
Muhammad Nathan Ridwan, seorang pria berusia dua puluh tujuh tahun. Tapi dalam kehidupannya, Nathan selalu merasakan kesepian. Apalagi semenjak orang tua Nathan bercerai waktu Nathan berusia sepuluh tahun.
Nathan yang kecil, harus kesana kemari. Demi mendapatkan kasih sayang orangtuanya. Dan semuanya berubah setelah orangtuanya menikah lagi dan mempunyai keluarga yang baru.
Nathan yang waktu itu mau masuk SMP, binggung mau ikut yang mana. Jadi dia memilih untuk masuk ke sekolah asrama. Karena otaknya yang sangat jenius jadi Nathan cuma sekolah sampai tiga tahun. Setelah menyelesaikan sekolahnya, Nathan masuk kuliah dan waktu itu umur Nathan baru lima belas tahun dan di Fakultas Ekonomi Bisnis Nathan termasuk murid yang paling kecil. Tapi sifat cuek dan Playboynya sudah kelihatan.
Nathan jarang pulang ke rumah papa dan mamanya yang sudah mempunyai keluarga sendiri. Dia menyewa sebuah Rumah dan tanpa sepengetahuan orangtuanya Nathan selalu main bursa saham.
Dari sanalah, Nathan bisa menjalankan hidupnya tanpa meminta bantuan kepada orangtuanya yang tidak pernah memperdulikan keadaannya. Nathan mempunyai empat sahabat cowok waktu di asrama dan sekarang mereka masih tetap berhubungan baik.
Dan di usia tujuh belas, Nathan sudah mendirikan perusahaan atas namanya sendiri dan dibantu juga oleh keempat sahabatnya.
Tapi seiringan waktu, sifat Playboy dalam diri Nathan semakin menjadi.
Nathan setiap malam selalu berganti pasangan, tidak ada yang serius bagi dirinya. Bagi Nathan menghabiskan waktu satu malam dengan seorang perempuan itu tidak masalah baginya. Yang penting dia senang dan perempuan itu juga bisa mendapatkan uang.
Sekarang umur Nathan sudah menginjak dua puluh tujuh tahun, tapi sekarang dia belum juga menikah dan masih bersenang-senang dengan setiap perempuan.
Di sebuah kampung, namanya kampung Manggis. Hiduplah seorang perempuan yang berusia delapan belas tahun, hidup berdua dengan neneknya. Orang tuanya meninggal lima tahun yang lalu karena kecelakaan yang sampai sekarang tidak tahu apa penyebabnya karena polisi sudah menutup kasusnya tanpa tahu siapa yang salah.
Nama perempuan itu adalah Mutiara Habibah, biasa di panggil Mutia. Mutia cuma sampai sekolah menengah pertama, karena sang nenek tidak ada biaya untuk melanjutkan Mutia sekolah sampai sekolah menengah atas.
Apalagi nenek Mutia sering sakit-sakitan dan itu membuat Mutia harus potang panting untuk mencari uang demi kelanjutan hidup mereka berdua.
Mutia kerja serabutan, yang penting kerja yang dilakukan oleh Mutia halal. Mutia tidak peduli walaupun dia harus capek dengan pekerjaannya. Yang penting dia dapat membayar biaya berobat nenek dan makan mereka sehari-hari.
Hari ini Mutia ada janjian dengan sahabatnya, untuk mendapatkan pekerjaan.
"Maaf Fit, aku terlambat. Tadi aku harus menyelesaikan pekerjaan aku dulu," kata Mutia yang datang terlambat ketempat dia janjian dengan temannya.
"Tidak apa-apa, aku juga baru datang. Ini aku baru pulang dari pekerjaan aku".
"Kamu kerja dimana?" tanya Mutia penasaran karena Fitri memakai pakaian seragam.
__ADS_1
"Jadi office boy di perusahaan Gemilang Abadi," jawab Fitri.
"Ohh... kira-kira ada tidak lowongan, aku ingin kerja disatu tempat saja. Tapi aku ini cuma tamatan Sekolah menengah pertama. Bukan seperti kamu yang tamatan Sekolah menengah atas".
"Makanya aku mengajak kamu ketemuan untuk membicarakan pekerjaan. Di perusahaan tempat aku bekerja lagi butuh office boy dan aku sudah bicara dengan kepala office boy soal kamu. Katanya tidak masalah yang penting rajin dan nanti langsung bertemu dengan HRD," terang Fitri.
