Amazing Beauty

Amazing Beauty
27


__ADS_3

Dianna mengajak Kala untuk berbicara, mereka berdua kini sudah berada di kamarnya Kala.


Wanita paruh baya itu menatap Kala yang sedang melamun, entah apa yang gadis pikirkan tapi Dianna bisa merasakan kesulitan Kala saat ini.


"Kala..."


Kala tersadar dan langsung menatap Dianna, gadis itu tersenyum lalu beranjak dari kasurnya.


Kala mengambil sebuah kotak yang berukuran kecil di lemarinya, setelah itu Kala kembali menghampiri Dianna dan memberikan kotak kecil itu kepadanya.


"Apa ini sayang?" tanya Dianna menyernyitkan keningnya.


Tetapi Kala tidak menjawab, ia kembali duduk di tepi kasur menunggu Dianna untuk membuka kotak kecil itu.


Wanita paruh baya itu menatap kotak kecil yang diberikan oleh Kala, dengan perasaan yang campur aduk Dianna membukanya.


Matanya membulat saat melihat isi dari kotak kecil itu, testpack yang memperlihatkan dua garis merah.


"Ini..."


"Aku mau batalin pernikahan aku sama Reja, tante."


"Aku udah gagal buat jaga diri aku sendiri dan aku juga gak mau ngotorin nama baik Reja, om dan tante."


"Sayang, kamu jangan berbicara seperti itu."


Dianna menghampiri Kala dan duduk disampingnya. "Ibu akan bicarakan ini dengan Reja dan ayahnya, kau jangan berbicara itu ya. Kau tidak tau bagaimana menderitanya Reja saat kau pergi?"


"Dia setiap hari selalu mabuk, dia tidak beristirahat selama dua minggu ini karena selalu mencarimu." lanjut Dianna sambil menggenggan tangan Kala.


Jujur wanita paruh baya itu sudah sangat menyayangi Kala layaknya anak kandungnya sendiri, kebahagiaan anaknya membuat dirinya juga ikutan bahagia.


Maka dari itu Dianna tidak ingin Kala membatalkan pernikahannya karena tidak ingin melihat anaknya tambah terpuruk lagi.


"Enggak bu, Kala gak bisa..."


"Enggak Kala, dia pasti ngertiin kamu. sekarang ibu mau ngajak Reja pulang dan bicarain ini baik-baik sama Reja." kata Dianna lalu pergi meninggalkan kamar itu.


Kala memejamkan matanya, merasakan sesak lagi di dadanya. saat dirinya ingin membatalkan pernikahannya dan juga Reja kenapa Dianna malah menolaknya mentah-mentah.

__ADS_1


Apakah dia tidak malu mempunyai calon menantu yang bahkan sudah hamil dengan pria lain, pikirnya.


Disisi lain Dianna mengajak putranya untuk pulang tapi dengan keras kepala Reja menolaknya.


"Aku ingin disini, aku ingin bersama Kala." ucap Reja


"Kau bisa kemari lagi setelah berbicara dengan ibu, cepat kita harus membicarakan hal yang penting."


"Tapi bu..."


Dianna langsung menarik tangan Reja dan membawanya pergi dari sana. Mahen, Raksa dan juga Naela kebingungan dengan sikap Dianna kali ini.


"Apakah Kala memberitahunya kepada bibi Dianna?" gumam Naela dalam hati.


Setelah berpikir lama, Naela langsung pergi menemui Kala dikamarnya disusuli Mahen dan juga Raksa.


"Kau memberitahunya kepada bibi Dianna?" tanya Naela kepada Kala.


Kala menganggukan kepalanya. "Kala, bagaimana jika bibi tidak menerima jika kau sedang mengandung anak dari pria lain? bagaimana jika dia membatalkan pernikanmu dengan Reja?" tanya Naela.


"Pernikahan kalian hanya tinggal beberapa minggu lagi, apalagi undangan sudah disebarkan." timpal Mahen.


"Benarkah?" tanya Naela dan Raksa barengan.


