Alstroemeria Of Almeria : Complicated Love

Alstroemeria Of Almeria : Complicated Love
Kangen


__ADS_3

Kampus adalah sebuah tempat yang penuh dengan harapan dan kebahagiaan. Di sini, mahasiswa berkumpul untuk belajar, berdiskusi, dan bersosialisasi.


Ketika masuk ke pekarangan kampus Alessandro merasakan suasana yang sangat luar biasa. Dia melihat mahasiswa yang sedang berjalan di sepanjang jalan, saling bersalaman, dan berbincang. Alessandro juga dapat melihat mahasiswa yang sedang duduk di luar bangunan kuliah, berkumpul untuk berdiskusi tentang topik yang sedang mereka pelajari dan melihat bagaimana mereka saling mendukung dan saling berbagi ide mereka. Hal ini mengingatkan saat semester awal dia masuk kuliah, dimana semua teman-temannya ada untuknya, melakukan hal konyol bersama, balapan motor, bermain basket dan lainnya. Tetapi hari ini, hanya ada Alessandro dan kusir rodanya, kepopulerannya meredup seketika, teman yang dia bangga-banggakan satu persatu mengkhianatinya dan pergi meninggalkannya. Mengingat kejadiannya itu Alessandro tersenyum remeh, yang dia khawatirkan sekarang adalah Baltasar teman yang selalu ada untuknya.


Ketika Alessandro berjalan di sepanjang jalan, dia melihat mahasiswa yang sedang bermain basket di lapangan olahraga. Suara tawa mereka mengisi udara dengan energi yang menyenangkan. Melihat pemandangan itu, seketika dia teringat dengan Andres Aldafo, teman tim basket terbaiknya yang tidak pernah meninggalkannya walaupun dirinya tidak bisa menemani temannya itu lagi dalam permainan basket.


Tiba-tiba seseorang memanggil Alessandro dari belakang sambil mendorong pelan kursi rodanya "Alesso!!"


"Iya, eh Paula apa kabar?"


"Kabar baik, bagaimana denganmu?" jawab Paula sambil tersenyum lebar


"Aku baik!"


"Ngomong-ngomong dimana Baltasar, aku tidak melihatnya hari ini"


"Tadi pagi tiba-tiba dia sakit, suhu tubuhnya sangat tinggi!"


Mendengar itu, Paula terkejut "Apa!? Sekarang dimana dia?"


"Dirumah sakit, pulang dari sini aku juga mau kesana nanti"


"Aku ikut ya!" pinta Paula dengan antusias


"Tentu saja!" Melihat tingkah Paula yang sangat khawatir pada Baltasar, membuat Alessandro tersenyum bahagia.


..........


Di sore hari, taman pemakaman tampak sepi dari suara dan orang. Hanya ada rintik hujan yang tiba-tiba turun dan membasahi tanah di sekitar makam. Di sebuah kuburan, tuan Rafael berdiri di depan makam putrinya. Dia menatap patung angel di atas makam yang mengingatkannya akan kepergian sang putri. Di detik-detik ini, dia merasakan luka yang tak pernah sembuh.

__ADS_1


Tuan Rafael berdiri di sana dengan air mata di matanya. Ia mengakui kesalahannya sebagai ayah yang tak bertanggung jawab. Dia menyesali kesalahan-kesalahannya yang telah mengakibatkan kepergian sang putri. Di detik-detik ini, dia merasakan kesedihan yang tak pernah berakhir.


Tuan Rafael berlutut di hadapan makam putrinya. Ia memejamkan matanya dan mengucapkan doa untuk sang putri. Hujan yang turun menutupi air mata di matanya.


"Nak! Ayah datang..... Ayah kangen padamu nak, putriku, ayah minta maaf, andai saja dulu aku bisa menjadi ayah yang baik untukmu. Hidupku tidaklah seburuk ini. Aku memang tidak berguna, aku ayah yang tidak berguna!!! Aaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrghh"


Hanya ada tuan Rafael sendirian yang berdiri di hadapan makam putrinya. Harapan tuan Rafael untuk bisa bertemu sang putri kembali sudah tak ada. Namun, di detik-detik ini, dia merasa tenang dengan kenyataan bahwa dia telah mengakui kesalahan-kesalahannya dan berdoa agar sang putri tenang di alam sana.


...........


Dirumah sakit, jam 15.45 PM


Setelah pulang dari kampus, Emilia berniat untuk singgah kerumah sakit untuk melihat kondisi Baltasar. Dia menanyakan ruangan Baltasar pada suster yang mendata pasien masuk. Saat sudah mendapatkan informasi dimana ruangan Baltasar di rawat, dia bergegas menuju kesana. Dari arah kejauhan sudah terlihat ayahnya yang baru saja keluar dari kamarnya Baltasar, Emilia segera menghampiri ayahnya "Papa! Bagaimana kabarnya"


"Dia baik-baik saja! Emilia, apa kamu bisa menjaga Baltasar sebentar, papa harus kekantor ada beberapa urusan yang harus diselesaikan, tidak akan lama setelah itu papa balik lagi kesini untuk menjemput Baltasar, soalnya dia sudah diperbolehkan untuk pulang oleh dokter"


"Baiklah, makasih sayangya muachhhh." Tuan Alonzo mencium kening putrinya itu "Papa pergi dulu!!"


