Alstroemeria Of Almeria : Complicated Love

Alstroemeria Of Almeria : Complicated Love
Surat kesepakatan


__ADS_3

Dikediaman tuan Ambros


Di sore hari nyonya Solmaz sedang asyik menonton berita di televisi. Tiba-tiba ia melihat berita penting yang sedang di liput. Ia merasa begitu gembira dan ingin berbagi informasi ini dengan suaminya. Dengan nada yang tinggi dan bersemangat, Nyonya Solmaz berteriak "Ambros! Datang segera! Ada berita penting yang sedang di liput di televisi!"


"Ada apa? Bisakah kau pelankan suaramu, suaramu itu seperti petir menyambar. berisik!" repetnya sambil menghampiri istrinya itu


"Jangan banyak omong, lihat itu!" tunjuk nyonya Solmaz


Suara televisi "Seseorang telah berusaha untuk membunuh tuan Rafael Consuella, dalam hal ini tim kepolisian masih dalam penyelidikan lebih lanjut. Salah seorang anggota keluarga Consuella menjadi korban dari peristiwa itu"


"Apa, siapa korbannya?"


"Entahlah, bisa jadi Alonzo kan?"


"Tidak mungkin! Jika benar kenapa mereka tidak menyebutkan namanya"


"Apa kita kesana untuk menghibur mereka, pasti mereka sedang berduka sekarang"


"Ogah, mampus situ. Aku sudah capek berpura-pura baik di depan mereka, apa yang aku dapatkan malah aku di tendang dari perusahaan mereka. Setidaknya aku bisa terhibur sedikit mendengar berita ini"


"Dasar bodoh kamu! Jika kita menunjukkan kalau kita berduka kepada mereka. Mereka juga akan bersimpati pada kita. Inilah saatnya bagi kita untuk mengambil hati mereka lagi"


"Kalau kau mau, kau saja yang pergi kesana. Aku males, sekarang aku mau tidur saja"


"Hanya itu kerjamu, pagi siang dan malam tidur aja. Kenapa kamu tidak cari kerja, keuangan kita sudah mulai menipis Ambros"


"Akhhh! Berisik kau" teriak tuan Ambros sambil menuju ke kamarnya


Seorang pria dengan jas hitam mendatangi kediaman tuan Ambros. Dia merupakan utusan dari nyonya Dilara untuk mengajukan kesepakatan padanya. Pria dengan jas hitam itu tiba di kediaman tuan Ambros dengan sedikit ragu-ragu. Dia mengetuk pintu dan tersenyum lemah ketika seseorang membukakan pintu.


"Selamat sore!"


"Sore!!!" Nyonya solmaz melihat pria itu dari kaki hingga ke kepalanya, pria itu menggunakan jas hitam dengan dasi merah dan membawa sebuah tas tampak seperti normal saja, tetapi pria itu menggunakan sarung tangan hitam yang membuatnya sedikit keheranan "Siapa kamu. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Saya adalah utusan dari Nyonya Dilara. Saya datang untuk mengajukan kesepakatan kepada tuan Ambros."


"Oh ya, kesepakatan apa?"


"Saya hanya akan berbicara dengan tuan Ambros langsung nyonya."


"Kenapa terburu-buru, kau bisa ceritakan dulu padaku!!"


"Solmaz!! Kau sedang bicara sama siapa?"


"Seseorang datang, katanya utusan Dilara "


"Dilara!?" Tuan Ambros keluar menghampiri mereka "Apa itu benar?"


"Iya tuan, saya utusan nyonya Dilara, saya datang untuk mengajukan sebuah kesepakatan"


"Wah wah wah, akhirnya Dilara takluk juga denganku. Silahkan masuk dulu pak. Tidak baik berbicara hal yang serius di depan pintu. Solmaz siapkan minumannya!!!" Nyonya solmaz mengajak pria dengan jas hitam itu masuk ke dalam kediaman dan mengarahkannya ke ruang tamu. Tanya tuan Ambros dengan ramah "Jadi bagaimana pak?"


"Saya adalah utusan dari Nyonya Dilara. Dia mengirim saya untuk mengajukan kesepakatan tentang pembagian warisannya."


"Oh, apakah itu benar? Beritahu saya lebih banyak tentang itu!!"


"Apa Dilara sudah gila, mana mungkin dia akan membagikan warisan itu dengan mudah" nyela Solmaz sambi membawakan air minum


"Diam kamu Solmaz, sudah ku katakan Dilara memiliki rahasia besar. Dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan dirinya sendiri"


"Ya, tuan. Nyonya Dilara berpikir bahwa pembagian warisannya harus adil dan kompeten. Jadi, dia ingin menyepakati pembagian dengan tuan sebagai pihak ketiga yang tidak berpihak."