"Aku mau Fit, kapan aku bisa memberikan surat lamaran aku dengan HRD tempat kamu bekerja?" tanya Mutia semangat.
"Besok saja Mutia, besok aku akan menjemput kamu jam enam pagi".
"Baiklah, aku tunggu Fitri".
Mutia sangat bahagia, jadi dia tidak perlu kerja serabutan lagi. Sebenarnya dari dulu itu keinginan Mutia, ingin kerja di satu tempat jadi merasa capeknya sekalian.
Untuk menghilangkan kepenatan selama seharian di kantor Nathan memilih untuk pulang ke apartemennya yang memang jarang dia gunakan. Nathan mempunyai rumah bak Istana, tapi dirumahnya tidak ada satupun Keluarganya yang di perbolehkan oleh Nathan untuk menginjak rumahnya.
Mama kandung Nathan sering marah, jika sudah melihat sikap Nathan seperti ini. Tapi Nathan punya alasan tersendiri kenapa dia tidak memperbolehkan satu pun Keluarganya untuk menginjak rumahnya kecuali ke empat sahabatnya, yang sudah seperti rumah sendiri.
Nathan membaringkan tubuhnya tanpa mencuci wajahnya terlebih dahulu, dan dia memandangi sebuah foto yang terdapat di kamar apartemennya.
Pagi-pagi sekali Mutia sudah berangkat ketempat dia akan melamar pekerjaan, Mutia berangkat dengan Fitri karena Fitri yang memberikan Mutia pekerjaan ini.
Fitri mengajak Mutia ke ruang HRD, Mutia terkagum-kagum melihat perusahaan tempat dia akan bekerja.
"Besar banget perusahaannya!" ucap Mutia.
"Iya, kamu tahu tidak kalau CEO perusahaan ini masih muda baru berusia dua puluh tujuh tahun," kata Fitri sambil menggandeng tangan Mutia.
"Ohh... berarti orangnya tampan?" tanya Mutia yang penasaran dengan pemilik perusahaan ini.
"Tampan pakai banget, tapi sayang orangnya dingin dan sangat kejam dengan semua pengawai yang tidak dia sukai dan parahnya lagi di pecat bahkan tidak bisa bekerja di tempat lain," cerita Fitri.
"Jangan sampai Fitri, kita berdua bermasalah dengan dia. Aku disini mau kerja untuk membiayai pengobatan nenek. Jadi aku akan sejauh mungkin menghindari pemilik perusahaan ini dari pada harus di pecat secara tidak hormat dan di blacklist dari semua tempat pekerjaan. Aku tidak ingin itu terjadi," ucap Mutia dengan sangat ketakutan.
__ADS_1
"Tenang saja, kita berdua disini untuk bekerja dan pekerjaan kita tidak akan bertemu dengan pemilik perusahaan," jelas Fitri agar Mutia tidak merasa takut dengan pemilik perusahaan ini.
"Bukannya kita OB, dan tugas kita harus membersihkan semua ruang-ruang di perusahaan ini berarti kita juga membersihkan ruangan pemilik perusahaan?" tanya Mutia yang tidak mengerti dengan perjelasan Fitri.
"Karena ruangan pemilik perusahaan ini ada orang khusus yang membersihkannya," jawab Fitri.
"Oh begitu".
Mereka berdua pun keruang HRD karena hampir semua staf kantor sudah mulai berdatangan.
"Bu, boleh aku masuk." Fitri mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk.
"Masuk" kata ibu HRD.
Fitri pun mengajak Mutia untuk masuk kedalam ruangan HRD. Dan mereka berdua pun duduk di depan meja ibu HRD.
"Ada perlu apa kamu kesini Fitri?" kata ibu membaca tag nama Fitri.
"Ibu, ini orang yang pernah aku ceritakan waktu itu, yang mau kerja jadi OB disini," terang Fitri.
"Mana surat lamarannya?" tanya ibu HRD.
Mutia menyerahkan surat lamaran yang telah dibuatnya.
"Maaf Bu, aku cuma lulusan SMP," kata Mutia.
Ibu HRD pun membaca surat lamaran Mutia, setelah selesai membacanya ibu HRD pun melihat Mutia.
"Kamu sayang terima bekerja disini, nanti kamu bisa bertanya apapun dengan Fitri," kata ibu HRD.
Mutia tersenyum mendengar perkataan ibu HRD bahwa dia diterima bekerja di sini.
"Kamu hari ini sudah mulai bekerja," ucap ibu HRD lagi.
__ADS_1
"Terima kasih ibu," ucap mereka berdua bersama.