
Reja memarkirkan mobilnya di salah satu restoran yang ingin sekali Kala kunjungi.
Entah kenapa hari ini Kala ingin memakan ayam, Reja yang mendengarnya kemudian menuruti kemauan Kala.
"Sepertinya ini enak sekali, aku ingin mencobanya." kata Kala
"Ini? baiklah aku akan memesannya."
Reja langsung memberikan menu yang diinginkan oleh Kala kepada seorang pelayan wanita yang dari tadi sudah menunggu mereka memesan makanan.
Setelah selesai mencatat semua makanan yang diinginkan oleh Kala, pelayan wanita itu pergi kearah dapur untuk memberikan secarik kertas kecil itu kepada koki.
"Berapa usia kandunganmu?" tanya Reja sambil menggenggam tangan Kala.
"Aku tidak tahu, setelah selesai memeriksanya aku langsung pergi ketoilet. nanti aku akan bertanya kepada Naela."
"Baiklah, setelah selesai kita akan mampir ke supermarket untuk membeli keperluanmu. susu ibu hamil dan makanan yang sehat untuk ibu hamil." ucap Reja
Kala tersenyum sambil menganggukan kepalanya, ia menatap wajah Reja dengan hangat.
"Aku ingin bertemu dengan Daffa dan juga pamanku."
"Bertemu dengan Daffa? untuk apa?" tanya Reja.
"Sesuatu, aku ingin membicarakan sesuatu dengannya."
"Baiklah, setelah pergi ke supermarket kita akan mampir ke rumah pamanmu lalu pergi menemui Daffa."
Sekali lagi Kala menganggukan kepalanya, ia ingin menemui pamannya karena ingin mengundang pamannya itu nanti saat acara pernikahan Kala dan juga Reja.
Setelah selesai makan, sesuai perjanjian Reja mengantarkan Kala pergi kerumah pamannya setelah pulang dari supermarket untuk membeli semua kebutuhan Kala.
Gadis itu melihat setiap sudut rumah pamannya itu, lumayan sangat besar. Jika diingat kembali, dulu bisnis pamannya sangat lancar dan usaha restorannya pun sama.
Mungkin pamannya itu sudah tidak kesulitan lagi keuangannya. Kala menyuruh Reja untuk menunggunya dimobil saja, karena gadis itu ingin membicarakan hal lain juga dengan pamannya.
Kala memasuki rumah dan disambut hangat oleh paman dan juga bibinya itu, mereka berdua menyuruh Kala untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Paman akan menyiapkan air untukmu, kau tunggu disini saja bersama bibimu."
__ADS_1
Kala menganggukan kepalanya sambil menatap kepergian pamannya yang berjalan kearah dapur, disisi lain istri dari pamannya yang bernama Chintya itu memulai pembicaraan dengan Kala.
"Aku sering melihatmu di televisi, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja, aku datang kesini karena aku ingin mengundang kalian untuk menghadiri acara pernikahanku dengan calon suamiku nanti."
"Benarkah, kapan pernikahan itu akan diselenggarakan?"
"Aku tidak tahu pasti, tapi calon suamiku sudah menetapkan tanggalnya."
Bibi Chintya menganggukan kepalanya. "Ternyata kau sama sekali tidak berubah, masih terlihat seperi Kala yang dulu, saat umurmu 18 tahun." ucap Calista sambil mengembangkan senyuman di kedua sudut bibirnya.
"Dulu aku dan suamiku sangat sibuk sekali menggeluti bisnis kami, maka dari itu aku dan suamiku tidak menghadiri pemakaman ibumu."
"Bagaimana kau bisa menjadi artis papan atas? namamu terkenal dimana-mana. apakah karena kau memiliki koneksi?" tanya Chintya.
"Maksudmu?"
"Tidak heran Kala, diluaran sana banyak orang yang mengambil keuntungan karena sebuah koneksi. Seperti berkencan dengan pemilik agensi, sutradara, produser dan..."
"Jadi kau menyangka jika aku masuk kedalam dunia hiburan karena sebuah koneksi? berkencan dengan pemilik agensi, produser dan juga sutradara?"
"Aku tidak seperti yang bibi pikirkan, aku menggeluti dunia hiburan karena bakatku sendiri, dan aku tidak akan menjatuhkan harga diriku hanya sebuah pekerjaan."
"Lalu bagaimana dengan berita kencanmu setiap bulan itu? Kala kau tidak membanggakan keluargamu tapi memalukan keluargamu sendiri."
"Bibi mempercayai berita hoax itu? yang bodoh itu aku atau bibi?"
"Kala! ternyata sifatmu sama seperti ibumu."
"Kau sama buruknya seperti ibumu, dia melahirkanmu karena sebuah kecelakaan. kau adalah anak yang tidak diinginkan."
Kala beranjak dari tenpat duduknya dengan wajah yang dingin menatap bibi Chintya.
"Dengar, kau pikir kau mengenal ibuku?"
"Memangnya kau berhak berbicara hal itu tentang ibuku?" tanya Kala sabil menaikan intonasi suaranya.
"Sedang apa kau!" tanya paman Kala yang baru saja keluar dari dapurnya sambil membawa nampan yang berisi gelas.
__ADS_1
Paman Kala yang bernama Sastra itu menyimpan nampan di atas meja, lalu menatap tajam kearah Kala.
"Wanita itu menghina ibuku..."
Satu tamparan mendarat dengan keras diwajah Kala, gadis itu memalingkan muka saat paman Sastra menamparnya.
"Paman..."
"Siapa yang kau panggil dengan sebutan 'wanita itu'?" tanya paman Sastra.
Chintya yang begitu terkejut melihat Kala ditampar, berusaha menenangkan suaminya.
"Minta maaf sekarang juga!"
Mata Kala mulai berkaca-kaca, ia memegang pipinya yang sudah memerah karena tamparan keras dari pamannya itu.
"Aku akan pergi dari hadapan paman." ucap Kala
Tanpa berkata-kata lagi Kala pergi begitu saja, meninggalkan kediaman pamannya itu.
Kala berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya lagi. ia sudah begitu lelah untuk menangis.
Gadis itu masuk kedalam mobil tanpa mengatakan apapun kepada Reja. Laki-laki itu tampak kebingungan.
"Are you okay?" tanya Reja.
Kala menganggukan kepalanya. "Pulang saja, aku sudah sangat lelah aku ingin beristirahat." kata Kala tanpa menatap wajah Reja.
"Lalu, kau tidak jadi pergi untuk mengunjungi Daffa?"
"Tidak, lain kali saja."
"Baiklah."
Reja kemudian memundurkan mobilnya lalu pergi dari halaman rumah pamannya Kala.
Ia ingin menanyakan kepada gadis itu apa yang terjadi di dalam sana, sehingga saat Kala datang ia tidak mengatakan apapun kepadanya.
Tetapi ia pendam saja, ia tidak ingin membuat Kala bersedih lagi karena pertanyaannya itu.
__ADS_1