
Disekolah Oliveira
Didalam kelas semua siswa bersiap-siap untuk menuju ke aula sekolah
"Oliveira! Aku dengar kamu setelah lulus dari sini akan lanjut studi ke Amerika ya?" tanya salah satu temannya bernama Cen
"Iya Cen, sebenarnya aku juga tidak ingin kesana, tapi semenjak insiden aku menusuk Van. Ibuku memaksaku untuk studi disana"
"Aku sangat sedih mendengar kabar ini, apa ibumu tidak membatalkan rencananya! Lagi pula Van baik-baik saja sekarang, dan insiden itu telah berlalu."
"Seperti kau tidak tau tante Dilara saja kamu Gen, ibunya sekali bilang itu maka itu" sahut temannya yang lain yang bernama Espen
"Jangan sedih kawan, aku akan sering-sering menghubungi kalian nanti disana" jawab Oliveira sambil merangkul mereka
"Tetap saja rasanya akan berbeda jika kau tidak bersama kami lagi disini."
"Jika ada libur panjang, aku pasti akan balik kesini." tambah Oliveira menenangkan mereka "Baiklah, ayo kita keluar sebelum terlambat nanti!"
Mereka pun menuju ke aula sekolah
"Anak-anak silahkan masuk keruangan dan duduk di tempat yang telah disediakan. Bagi orang tua murid silahkan duduk ditempat yang telah disediakan" ujar panitia acara
Tuan Alonzo bergegas untuk masuk keruangan dan duduk di kursi paling depan.
"Selamat siang pak!" sapa orang tua dari murid lainnya
"Siang, apa kabar nyonya?" sapa balik tuan Alonzo
"Baik! Anda sendirian kesini?" tanyanya yang kepo karena tidak melihat kehadiran nyonya Dilara
"Iya!" jawab tuan Alonzo dengan nada dingin
"Dimana nyonya Dilara?" tanyanya lagi
"Dia sedang ada urusan!"
"Sangat penting ya? Sehingga tidak dapat menghadiri acara kelulusan anaknya sendiri"
"Ya begitulah!" tuan Alonzo mulai tidak nyaman dengan orang-orang yang suka mengurus kehidupan orang lain
"Emmmmmm. Mungkin anaknya tidak penting lagi baginya!" tambah nyonya itu
"Sepertinya begitu! Aku kesana dulu ya nyonya" pamitnya yang risih dan mencari kursi lain.
"Ouh iya pak!!"
Suasana dalam aula sekolah tampak berbeda pada hari itu. Aula yang biasanya sunyi dan suram kini dipenuhi oleh berbagai suasana yang berbeda. Sekolah sedang mengadakan acara kelulusan bagi para siswanya.
Murid-murid yang berada di aula tampak ceria dan gembira. Mereka berkumpul bersama orang tua mereka untuk merayakan kelulusan mereka. Murid-murid itu mengenakan jas dan pakaian terbaik mereka. Mereka menyapa dan memeluk orang tua mereka dengan antusias.
Kepala sekolah berdiri di depan aula dan memberikan pidato yang indah tentang bagaimana murid-murid itu telah berjuang untuk mencapai keberhasilan mereka. Ia juga mengucapkan selamat kepada mereka yang telah berhasil lulus dari sekolah ini.
Setelah itu, para siswa menerima sertifikat kelulusan mereka. Setiap murid menerima sertifikat kelulusannya sambil tersenyum dan menangis. Mereka berfoto bersama orang tua mereka dan berjalan keluar aula sambil berteriak gembira.
Acara kelulusan berakhir dengan ceria. Para siswa dan orang tua mereka tampak sangat bahagia. Ini adalah hari yang berharga bagi mereka dan hari yang sangat berarti. Sekolah ini akan selalu mengingat hari ini dan akan selalu menjadi bagian dari sejarah mereka. Saat acara selesai mereka semua keluar dari aula sekolah. Tuan Alonzo segera menghampiri anaknya
"Oliveira!"
"Papa"
"Papa sangat bangga padamu nak, kau bisa lulus dengan nilai yang lumayan bagus"
"Aku senang jika ayah senang, dimana mama! Dia tidak datang ya"
"Mamamu sedang sibuk, ada urusan yang harus dia selesaikan. Lagi pula ada papa disini kan!"
