Alstroemeria Of Almeria : Complicated Love

Alstroemeria Of Almeria : Complicated Love
Masuk rumah sakit


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 05.36 PM


Terlihat kamarnya Baltasar seperti kapal pecah, banyak barang berserakan dimana-mana. Baltasar mencari obat untuk mencegah sakit perutnya itu tetapi tidak dapat menemukannya. Entah berapa kali dia harus bolak balik ke kamar mandi tapi akhirnya perutnya bisa berkompromi sekarang. Dua malam, ya sudah dua malam Baltasar tidak tidur, wajahnya menjadi pucat pasi dan kantong matanya mulai membekak. Dengan sekujur tubuh yang lemas Baltasar mulai merebahkan badannya ke kasur. Tak butuh waktu lama, dia pun langsung tertidur.


.........


Pagi hari memang sangat indah. Saat itu, sinar matahari mulai menyinari bumi. Cahaya matahari yang hangat menyebar di seluruh sudut kota. Udara yang dingin dan segar menyegarkan pikiran. Sayap burung-burung yang terbang di atas kepala kita adalah tanda bahagia.


Kebanyakan orang memilih untuk bangun pagi dan menikmati suasana pagi hari. Mereka berjalan di taman atau berjalan kaki di pinggir jalan. Mereka membawa sebotol air minum dan selembar pisau untuk membuat roti. Ada juga yang membawa kereta untuk mengambil anak yang bersekolah.


Seperti biasa, suara burung berkicau memberi salam pagi. Di udara tercium bau segar dari tanaman dan bunga yang berkembang. Burung-burung terbang dengan senang hati. Semua ini membuat suasana pagi hari semakin indah.


Kebanyakan orang juga berkumpul di toko kopi untuk menikmati secangkir kopi pagi. Mereka membicarakan tentang berbagai hal, seperti kegiatan sebelumnya, rencana untuk hari ini, atau bahkan rencana untuk masa depan. Kegiatan ini membantu mereka memulai hari dengan semangat.


Kediaman Consuella semua orang telah berkumpul di ruang makan kecuali Baltasar "Waktunya sarapan!!" teriak sang kakek


"Wah, hari ini kakek tampak bahagia kenapa?" ujar Alessandro yang melihat kakek sangat ceria sambil membawakan masakan dari dapur


"Iya, soalnya nanti kakek ingin pergi memancing bersama teman kakek. Sudah lama kakek tidak memancing"


"Ayah pergi dengan siapa nanti" tanya tuan Alonzo


"Dengan siapa lagi, taksi!"


"Eng.. seperti kita membutuhkan supir baru Alonzo, jadi kalau kita ingin kemana-mana tidak susah mencari taksi" tambah nyonya Dilara pada suaminya itu


"Iya, tapi mencari orang yang bisa dipercaya itu susah Dilara"


"Kalau kita tidak mencari, maka kita akan kerepotan terus"


Alessandro mempunyai rekomendasi di pikirannya, dia pun mulai memotong pembicaraan ibu dan papanya untuk memberikan saran "Aku punya rekomendasi Pa! Itupun jika papa setuju"


"Siapa?" tanya ayahnya dengan antusias


"Pak Nayak! Selama ini dia bekerja untuk mama (Sofia) kan?"


"Ouh iya, tentu saja bisa. Sebentar, sepertinya papa masih ada nomornya"


Melihat kusir makan di samping Emilia masih kosong, Alessandro ngeh bahwa Baltasar belum datang untuk sarapan dari tadi "Ngomong-ngomong Baltasar kemana ya! Kok belum datang untuk sarapan" tanyanya pada semua orang, semua orang disana mengangkat bahunya dan ada juga yang menggeleng-gelengkan kepalanya yang menandakan mereka tidak mengetahuinya "Bi! Bibi" panggil Alessandro


"Iya, Alesso" jawab bibi Sema menghampiri Alessandro

__ADS_1


"Bi! Tolong panggil Baltasar ya, kita mau sarapan. Lagi pula kita akan pergi kampus bareng hari ini"


"Baiklah!"


