
Terlihat Baltasar meratapi temannya yang terbaring lemas dihadapannya, teringat masa-masa terindah yang pernah dilewati bersama. Waktu datang dan pergi terlalu cepat, saat Baltasar melihat arloji yang ada di tangannya, dia menangis teringat janjinya dengan nyonya sofia. Baltasar mulai menangis terisak-isak "Maafkan aku ibu"
Layaknya lilin di tengah gulita menyiramkan cahaya dalam kegelapan. Seperti mentari di pagi buta menghantarkan sinar kehangatan dan mengusir kebekuan. Bagaikan bintang yang mewarnai malam yang tak membiarkan rembulan mengangkasa tanpa teman
Bersamamu…
Melalui hari-hari yang penuh liku, bergenggaman erat menepis gundah dan nestapa
Berbagi kisah…
Tentang cita-cita namun bukanlah angan belaka, tentang cinta yang membuncah namun tertahan di dalam jiwa, tentang harapan yang hendak digapai di masa datang, tentang kegagalan yang hampir meremukkan keyakinan
Sahabat…
Kita bersama dalam suka maupun duka, saling mengingatkan di tengah canda
Aku berharap dan berdoa kita kan terus melangkah bersama
Baltasar keluar menuju balkon sambil mengatur nafasnya yang terisak-isak. Dia memohon pada tuhan agar semuanya akan baik-baik saja
Kaulah sahabatku…
Bila hari-harimu tertimpa bahaya, ku doakan kasih bagimu. Bila hari-harimu dilanda duka, ku doakan harapan bagimu. Bila hari-harimu berlarut ceria, ku doakan damai bagimu. Selama matahari masih terbit dan terbenam, selama panas dan hujan masih silih berganti, selama bulan dan bintang di langit masih bercahaya, aku tetaplah sahabatmu…
Malam ini seperti berjalan lambat dan membawa anganku bersamamu. Mengingat kebersamaan kita yang ternyata tak sebentar. Ingin ku tulis semua kenangan, ingin ku tulis semua tentangmu namun tak kutemukan kata untukmu selain rindu..
Rinduku yang seperti malam diam dalam kegelapan. Berharap langit mendengar setiap doa yang ku panjat agar kau cepat sembuh
Angin pun mulai berhembus dengan kencang, membelai setiap helai rambutnya. Langit menjadi gelap dan gemuruh mulai terdengar. Baltasar melihat dirinya berdiri dipinggiran jurang yang sangat dalam dan curam, bisikan suara memanggilnya dengan lembut dari dalam jurang itu "Baltasar. Baltasar ikutlah denganku" Baltasar terhanyut dalam panggilan itu "Andres?" Panggil Baltasar dengan pelan. Seolah angin menariknya, Baltasar memejamkan matanya dan membiarkan tubuhnya terjatuh kedalam panggilan itu. Tiba-tiba "Baltasar!?" panggil Emilia sambil memegang lengan Baltasar. Seketika Baltasar kaget dan sadar, dia melihat keadaan disekitar seperti orang yang kebingungan. Tiba-tiba hari pun sudah gelap "Kamu kenapa?" tanya Emilia yang melihat Baltasar dengan keheranan
"Aku tidak apa-apa"
"Kakakku akan baik-baik saja, kamu tidak perlu terlalu cemas"
"Ya, aku juga yakin seperti itu"
Mereka pun masuk ke dalam untuk melihat Alessandro, tiba-tiba dokter dan suster masuk untuk mengecek keadaan Alessandro.
"Bagaimana dok?"
__ADS_1
"Sebentar ya, saya akan cek dulu!" ujar dokter sambil memeriksa keadaan Alessandro.
"Bagaimana?"
"Satu orang mari ikut keruangan saya!" ajak dokter
"Saya!" Emilia dan Baltasar mangajukan diri mereka sendiri untuk ikut keruangan dokter
Emilia pun membiarkan Baltasar saja yang pergi keruang dokter "Pergilah!" Baltasar pun bergegas keruangan dokter
Diruang dokter
"Silahkan duduk!"
"Terimakasih, jadi bagaimana dok?"
"Ini berita baik, kondisi tubuhnya sudah mulai membaik bahkan lebih baik dari sebelumnya."
"Huff syukurlah!!" Baltasar lega mendengar penjelasan dari dokter
"Jika pasien mau di bawa pulang sudah bisa, tapi tetap harus dikontrol secara rutin dan sering konsultasi sekaligus cek keadaan pada dokter. Tetapi kalian harus menunggu sampai dia sadar dan aku akan memeriksanya sekali lagi. Opsi ini saya beri karena pasien tidak betah dirumah sakit, jadi untuk saat ini pasien boleh dibawa pulang dengan syarat yang saya bilang tadi"
"Silahkan" Baltasar pun kembali ke kamar Alessandro dengan wajah yang bahagia, saat dia membuka pintu, tuan Alonzo, nyonya Dilara dan tuan Yeldirin juga berada di sana.