"Itu akan lebih baik jika tante Dianna membatalkan pernikanku dan juga Reja, aku ingin beristirahat." Kala menarik selimut dan tidur membelakangi mereka bertiga.


Naela membiarkan Kala untuk beristirahat lagi, gadis itu menyuruh Mahen dan Raksa keluar dari kamar Kala dan kembali melanjutkan rundingannya.


***


Dianna menyuruh Jeanno yang saat itu sedang bekerja di ruangannya untuk berkumpul di ruang keluarga.


Mereka bertiga sudah berkumpul disana, Reja dan Jeanno begitu heran kepada Dianna tidak biasanya wanita paruh baya itu terlihat sangat khawatir seperti ini.


"Ada apa sayang?" tanya Jeanno.


Dianna menghembuskan nafasnya lalu membawa kotak yang diberikan oleh Kala itu dan menyimpannya di meja.


Reja menatap kotak itu lalu mengambilnya, "Apa ini bu? kenapa membawa ini kesini?" tanya Reja.

__ADS_1


"Buka saja."


Reja membuka kotak itu dan terkejut saat melihat sebuah testpack yang ada di dalam kotak itu.


"Testpack? ibu hamil?" tanya Reja.


"Bukan ibu, tapi Kala." Dianna langsung menangis, rasanya sakit sekali melihat penderitaan Kala saat ini.


Reja dan Jeanno mematung mendengar ucapan Dianna, Reja menatap testpack itu dengan tatapan kosongnya.


"Ini bukan kesalahan Kala, ibu mohon Rej jangan batalin pernikahan kamu sama dia."


"Ibu, ibu udah seneng banget punya calon menantu kayak Kala, ibu mohon..." kata Dianna sambil terisak tapi Reja hanya terdiam saja.


Laki-laki itu memejamkan matanya, lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk masuk ke kamar.


"Kamu pasti masih ngijinin Kala sama Reja menikahkan?" tanya Dianna.


"Aku tau ini bukan kesalahan Kala, masalah itu nanti aku akan memikirkannya lagi."


"Sekarang kamu istirahat dulu, aku bakal ngomong sama Reja." titah Jeanno lalu diangguki oleh Dianna.


Setelah Dianna pergi Jeanno terdiam sejenak, tidak tahu harus bagaimana. Ia mengingat kembali bagaimana saat mereka berempat berkumpul. Makan bersama dan tertawa bersama rasanya ia bisa merasakan kebahagiaan putranya saat itu.


Jeanno beranjak dari tempat duduknya lalu pergi menemui Reja dikamarnya, saat membuka pintu ia melihat putranya yang sedang duduk di balkon.


"Kenapa diluar, masuklah diluar dingin." ucap Jeanno tetapi Reja malah menghiraukannya.


"Apakah kau berubah pikiran, ingin membatalkan pernikahanmu dengan Kala?" tanya Jeanno begitu duduk disamping putranya.


Lagi dan lagi Reja hanya terdiam, menghiraukan pertanyaan papahnya.


"Papah gak mau kamu batalin pernikahan kamu sama Kala, karena papah bisa melihat bagaimana kamu bahagia di samping Kala."


"Papah menilai bagaimana kamu kemarin, saat Kala tidak ada. Kau selalu saja mencari Kala tanpa beristirahat."


"Ibumu sudah sangat senang jika kamu menikah dengan Kala, lihatlah tadi bagaimana dia memohon kepadamu agar tidak membatalkan pernikahanmu sendiri."


"Saat ini Kala dalam situasi terberat dalam hidupnya, dia sedang butuh sandaran untuk bercerita. apakah kau tidak ingin menemui dan menemaninya lagi?"

__ADS_1


"Papah harap kau tidak mematahkan hati Kala lagi, ingat mau bagaimanapun dia nantinya, dia adalah wanita ketiga yang papah sayangi setelah ibumu dan nenekmu." Jeanno menepuk pundak Reja yang saat itu sudah meneteskan air matanya.


Setelah Jeanno pergi, Reja langsung menangis sejadi-jadinya. "Sialan!"


__ADS_2