Setelah semuanya tersedia, keluarga Consuella duduk bersama di meja makan. Ayahnya membagi Toscada Con Tomate kepada semua orang. Ibunya menyajikan buah-buahan dan roti panggang. Semuanya saling bertukar cerita selama makan sambil tertawa. "Oliveira! Besok kita akan berangkat ke Amerika ya" ujar ibunya


"Apa!? Kenapa secepat itu ma!" tanya Oliveira yang kaget mendengar pernyataan ibunya


"Apanya yang cepat, sampai disana kita mempersiapkan semua kebutuhanmu dan bulan depan kau sudah mulai kuliah kan?"


"Tapi ma! Aku tidak tau university yang mana dan lagi pula aku belum tentu diterima kan?"


"Semua itu biar mama yang atur, kau cukup mendengarkan mama saja Oliveira"


Walaupun hatinya menolak untuk pergi ke Amerika, Oliveira memilih untuk diam. Dia tau apapun yang dia katakan tidak akan mengubah keputusan dari ibunya itu, tak lama kemudian bibi Sema datang menghampiri mereka dari kamar Baltasar "Tuan, nyonya. Balt-Baltasar tidak sadarkan diri, suhu tubuhnya juga tinggi"


"Apa, semalam dia kan baik-baik saja, kenapa tiba-tiba dia bisa sakit" mendengar pernyataan bibi Sema seketika Alessandro menjadi khawatir


"Ayo kita lihat!" ajak tuan Alonzo


Nyonya Dilara, tuan Alonzo dan Alessandro segera menuju ke kamarnya Baltasar, sedangkan di meja makan tertinggal Emilia, kakek Rafael dan Oliveira yang galau dengan kepergiannya ke Amerika "Akal-akalan dia aja, sok-sokan sakit" oceh Emilia sendirian dengan suara berbisik


.........


Saat mereka masuk ke kamar Baltasar, mereka keheranan melihat setiap sudut ruangannya sangat berantakan. Sepotongan kertas dan buku-buku tertumpuk di lantai, sisa-sisa snack dibiarkan begitu saja di lemari dan meja. Di atas kasur, selimut berantakan bersama bantal yang telah dicampur dengan pakaian. Pintu balkonnya terbuka, membiarkan suara anak-anak di luar masuk ke dalam kamar. Mereka melihat Baltasar yang terbaring lesu dengan wajah yang sangat pucat "Kenapa dengan anak ini!" tanya tuan Alonzo pada dirinya sendiri


"Apa yang terjadi Pa!" Alessandro terlihat sangat panik. Nyonya Dilara pun menyentuh dahi Baltasar dengan punggung tangganya "Alonzo, dia demam. Suhu tubuhnya sangat panas!"


"Kita bawa dia kerumah sakit" ujar tuan Alonzo sambil mencoba merangkul Baltasar


"Aku ikut Pa!" ujar Alessandro


"Biar papa saja yang bawa dia kerumah sakit, kalian lanjut sarapan saja. Dilara tolong kamu antarkan Alesso ke kampusnya nanti ya"


"Iya!"


...... ...


Tuan Alonzo terlihat sangat gugup saat dia membawa Baltasar ke rumah sakit. Pria berusia empat puluh satu tahun itu berkali-kali menghela napas, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Ketika mereka sampai di ruang gawat darurat, mereka disambut oleh dokter dan paramedis yang mengerti situasi yang ada. Mereka dengan cepat mengambil Baltasar dan membawanya ke ruang rawat.


Di luar ruangan, tuan Alonzo menunggu dengan khawatir. Dia melihat orang-orang yang juga menunggu kabar dari keluarga mereka. Suasananya sangat suram, hanya terdengar suara tangisan dan orang yang menangis.

__ADS_1


Setelah menunggu selama beberapa jam, akhirnya dokter keluar dan menyampaikan bahwa Baltasar dalam kondisi yang baik dan akan sembuh dalam waktu dekat. Dokter menjelaskan bahwa "Pasien yang bersangkutan memiliki kandungan garam yang berlebihan di dalam tubuhnya. Ini adalah masalah yang serius karena bisa menyebabkan masalah kesehatan, seperti hipertensi dan gangguan ginjal. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh masalah diet atau konsumsi garam yang berlebihan. Hal ini bisa berakibat buruk bagi kesehatan jika tidak diatasi dengan benar. Oleh karena itu, saya memberikan saran kepada pasien untuk mengurangi asupan garam dan makanan yang tinggi garam. Juga, pasien harus meningkatkan asupan air putih untuk membantu menyingkirkan garam yang berlebihan. Selain itu, saya juga menyarankan untuk mengurangi asupan makanan yang tinggi lemak dan meningkatkan asupan makanan yang mengandung serat. Ini akan membantu mengurangi retensi cairan yang bisa disebabkan oleh konsumsi garam berlebihan. Untuk memastikan bahwa pasien tidak mengalami masalah kesehatan yang lebih serius, saya juga merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dan konsultasi dengan dokter lain. Ini akan membantu dokter untuk mengidentifikasi masalah yang lebih lanjut. Pasien harus menjaga pola makan yang sehat, mengontrol asupan garam. Ini akan membantu untuk mencegah masalah kesehatan yang disebabkan oleh kandungan garam yang berlebihan di dalam tubuh"