"Saya mengerti. Apa yang dia inginkan dari saya?"

__ADS_1


"Nyonya Dilara ingin tuan memberikan rekaman suara itu. Bukti yang menyangkut rahasia besar nyonya Dilara"


"Mhahahhaa, apa dia mau membodohiku, akan aku berikan jika harta warisan itu sudah menjadi milikku"


"Lihat surat ini tuan, nyonya Dilara dengan tegas menyatakan bahwa. Harta warisan ayahnya sebanyak 1/2 akan di alihkan kepada Ambros Salvadori"


"Hah! Lihat Solmaz lihat! Dilara menyebut nama belakang ku, dia mengakui kalau aku adalah putra Salvadori"


"Selamat ya sayang" ucap istrinya


"Ya dan lihat surat ini sudah di tanda tangan oleh nyonya dilara sendiri. Tinggal menunggu tanda tangan anda, maka setengah dari warisan itu jadi milik Anda."


"Berikan surat itu padaku!" tuan Ambros mau mengambilnya tetapi pria itu segera menepis tangan tuan Ambros "Sebelum itu saya harus memastikan bahwa rekaman itu tidak ada lagi sama Anda." ucapnya


"Oke baiklah, saya akan memberikannya"


"Dan ingat tidak akan ada salinannya"


"Yayayaya!!"


"Tuan saya tidak bercanda, jika kau masih menyimpan semua rekaman itu. Nyonya Dilara akan menaikkan kasus korupsimu di perusahaannya"


"Apakah kau akan berakhir dipenjara bersama Dilara mwhahahaha, kalian memang serasi" sahut nyonya Solmaz mengejek suaminya


"Diam kau bodoh.! Oke baiklah aku menerima kesepakatan ini."


Tuan Ambros pergi untuk mencari card memory itu di kamarnya "Nah ini dia!?" Dia segera bergegas untuk menemui pria itu "Rekaman suaranya ada disini. Tidak ada lagi salinannya"


"Baiklah!!" ujar pria itu sambil mengambil memory card itu dari tangan tuan Ambros"


"Ngomong-ngomong kenapa kau memakai sarung tangan!" tanya Nyonya Solmaz yang sudah penasaran dari awal


"Ouh ini, saat kecil dulu tanganku terbakar, aku tidak ingin semua orang jijik melihat tanganku." Jelasnya "Ini suratmu, besok kau bisa datang ke pengadilan untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Anda juga bisa menelepon saya jika anda membutuhkan bantuan saya."


"Saya pamit kalau begitu!" Pria itu pergi dari sana


"Solmaz lihatlah sayang kita berhasil, kita akan jadi orang kaya mwhahahahha!!"


"Iya sayang, dengan uang sebanyak itu aku bisa membeli mobil baru, tas baru, baju baru dan akan pergi jalan-jalan keluar negeri." Nyonya Solmaz mulai bermimpi dengan perubahan hidupnya yang sejahtera


.........


Dipihak lain nona Amira sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya di kantor, ketika tiba-tiba seorang suruhannya datang membawa kabar penting dia adalah pria yang telah berkunjung ke kediaman tuan Ambros tadi. "Bagaimana hasil pekerjaanmu?"


"Semuanya berhasil, pria itu dan istri benar-benar orang yang sangat goblok. Mereka mempercayaiku begitu saja"


"Mwhahha, sudah aku katakan ini pekerjaan yang sangat mudah untukmu"


"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"


"Dilara menyuruh kita untuk menunggu.."


"Oke! Baiklah"


"Ouh ya berikan padaku card memorynya!"


"Sebentar! Nah ini dia" pria itu menyerahkan card memory itu kepada Amira


Nona amira mengambil sebuah tisu "Yang pertama kita harus berhati-hati untuk menyentuh card memory ini" Amira melapisi tangannya dengan tisu saat mengambil memory itu "Nah seperti ini caranya dan sekarang sidik jari Ambros sudah tercetak di tisu ini" Kemudian nona Amira menyimpan tisu itu dengan baik dan kedua mari kita dengar rekamannya, aku penasaran dengan isinya!?" Amira mulai memutar rekaman suara itu di handphonenya


Suara rekaman "Kali ini aku membutuhkan bantuanmu Ambros. Aku ingin Sofia mati apa kau sanggup untuk pekerjaan ini"


"Tentu saja, asalkan ada bayaran untuk semua ini"

__ADS_1


"Apa rencanamu!"


"Serahkan semuanya pada ku dalam waktu tiga hari ini, dia pasti akan mati!Kreecckkkkkkkk" suara rekaman berakhir


"Dilara.. Dilara..! Kau benar-benar tidak berubah" Amira tersenyum sinis mendengar rekaman itu


.........