"Mama emang tidak peduli padaku lagi setelah insiden itu, dan sekarang dia ingin membuang ku ke Amerika"
"Oliveira! Apa yang kau katakan, mamamu mengirim mu ke sana untuk melanjutkan studi"
"Kenapa tidak disini saja, sama seperti Emilia dan kakak Alesso"
"Mamamu ingin kamu melanjutkan studi ke sana untuk mendapatkan pendidikan terbaik"
"Argh! Itu alasannya saja"
"Sudahlah, papa tidak suka melihat sikapmu begitu. Dan papa juga tidak mau berdebat denganmu sekarang! Ayo kita pulang"
__ADS_1
Tiba-tiba temannya Oliveira datang menghampirinya
"Oliveira! Kita pergi jalan-jalan dulu yok" ajak Cen
"Tapi ini sudah hampir gelap, apa kalian juga tidak pulang?" Tanya tuan Alonzo
"Kami sudah izin sama orang tua kami paman, kami mohon untuk izinkan Oliveira juga. Kami tidak akan pulang larut kok" jawab Espen mencoba meyakinkan ayahnya Oliveira
"Papa! Aku pergi sama teman-teman untuk malam ini ya" izin Oliveira dengan memelas
"Tapi mamamu menunggumu dirumah dan ingin melihat nilai sekolahmu"
"Papa bawa pulang aja tas aku dan aku akan pergi dengan mereka"
"Iya paman, kami kan ingin menghabiskan waktu dengan Oliveira sebelum dia pergi ke Amerika" tambah Cen dengan nada rendah
"Oke baiklah, tapi bagusnya kalian ganti baju dulu kan, jangan pergi dengan baju sekolah seperti ini" saran tuan Alonzo
"Dalam tasku ada baju ganti yang kubawa tadi Pa!" sahut Oliveira
"Iya kami juga!" timpa teman-temannya
"Wah wah wah! Seperti emang sudah direncanakan jauh-jauh hari ya. Oke baiklah, hati-hati dijalan"
"Oke. Terimakasih paman!"
Kringggg kringggg kringggg.... "Panggilan dari Della!" dia pun segera mengangkatnya telepon itu
.........
Jam 04.13 PM
Semua orang di rumah sibuk untuk menyiapkan makan malam. Malam ini akan sedikit berbeda, karena menu makan malam untuk malam ini adalah menu kesukaan Baltasar. Bibi Emine, bibi Sema, kakek Rafael bahkan nyonya Dilara juga ikut serta untuk menyiapkan makan malam, di sisi lain Emilia sedang menyiapkan menu spesialnya sendiri. Hari pun semakin gelap, semua menu makanan sudah di hidangkan di atas meja makan dan mereka sudah siap untuk menyantap makan malam tetapi mereka menunggu Baltasar terlebih dahulu karena semua menu makanan dikhususkan untuk merayakan kemenangan Baltasar
"Alonzo dimana Oliveira, apa dia tidak pulang barengan denganmu tadi?" tanya istri yang penasaran
"Dia pergi bersama temannya, dia ingin merayakan hari kelulusannya bersama teman-temannya"
"Kenapa kau mengizinkannya, padahal aku juga sudah menyiapkan makanan kesukaannya."
"Ke selalu memanjakan anak itu Alonzo!"
"Sudahlah! Kalian selalu saja berdebat di meja makan, biarkan saja Dilara. Dia kan juga ingin bertemu dengan pacarnya." seru kakek Rafael. Mendengar kata pacar semua orang menatap sang kakek dengan tatapan keheranan "Kenapa kalian menatapku begitu. Itu kan wajar, aku dulu kelas satu SMP sudah memiliki cewek 5 sekaligus!!" tambahnya
Mendengar pernyataan itu semuanya jadi hening, tiba-tiba "Mwhahahahha. balik ke mereka dan berkata "Kenapa! Itu kan lucu" jelasnya sambil cengengesan
Ting tong suara bell berbunyi. Bibi Sema segera membuka pintu, Baltasar dengan tubuh yang kewalahan masuk kedalam rumah. "Balt! Semua orang sudah menunggumu di meja makan" ujar bibi Sema memberitahu
"Menungguku?" tanyanya untuk memperjelas
"Iya, lebih baik kamu segera kesana. Sini tasnya biar bibi yang bawakan ke kamar"
"Tidak apa-apa Bi! Biar aku saja. Nnti aku akan segera kesana ya"
"Baiklah" Setelah menaruh barang-barangnya di kamar Baltasar masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya sedikit yang sudah terlihat kusam. Kemudian dia bergegas menuju ke meja makan.
"Itu Baltasar" tunjuk Alessandro
"Selamat datang Baltasar! Silahkan duduk"
Seperti biasanya tempat duduk Baltasar selalu bersebelahan dengan Emilia tepatnya disamping kursi Emilia "Banyak banget menu makanan hari ini" ujar Baltasar
"Tentu saja! Kami semua menyiapkan makanan spesial untukmu. Lihat semua ini menu kesukaanmu kan?" tunjuk nyonya Dilara
"Wah! Ada acara apa ini tante. Kenapa semua menu makanannya ialah kesukaanku" tanya Baltasar kegirangan
"Tadi Della, sekertaris saya telpon! Katanya kamu menang tender" tambah tuan Alonzo
"Kamu emang hebat ya Balt!" timpa Alessandro yang bangga dengan sahabatnya itu
"Tidak Alesso! Semua ini hasil kerja keras kita semua"
"Kan kamu yang bekerja Balt" seru tuan Alonzo
"Tidak paman! Konsep awal dari paman dan untuk memahami konsepnya, tante Dilara yang mengajari saya, lagi pula nona Della juga banyak membantu tadi di kantor"
"Emang ya! Kalau Baltasar itu susah banget untuk dapat pujian" sahut Alessandro
__ADS_1
"Saya sudah dengar semuanya dari Della. Bagaimana cara kamu menyakinkan klien kita dan kamu tau Dilara? Bapak Ramirez ingin Baltasar sendiri yang menanganinya proyeknya, dia tidak mau orang lain" ucap tuan Alonzo
"Apa paman?"
