
Kala terpaku di kamar mandi sambil melihat testpack yang ia genggam.
Terlihat dua garis merah yang berarti Kala positif hamil, dengan lemas Kala melangkah keluar dari kamar mandi.
Naela segera menghampiri Kala dan menanyakan hasilnya, tetapi Kala hanya terdiam saja.
"Aku ingin tahu, bagaimana hasilnya?" tanya Naela.
Kala menatap wajah Naela dengan mata yang berkaca-kaca, ia memberikan testpack itu kepada Naela lalu setelah itu berjalan kearah kasur.
Naela memandangi testpack itu dan juga Kala secara bergantian, ia berjalan mendekati Kala yang kini sudah terisak.
"Apa-apaan ini?" tanya Kala.
"Hidup macam apa ini?"
"Aku benar-benar..." Kala tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi, ia terduduk lemas di atas kasur sambil menangis.
"Aku tidak bisa." ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku benar-benar tidak sanggup."
"Hei." Naela menghembuskan nafasnya tidak tahu harus berbuat apa-apa.
"Aku sangat lelah." Kala memukul-mukul dadanya yang sangat sesak.
"Kalau begitu kau gugurkan saja bayi yang ada diperutmu, hatiku ikut terluka, jika kau tidak ingin maka gugurkan saja bayinya." ucap Naela sambil duduk disamping Kala lalu memeluk tubuhnya.
Kala menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sanggup, aku merasa tidak ingin hidup."
Naela semakin mengeratkan pelukannya, ia ikutan menderita saat melihat Kala seperti ini.
***
Disisi lain, Dianna menghampiri putranya yang sedang melamun, wanita paruh baya itu menyuruh Reja untuk bersiap-siap.
"Ganti pakaianmu, kita akan pergi." titah Dianna.
Tetapi Reja masih melamun, tidak mendengarkan perkataan ibunya itu. "Kita akan ketemu Kala, dia udah ada dirumahnya." ucapnya
Reja menatap ibunya dengan mata yang berbinar, terlihat senyuman tipis yang terukir di wajahnya.
__ADS_1
"Bener bu? Kala udah pulang?" tanyanya tidak percaya.
"Iya sayang, tapi..."
"Reja mau siap-siap dulu." Reja dengan terburu-buru berlari kearah kamarnya.
Setelah siap Reja langsung mengambil kunci mobil dan mengajak ibunya untuk segera berangkat.
Di tempat lain Naela memandang wajah Kala yang sedang tertidur lelap, tangannya terulur mengelus kepala gadis itu.
"Kau sudah berkerja keras untuk mencapai impianmu, tapi kenapa hidupmu seperti ini?"
"Aku bertemu dengan pamanmu dirumahnya, apakah kau tau dia mengusirku."
"Di dunia ini, tidak semua hal berjalan sesuai dengan kemauan kita, karena itu kau jangan pernah terlalu menderita." ucap Naela sambil mengusap air mata yang menetes ke pipinya.
Naela beranjak dari tempat duduknya saat mendengar suara bel, setelah menyelimuti Kala, gadis itu langsung pergi menuju pintu utama.
Saat membuka pintu itu terlihat Raksa dan Mahen yang sedang menunggunya untuk membuka kan pintu, mereka berdua langsung masuk kedalam rumah begitu saja.
"Dimana kala?" tanya Mahen.
Mahen berdecak karena tidak bisa menemui Kala, mereka berdua kini mengikuti perintah Naela untuk duduk di sofa.
"Ada apa?" tanya Raksa.
Naela menghembuskan nafasnya sebelum berbiacar, ia menatap Raksa dan Mahen secara bergantian.
"Ini hal yang tersulit dalam hidup Kala, kalian tahu bukan apa yang dialami oleh Kala sebelumnya?"
"Karena kejadian itu, Kala saat ini sedang mengandung anak Daffa."
"Apa?"
Naela menganggukan kepalanya. "Tadi dia mengetesnya menggunakan testpack, entah sudah usia berapa kandungan Kala saat ini, besok aku berniat untuk membawanya kerumah sakit." ucap Naela lagi-lagi menghembuskan nafasnya.
"Lalu apakah Kala akan menggugurkan bayi yang ada dikandungannya?" tanya Mahen.
"Tidak, dia tidak akan sanggup melakukannya."
"Dia bilang, bayi itu tidak bersalah dan yang salah itu adalah dirinya."
__ADS_1
"Astaga, aku benar-benar sangat kasihan sekali kepada Kala, aku ingin menemuinya." kata Mahen sambil meremas rambutnya.
"Apalah kalian tahu, saat aku menghadiri persidangan dengan Seyna, Daffa selalu saja membantah pertanyaan hakim."
"Dia mengatakan bukan dialah yang melakukan itu, tetapi ada pihak ketiga. Sepertinya Daffa sengaja untuk menutupinya."
Naela terdiam sejenak mendengar perkataan Raksa, ia berada di ambang kebingungan sekarang.
"Memang bukan dia."
Mereka bertiga melihat kearah asal suara, Kala yang memperhatikan mereka dari arah tangga.
"Kala?" Mahen beranjak dari tempat duduknya lalu mendekati Kala, laki-laki itu langsung memeluk tubuh Kala dengan sangat erat.
"Aku sangat merindukanmu, apakah kau baik-baik saja, apakah kau terluka?" tanya Mahen.
"Tunggu, apa yang kau katakan tadi? jika bukan Daffa lalu siapa?"
"Temannya, Arzan. Daffa menyuruhnya untuk meniduriku dengan jaminan saham perusahaan miliknya."
"Saat itu aku tidak bisa melawan karena aku diberi obat tidur."
"Arzan?"
Raksa terdiam memikirkan sesuatu lalu tak butuh waktu lama ia mengingat kembali saat dimana acara pertunangan Kala dan juga Reja.
Reja mengundang sahabat SMA nya termasuk Arzan. Naela mendekati Kala dan menggenggam tangannya.
"Lebih baik kau istirahat saja, aku yang akan menyelasaikannya nanti."
Kala menggelengkan kepalanya, ia tersenyum kecil kearah Naela membuktikan jika hari ini dia baik-baik saja.
Dari arah pintu utama terdengar suara Reja dan Dianna yang memanggil nama Kala.
Reja langsung memeluk tubuh gadis itu tanpa memedulikan yang ada disana, dia benar-benar merindukan Kala.
"Kamu darimana aja? kamu baik-baik ajakan?" tanya Reja.
"Reja..."
Reja melihat kearah Naela yang sedang menggelengkan kepalanya, tapi ia hiraukan, laki-laki itu kembali memeluk tubuh Kala dengan sangat erat.
__ADS_1