"Dadahhhh!!" lambai Emilia


Setelah ayahnya pergi, Emilia pun masuk ke kamar rawat Baltasar, dia berjalan dengan langkah yang kecil, menatap Baltasar sambil tersenyum tipis. Emilia mendekati Baltasar dan duduk bersebelahan dengannya. Dia menatap tubuh Baltasar dari ujung kaki hingga ke wajahnya yang penuh dengan keringat. "Apa yang terjadi padamu sayang! Aku cuma memberimu bombas kau sudah drop. Aku belum memberimu racun" Emilia pun mulai membuka kancing kerah Baltasar, kemudian dia meletakkan tangannya secara perlahan di dada Baltasar "Ehmmm, jantungmu masih berdetak dengan normal!" Perlahan-lahan Emilia menyeret tangannya dari dada Baltasar ke lehernya "Aku bisa saja memutuskan untuk membuat jantungmu berhenti hari ini, tapi aku tidak sanggup melihat air mata kakakku. Dia sangat menyayangimu, walaupun kau telah membuatnya duduk di atas kursi roda seumur hidup!!!" tegas Emilia sambil mencekik Baltasar dengan tiba-tiba, tak di duga Baltasar membukakan matanya dan menatap Emilia dengan melotot sambil menggenggam tangan Emilia dengan kasar. Emilia pun kaget dan panik seketika "Hah!??" Emilia mencoba melepaskan tangan Baltasar dari tangan Baltasar dengan gemetar "Apa kau ingin membunuhku!" ujar Baltasar dengan suara beratnya. Emilia benar-benar panik mendengar pertanyaan itu dari mulut Baltasar, dia tidak menyangka kalau Baltasar dalam keadaan sadar saat Emilia mengoceh tentangnya "Lepaskan aku!" ujar Emilia sambil mencoba melepaskan genggaman Baltasar. Karena kewalahan, perlahan-lahan Baltasar melemah dan dia mulai jatuh pingsan kembali, tetapi tangan Baltasar masih menggenggam tangan Emilia dengan erat dan tidak melepaskannya. Tiba-tiba suara pintu kamar terbuka drakkk tak lama kemudian, Alessandro dan Paula pun muncul dari balik pintu itu "Emilia! Kau disini?" tanya kakaknya


Melihat Baltasar menggenggam tangan wanita lain, Paula terlihat kaget sekaget-kagetnya, dia merasa cemburu dan menatap sinis ke arah Emilia.


Emilia yang merasa terancam, dia mencoba menenangkan diri "Huffffff!!" dan tersenyum polos di depan kakaknya dan teman kakaknya.


Melihat tangan Baltasar yang memegang tangan adiknya dan tangan adiknya terlihat sedikit gemetar membuat Alessandro merasa jangan dengan apa yang terjadi sebelum mereka datang "Kenapa! Kau gemetar Emilia" tanya kakaknya lagi sambil menghampirinya


"Ah tidak kakak, Baltasar tidak melepaskan tanganku dari tadi" sanggah Emilia dengan senyum palsunya

__ADS_1


"Kok bisa apa yang terjadi!"


"Engggggg... Tadi Baltasar sempat disuntik sama suster, tapi dia menolaknya. Aku menggenggam tangannya untuk membuatnya tenang"


Mendengar penjelasan itu membuat Alessandro sedikit geli dan ingin tertawa "Mwhahahahah, ternyata Baltasar takut suntik!!?"


"Iya nih! Sekarang dia sedang tertidur, tapi tangannya tidak melepaskanku. Bisa bantu aku kak!"


"Sini biar kakak bantu" Alessandro pun mencoba melepaskan tangan Baltasar dari Emilia, setelah berhasil melepaskannya. Saat Alessandro berhasil membantu adiknya terlepas dari genggaman Baltasar, dia melihatnya pergelangan Emilia memerah, Alessandro jadi khawatir terhadap adiknya itu "Emilia tanganmu..?"


"Iya kak gapapa, nanti juga sembuh. Baltasar sangat takut dengan jarum suntik soalnya, liat saja tanganku sampai merah begini" jelas adiknya itu


"Harus segera di obati itu"


"Iya kak, iya"


Tiba-tiba Paula bertanya "Dia adikmu?"


"Iya, perkenalkan namanya Emilia, Emilia dia Paula, teman kampus Baltasar"


"Salam kenal!" ujar paula menjulurkan tangannya sambil tersenyum. Emilia pun menyambut salaman dari Paula, perlahan-lahan Paula meremas tangan Emilia "Arghh!!" teriak Emilia kesakitan


"Ouh maaf-maaf"


"Wanita sialan, baik Baltasar maupun temannya sama-sama dodol" gumam Emilia


"Sepertinya tangannya parah, mari ikut aku biar aku obati untuk pertolongan pertama" ajak Paula.


...***...

__ADS_1


__ADS_2