
Di markas
"Kenapa dan mengapa kau membutuhkan dia, aku heran melihatmu Matteo?"
"Dia orang yang kita butuhkan, kau tau kan posisi kita sangat lemah di de cienctec, untuk menjadi ketua di de cienctec. Maka Alvaro adalah jembatannya."
"Kenapa dengan pria itu, apa istimewanya dia. Ku liat dia hanya seorang pria kutu buku, lihat saja penampilannya dia membawa buku kemana-mana. Dan satu lagi kacamata beningnya itu. Aku sangat males berurusan dengan pria seperti itu."
"Jangan salah. Aku mendengar dan melihat sendiri bagaimana dia menghancurkan Bonito. Mau ku jelaskan juga siapa Bonito. Apa kamu lupa, biar ku ingatkan lagi."
"Bonito adalah orang yang terhebat yang pernah aku temui, dia tampan dan juga sangat berbakat dalam permainan basket, beberapa kali dia membanggakan university kita dengan meraih penghargaan sebagai tim basket terbaik, dia juga di puja-puja oleh banyak wanita tetapi dia terlalu sombong, angkuh, egois dan suka mempermainkan hati wanita. Aku pernah menjadi teman dekatnya sampai suatu hari dia mengkhianatiku. Tepat dihadapanku aku melihat dia dengan Valeria berciuman. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, sudah berapa lama mereka mengkhianatiku? Mulai hari itu aku menjauhi kehidupan mereka, Valeria datang dan bertanya tentang sikapku yang mulai dingin kepadanya."
...Flashback...
"Ada apa denganmu? Kenapa kau selalu menjauhiku."
"Apa kau tidak malu bertanya begitu padaku?"
"Kau aneh!"
"Sudah berapa lama kau mengkhianatiku Valeria"
"Apa maksudmu?"
"Tch, sudah cukup berpura-pura dihadapanku. Aku tau apa yang kamu lakukan dibelakangku dengan Bonito. Aku melihat kalian berdua berciuman tanpa rasa bersalah. Aku sangat mempercayaimu, tega kau melukaiku seperti ini."
"Apa? Kau salah paham"
"Jangan menyangkalnya Valeria. Aku tidak ingin melihatmu lagi."
"Matteo! Tolong dengarkan aku"
Matteo pergi tanpa menghiraukan Valeria "Matteo! Matteo!!!" teriak Valeria
...Flashnow...
"Cerita Bonito telah berakhir sekarang. Alvaro telah mengakhiri kisahnya"
"Begitukah! Makannya kau terlalu terobsesi dengan Alvaro. Ku rasa tidak semudah itu untuk mendapatkan dukungannya."
"Kalau begitu maka kita harus melakukan sedikit permainan dengannya."
__ADS_1
"Permainan?"
"Gunakan sedikit otakmu untuk mendapatkan dukungannya. Kita butuh otak untuk menaklukkan Alvaro. Aku akan membuat dia menjadi bagian dari kita"
.........
Tuan Ambros muak dengan kehidupannya sekarang, tidak ada pekerjaan, tidak ada uang bahkan istrinya Solmaz hanya bisa marah-marah dan menuntut ini itu. Tuan Ambros pergi ke kediaman Alonzo untuk menemui Dilara. Dia mencoba untuk mengancam nyonya Dilara agar tuan Alonzo suaminya itu mau menerimanya lagi sebagai mitra di perusahaan Aluzoros
"Dilara.. sepertinya ancamanku tidak begitu berpengaruh padamu"
"Apa yang kau katakan?"
"Kau liat aku, aku masih pengangguran dan Alonzo tidak memanggilku untuk menjadi mitra di perusahaannya lagi. Aku tidak main-main dengan ancamanku Dilara, coba kamu bayangkan jika suamimu dan anak-anakmu itu tau apa yang telah kau lakukan. Aku bersumpah mereka akan pergi meninggalkanmu"
"Sudah cukup kau mengancamku Ambros. Aku sudah berusaha untuk membuatmu kembali lagi ke perusahaan itu"
"Usaha apa? Mana hasilnya, aku tidak bisa menunggu begitu lama. Aku bisa mati Dilara!"
"Tolong bersabarlah" ujar nyonya Dilara dengan nada rendah
"Aku kasih waktu untukmu dua hari, hanya dua hari. Jika dalam dua hari hasilnya tidak ada. Maka maafkan aku Dilara" tuan Ambros pergi meninggalkan nyonya Dilara
"Sialan... Entah kenapa aku bisa mempercayai orang bodoh seperti dia. Sekarang dia seperti lintah. Sepertinya aku butuh Amira sekarang" gumamnya
"Tidak apa-apa ayah" elaknya
"Dilara? Apa kau punya waktu sebentar, aku ingin bicara padamu!"
"Bicaralah ayah!!"
"Bagusnya kita duduk di taman saja. Biar ngobrolnya lebih enak"
"Baiklah"
Mereka pun pergi ke taman di halaman depan rumah sambil menikmati angin yang bertiup
"Kenapa ayah terlihat gugup?" tanya nyonya Dilara
"Aku malu untuk mengatakannya!" jawab ayahnya sambil membuang pandangannya
"Malu kenapa ayah. Aku ini menantumu, katakan saja aku akan mendengarkannya"
__ADS_1
"Nak. A-aku membutuhkan uang!"
"Uang? Berapa ayah?"
"Seratus ribu euro" ucapnya dengan gugup
"Apa. Untuk apa uang sebanyak itu ayah?"
"A-aku. Mmmmm aku!"
"Ada apa ayah, untuk apa?"
"Aku punya hutang nak. Mereka menagihnya padaku, mereka juga mengancamku. Aku sudah meminta pada Alonzo, kau tau dia kan! Dia sama sekali tidak peduli padaku, aku sudah tua nak dan tidak sehebat dulu lagi. Sekarang anakku pun melupakanku."
"Bukan soal melupakanmu ayah, hutangmu itu sangat banyak. Untuk apa kau berhutang sebanyak itu?"
"Jangan tanya lagi nak, kau membuatku sedih."
"Sudahlah ayah. Kita bahas lain kali ya, akan aku usahakan untuk uangnya"
"Terimakasih nak, kau sangat peduli padaku."
Saat asik berbincang, terlihat Emilia sedang pergi dengan terburu-buru
"Emilia, mau pergi kemana kamu nak."
"Aku akan pergi bersama temanku bu!"
"Kemana?"
"Kami akan mengerjakan tugas kelompok."
Saat Emilia keluar dari gerbang rumahnya tiba-tiba Teo berdiri didepannya
"Teo. Kenapa kamu datang kesini?"
"Aku mengkhawatirkanmu Emilia, kenapa kau tidak pernah datang lagi ke Rock House."
"Aku lagi banyak masalah Teo"
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Sebaiknya kita pergi dari sini, nanti ada orang yang melihat kita." Mereka pun pergi dari sana
...***...