
Sudah dua hari ini Nathan mencari Safa di kantin tapi tetap saja Safa tidak ada. Sampai Nathan harus bertanya dengan penjual dikantin yang bernama ibu Mirna.
"Biasanya Mutia selalu menitipkan Safa disini pak, karena setahu aku Mutia paling tidak percaya dengan orang yang baru dikenalnya. Safa sudah dititipkan disini dari Safa bayi, bapak mau lihat foto Safa waktu bayi" ucap ibu Mirna.
Ibu Mirna pun mengambil handphonenya yang tersimpan foto Safa waktu bayi. Nathan melihat fotonya dan senyuman terbit di wajahnya.
"Cantik" gumam Nathan.
"Iya seperti bundanya, cantik dan manis. Kasihan Mutia dia harus melahirkan di usianya yang baru sembilan belas tahun. Dan harus hidup sendirian untuk mengurusi Safa. Kalau aku punya anak laki-laki pasti akan aku jodohi dengan Mutia" cerita ibu Mirna.
Ada perasaan di dalam diri Nathan tidak terima jika Safa harus memanggil ayah dengan orang lain.
"Maaf pak, kalau aku lancang. Bapak pasti sudah jatuh cinta dengan Safa. Aku juga begitu pak".
"Iya Bu".
"Kenapa bapak tidak bertanya saja dengan Mutia?, kenapa Safa tidak di ajak kerja lagi".
Nathan hanya diam mendengar perkataan ibu Mirna, bertanya pada Mutia itu tidak mungkin karena Nathan tahu bagaimana sikap Mutia dengan dirinya dingin dan ketus.
"Nanti aku tanyakan Bu" jawab Nathan.
Cukup lama Nathan dan ibu Mirna berbincang-bincang tentang segala hal. Nathan pun izin pamit untuk pergi ke kantornya.
Nathan melewati pabrik untuk melihat semua pekerjanya yang lagi bekerja, dan betapa terkejutnya Nathan dia melihat Mutia yang disuruh-suruh pekerjaan lain bahkan ada yang sampai memarahinya.
Sebelum kembali ke kantornya Nathan mampir ke kantor kepala pengawas yang baru bernama Tio, yang baru bekerja dua tahun. Pak Usman kepala pengawas yang lama sudah pensiun.
"Masuk pak" ajak Tio waktu dia melihat siapa yang masuk ke dalam kantornya.
Nathan pun duduk di kursi yang ditempati oleh Tio sedangkan Tio duduk di sofa untuk tamu.
"Ada perlu apa bapak menemui aku" tanya Tio.
"Ini pabrik punya aku, jadi terserah aku mau ngapain" jawab Nathan dingin. Tio terdiam dan tidak dapat berkata lagi.
"Aku mau bertanya soal Mutia" kata Nathan langsung.
__ADS_1
"Ada apa dengan Mutia pak" tanya Tio balik.
"Tidak apa-apa" jawab Nathan.
"Oh aku kira bapak suka dengan Mutia, Mutia itu cantik dan bodynya sangat aduhai. Orang tidak menyangka kalau dia sudah mempunyai seorang anak. Kalau Mutia mau menjadi simpanan aku, aku pasti akan memenuhi semua kebutuhannya termasuk kebutuhan Safa anaknya" kata Tio.
Nathan diam mendengar perkataan Nathan.
"Tapi aku rasa Mutia bukan perempuan seperti itu, dia sudah menikah" ujar Nathan.
"Tapi aku dengar gosip, dia menjual dirinya dengan setiap pria dan lahirlah Safa. Jadi Mutia itu wanita murahan yang suka dengan semua pria asalkan pria itu ada uang. Dia pasti mau menyerahkan tubuhnya" ujar Tio
"Mutia bukan wanita seperti itu, dia wanita baik-baik yang aku manfaatkan untuk kepentingan aku sendiri" gumam Nathan dalam hati.
"Dan Safa itu ayahnya tidak jelas siapa" kata Tio lagi.
"Safa itu jelas-jelas anak aku dengan Mutia, aku yakin itu" batin Nathan.