"Iya serius!"
"Kamu siap kan Baltasar"
"Eummm?"
"Nanti kami juga akan membantu" tambah nyonya Dilara
"Baiklah tante"
"Sudah sudah! Kakek sudah lapar ni, kapan kita mulai acara makan-makannya" sahut sang kakek yang sudah kelaparan dari tadi
"Ayo kita makan dulu" Mereka pun mulai makan bersama
"Baltasar! Aku memasak menu spesial untukmu" ujar Emilia tiba-tiba
"Menu spesial?" tanya Baltasar keheranan
"Iya! Apa kau mau mencobanya" tanyanya
Perasaan Baltasar mulai tidak enak, kenapa Emilia tiba-tiba menjadi baik begini padanya. Setaunya dari semua keluarga Consuella, cuma Emilia yang tidak pernah menyukai kehadiran Baltasar
"Iya Balt cobalah, Emilia memasaknya sendiri untukmu, kakek ingin membantunya tapi dia tidak mengizinkannya. Emilia sangat bersemangat" sahut Nyonya
"Benarkah Bu!?" tanya Alessandro yang tidak percaya
"Iya itu benar, kakek ingin mencicipinya saja tidak diizinin sama Emilia" tambah sang kakek
"Tentu saja kakek! Ini kan hari spesialnya Baltasar, dia telah berhasil memenangkan tender untuk perusahaan kita. Jadi aku harus ngasih reward yang spesial juga untuk Baltasar" sahut Emilia
"Ehmhehehe! Nanti saja aku makannya ya?" jawab Baltasar dengan cuek
"Sekarang dong! Gak usah malu-malu gitu. Sini biar aku ambilkan ya" ujar Emilia sambil mengambil masakannya "Ayo buka mulut mu biar aku suapin!" tambahnya
Baltasar jadi plangak-plongok melihat ke arah semua orang. "Kenapa? ayo dong buka mulutnya" seru Emilia
"Ayolah Baltasar, Emilia sudah capek-capek buat makanan spesial untukmu" bales Alessandro
"Iya nak! Makanlah" tegas tuan Alonzo
Agar tidak membuat Emilia kecewa, Baltasar menghargai usaha Emilia dia pun menerima suapan dari Emilia. Saat makanan itu masuk ke mulutnya. Benar saja, rasanya hanya dua yaitu asin dan pedas "Sialan! Apa Emilia memasak garam dan cabe untukku" batinnya sambil tersenyum paksa dan berusaha menelan makanan itu.
"Gimana! Enakkan?" tanya Emilia
"Tentu saja enak, ini adalah masakan terenak yang pernah aku makan" ujar Baltasar dengan terpaksa sambil menahan ekspresi wajah yang tersenyum palsu
Tuan Alonzo dan nyonya Dilara saling pandang dan tersenyum tipis satu sama lain karena Baltasar dan Emilia terlihat begitu romantis, sepertinya mereka melewatkan sesuatu! Mereka mulai sadar kalau Baltasar dan Emilia telah menjalin hubungan yang serius di belakang mereka.
"Mau lagi, ayo aaaaaa!" ujar Emilia lagi
Baltasar termakan dengan omongannya sendiri, dia tidak ingin membuat malam yang bahagia ini rusak karena Emilia. Dia menerima suapan demi suapan dari Emilia hingga makanannya habis. Wajah Baltasar memerah dan keringat mulai membasahi keningnya
"Kenapa Balt! Sampai berkeringat begitu" tanya Nyonya Dilara
"Mungkin karena makanannya enak banget tante" tambah Baltasar
Selesai makan malam mereka melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Baltasar segera bergegas ke kamarnya, sebelum itu dia meminta pada bibi Emine untuk menyiapkan air dingin dan susu satu teko untuk diantarkan ke kamarnya.
"Sialan Emilia! Malam ini aku cuma makan cabe dan garam saja." ucapnya sambil ngos-ngosan
Tok tok tok tok "Balt! Ini minuman"
Baltasar pun membuka pintu kamarnya dan mengambil teko dan gelas yang sudah disiapkan dari bibi Emine "Terimakasih ya Bi!"
"Kamu gak apa-apa?" tanya bibi Emine
"Tidak, aku cuman mules saja bi! Mungkin kebanyakan makan tadi, sekali lagi makasih ya bi" drarggg suara pintu yang ditutup dengan sedikit kasar
'Aneh sekali. Dia sampai berkeringat begitu" gumam bibi Emine pada dirinya sendiri
Baltasar pun mulai minum untuk menghilangkan rasa pedas dan asin di mulutnya itu. Dan rasa mules mulai menghampirinya, perut Baltasar seolah diputar 360 derajat. Malam itu, Baltasar tidak bisa tidur! Dia hanyan bolak-balik ke kamar mandi.
...***...
__ADS_1