
Kirana dan juga Rezvan kembali pulang karena hari mulai sore dan kabut sudah mulai turun.
Mereka berdua memasuki rumah dan terkejut saat melihat ada empat pria dewasa yang sedang duduk di kursi ruang tamu.
Reja yang melihat kedatangan Kirana langsung beranjak berdiri dari tempat duduknya dan berlari kecil kearah Kirana lalu memeluk tubuh gadis itu dengan erat.
"Kirana, anak papah."
"Papah."
"Kamu gapapakan? kamu ga sakit kan?" tanya Reja begitu khawatir.
Kirana menggelengkan kepalanya lalu menatap Rezvan. "Kirana baik-baik aja karena Rezvan bantuin Kirana." ucap gadis kecil itu begitu gemas.
Reja tersenyum hangat kearah Rezvan dan mengusap kepala anak laki-laki itu. "Terima kasih sudah mau membantu Kirana."
Rezvan mengangguk dan berjalan kearah nenek Sumi, terasa ada yang menganjal di dalam hatinya saat melihat Kirana akan pergi dari sana.
Setelah berbincang-bincang dengan nenek Sumi akhirnya Reja dan ketiga temannya berpamitan kepada nenek Sumi dan berterima kasih kepadanya karena sudah menjaga Kirana.
Kirana menatap sendu Rezvan, gadis kecil itu masih ingin bermain dengannya.
Rezvan berjalan kearah Kirana dan memberikan sebuah cincin pita yang terbuat dari rumput kepada gadis kecil itu.
Kirana menatap cincin itu lama lalu kembali menatap wajah Rezvan yang sudah terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ayo sayang kita pulang, mobilnya ada di dekat kebun teh jadi kita harus berjalan kaki kesana." ucap Reja sambil menggenggam erat tangan Kirana.
Mereka pun pergi dari rumah nenek Sumi menuju kebun teh karena mobil Reja ada di dekat sana, jadi mereka berlima harus berjalan kaki ke arah kebun teh.
***
Setelah sampai rumah sakit Kirana langsung berlari menuju ruangan yang ditunjukan oleh Reja, ia berlari kearah Kala yang saat itu sedang makan sambil ditemani oleh Seyna, Kalesha dan juga Naela.
"Mami!"
"Sayang, kamu dari mana aja hm?" tanya Kala langsung memeluk tubuh Kirana saat gadis kecil itu berhasil duduk di sebelah Kala.
"Mami gak perlu khawatir, aku baik-baik aja kok. ada orang yang bantuin Kirana..."
"Mami khawatir sayang takut kamu kenapa-napa." kata Kala sambil melepaskan pelukannya.
Bukannya takut tetapi Kirana malah terkekeh. "Kirana nakal gini tapi kalian khawatirkan sama Kirana." ucapnya sambil menjulurkan sedikit lidahnya.
"Tentu saja kita panik karena kamu anak kecil, ilang gitu aja kayak tuyul." seru Mahen sambil mendekati Naela.
"Aku gak nanya sama om."
Semua orang yang ada disana tertawa saat mendengar perkataan gadis kecil itu, entah siapa yang mengajarinya berbicara seperti itu.
"Kamu ya.."
__ADS_1
"Apa, kan om sendiri yang ngajarin aku wlee." potong Kirana
Mahen melotot kearah Kirana lalu menatap Reja yang saat itu sedang menatapnya dengan tajam.
"Nggak kok, bukan aku yang mengajarkannya berbicara seperti itu hehe."
Naela langsung menyubit pinggang Mahen saat mengetahui jika dialah yang mengajari Kirana berbicara seperti itu.
"Kasian deh om Mahen." gumam Kirana yang masih bisa di dengar oleh orang-orang yang ada di ruangan itu.
"Awas ya kamu, om gak kasih kamu lagi es krim."
"Gapapa, Kirana bisa minta ke om Kenzi."
"Om mahen suruh dia larang beli."
"Ada papah."
"Om juga suruh larang dua beli."
"Ada mami."
"Om juga..."
"Udah, kamu kenapa gak mau ngalah sama anak kecil sih." bisik Naela di telinga Mahen.
__ADS_1
Laki-laki itu langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat dengan mata yang melotot kearah Kirana.