
Kenzi duduk di kursi menunggu informasi pesawatnya yang sebentar lagi akan terbang.
Laki-laki itu akan pergi ke Bali karena akan ada jadwal syuting disana. Kenzi memejamkan matanya sejenak mencoba menghilangkan rasa lelahnya.
"Aku tidak menyangka jika Kala akan menikah secepat ini."
"Benar, aku sangat mengaguminya sudah sangat lama."
Bisik-bisik orang yang ada disamping Kenzi membicarakan soal pernikahan Kala malam itu.
Kenzi membuka matanya lalu melihat kearah ponsel, membaca berita yang membicarakan pernikahan Kala dan juga Reja yang di selenggarakan malam itu.
Flashback on...
Kenzi datang kerumah Kala saat tidak menemukan gadis itu di rumahnya, laki-laki itu menemui seorang satpam yang memang sedang bertugas menjaga rumah Kala.
"Kenzi? rekan kerja non Kala?" tanya satpam itu.
Kenzi mengangguk dengan senyuman canggungnya, ia mengusap tengkuk lehernya. "Non Kala nya sedang tidak ada disini..."
"Lalu dimana dia?"
"Saya kurang tau, tapi didalam rumah ada non Naela, apakah saya harus memanggilnya?"
"Boleh, tolong panggilkan Naela." ucap Kenzi.
Satpam itu pergi menuju dari pos menuju rumah besar itu, selang beberapa menit satpam itu kembali dengan Naela yang mengikutinya dari belakang.
"Ini non Naela nya, jika begitu saya permisi dulu."
"Baik, terima kasih."
Kenzi berjalan mendekati Naela, ada banyak pertanyaan di kepalanya itu.
"Ada apa?" tanya Naela.
"Aku ingin menanyakan apakah Kala baik-baik saja?" tanya Kenzi.
Dengan perlahan Naela menganggukan kepalanya, ia menatap heran laki-laki yang ada dihadapannya itu.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan kabar Kala?"
"Tidak, hanya saja aku..."
"Jawab dengan jujur."
"Apa?"
"Apakah selama ini kau yang menyembunyikan Kala?" tanya Naela secara spontan.
__ADS_1
Kenzi membulatkan matanya. "Tidak, aku tidak menyembunyikannya!" ucap Kenzi dengan gugup.
"Lalu kenapa kau menanyakan kabarnya?"
"Aku hanya penasaran kenapa Kala tidak kelihatan selama dua minggu ini." jawab Kenzi
"Kau tidak usah berbohong, Kala sudah menceritakan semuanya kepadaku."
"Me-menceritakan soal?"
"Soal dirinya yang bersembunyi di rumahmu."
"Terima kasih karena sudah menjaga Kala selama dua minggu ini, aku sangat berhutang budi kepadamu."
"Tapi, apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya?"
"Aku tidak bisa menceritakannya kepadamu, masalah yang dihadapi oleh Kala saat ini sangatlah besar."
"Dan beberapa hari lagi Kala akan menikah dengan Reja."
Kenzi terdiam setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Naela, jantungnya serasa berhenti.
Perasaan apa ini? kenapa sakit sekali saat mengetahui jika Kala akan menikah dengan Reja, bukankah itu sudah direncanakan gadis itu sejak lama dan ia pun tahu soal ini.
Kenzi pikir Kala sedang ada masalah dengan calon suaminya sehingga membuat gadis itu tidak ingin kembali pulang, tapi sepertinya tidak.
Kenzi mengangguk-anggukan kepalanya lalu berpamitan kepada Naela untuk pulang.
Setelah gadis itu mengiakannya Kenzi langsung buru-buru masuk kedalam mobil dan menyuruh asistennya untuk segera pergi dari halaman rumah Kala.
"Ada apa? kenapa wajahmu terlihat cemberut? apakah Kala baik-baik saja?"
Kenzi tidak menjawab pertanyaan dari asistennya itu, pandangannya fokus mengarah keluar jendela mobil.
Flashback off...
"Kau yakin tidak akan menghadiri acara pernikahan Kala?" tanya asisten Kenzi.
"Tidak, bukankah aku sudah memesan tiket pesawat dan penerbanganku sebentar lagi."
"Baiklah."
Kenzi kembali menutup mata dan memasang earphone dikedua telinganya.
***
Keesokan harinya Kala dan Reja sudah bersiap-siap memindahkan barang-barangnya kedalam mobil milik Reja.
Reja mengajak istrinya untuk tinggal dirumah miliknya, karena tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Dianna menyuruh anak dan menantunya untuk tetap tinggal di rumahnya tetapi Reja menolak secara halus tawaran dari Dianna.
"Setelah membereskan barang-barang kalian, segeralah datang ke ruangan makan ibu sudah memasakan makanan kesukaan kalian pagi ini." ucap Dianna.
"Baik ibu." sahut Kala
"Sayang lebih baik kau tunggu saja di meja makan, biar aku dan papah yang membereskan barang-barang ini." kata Reja sambil mengambil alih barang yang dibawa oleh Kala tadi.
"Benar Kala, kau sekarang tidak boleh kelelahan. papah tidak ingin kandunganmu terjadi masalah lebih baik kau duduk di dalam saja."
"Tidak pah, Kala ingin membantu kalian berdua."
"Sayang, lebih baik kau ikut ibu saja memasak. Kemarilah masih ada beberapa bahan makanan yang harus ibu olah." timpal Dianna sambil menarik lengan Kala.
Mau tidak mau Kala harus mengikuti perkataan ibu mertuanya itu, gadis itu pun membantu Dianna memasak.
"Cuci sayuran itu, ibu akan meracik bumbunya."
"Baik ibu."
Saat Kala mencuci sayuran, Dianna memulai pembicaraan bersama menantunya itu.
"Bagaimana, kalian akan pergi kemana untuk berbulan madu?" tanya Dianna.
"Kala bekum memikirkannya ibu, Kala takut jika menganggu pekerjaan Reja."
"Sayang, biarkan saja. biarkan Reja meninggalkan pekerjaannya, kalian pergilah berbulan madu keluar negri."
"Iya ibu, Reja merencanakannya untuk pergi ke Swiss." timpal Reja yang tiba-tiba datang kedapur.
"Benarkah?"
Reja membenarkannya, Kala membulatkan matanya saat mendengar perkataan suaminya itu.
"Jika kalian ingin pergi ke Swiss, biar papah membeli tiket pesawat sekarang." ucap Jeanno setelah meneguk habis minumannya.
"Benar, pesankan tiket pesawat untukku dan juga Kala."
"Tunggu, tapi apakah kau tidak keberatan? aku pikir akhir-akhir ini kau sedang banyak pekerjaan."
"Tidak, bukankah aku bisa meluangkan waktuku untuk istriku, aku bisa meninggalkan pekerjaanku demimu benarkan ibu?"
"Astaga, kalian ini sangat lucu sekali."
Kala tersenyum setelah mendengar perkataan Reja, pipinya terlihat memerah.
"Baiklah, papah akan memesankan tiketnya dulu."
Kala hanya bisa pasrah mengikuti kemauan suaminya itu, sekali-kali ia pergi keluar negri untuk bersenang-senang, karena selama ia pergi keluar negri itu hanya kegiatan syuting saja.
__ADS_1