"Baltasar, apa kata dokter?" tanya tuan Alonzo
"Alesso sudah mulai stabil kembali, dia sudah boleh dibawa pulang tetapi tetap harus dikontrol secara rutin pada dokter. Sebelum itu kita harus menunggu Alessandro sadar, dokter akan memeriksanya sekali lagi" jelas Baltasar
"Syukurlah!!" sahut nyonya Dilara
Malam pun semakin larut, Baltasar tertidur di samping Alessandro dalam keadaan terduduk sambil menggenggam tangannya, tiba-tiba Alessandro menggerakkan tangan dan mulai membuka matanya secara perlahan-lahan. Kamar dalam keadaan cahaya yang remang-remang, dia melihat ayahnya, ibunya, adiknya, tuan Yeldirin dan sahabatnya Baltasar tertidur menunggu untuk kesembuhannya. Alessandro menggenggam tangan sahabatnya itu dengan erat sehingga membuat Baltasar terbangun.
"Alesso!" panggil Baltasar
"Hai teman! Apa kabar" ujar Alessandro dengan lesu
Baltasar pun meneteskan air matanya sambil tersenyum "Kamu yang apa kabar, dasar pemalas! Apa kau tidak tau aku membutuhkanmu, kerjamu tidur terus" ujar Baltasar
"Mwhahaha! Kamu bisa saja, aku kan lagi sakit teman"
__ADS_1
"Makanya cepat sembuh, jujur aku merindukanmu"
"Aku juga! Aku bertemu dengannya, aku bertemu dengan ibuku dan Andres didalam mimpi, aku ingin ikut bersama mereka. Tapi mereka melarangku, katanya kasian Baltasar sendirian, dia tidak punya teman lagi selain kamu"
"Mwhahahahaha" Baltasar tersenyum mendengar ucapan itu
Baltasar! Dengan siapa kamu bicara" nyonya Dilara pun menghidupkan lampu kamarnya "Alesso! Kamu sudah sadar nak"
"Ibu"
Semua orang terbangun, dan melihat Alessandro sudah sadarkan diri. Mereka pun pergi mendekati Alessandro dan mulai mengobrol dengannya. "Emilia panggilkan dokter!"
.............
Keesokan harinya
"Baiklah Alonzo aku akan mengurus semua surat-surat kepulangan pasien" tuan Yeldirin dengan sigap mengurus semua berkas-berkas yang dibutuhkan
Semuanya begitu senang mendengar kabar ini, mereka segera bergegas untuk pulang. Di kediaman Alonzo, kakek Rafael, Oliviera bersama bibi Emine yang mendengar kabar Alessandro sudah diperbolehkan untuk pulang mereka segera mempersiapkan kamar Alessandro dengan sebaik mungkin. Bibi Emine dan kakek Rafael juga memasak makanan kesukaan seluruh keluarga.
Di rumah sakit
Baltasar berdiri dibalkon sambil menarik nafas dalam-dalam karena merasa lega atas kesembuhan Alessandro. Tiba-tiba tuan Alonzo datang memegang pundak Baltasar "Terimakasih nak!"
"Paman! Terimakasih untuk apa?" tanya Baltasar penasaran
"Untuk semua yang kau lakukan untuk Alesso selama ini"
"Dalam persahabatan tidak ada kata terimakasih paman!"
Tuan Alonzo pun tersenyum "Maukah kau tinggal bersama Alessandro?"
"Maksudnya?" tanya Baltasar untuk menjelaskan lebih rinci "Ouh Anda pasti sudah tau insident pembunuhan itu ya, tuan Yeldirin sudah menceritakan semuanya, Anda merasa kasian kepada saya" tambahnya lagi
"Bukan begitu, Alessandro membutuhkanmu. Aku tau kau bisa merawatnya dengan baik, jujur kami tidak tau harus bagaimana lagi. Perawat Alessandro sudah mengundurkan diri, jadi kami harus mencari perawat lain. Aku rasa kamu bisa menjaga Alessandro dan Alessandro juga pasti senang jika kau bersamanya. Kamu paham yang aku maksudkan, ini soal Andres" jelas tuan Alonzo
"Ya aku paham!"
"Aku menunggumu, aku tidak ingin memaksamu, jika kau mau kau boleh datang kerumah kami kapan saja." tegas tuan Alonzo sambil menepuk pundaknya dan pergi meninggalkan Baltasar.
__ADS_1
...***...