
Malam itu Kala terbangun dan melihat Reja yang tertidur disampingnya, gadis itu tersenyum melihat Reja yang tertidur lelap.
Ia kembali mengingat perkataan temannya, jika Reja selama dua minggu tidak beristirahat karena terlalu sibuk mencari keberadaan Kala.
"Maafkan aku." ucap Kala dalam hati
Setelah berlama-lama menatap Reja yang sedang tertidur, Kala bangkit dari tempat tidurnya.
Gadis itu merasa sangat lapar sekali dan sekarang jam sudah menunjukan pukul dua pagi hari, Kala tidak berani mengangganggu tidur calon suaminya itu.
Kala berjalan kearah dapur, gadis itu membuka kulkas dan melihat isi di dalam kulkas itu tetapi tidak ada bahan makanan apapun.
"Aku lapar sekali dan isi kulkas ini tidak ada apa-apa." gumam Kala
Kala kembali ke kamar dan kembali merebahkan tubuhnya di samping Reja, laki-laki itu terbangun karena merasakan getaran di tempat tidur karena ulah Kala.
"Ada apa sayang?" tanya Reja dengan suara seraknya.
"Aku lapar sekali, sedangkan dikulkas tidak ada apa-apa." ucap Kala sambil memanyumkan bibirnya.
Reja tersenyum lalu mengubah posisinya menjadi duduk. "Kita lupa tidak membeli bahan masakan tadi, tapi bukankah tadi aku membelikanmu cemilan?"
__ADS_1
"Aku tidak ingin cemilan ibu hamil, tapi aku ingin..."
"Ingin apa?" tanya Reja.
"Aku ingin telur mata sapi, aku menginginkannya sekali."
Reja menggarukan kepalanya yang tidak terasa gatal, ia bingung mau membeli telur dimana, apalagi sekarang sudah pukul dua pagi dan warungpun tidak ada yang buka.
"Bagaimana jika besok saja? jam segini warung tidak ada yang buka sayang."
"Kau tega membiarkanku kelaparan? kau harusnya berusaha bagaimana kau bisa mendapatkan makanan yang aku mau."
"Bukan seperti itu, tapi..."
Gadis itu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, Reja hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Laki-laki itu menbawa ponsel yang ia simpan diatas laci, setelah beberapa menit mengirimkan pesan kepada seseorang Reja langsung memeluk tubuh Kala dan mencium pipinya itu.
"Jangan marah sayang, aku sudah menyuruh sekretarisku untuk membelikan telur, setelah itu aku akan memasaknya untukmu."
"Bohong!"
"Untuk apa aku berbohong, lihat saja nanti beberapa menit lagi sekretarisku akan datang kemari dengan membawa telur yang kau minta." kata Reja seraya mengusap-usap perut Kala.
"Apakah kau lapar hum? tunggu sebentar saja ya sekretaris papah akan membawakan makanan yang kau minta." lanjut Reja
__ADS_1
Kala yang mendengar hal itu tersenyum, ia menahan untuk tidak tertawa melihat tingkah calon suaminya itu.
Dua puluh menit menunggu akhirnya sekretaris Reja datang, entah dimana laki-laki itu bisa mendapatkannya tapi Reja tidak memperdulikannya.
Yang ia pedulikan sekarang adalah Kala yang dari tadi sudah merengek karena kelaparan.
Gadis itu menunggu Reja memasak di meja makan, pandangannya tidak pernah lepas dari Reja, melihat bagaimana laki-laki itu memasak saja membuat Kala merasa salah tingkah.
"Bagaimana dia bisa setampan ini?" teriak Kala dalam hati.
Reja menghampiri Kala yang dari tadi sedang memperhatikannya, laki-laki itu meletakan piring yang berisi telur mata sapi yang Kala idamkan.
"Mau sampai kapan kau memperhatikanku? sekarang makanlah aku sudah memasak makanan yang kau inginkan."
Kala menganggukan kepalanya lalu mengambil sendok dan mulai mencicipi masakan Reja.
"Bagaimana, apakah enak?" tanya Reja.
"Enak sekali, ini pertama kaliku mencoba masakan yang kau buat sendiri, aku baru tau ternyata kau juga pintar memasak." kata Kala
"Kau meragukan kemampuanku?"
Kala dan Reja tertawa lepas, bahagia sekali saat melihat Kala tertawa bagi Reja, Kala adalah separuh nyawanya.
Jika tidak ada gadis itu, dia tidak bisa hidup seperti biasanya, dia selalu merindukan gadis itu setiap detik, ingin sekali memeluknya setiap detik.
__ADS_1