Amazing Beauty

Amazing Beauty
37


__ADS_3

Kanza dan Kala duduk di salah satu bangku yang kosong, udara disana sangat sejuk karena sinar matahari tertutup sebagian oleh pepohonan.


Kanza menerima barang yang Kala berikan, mereka berdua saling terdiam bingung ingin memulai percakapan darimana.


"Begini, aku mengajakmu bertemu karena aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."


Kala mengalihkan pandangannya kearah Kanza menunggu gadis itu untuk melanjutkan pembicaraannya.


"Selama aku mengandung anak dari Daffa, orang tuaku belum mengetahuinya."


"Lalu kemarin saat aku pulang dari supermarket aku bertemu dengan ayahku, dia terkejut saat melihatku menggendong seorang bayi, aku sudah gagal menjadi seorang anak bagi mereka..."


"Setelah ayahku tahu, dia memaksaku untuk pulang dan menyuruhku untuk menjelaskan semuanya, siapa ayah dari anakku."


"Aku tidak bisa menjawabnya, karena jika ayah mencarinya pun itu tidak ada gunanya, Daffa tidak ingin bertanggung jawab."


"Dulu saat rumor beritamu dengan Reja, aku sempat bertemu dengan Daffa dan mengatakan kepadanya jika aku mengandung anaknya, tapi dia tidak mempercayaiku dan malah menuduhku telah melakukan hubungan badan bersama pria lain, ternyata rasanya sakit sekali..."


"Aku iri padamu. aku selalu gelisah, khawatir seseorang akan membicarakanku."


"Aku menyesal dan tidak bisa berbuat apa-apa karena khawatir orang akan berpikir buruk tentangku."


"Tapi kau tidak seperti itu."


"Tidak peduli yang orang katakan tentangmu, kau hidup baik tanpa memikirkan hal itu."


"Kau tidak tahu?" Kala mulai membuka pembicaraannya.


"Daffa, dia ada di dalam sel penjara."

__ADS_1


Kanza secara spontan langsung menatap kedua mata Kala menyuruh gadis itu untuk menjelaskannya semuanya.


"Sel penjara? apa yang dia perbuat sehingga dia masuk penjara?" tanya Kanza.


Kala tersenyum getir, ia menundukan pandangannya. "Dia menyuruh Arzan untuk meniduriku dengan taruhan saham perusahaannya sendiri." kata Kala sambil meremas telapak tangannya.


"Bagaimana bisa?"


"Saat publik tidak mengetahui kabarku, aku sedang menenangkan diri dan tidak berani muncul di publik, aku sangat takut sekali untuk melihat banyak orang."


"Lalu Reja mengetahuinya?"


Kala menganggukan kepalanya. "Reja tahu, saat itu aku sempat bertengkar dengannya tapi akhirnya Reja mengajakku untuk mempercepat penikahan kita demi menutupi kehamilanku, nanti jika publik tahu aku hamil maka mereka semua akan menganggap jika itu adalah anakku dan Reja."


"Aku tidak mengetahuinya, maafkan aku."


"Aku tahu, aku meminta maaf karena kejadian saat SMA dulu, aku benar-benar menyesal menerima ajakan Daffa."


"Aku sudah mempermalukanmu di hadapan anak-anak sekelas..."


"Aku sudah memaafkanmu dan aku sudah melupakannya." kata Kala sambil menepuk pundak Kanza.


"Terima kasih Kala kau sangat baik sekali." ucap Kanza


"Nanti malam ada reunian sekelas, kau ingin ikut bersamaku?" 


"Reunian?"


Kanza membenarkan pertanyaan Kala. "Aku tidak mengetahuinya, jika asistenku mengijinkannya aku akan meneleponmu."

__ADS_1


"Baiklah jika begitu."


***


Setelah selesai dengan pembicaraannya, Kala akhirnya kembali ke tempat dimana Naela menunggu.


Saat memasuki mobil, terlihat Naela yang baru saja memutuskan panggilan teleponnya.


"Siapa?" tanya Kala sambil memasang sabuk pengamannya.


"Tidak, hanya saja seseorang." jawab Naela sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Oh ya, saat aku tadi berbicara dengan Kanza, dia mengatakan jika malam nanti akan ada reunian kelas SMA ku dulu apakah aku boleh mengikutinya?"


"Tidak."


"Kau sedang hamil Kala, kau harus beristirahat di rumah bagaimana jika terjadi sesuatu kepadamu?"


"Apalagi Reja mengatakan jika kau harus diam dirumah dan tidak boleh kemana-mana."


"Tapi aku sangat bosan sekali."


"Jika bosan, lakukanlan yoga untuk ibu hamil itu akan membuatmu sehat dan kandunganmu juga akan sehat."


"Izinkan aku sekali sajaa...."


"Tidak Kala."


"Kau ini, sama seperti Reja!" sungut Kala sambil memalingkan wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2