
Langit malam yang bewarna, Kala menutup tubuhnya menggunakan selimut. Gadis itu membiarkan jendela kamar terbuka agar angin malam masuk kedalam kamarnya.
Dengan kondisi lampu yang dimatikan, Kala menatap kearah langit-langit. Entah kenapa bayangan Reja selalu muncul di dalam pikirannya.
Dipenuhi bayangan Reja yang selalu menghantuinya, tidak ingin pergi dalam pikirannya.
Yang selalu membangunkan Kala, mengingat bagaimana saat mereka berdua berciuman.
Suara hangat dan lembut Reja yang selalu mengatakan jika dia mencintainya, dan aroma tubuh laki-laki itu yang selalu mendatangi hidung Kala.
"Kamu dimana?" gumam Kala dalam hati sambil mengusap air matanya.
Sudah dua minggu Kala tinggal di rumah Kenzi, gadis itu memohon kepada Kenzi agar membiarkannya untuk tinggal.
Dengan senang hati Kenzi mengizinkannya karena ia tahu jika Kala masih belum baik-baik saja. Kadang ia melihat Kala yang sedang menangis tetapi betapa hebatnya gadis itu menyembunyikan dan menutup dirinya untuk tidak bercerita kepada Kenzi.
"Tidak ada satupun yang mudah, saat ketika semuanya tidak berjalan sesuai dengan keinginanku."
"Aku membenci diriku sendiri, aku ingin menghilang dari dunia ini." gumam Kala sambil terisak.
"Karena aku tidak ingin menjadi beban siapapun."
Kala mengubah posisinya menjadi duduk saat mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
Gadis itu menghembuskan nafasnya lalu mengusap air matanya, mengontrol dirinya agar lebih tenang.
Setelah tenang, Kala segera membuka pintu kamarnya dan mendapati Kenzi ada dihadapannya sambil menunjukan kantong plastik yang berisi sayur-sayuran.
"Kita masak." ucap Kenzi sambil tersenyum.
Kala ikut tersenyum lalu mengikuti langkah Kenzi yang berjalan menuju arah dapur.
"Memangnya kau bisa memasak?" tanya Kala.
"Kau jangan meragukan kemampuanku, selain jago akting aku juga jago dalam memasak." kata Kenzi sambil terkekeh.
Kala menatap heran kearah Kenzi membuat laki-laki itu menatap balik wajah Kala.
"Ada apa?" tanyanya.
"Dilihat-lihat kenapa akhir-akhir ini kau selalu tertawa?"
"Saat aku bertemu denganmu, kau sama sekali tidak tertawa."
"Benarkah? Mungkin itu hanya perasaanmu saja." kata Kenzi
Kala menggelengkan kepalanya sambil memindahkan sayur-sayurannya ke mangkuk dan langsung membersihkannya.
"Aku ingin bertanya."
"Apa?" tanya Kala.
__ADS_1
"Tidak jadi."
Kala menghelakan nafasnya, ia kembali melanjutkan aktivitasnya untuk memasak.
Beberapa menit kemudian, makanan yang dimasak oleh Kenzi dan juga Kala sudah siap.
Mereka berdua kini duduk saling berhadap-hadapan di meja makan. "Aku akan mencobanya." kata Kala sambil mengambil sendok.
Suapan pertama Kala mengakui jika masakan yang dibuat oleh Kenzi sangatlah enak, ia menganjungkan jempolnya dihadapan Kenzi.
Laki-laki itu tersenyum lalu bergantian mencoba makanannya. Di tengah-tengah makannya, Kala menghengikan aktivitasnya.
Gadis itu menatap bingung kearah Kenzi membuat laki-laki itu ikut kebingungan.
"Ada apa? Apakah kau sakit?"
Kala menggelengkan kepalanya, ia menyimpan sendok diatas piring lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Aku sudah kenyang, jika kau sudah selesai makan simpanlah di wastafel biar aku saja yang mencucinya." kata Kala lalu pergi meninggalkan Kenzi.
Kenzi menghentikan aktivitas makannya lalu pergi menyusul Kala kearah kamar, laki-laki itu mengetuk pintu setelah mendengar sahutan dari Kala, iapun langsung masuk.
Terlihat Kala yang sedang berdiri di ujung tembok, merasakan angin malam dari jendela.
