulu" Ambros pun datang menghampiri pihak kepolisian diluar rumahnya yang sedang menunggu "Ada apa pak!" tanyanya
"Kami mendapat laporan, bahwa ada telah di tuduh atas kasus peledakan mobil keluarga Consuella"
"Bagaimana bisa! Saya tidak melakukan apa-apa" belanya
"Beberapa hari yang lalu, anda bertemu dengan Nyonya Dilara kan?" tanya polisi
"Ya itu benar!"
"Dan Anda mengancam Nyonya Dilara bahwa Anda akan menghabisi Keluarganya jika Nyonya Dilara tidak mengembalikanmu sebagai mitra di perusahaan mereka, bukankah begitu?" tanya pak inspektur lagi dengan tegas
"Apa-apaan ini, saya tidak pernah bilang begitu"
"Ini pasti jebakan pak. Mereka pasti sedang menjebak kami" tambah istrinya melakukan pembelaan
"Apakah mungkin, korban menjebak orang lain dan membebaskan pelaku yang sebenarnya. Tenang saja nyonya, suami anda masih ditetapkan sebagai tersangka, kami mendapatkan izin dari pengadilan untuk mengeledah rumah kalian, jika kalian memang tidak bersalah, kalian pasti bersedia untuk kami menjalankan tugas ini kan"
"Tentu saja, kalian geledah saja rumah kami, kami memang tidak bersalah "
__ADS_1
Tim kepolisian segera melakukan penggeledahan di rumah tuan Ambros. Kurang lebih 10 menit mereka menemukan sebuah remote kontrol yang digunakan untuk mengaktifkan bom. Pihak polisi mengenakan sarung tangan untuk menyentuh remote itu dan memasukkannya ke dalam kantong plastik bening sebagai salah satu barang bukti untuk tidak merusak jejak pelaku yang ditinggalkan pelaku pada remote control itu.
"Tuan Ambros, kami menemukan ini di kamar Anda, apa kamu tau ini apa?" tanya pak inspektur
"Apa itu emangnya, seperti remote AC" sahutnya dengan cuek
"Ini remote control pengaktifan bom"
"Apa!? Bagaimana kalian bisa menemukan itu" tuan Ambros terkejut mendengar pernyataan pak inspektur
"Apa Anda kaget, jika kami bisa menemukan ini" ujar pak inspektur dengan ekspresi meremehkan
"Itu bukan milik saya pak!!!" tegas tuan Ambros
"Pak ini pasti jebakan, kami tidak tau soal itu sama sekali. Bom aja kami tidak tau bentuknya bagaimana" bela nyonya Solmaz
"Suami Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi" Tim kepolisian menangkap tuan Ambros dan membawanya ke kantor polisi untuk diinterogasi.
Dipihak lain seorang pria sedang memantau mereka dari kediaman tuan Ambros dari balik sebuah pohon, melihat tuan Ambros berhasil ditangkap oleh tim kepolisian dia segera menghubungi seseorang untuk menyampaikan berita itu
tutttttttt tutttttt tuttttttt...suara telpon terhubung "Hallo nyonya Amira!"
"Bagaimana, apa ada kabar?"
"Tuan Ambros telah dibawa oleh polisi, sepertinya tim kepolisian telah menemukan remote control itu"
"Bagus sekali dan sekarang Ambros akan membusuk di penjara!!"
...Flashback ...
Nyonya Dilara dan Amira tersenyum lemah saat mereka berjalan masuk ke ruangan yang telah disediakan untuk pertemuan dengan Tuan Cruel Danger. Kedua wanita itu merasa tidak nyaman dengan ketegangan yang terasa di ruangan itu.
Kedua wanita itu merasa sangat takut dan gugup. Mereka berkata bahwa mereka telah datang tepat waktu. Namun, Tuan Cruel Danger tidak terpengaruh dengan alasan mereka. Dia bertanya maksud dari kedatangan mereka untuk bertemu langsung dengannya "Sekarang katakan maksud kalian ingin bertemu denganku secara langsung"
"Sebelumnya perkenalkan saya Dilara dan ini temanku Amira. Ada dua kepentingan yang membuat kami datang kesini untuk menemui Anda secara langsung. Sebelum itu saya ingin bertanya, apakah kau yang ingin mencelakakan ayah mertuaku tuan Rafael"
"Ouh jadi si tua bangka itu ayah mertuamu ya? Dia tidak melunasi hutangnya berbulan-bulan, jelas saja nyawa akan di permainkan jika berurusan dengan Cruel"
"Sekarang tim kepolisian sedang mencari pelakunya, bisa jadi kau akan segera tertangkap"
"Polisi tidak akan pernah bisa menemukan ku. Sebenarnya apa mau kalian, apa kau ingin membuang-buang waktuku"
"Dilara, langsung saja ke intinya" timpa nona Amira
"Baiklah, aku tau polisi tidak akan bisa menangkapmu tapi dalam kasus ini aku ingin pelakunya tertangkap."