"Dan pekerjaan Mutia disini hanya jadi pesuruh" tanya Nathan.
"Iya pak, tapi dulu ada pak Usman dia pekerjaannya tidak terlalu berat. Semua orang takut dengan pak Usman dan gosip yang beredar di pabrik ini. Mutia sudah menjadi simpanan pak Usman selama ini" jelas Tio.
"Pak, ada apa pak" tanya Tio yang melihat Nathan melamun.
"Tidak apa-apa, lanjutkan pekerjaanmu" ucap Nathan pergi dari ruangan Tio.
Tio mengantar Nathan sampai kedepan pintu kantornya.
Nathan kembali ke ruangannya dan sempat juga dia melihat apa yang di lakukan oleh Mutia. Dan sekali ini Nathan melihat Mutia yang lagi di marahi oleh pekerja lain.
Nathan pun berjalan mendekati Mutia dengan seorang wanita.
"Lihat Mutia apa yang kamu lakukan?, semuanya jadi rusak seperti ini" kata wanita itu yang dari tag namanya bernama Rima.
"Maaf mbak, nanti aku perbaiki Semuanya".
"Memang kamu bisa memperbaikinya?, kamu tidak akan bisa Mutia. Disini kamu itu hanya pesuruh" teriak Rima marah-marah.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Nathan.
Rima langsung diam karena melihat Nathan datang, Nathan langsung mendekati Mutia dan Rima.
Mutia hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa mau melihat wajah Nathan.
"Kalau pak bos tahu, aku bisa di pecat tapi bukan aku yang melakukannya. Tadi waktu aku dari kamar mandi Semuanya sudah berantakan" batin Mutia.
"Ini pak, Mutia merusak Semuanya dan tidak bisa kembali seperti semula" kata Rima.
"Mutia lihat aku, benar ini semua kamu yang lakukan" tanya Nathan.
"Bukan aku pak, tadi waktu aku kembali dari kamar mandi Semuanya sudah hancur seperti ini" bela Mutia.
"Jangan percaya pak, ini semua Mutia yang lakukan. Dia tidak suka dengan semua pekerja disini. Karena kami selalu menyuruh dia pak" kata Rima.
"Pak, aku mohon percaya aku. Aku tidak mungkin melakukannya, untuk apa?. Aku butuh pekerjaan ini pak, jangan pecat aku. Nanti aku ganti Semuanya, kalau perlu bapak bisa potong gaji aku. Tapi jangan pecat aku kasihanilah aku pak" kata Mutia melipat tangannya.
"Jangan percaya pak, dia ini memang seperti ini. Dulu juga dengan pak Usman, dia seperti ini. Makanya pak Usman sayang dengan dia, jangan-jangan dia ada pelet" tunjuk Rima diwajahnya Mutia sedangkan Mutia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan menyelidiki semuanya" kata Nathan pergi meninggalkan mereka berdua apalagi semua pekerja menghentikan pekerjaannya dan melihat apa yang terjadi.
"Lihat saja Mutia, kamu akan di pecat" ucap Rima dan pergi meninggalkan Mutia yang masih diam.
"Aku tidak salah, aku mohon tuhan buatlah pak bos percaya bahwa bukan aku yang melakukannya" batin Mutia.
Nathan melihat handphone yang dia tinggalkan di meja kerjanya. Di lihatnya lima puluh panggilan tak terjawab dari Sadam, asisten pribadinya yang sekarang berada di Jakarta.
Nathan Kemudian menelepon Sadam dan menanyakan kenapa Sadam menelepon.
"Halo ada apa Sadam?" tanya Nathan to the points.
"Kamu itu kebiasaan Nathan, telepon aku tidak kamu angkat. Kamu kemana saja" cerocos Sadam.
"Cerewet....ada apa Sadam?".
"Kalau di bilangin pasti bilangin aku cerewet".
__ADS_1
"Ada apa Sadam?, kalau tidak ada perlu teleponnya aku tutup" ancam Nathan.
"Jangan....." teriak Sadam tapi sudah terlambat teleponnya sudah ditutup Nathan.