"Anginnya sangat sejuk sekali." ucap Kala sambil menghirup udara.
Kenzi menganggukan kepala menyetujuinya. "Benar, sangat sejuk sekali." katanya
Terjadi jeda yang sangat panjang, tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka.
Kenzi menatap wajah Kala, tidak menjawab pertanyaan gadis itu.
"Tidak." lanjut gadis itu sambil tersenyum.
"Aku tertawa bukan karena aku bahagia, aku sedang menahan..."
"Kesulitanku."
"Jika aku berkata aku baik-baik saja, kukira aku akan sungguh baik-baik saja."
"Ternyata tidak, aku tersiksa."
"Aku sangat takut untuk menghadapi Reja, aku takut jika dia akan merasa malu dan aku akan mengotori nama baiknya."
"Kedua orang tuanya sangat baik sekali dan menyayangiku, aku mengganggap mereka sebagai orang tua kandungku, tapi masalah apa yang aku hadapi kali ini?"
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku takut."
Kenzi mendekati Kala dan langsung memeluk gadis itu agar menjadi lebih tenang.
"Aku tidak tahu masalahmu, tapi aku bisa mengerti."
__ADS_1
"Kau sedang ada di posisi yang sangat sulit kali ini." ucap Kenzi
"Aku lelah."
"Setiap hari dan setiap waktu aku selalu berusaha sampai ke titik ini, pada akhirnya ternyata seperti ini lagi." Kala terisak dan mengeratkan pelukannya.
***
Reja, Zhafran, Raksa dan juga Mahen hari ini berkumpul. Reja banyak sekali meminum alkohol.
Ia benar-benar prustasi karena tidak menemukan Kala sama sekali, Reja benar-benar merindukan Kala.
Setelah kejadian itu, Jeanno menyerahkan semua ini ke polisi. Pria paruh baya itu tidak akan berdamai setelah mendengar jika calon menantunya diperlakukan selayaknya hewan.
Lagi dan lagi Reja menambah alkohol itu dan meminumnya, Zhafran tidak bisa berbuat apa-apa setelah melihat kondisi sahabatnya itu.
"Rej, udah. Lo jangan kebanyakan minum." ucap Raksa
"Minggir, Yang gue mau itu cuman Kala!" ucap Reja sambil kembali meneguk minuman alkoholnya.
Mahen menyuruh Raksa untuk diam, membiarkan Reja berbuat sesukanya.
"Diamlah, dia butuh ketenangan." ucap Mahen ikut-ikutan meneguk alkohol.
Raksa yang melihatnya langsung merebut gelas itu dan melotot tajam kearah Mahen.
"Kau tidak boleh meminum alkohol, besok kau akan ada wawancara dengan Kalesha, Kenzi dan juga Seyna."
"Baiklah, aku tahu." ucap Mahen sambil berdecak.
Tiba-tiba saja Reja beranjak dari tempat duduknya dan berjalan secara sempoyongan, dirinya pun hampir saja terjatuh jika Zhafran dan Raksa tidak menolongnya.
"Lo mau pergi kemana?" tanya Zhafran.
"Gue mau nyari Kala, lepasin!" ucap Reja sambil berusaha melepaskan dirinya.
"Gak, lo harus istirahat Rej. udah dua minggu lo nyari Kala tanpa istirahat sedikitpun."
"Benar, lebih baik kau istirahat dulu saja. Biarkan aku dan Mahen saja yang mencarinya." timpal Raksa membantu Reja berjalan menuju kamarnya.
"Tidak! biarkan aku saja."
"Bagaimana bisa kau mencari Kala dengan kondisi seperti ini? kau ingin kehilangan nyawa saat menyupir nanti?" ucap Mahen.
"Kalian diam saja, kalian tidak tahu apa-apa."
"Reja! dengerin gue kali ini aja, lo juga harus jaga kesehatan lo."
"Gue lebih pentingin kondisi Kala, gue gak tau sekarang dia lagi apa. Gue takut."
"Udah Rej, biar nanti aku dan Mahen yang mencarinya."
__ADS_1
Zhafran dan Raksa meletakan tubuh Reja diatas kasur, laki-laki itu terluhat sangat mabuk berat membuat mereka bertiga kwalahan.
"Ayo Hen, kita cari Kala." ajak Raksa dan diangguki oleh Mahen.