Malam pun tiba, jam menunjukkan pukul 01.01 am tik tik tik tik suara ketikan keyboardnya Baltasar masih sibuk mengerjakan tugasnya. Meskipun sudah larut malam, Baltasar masih harus menyelesaikan tugas yang diberikan tuan Alonzo padanya. Ia pun memutuskan untuk bergadang semalaman di kamarnya.


Dalam kegelapan malam, ia menyalakan lampu di kamarnya. Ia pun mulai mengerjakan tugasnya, sambil menikmati teh hangat yang ia bawa. "Dua puluh tujuh perusahaan yang berkerja sama dengan aluzuros. Paman Alonzo ingin menghitung tingkat pemesanan dan pengiriman terendah dan juga tertinggi selama dua tahun terakhir. Emmmmmm coba aku buatkan tabelnya dulu seperti ini, selanjutnya akan ku buat grafik agar data lebih mudah untuk di baca. Ya okelah"


Namun, tiba-tiba ia melihat cahaya rembulan dari jendela kamarnya. Ia terpesona dengan pemandangan itu. Ia pun tak bisa menolak kesempatan untuk berhenti sejenak dari tugasnya dan menikmati pemandangan yang indah itu. Baltasar pun terhanyut dalam keindahan malam di luar jendelanya. Ia menyadari betapa berharganya waktu ini. Ia pun berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan kesempatan ini baginya.


Setelah mengambil waktu untuk beristirahat sejenak, ia pun kembali mengerjakan tugasnya. Ia pun merasa lebih bersemangat dan berkonsentrasi saat menyelesaikan tugasnya. Dengan berbekal inspirasi yang ia dapatkan dari pemandangan malam itu.


Saat lagi serius-seriusnya membuat file itu tiba laptop Baltasar padam. "Lah kenapa ini, kok bisa gini sih" Baltasar mencoba otak-atik laptopnya tetapi tetap saja tidak bisa nyala "Sial!! Filenya belum ke save lagi" Baltasar pun pergi ke kamarnya Alessandro untuk meminjam laptopnya.


Tok tok tok tok "Alesso!!" panggil Baltasar dengan suara kecil


"Buka saja pintunya gak terkunci"


Baltasar pun membuka pintunya "Jam segini kamu belum tidur?" tanya Baltasar yang melihat Alessandro hanya terduduk di atas kasurnya


"Lah kamu! Jam segini ke kamar orang, ada apa?" tanya balik Alessandro


"Aku mau pinjam laptopmu, soalnya nih ada kerjaan dari ayahmu. Laptop aku tiba-tiba padam tadi, filenya belum ke save lagi"


"Papa! Dia beri kerjaan buat kamu, tumben banget!!"


"Gak! Sebenarnya aku yang minta kerjaan ini. Aku kasian liat ayahmu yang kewalahan mengurus kerjaan sambil menyelediki insiden peledakan mobil itu"


"Ooo begitu, laptop aku juga sebenernya lagi bermasalah sih, coba lihat di laci bawah itu" tunjuk Alessandro "Disana ada laptop Emilia, kemarin aku pinjam buat main game"


"Apa boleh aku pakai laptop dia?" tanya Baltasar ragu


"Iyaa pakai aja!!"


"Jangan pakai-pakai aja, nanti Emilia marah lagi"


"Gak, ambil aja"


"Okelah!! Eh ngomong-ngomong kenapa kau belum tidur" tanya Baltasar sambil mencari laptop di laci bawah


"Aku bingung dengan insiden itu, siapa dalang dari itu semua ya? Bisa-bisanya mereka mengincar kakek, apa yang telah kakekku lakukan?"


"Dari pada kau memikirkan itu, lebih baik kau tidur, yang terpenting kakek selamat dari kejadian naas itu dan ayahmu, paman Yeldirin dan juga polisi sedang mencari pelakunya" ujar Baltasar sambil membuka pintu kamar


"Mau kemana kau?" tanya Alessandro penasaran


"Ke kamarku!! "


"Buat disini saja kerjaannya" suruh Alessandro


"Kenapa? kau takut sendirian!"


"Bukan takut, tapi aku masih pengen ngobrol."


"Udah malam, besok lagi kita ngobrolnya"


"Yaudah kalau gitu buat disini aja tugasnya, tuh di meja belajar aku."


Baltasar terdiam sejenak dan ngebatin "Boleh juga lah, lagian ini juga laptop Emilia jika ku bawa ke kamarku, pasti marah dia nanti"

__ADS_1


...***...


__ADS_2