"Maksudnya!" Cruel danger kebingungan dengan pertanyaan nyonya Dilara
"Kami punya target untuk menyelesaikan kasus ini yaitu Ambros jadi kami ingin dia yang menjadi sasaran dari pihak kepolisian" jelas nona Amira
"Apa ini! Apa kalian sok jadi pahlawan untuk menyelamatkanku" sahutnya
"Bukan begitu maksud kami, saya memiliki masalah pribadi dengan pria itu. Jadi dengan adanya insiden ini saya ingin memanfaatkannya! Saya ingin meminta bantuan kepada Anda untuk masalah ini" tambah nyonya Dilara menjelaskan maksudnya
"Wow menarik sekali" Cruel tersenyum tipis
"Saya pikir kita harus menyusun rencana yang bagus agar Ambros tidak menyadarinya" tambah nona Amira
__ADS_1
"Sebelum itu lunasi dulu hutang ayah mertuamu dan ya untuk bantuan ini harganya menjadi 150.000 Euro" tegas Cruel
"Tentu saja, kami telah menyiapkan uangnya, bahkan lebih dari yang kau minta"
"Kalau begitu mari kita menyusun rencananya"
"Sebelum itu aku ingin tau. Jenis bom apa yang kau gunakan pada mobil tuan Rafael"
"Bom Car, atau biasanya Badan militer dan pelaksana hukum Amerika Serikat sering menyebutnya sebagai vehicle borne improvised explosive device, atau VBIED. Jenis bom yang kugunakan itu initiator tipe C4 explosive yang bisa diaktifkan menggunakan remote control" jelas Cruel Danger
"Apa kau masih menyimpan remote controlnya?" tanya nona Amira
"Tentu saja!"
"Kalau begitu, kita manfaatkan barang bukti itu. Kita suruh seseorang untuk menyimpan remote itu di kediaman tuan Ambros. Kemudian kamu Dilara berusaha untuk membuat tim polisi menjadikan Ambros sebagai tersangkanya yang kuat, dengan begitu pengadilan pasti akan memberikan surat izin pengeledahan kediamannya dan bom!! Ambros menjadi sang pelaku"
"Wow, cara yang klasik aku suka idea itu. Untuk masalah remote control, biarkan aku yang melakukannya. Berikan padaku alamat kediaman Ambros dan berikan secara detail tentang interior rumahnya"
"Saya harap dengan uang yang saya berikan itu, rencana ini akan berhasil dan ingat kamu jangan pernah mengganggu keluargaku lagi" tegas Nyonya Dilara
"Aku tidak membutuhkan keluarga kalian, yang ku butuhkan hanyalah uang"
.........
Setelah melalui proses interogasi, tuan Ambros tetap dengan pendirian yang kuat bahwa ia bukan pelaku peledakan mobil.
"Sudah saya katakan dari tadi, itu bukan milik ku" tegas tuan Ambros memberontak
"Baiklah, bisa jadi argument anda benar. Walaupun kami telah mempunyai dua bukti yang bisa menyeret anda ke penjara"
"Apa buktinya, apa karena omong kosong Dilara dan remote control itu? Itu belum kuat sama sekali, bisa jadi ini merupakan jebakannya"
"Baiklah, sekarang remote control itu sudah di bawa ke laboratorium, dalam waktu 6 jam kedepannya kita akan mendapatkan sidik jari pemilik remote control itu"
"Lakukan saja!"
Tiba-tiba seorang petugas datang "Permisi pak"
"Iya ada apa, tuan Yeldirin dan tuan Alonzo datang untuk menjenguk tuan Ambros"
"Baiklah, suruh mereka masuk" tak lama kemudian tuan Alonzo dan tuan Yeldirin masuk
"Baiklah aku tinggalkan kalian selama 5 menit" ujar pak polisi
"Terimakasih pak" sahut tuan Yeldirin
Tatapan tuan Alonzo menatap dengan tajam ke wajah tuan Ambros dengan wajah dan memerah dia menghampiri tuan Ambros dengan langkah yang kecil "Sudahku duga, kau pelakunya"
"B-bodoh! Kau menangkapku dan melepas pelaku yang sebenarnya" oceh tuan Ambros
"Tch, hanya kau yang bisa melakukan ini kepada keluargaku, kau pengecut. Jika kau berani kau datang menemui aku! Bukan Dilara dan mengancamnya" teriak tuan Alonzo
"M-mwhahahahahahaha.....Mcwhahahaha Dilara ya, asal kau tau Dilara pasti sedang memainkan siasatnya. Kau tau siapa dalang dari kematian sofia, dia adalah Dilara. Sayangnya aku telah memberikan bukti itu padanya" mendengar ocehan yang tidak-tidak terhadap istrinya, tanpa sepatah kata pun lagi tuan Alonzo menggenggam kerah baju tuan Ambros dan menghajarnya. Alonzo pun mulai menyerang Ambros dengan segenap kekuatannya. Dia menampar, meninju, dan memukul Ambros hingga babak belur "Sialan kau b*jingan!! Aakhhhhhhhhh!!" Tuan Yeldirin berusaha menahan dan memisahkan keduanya, tapi dia tidak sanggup menahan Alonzo yang sedang dalam keadaan emosi.
"Polisi-polisi!!" panggil tuan Yeldirin
Para petugas pun bergegas masuk mendengar keributan itu, mereka begitu kaget melihat tuan Alonzo yang tidak terkendali lagi. Mereka pun ikut berusaha memisahkan mereka. Tuan Ambros tersungkur dengan wajah yang berlemuran darah. Dengan perlahan-lahan tuan Ambros bangkit dan menatap tuan Alonzo dengan tajam, kemudian dia berkata "Satu hal yang harus kau tahu sekarang Alonzo, a-aku merupakan saudara sedarahnya Dilara, a-aku telah mendapatkan 1/2 dari harta Dilara, sekarang surat penyataan itu ada pada Solmaz, dia memberikan itu bukan tanpa syarat dia ingin aku memberikan card memory yang merupakan bukti dari semua rencananya untuk melenyapkan Sofia"
__ADS_1
"Sialan kau!!" teriak tuan Alonzo yang ingin meninju tuan Ambros yang tidak terima fitnah keji terhadap istrinya "Cukup Alonzo, jangan dengarkan orang tidak waras ini" ujar tuan Yeldirin menahan temannya itu dan membawanya keluar "Kurasa kau harus di bawa ke rumah sakit gila Ambros" tambah tuan Yeldirin pada tuan Ambros
...***...