Mendengar penjelasan dokter tuan Alonzo merasa lebih lega karena Baltasar tidak mengalami masalah yang serius, tetapi juga merasa bingung, bagaimana bisa Baltasar bisa memiliki kadar garam yang berlebihan didalam darahnya. Akan tetapi apapun itu dia bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada dokter dan semua yang telah membantunya.


"Tapi dok, kenapa suhu tubuhnya sangat tinggi" tanya tuan Alonzo


"Itu bisa terjadi jika pasien tidak tidur dan istirahat yang cukup, dia terlihat sangat kewalahan. Tapi dia tidak apa-apa, kami telah menetralkan garam dalam tubuhnya, dia sudah bisa di bawa pulang sore nanti akan tetapi dia tetap harus beristirahat total" jelas dokter


.........


Di kediaman Consuella


Oliveira merasa sangat murung saat ia mendengar bahwa ia harus melanjutkan kuliahnya ke Amerika. Ia merasa bahwa kuliah di Amerika berarti meninggalkan tempat asalnya dan orang-orang yang dicintainya. Ia terus berpikir tentang bagaimana ia akan menghadapi rasa sedih dan rindu yang akan menghampirinya.


Ia benar-benar tidak ingin meninggalkan tempat tinggalnya yang telah lama ia tinggali. Ia merasa bahwa ia telah menciptakan banyak kenangan dan memiliki banyak teman di sana. Ia merasa bahwa jika ia pergi ke Amerika, ia akan berpisah dengan semua hal yang ia cintai.


Selain itu, Oliveira juga khawatir tentang bagaimana ia akan menyesuaikan diri dengan kultur dan lingkungan di Amerika. Ia takut bahwa ia akan merasa kesepian dan asing di tempat asing yang tidak dikenalnya.


"Kenapa kau terlihat begitu murung hah?" tanya kakek menghampiri Oliveira dan duduk disebelahnya


"Kakek, aku benar-benar tidak mau pergi ke Amerika, kenapa semua orang di rumah ini tidak peduli padaku. Aku tidak ingin pergi ke sana kakek!!"


"Kalau soal itu! aku tidak bisa membantumu nak, itu sudah keputusan bulat dari mamamu!"


Mendengar pernyataan bahwa kakeknya tidak bisa membantunya, Oliveira pun emosi "Semua ini salah kakek!!" teriaknya


Seketika kakek Rafael terkejut melihat cucunya malah menyalahkan dirinya "Apa! Apa aku tidak salah dengar, kau mengatakan itu salahku"


"Semua berawal dari kakek memberiku hadiah pisau sialan itu!!"


"Hah! Kau yang menusuk temanmu, seharusnya kau lebih dewasa. Kau malah ikutan balapan liar gak jelas diluar sana, saat kau kalah kau malah menusuk temanmu. Pria macam apa itu?" tegas kakeknya sambil berdiri dari tempat duduknya dan memarahi Oliveira


"Cukup kakek! Aku tidak percaya kakek bisa bicara begitu padaku."


"Sekarang pergi dari hadapanku" teriak kakeknya


Dengan tatapan marah Oliveira pergi meninggalkan kakeknya "Ya tuhan, apa yang terjadi padamu Rafael, anakmu, menantumu bahkan sekarang cucumu membenci dirimu" gumam tuan Rafael yang kecewa terhadap sikap Oliveira


Tiba-tiba suara handphonenya berdering kringggg kringggg kringggg "iya. Tidak aku tidak jadi memancing hari ini Yafet, kita tunda lain waktu saja ya"


...***...

__ADS_1


__ADS_2